Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Es Krim Pelangi untuk Arya


__ADS_3

Setelah pintu ditutup dan membiarkan privasi untuk keduanya, Marissa dan yang lainnya duduk menunggu di kursi panjang yang berderet di depan ruangan. Raka yang heran sedari tadi menatap terus ke arah Marissa, tapi seketika dirinya jadi menciut saat Marissa memergokinya dan memasang wajah buas seolah ingin memakan Raka. Sebelah bibir Marissa terangkat sambil diam-diam memperagakan cakaran pada Raka membuat anak kecil itu takut dan memeluk ibunya. Tante Randy yang sadar akan hal itu lalu memandangi Marissa. Tapi seolah tak peduli, Marissa tidak juga membetulkan wajah seramnya dan malah makin sengaja menakuti Raka.


Marissa duduk dengan gelisah. Waktu berlalu begitu lama baginya. Dia tidak tahan dengan rasa penasaran yang bergejolak dalam diri. Marissa ingin tahu apa yang mereka bicarakan atau lakukan di dalam kamar tersebut.


"Ma, Pa. Ini tuh ga bener! Masa Mama dan Papa biarkan seorang laki-laki yang sudah menikah berduaan dengan perempuan asing di dalam satu kamar? Ini sudah lama sekali kita menunggu mereka. Apa kalian tidak takut mereka melakukan hal aneh atau semacamnya?" hasut Marissa karena tidak ingin merasa penasaran sendiri. Dia ingin Papa dan Mamanya menjadi curiga dan memutuskan untuk membuka pintu kamar itu dengan sengaja.


Karena otak Marissa sedang berkelana memikirkan hal yang tidak wajar. Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu seperti di film-film. Saat seorang wanita sakit ada seorang pria yang menjenguknya. Mereka bercanda, berpelukan dan mungkin lebih dari itu. Bisa aja kan? Marissa bahkan sampai membayangkan saat pintu itu dibuka paksa, dia dan yang lainnya tengah memergoki Arya dan Raya sedang beradu saling menyatukan bibir mereka. Sama seperti film yang pernah ditontonnya! Uh, membayangkannya saja sudah membuat Marissa merinding.


"Tenang saja, Rissa. Ga mungkin Arya melakukan hal yang aneh-aneh. Kamu jangan kemana-mana pikirannya," ujar Mama menenangkan Marissa tapi yang ada Marissa malah makin kepikiran.


Ini tidak bisa dibiarkan! pikir Marissa lagi. Sudah cukup lama mereka menunggu seperti ini.


Marissa semakin gelisah, tanpa pikir panjang lagi ia putuskan untuk masuk ke dalam kamar tanpa persetujuan siapapun disana.


Marissa beranjak dari duduknya, Mama yang membaca gelagat Marissa mencoba menghentikannya tapi Marissa sudah lebih dulu meraih gagang pintu. Saat dia hendak membukanya, pintu tersebut terbuka lebih dahulu dari dalam.


Muncul Arya dari sana dengan mata merah dan sembab. Sedangkan didalam terpampang Raya sedang berurai air mata menangis sesenggukan. Om Randy yang ikut melihat itu menjadi panik dan berhambur menemui Raya. Sedangkan Arya tak berkata apa-apa langsung pergi begitu saja.


Marissa yang bingung tak ambil pusing langsung mengejar Arya.


Papa dan Mama sama bingung juga lalu ikut masuk ke kamar karena takut terjadi sesuatu pada Raya yang bilamana sesuatu itu disebabkan oleh anaknya, mereka pikir untuk bagian Arya sudah ada Marissa yang mengurus. Sekarang mereka lihat dulu keadaan Raya sebelum mengejar Arya.


"Raya nyesel, Yah. Raya nyesel udah ninggalin Arya. Raya udah minta maaf sama Arya, tapi Arya ga mau maafin Raya. Dia ga mau maafin Raya dan ga mau memulai segalanya dari awal lagi dengan Raya," tangis Raya pecah membahana dalam ruangan itu. Raka yang melihat kakaknya menangis sesenggukan seperti itu jadi ikut menangis karena dia pikir kakaknya sedang kesakitan. Tante Randy jadi kelimpungan merangkul Raka sembari mengelus pundak Raya.


