Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Urusan Dengan Si Cebeng Matre


__ADS_3

Sudah dua hari Marissa tak bicara. Dia selalu pergi-pergian tanpa pamitan.


Mama dan Papa silih berganti bertanya pada Arya namun selalu menemui jawaban yang sama, yaitu tidak tahu.


Pernah Marissa baru pulang entah darimana, dia berjalan menuju kamarnya sambil teriak dengan seseorang ditelepon.


Arya pikir, pasti ada yang tidak beres. Pasti ada sesuatu yang salah dengan suara ******* yang ia dengar di mobil saat pulang dari menjenguk Raya.


Memang benar jika itu bukan urusan Arya maupun keluarganya kalau menyangkut persoalan pribadi Marissa. Tapi, bagaimana pun juga Arya tak bisa tutup mata, dia khawatir. Marissa bukan orang yang dapat dibiarkan sendiri dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Dia terlalu gegabah ketika harus memutuskan sesuatu.


Malamnya setelah pulang kerja, Arya pun memberanikan diri untuk bertanya langsung padanya.


Dengan kesiapan hati, Arya mengetuk pintu kamar Marissa. Terdengar samar-samar sebuah bentakan dari dalam kamar. Marissa pasti sedang berbicara dengan seseorang, ya sudahlah mungkin bukan saat yang tepat untuk menemui dia.


Tapi siapa sangka saat Arya hendak kembali ke kamarnya, pintu kamar Marissa terbuka dan tampaklah dia dengan sebuah ponsel di telinganya.


Marissa melambaikan tangannya seperti tukang parkir, menyuruh Arya masuk.


Arya menuruti namun Marissa masih sibuk berbicara dengan nada kesal kepada seseorang disebrang telepon sana yang sama sekali tidak diketahui Arya.


Marissa menutup telponnya lalu membantingnya ke kasur lalu merebahkan diri disamping ponselnya sambil membentangkan lengannya.


Arya duduk di sebuah sofa depan televisi.


"Tumben lu main ke kamar gue, pasti ada maunya," katanya berpikir curiga.


"Apa otak kamu ga bisa di bongkar pasang supaya aku bisa masukin hal positif disana biar kamu ga mikir negatif dan curiga terus?" tanya Arya menoleh pada Marissa yang masih terbentang di atas kasurnya, di belakang sofa yang diduduki Arya.


Marissa geleng-geleng dalam rebahannya. "Gue cinta diri gue yang seperti ini, kecantikan hakiki dan kecerdasan hakiki ini tidak boleh di ganggu oleh siapapun! Jadi lu ga berhak buat bongkar pasang apapun di otak gue, ngerti?!" katanya pede.


Arya berdecak lucu, sesungging senyum dia sembunyikan sambil menatap TV dengan layar hitam yang tidak dinyalakan. Dia bisa melihat sendiri pantulan wajahnya disana, sedang menertawai Marissa.


"Aku ga lagi ngomongin kecantikan maupun kecerdasan hakiki milikmu. Hanya saja aku ingin menghilangkan kecurigaanmu yang berlebihan itu," kata Arya lagi.


Marissa berbalik menyamping. Sebelah tangannya menopang kepala. Dia memicingkan mata sambil manyun.


"Masalahnya lu kan makhluk misterius yang ga bisa gue mengerti, satu-satunya yang gue tau adalah lu bakal datang ke gue kalau lagi ada maunya doang," kata Marissa sambil memandangi belakang kepala Arya. Dia bahkan kagum dengan rambut lurus Arya yang hitam dan tampak halus.


Arya menoleh, Marissa terkejut dan kembali rebahan.


"Aku cuma mau tau kabar kamu gimana, habisnya setelah pulang dari menjenguk Raya kamu ga bicara sama sekali padaku ataupun sama Papa dan Mama. Kasihan mereka mengkhawatirkan kamu. Apa kamu lagi ada masalah makanya diem-diem kayak gitu?"


Marissa lagi-lagi mengangguk sambil rebahan. "Gue emang lagi ada masalah. Tapi sekarang udah selesai kok. Makanya mood gue kembali happy." Marissa nyengir, sebenarnya dia sadar kalau dua hari ini dia memang mendiamkan keluarga Arya, bukan tanpa alasan, hanya saja dia tidak mau melibatkan mereka dalam urusannya ataupun kena semprot akibat amarahnya.


"Kenapa kamu ga cerita sama aku? Sebenarnya kamu ada masalah apa? Apa ini berhubungan dengan suara yang kita dengar di mobil waktu itu?" tanya Arya menginterogasi.


"Dah ah! Kepo banget deh lu! Ga usah tanya-tanya!Yang penting kan masalahnya udah selesai!" jawab Marissa senang seolah tanpa beban.


"Ya sudah kalau gitu. Aku cuma mau mastiin aja, kalau kamu udah bilang gitu aku kan jadi tenang, aku juga ikut bersyukur kalau emang masalah kamu udah selesai. Aku pikir masalah kamu sangat serius sampai tidak mau bicara pada siapapun," Arya beranjak dari duduknya "aku balik ke kamar lagi ya kalau gitu."


Arya melangkah tanpa di iringi sepatah katapun dari Marissa.

__ADS_1


Sedangkan Marissa terduduk dari tidurnya guna melihat kepergian Arya sembari melihat punggung suami palsunya itu.


"Arya keren juga ya badannya. Tapi kasian, nanti setelah cerai dari gue dia bakal jadi duda tapi perjaka. Lucu juga ya kalau dipikir-pikir," gumam Marissa merasa konyol.


Sambil mengelus perutnya Marissa berbisik, "Anakku sayang, semoga kelak nanti kamu jadi seperti Arya ya, Nak. Udah ganteng, keren, sopan, wangi, baik pula. Tapi jangan ikutin sifatnya yang ngeselin dan naif ya."


Tanpa terasa perut Marissa sudah membesar, bahkan jenis kelamin anaknya sudah diketahui sekarang yaitu laki-laki.


"Ah, sama satu lagi. Walaupun kamu anaknya Tio, tapi Mama minta kamu jangan seperti Papamu yang brengsek itu ya, mana tukang selingkuh, penipu, mata duitan! Buncit juga! Uhh kenapa coba Papamu borong semua kejelekkan? Mama mohon sekali ya Nak jangan turutin Papamu dan jangan pernah ada kepikiran buat hidup hina seperti dia. Ya sayang yah.. dengerin Mama ya anak baik?" ujar Marissa lagi masih mengelus perutnya dengan lembut.


Meskipun dia sudah mengenal keburukkan Tio, tapi tak dapat dipungkiri kalau dia sebenarnya masih ingin hidup bersama dengan Tio. Walaupun hatinya sudah dibuat kecewa, tapi dia punya tanggung jawab terhadap anak yang sedang dikandungnya. Bagaimanapun Marissa ingin anaknya itu tumbuh kembang dengan kasih sayang dari seorang ayah. Dia bahkan berjanji akan menerima perlakuan buruk dari Tio di masa depan asalkan anaknya bahagia dan dapat mengenal ayah kandungnya.


Apalagi setelah meminta kesepakatan dengan Mika yang akan memberikan Tio sepenuhnya dan bercerai. Marissa yakin hal tersebut tak akan lagi mustahil. Mika bahkan berjanji akan hilang dari kehidupan mereka dan membawa kedua anaknya untuk memulai hidup baru agar tidak dapat bertemu dengan Tio lagi.


Dia sudah sepakat untuk memberikan timbal balik yang menguntungkan dengan Mika. Sama seperti yang dia lakukan dengan keluarga Arya dulu sebagaimana diketahui dia menikah kontrak dengan Arya guna menutupi kehamilannya dari publik.


Bahkan saking sibuknya dengan semua kepalsuan yang harus dijalaninya saat ini, dia biarkan media sosialnya begitu saja hingga berkerak tak pernah terurus.


Marissa memperbaiki posisinya di atas kasur, dia ingin menidurkan dirinya sebentar. Rasanya begitu lelah setelah menyelesaikan masalah yang menimpanya selama dua hari ini. Hal yang sudah terselesaikan, yang dia sebutkan tadi pada Arya.


Marissa tersenyum sambil memejamkan mata. Banyak hal yang ia pikiran sekarang. Sebentar lagi dia akan melahirkan anak yang amat dicintainya. Lalu memulai kehidupan baru dengan Tio tanpa dibayangi oleh Mika dan anak-anaknya. Dan kemudian menjalani hidup dengan baik sebagai sebuah keluarga bahagia. Manis sekali bayangan di kepalanya itu.


Meski Marissa belum tau keputusan Arya yang tak ingin kembali dengan Raya karena alasan masa lalu, dia berbeda dengan Arya. Dia tak peduli akan masa lalunya bersama Tio tentang bagaimana laki-laki itu membuatnya jatuh cinta hanya untuk dimanfaatkan.