Papa dan Mama menghela nafas mendengar ucapan Raya. Mereka tak habis pikir bisa-bisanya Raya ada kepikiran untuk minta balikan dengan Arya di tengah kondisinya yang seperti ini. Mereka pikir semua kedekatan dan komunikasi ini sudah benar untuk tetap saling menjaga silaturahmi satu sama lain. Tapi ternyata Raya malah menyalahartikannya.


Mama merasakan kecewa yang entah datang dari mana padahal sebelumnya dia setuju bilamana Arya memiliki keinginan untuk balikan lagi dengan Raya. Tapi rasanya, Mama pikir tidak perlu lah secepat ini. Di kondisi masing-masing yang tidak stabil ini, Raya malah memperlihatkan keegoisaanya sendiri.


Om dan Tante Randy yang ikut mendengar penuturan Raya ini seperti sudah kehilangan letak malunya. Entah harus disembunyikan dimana lagi rasa malu tersebut untuk menatap kedua orang tua Arya.


Tak ada lagi kata-kata yang sanggup terucap, hanya tundukan terdalam saja yang bisa mereka berikan untuk menutupi wajah yang harus disembunyikan rapat-rapat itu.


Mama dan Papa saling menatap dan mengerti satu sama lain bahwa yang mereka perlukan sekarang adalah untuk segera meninggalkan tempat ini.


"Melihat kondisinya yang seperti ini, saya rasa Raya masih butuh istirahat banyak. Untuk sekarang kami ingin pamit dulu agar Raya bisa istirahat dan menenangkan diri," pamit Papa pada Om Randy.


Mama pun ikut berpamitan "Kami pulang dulu ya, Nak. Kamu harus banyak istirahat. Jangan malas makan ya biar Raya cepat sembuh ya, Nak."


Papa dan Mama pun berpamitan sekali lagi pada orangtua Raya sebelum meninggalkan ruangan ini.


"Tante, sebenarnya tante masih sayang kan sama Raya?" tanya Raya dalam isaknya saat Mama dan Papa sudah di pintu hendak keluar dari dalam kamarnya.


Mama menoleh lalu membalikkan badannya. "Tante memang kecewa sama kamu, Nak. Tapi rasa kecewa itu bukan alasan untuk Tante membenci Raya. Sampai kapanpun juga Tante pasti akan selalu sayang sama Raya, tapi untuk urusan kamu minta balikkan lagi sama Arya, Tante tidak mau memberi tanggapan apapun, biar itu jadi masalah kalian saja. Kalian yang lebih tau tentang hati masing-masing. Sekarang kami pamit pulang ya, jangan lupa untuk makan teratur agar bisa cepat pulang ke rumah," pesan Mama lagi kepada Raya.


Mama dan Papa akhirnya benar-benar pergi dari kamar itu walau Raya berteriak-teriak memanggil mereka. Bahkan setelah melewati beberapa kamar teriakan Raya masih menggaung di telinga mereka.


Telpon Mama berbunyi, ternyata dari Marissa. Dia mengatakan kalau mereka tidak perlu ke parkiran. Arya dan Marissa sudah menunggu di lobby depan.


Mama dan Papa mengikuti arahan Marissa menuju lobby depan dan segera masuk setelah mengenali mobil mereka. Seperti kompak, saat mereka masuk diam-diam mengintip wajah Arya dari samping belakang tubuhnya. Walaupun tahu, tapi Arya hanya cuek saja. Mukanya datar dan tak mau diajak bicara.


Mobil mereka pun melaju dalam keheningan.


"Kurang ajar emang si Jalan Raya. Bisa-bisanya modus minta duaan di kamar ternyata tujuannya buat ngasih lem ke mulut orang sampe ga bisa ngomong gini!" sindir Marissa bercanda mencoba membelah kesunyian. Tapi Arya tak juga tertawa atau sekedar tersenyum pun tidak.

__ADS_1


Marissa merasa dirinya garing sendiri. Papa dan Mama pun tampak tak ada pembicaraan untuk sekedar bertanya atau menghibur Arya. Suasana dalam mobil itu sungguh terasa gelap. Seperti petang yang di hiasi jangkrik pesawahan. Sunyi sekali.


Mendadak sebuah cahaya muncul diatas kepala Marissa. "Arya, Arya! Tuh didepan ada minimarket berhenti dulu bentar. Gue haus. Mau beli minum dulu!"


Arya tidak menjawab tapi menuruti permintaan Marissa dalam diam. Dia pun memarkirkan mobil tepat didepan minimarket. Marissa turun sendiri.