Tanpa sadar, Marissa juga sebenarnya naif. Tapi dia selalu mengatai Arya seperti itu seolah dia sendiri yang hidupnya paling rasional.


Mulai perlahan dia terlelap dalam tidurnya. Mimpi indah siap menghampiri alam bawah sadar Marissa, buktinya saja dia masih tetap tersenyum saat kesadarannya lenyap dalam sebuah tidur yang pulas.


Marissa meraba ponsel di dekatnya. Terpampang dilayar ponselnya tertulis nama panggilan dari 'Si Cebeng Matre' yang artinya cewek brengsek matre. Pemilik panggilan itu adalah Mika. Ada apa lagi sih sama si cewek matre ini? Ganggu terus! Pikir Marissa sambil mengucek mata.


Marissa hendak mengangkat telepon tersebut, tetapi sebuah pikiran terlintas dalam benaknya. Dia ingin tertidur kembali dan melanjutkan mimpi indah yang sempat didapatinya tadi. Karena alasan itulah dia menekan tombol merah menolak panggilan Mika.


Tapi ternyata ponsel itu kembali berdering namun tetap ditolak lagi oleh Marissa.


Dan berdering lagi. Marissa kesal dan ditolak lagi olehnya.


Saat Marissa hendak meletakkan ponselnya kembali, ternyata ponsel tersebut berdering lagi. Tapi kali ini deringnya lebih singkat. Kali ini nada deringnya berbeda. Itu adalah dering untuk sebuah pesan.


Marissa menggaruk kepalanya hingga rambutnya teracak. Dia kesal, rasanya ingin tidur kembali tapi penasaran juga itu pesan apa. Maka di bukalah olehnya, ternyata benar saja seperti dugaannya kalau itu pesan dari Mika.


"Haduhhh apalagi sih manusia satu ini!" ucapnya kesal.


Walau kesal dia tetap membuka pesan itu, penasaran. Dan betapa terkejutnya Marissa. Dia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya padahal tangannya tidak licin.


Ternyata itu adalah pesan video yang sama seperti yang pernah diterimanya di mobil dulu. Bedanya, dulu video itu hanya berdurasi 2 detik, kini berubah jadi 10 detik.


Tanpa pikir panjang Marissa langsung menelepon Mika.


Dan tanpa menunggu lama telepon itu di angkat.


"Harus dengan cara gini ya lu mau telpon gue, hah! Berani banget reject-in mulu panggilan gue!" cecar Mika galak.

__ADS_1


Marissa mendengus kesal, "eh cewek setan, maksud lu apa kirim gituan?! Lu mau ngancem gue lagi, hah? Emang ya lu ga bisa dipercaya! Gue udah kasih uang yang lu mau, tapi lu masih berani ancam-ancam gue, hah!" balas Marissa tak kalah galak.


"Eh pelakor iblis! Lu dongo apa tolol sih, kan gue minta 2 Milyar, lu malah kirim cuma 500 juta? Lu lagi main-main sama gue? Pengen banget video lu gue sebar?!"


Marissa terdiam. Dia jadi gugup, "eh cebeng, cewek brengsek, manusia gila, lu pikir gue gudang duit apa? Lu meras kira-kira lah! Mana ada gue duit sebanyak itu? Kartu kredit aja bokap gue yang bayarin, lu kalo mau meras mikir dong!" kata Marissa sambil mengatai Mika guna menutupi kegugupannya, "udah bagus gue kasih 500juta. Bukannya bersyukur lu, di kasih hati malah minta tai!" katanya lagi, kasar sekali.


"Tai yang gue minta itu sebanding dengan apa yang lu dapatkan, kan? Gue mau uang itu secepatnya! Gue ga peduli gimana caranya lu dapatin uang itu! Mustahil juga kalau lu ga punya uang segitu. Keluarga lu kaya kan? Gue bakal percaya lu ga punya segitu kalau kalian udah bangkrut, tapi tetap aja sih gue ga peduli. Gue hanya mau duit gue! Dosa kalian akan gue lupakan dengan uang sebanyak yang gue inginkan. Kalau ga bisa, lu jual diri aja ke orang yang lebih kaya atau minimal ke suami palsu lu itu! Lumayan kan buat nambah-nambah! Gue kasih lu waktu 3 hari. Kalau lu ga bisa kasih gue uang sebanyak yang gue mau, lu tau kan apa yang akan terjadi?" ancam Mika tak segan-segan lalu menutup teleponnya sepihak. Padahal Marissa masih ingin bicara lagi.