Tak lama kemudian Marissa masuk kembali ke dalam mobil dengan sebuah kantong kresek putih. Arya hendak menyalakan mobilnya tapi di tahan oleh Marissa.


Dari dalam kresek itu Marissa mengeluarkan sesuatu yang tak asing bagi Arya.


"Panas gini ga ada pelangi, nih gue kasih biar lu bahagia," kata Marissa bersikap sok cuek.


Arya terkejut bahkan tersenyum walau cuma sedikit. Senyum mengerucut yang tertahan.


Mama bingung melihat kelakuan mereka lalu menatap Papa, Papa mengangkat bahu tak tahu menahu. Papa juga balik menatap Mama, ya sama aja Mama juga mengangkat bahu kan tadi udah nanya duluan karena Mama tidak tahu.


"Kok Papa ga dibeliin sih, kan Papa juga kepanasan," sindir Papa pura-pura padahal sedang mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Ohhh Papa dan Mama merasa haus dan kepanasan juga?" tanya Marissa.


"Iya, nih seret banget tenggorokan kayak ada cairan lavanya," ujar Papa berusaha melawak untuk merilekskan suasana canggung.


"Oohh gitu, yaudah ayo ikut Rissa ke dalam sana biar kita beli minuman bersama-sama. Kan Rissa ga tau minuman kesukaan Mama dan Papa itu apa," kata Marissa sambil mengedip ngedipkan matanya agar Papa dan Mama mau ikut turun bersamanya.


Mama yang peka segera paham. "Ohh iya ayo! Mama mau cari minuman yang aneh-aneh aahh," kata Mama semangat sembari membuka pintu mobil dan turun dari sana sambil menarik baju Papa yang masih belum 'ngeh'.


"Lu abisin aja es nya jangan sampai mencair! Tungguin kita disini, mau beli minuman dulu, oke!" pesan Marissa yang hanya di angguk pelan oleh Arya sambil menipiskan bibir dan menaikkan alisnya.


Di dalam minimarket ketiga orang itu bukannya sibuk mencari minuman tapi malah sibuk saling mencari info tentang perlakuan Marissa tadi.


Marissa geli mengingat hal itu dia bahkan hampir tertawa terpingkal. Papa juga ikut nyengir setelah mendengarnya. Tapi berbeda dengan Mama, matanya malah berkaca-kaca ketika mendengar penuturan Marissa. Mama tak menyangka kalau Marissa ternyata perhatian juga pada Arya, dan juga Mama merasa terharu sekali saat tahu bahwa anak laki satu-satunya ini bisa romantis juga.


Selama ini Mama pikir sifat Arya ini kebalikan dari sifat Papanya yang humoris juga romantis walaupun sedikit tegas. Selama ini Mama menganggap Arya sebagai anak yang baik, penurut dan melankolis. Tapi kali ini Mama seperti menemukan fakta baru yang tidak pernah disadarinya sama sekali. Uhh, rasanya ada kemajuan tak terduga dalam diri Arya.


Tapi Mama kembali berpikir, apakah mungkin selama ini Arya itu emang anaknya romantis tapi Mama tidak tahu? Apakah Mama sebenarnya kurang memperhatikan anak satu-satunya itu? Memikirkan ini membuat Mama merasa bersalah sendiri.


"Papa udah dapat minuman nih, kita tunggu Arya sambil duduk didepan aja, ya. Ga enak kalau kita kelamaan ngobrol disini kasihan pengunjung lain susah lewat," ucap Papa bijaksana.


Mereka pun akhirnya keluar dan duduk di bangku ala kafe depan minimarket tersebut dengan sebotol minuman pilihan masing-masing.


Saat menikmati minuman, mereka mengamati Arya yang terlihat dari depan kaca mobil sedang berusaha menghabiskan es krimnya walau dengan berlinang air mata.


Marissa pikir es krim itu pasti rasanya campur asin-asin gimanaaa gitu karena air mata ikut masuk ke dalam mulut Arya.


"Kita disini aja dulu sampai Arya tenang, oke?" kata Papa dan disetujui dua wanita didepannya.


Tak berapa lama Arya terlihat membersihkan air mata di pipinya lalu keluar dari mobil menuju minimarket. Mata tiga orang itu mengekori Arya yang cuek saja masuk tanpa bilang sepatah katapun kepada mereka padahal dia jelas-jelas tau sedang melewati mereka disana.


Arya keluar setelah membayar lalu duduk di antara mereka dengan membawa sebuah botol air mineral. Ia lalu meneguknya.


"Maaf ya, aku jadi bikin suasana canggung sama kalian semua," ujar Arya pada mereka yang di sambut manggut-manggut kepala orang-orang dihadapannya. Rasa bingung menjalari punggung mereka entah harus mulai mengatakan apa.


"Emang.. emang.. mmm tapi kalau lu ga keberatan ngasih tau sih, gue mau tanya,, tadi tuh kalian kenapa sih? Ngomongin apaan emang? Ngapain aja disana duaan lama banget? Kenapa pas keluar kok malah sedih?" ucap Marissa borong pertanyaan. Sebenarnya ada rasa tak enak hati untuk bertanya tapi dia malah sengaja meluapkan banyak hal yang ingin diketahuinya.

__ADS_1


Mama menggenggam lengan Marissa, menahannya untuk tidak bertanya lebih banyak lagi. Marissa harusnya bertanya satu-satu bukan malah memborongnya begini. Sudah tahu suasana hati Arya lagi tak karuan.


Arya tersenyum datar. "Aku bakal cerita tapi engga disini. Nanti akan ku ceritakan semuanya dirumah."


Mendengar itu Marissa langsung berdiri tegak. "Ayo kita pulang sekarang," ajak Marissa pada ketiga orang dihadapannya sambil mengedipkan mata imut.


Mama dan Papa melongo. Ini orang kesambet apa ya, semangat bener buat kepoin Arya. Mungkin itu yang ada dipikiran mereka sekarang.


"Pulang dari sini lu langsung cerita ya!" pinta Marissa.


Arya mengangkat bahu.


"Ya ya ya?! Iiihh lu kan bilang bakal cerita dirumah jadi sekarang ayo pulang dan lu ceritain semuanya tentang tadi, oke? Oke, oke, oke?" rengek Marissa.


Papa dan Mama saling pandang. Papa hanya tersenyum melihat tingkah Marissa dan Mama memegang kepala sambil geleng-geleng tak habis pikir.


Marissa bahkan menarik lengan Arya agar segera beranjak dan pulang ke rumah.


"Let's Go! Let's Go! Let's Go!" ucap Marissa penuh semangat seperti anak kecil yang hendak dibelikan mainan.


Mereka semua pun akhirnya naik ke dalam mobil dan pulang.


Sebenarnya Mama dan Papa juga penasaran atas kejadian tadi. Tapi tidak menunjukkan keingintahuan itu seperti Marissa. Mereka lebih senang kalau Arya yang mulai cerita terlebih dahulu kapanpun waktunya, tanpa paksaan.


Marissa tak hentinya mengoceh ini itu selama perjalanan.


"Pokoknya lu ceritain semuanya! Oke?!" katanya lagi pada Arya.


Ketika dia sedang menikmati semangatnya itu. Ponsel Marissa bergetar, sebuah pesan masuk.


Marissa merogoh ponsel itu dari tasnya dan mengecek siapa pengirim pesan tersebut.


Dan betapa kagetnya dia, ternyata pesan itu dari Mika!


Marissa berdeham mencoba tenang. Halah, paling pesan ngancam-ngancam ga jelas lagi, pikirnya kalem.


Tapi pendapat dirinya itu berubah seketika menjadi kepanikan. Ternyata Mika mengirimkan sebuah video yang tak penah terpikirkan oleh Marissa.


Marissa bingung, walau takut tapi dia juga penasaran apa isi video tersebut.


Pelan-pelan dia klik video itu dan seketika tersebarlah bunyi aneh didalam seisi mobil mereka.


Video memutar mengeluarkan bunyi "Akhh..." sebuah bunyi kenikmatan. Lalu video dua detik itu terhenti begitu saja.


Potongan video dua detik itu membuatnya pusing seketika. Marissa syok. Tangannya mendadak kram.


Arya melirik Marissa, dahinya mengernyit heran.


Papa dan Mama lagi-lagi saling tatap dan juga saling geleng kepala tak tahu.


"Kenapa?" tanya Arya curiga.


"Ga apa-apa," jawab Marissa datar mencoba tenang sambil membanting ponselnya ke dalam tas. Lalu dia bersandar di kursinya sambil menyilangkan tangan dan memejamkan mata tanpa berkata apa-apa lagi hingga tiba di rumah.

__ADS_1


***


__ADS_2