Marissa menelepon lagi Mika, tapi nomor yang dihubungi sudah tidak aktif.


Marissa jadi kesal dan frustasi, uang itu padahal tabungan satu-satunya. Uangnya sudah banyak habis untuk Tio dan bayar orang-orang untuk menutupi issue tentang dirinya. Bahkan dia rela membayar beberapa akun gosip yang menyebarkan keburukannya agar berpaling untuk menyebarkan rumor baik tentang dirinya.


Dan karena kelakuannya ini ketahuan oleh kedua orang tuanya, alhasil kartu kreditnya diblokir oleh mereka dan uang yang tiap bulan rutin ditransfer untuknya kini dibatasi hanya 10juta sebulan.


Marissa putus asa dibuat Mika. Marissa pikir Mika itu siapa sampai semena-mena padanya. Padahal semua yang terjadi diantara mereka bukan hanya salah Marissa. Mereka semua juga tahu kalau Mika itu salah satu penjahatnya yang sudah berkomplot dengan Tio untuk menipu dan memanfaatkan Marissa secara materi.


Bahkan belum cukup dari semua itu, sekarang Mika malah tambah ganas memeras Marissa dengan memanfaatkan kelemahannya.


Marissa yang marah melemparkan ponselnya sekuat tenaga hingga mengenai televisi, membuat layar hitam televisi itu menjadi retak. Dia bahkan mengacak sprei tempat tidurnya. Bantal dan selimut tersebar di lantai. Padahal beberapa waktu lalu dia sedang mimpi indah disana, tapi sekarang mimpi itu jadi berantakan bersama dengan ranjang yang tadi ditiduri olehnya.


Marissa juga melemparkan vas bunga yang ada di atas meja pinggir tempat tidurnya.


Arya yang sedang berada dikamar sebelah terkejut mendengar suara bising dan jeritan dari kamar Marissa.


Dia buru-buru turun dari ranjangnya lalu keluar kamar.


Terdengar jelas jeritan Marissa setelah keluar kamar. Arya mengetuk pintu kamar Marissa dengan cemas. Tak berapa lama, sambil setengah berlari tampak Papa dan Mama juga beberapa asisten yang panik sudah berkumpul disana sama-sama ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada Marissa.


"Arya, kenapa Marissa?" tanya Papa ngos-ngosan. Umurnya tak bisa membohongi kekuatan fisik Papa. Papa tampak lelah berjalan cepat ke sini sambil membawa perasaan cemas di benaknya.


"Ga tahu, Pa. Arya juga baru sampai disini, jadi belum tahu apa-apa. Dari tadi Arya gedor kamarnya tapi ga mau dibuka," jawab Arya dengan ekspresi tak kalah panik.


Mama menggedor pintu kamar Marissa kuat-kuat. "Rissa, buka Nak! Kamu kenapa? Jangan bikin kami khawatir, Nak! Cepat buka pintunya!" pinta Mama setengah teriak.


"Sudah, Ma. Biar dibuka dengan kunci cadangan saja," saran Papa lalu menyuruh salah satu asistennya untuk mengambil kunci tersebut.


Bagi mereka kejadian ini seperti de javu. Hal seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya, dan kini terjadi lagi.


Secepat kilat asisten itu segera datang. Tak menunggu waktu lama, pintu kamar Marissa dibuka oleh mereka.


Betapa kalutnya orang-orang itu saat melihat penampakan kamar Marissa yang sudah seperti kapal pecah terombang-ambing ombak lautan.


Ditambah melihat keadaan Marissa yang sedang beringsut di bawah dekat bibir kasur sambil memegang perutnya nampak kesakitan.


"Astaga Marissa! Kamu ga apa-apa Nak?!" tanya Mama panik berhambur mendekati Marissa.


Marissa merasa seolah kehilangan kesadaran diri. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menahan kesakitan dibagian perutnya. Dia melihat Arya dan orang tuanya berbicara padanya tapi dia tidak dapat mendengar apa-apa, entah apa yang mereka bicarakan namun tiba-tiba saja Arya menggendongnya.


Tanpa disadarinya lagi pandangannya mulai gelap, dia hanya dapat mendengar berbagai suara memanggil namanya.


***

__ADS_1


__ADS_2