
Setelah kejadian penculikan itu, Marissa jadi lebih pendiam. Dokter pribadi yang merawatnya hanya mengatakan bahwa dia mengalami syok akibat penculikan, tapi itu tak perlu dikhawatirkan karena seiring berjalannya waktu kondisi Marissa akan membaik seperti sedia kala.
Selepas pesta barbeque semalam, Marissa jadi betah bermain air sambil menatap kolam renang didepannya. Tatapannya kosong, tapi dia seperti menikmati air kolam yang tampak tenang.
Arya mendekati Marissa lalu berjongkok di sebelahnya.
"Gimana kondisi kamu sekarang? Sudah lebih enakan dari semalam?"
Marissa tak menjawab. Dia hanya menggangguk lemah.
"Mmhh.. Kamu sudah minum obat yang dokter berikan?"
Lagi-lagi Marissa hanya mengangguk. Melihat sikap Marissa yang seperti itu membuat Arya kehilangan bahan bicara. Hal ini pun di artikan oleh Arya bahwasanya Marissa sedang tak ingin ditanya-tanya. Mungkin karena pembicaraan mereka semalam membuat suasana jadi lebih canggung dari biasanya.
"Kamu masih betah di sini? Tidak mau masuk ke dalam?"
Kali ini jawaban Marissa hanyalah sebuah gelengan kepala.
"Tapi di sini dingin," kata Arya.
"Gapapa." Marissa kini bersuara namun menjawab dengan singkat.
Arya menggaruk belakang kepalanya, bingung dan salah tingkah. "Baiklah kalau begitu. Aku masuk duluan ya? Nanti biar ku minta Mbak Atik siapin teh hangat untuk kamu."
Tanpa meminta persetujuan istrinya, Arya langsung masuk ke dalam dan melakukan apa yang dikatakannya barusan.
"Silahkan Kak tehnya," sapa Atik seraya menaruh segelas cangkir hangat dan sebuah piring kecil sebagai alasnya.
"Ah, terimakasih Mbak Atik. Tapi Rissa merasa mulai kedinginan disini. Bisa minta tolong tehnya di bawa ke kamar Rissa aja?"
"O-oh.. Baiklah kalau begitu," jawab Atik sambil mengangkat kembali gelas dan piring yang baru ditaruhnya barusan.
__ADS_1
Marissa berdiri dari duduknya, baru beberapa langkah dia sudah sempoyongan. Yang ia rasa kok seperti dataran tempat pijakannya bergoyang, pandangannya tiba-tiba banyak semutnya. Dalam hati Marissa ingin minta bantuan pada Atik yang sibuk dengan gelas tehnya, tapi mengapa suara Marissa tak mau keluar.
Makin lama keseimbangan tubuhnya hilang, tatapannya mulai meremang lalu gelap. Sebelum benar-benar hilang kesadaran.
BYURR!
Marissa dapat merasakan sebuah benturan keras menghantam dirinya. Sedetik kemudian, tubuhnya serasa ditarik ke dalam, entah apa, namun rasanya semakin dalam dan semakin hilang.
"Ya ampun, Mbak Rissa!" jerit Atik histeris melihat Marissa jatuh begitu saja ke dalam kolam renang. Saking terkejutnya, dia bahkan tidak sadar sudah menjatuhkan gelas teh yang tadi hendak dibawa kembali olehnya. Suara teriakan Atik menyatu dengan suara pecahan kaca membuat kegaduhan yang ramai.
Atik yang tak pandai berenang hanya sanggup berteriak sekencangnya, berharap ada seseorang yang menolong Marissa.
"Kenapa Mbak?" tanya Arya sebagai orang pertama yang sampai disana.
Atik dengan gelagapan menunjuk kolam renang. Jarinya gemetaran. "I-itu K-Kak Rissa kecebur! Tolongin Kak Arya, tolonginn!" ucap Atik masih histeris.
Sejurus kemudian pandangan Arya teralih pada kolam, buih-buih halus berebutan naik ke atas, mengambang ke permukaan.
Tanpa menunggu lama, Arya menanggalkan sendalnya dan melompat begitu saja ke dalam kolam. Di dalam air samar-samar dia melihat sosok Marissa yang memejamkan mata.
"Ada apa Mbak?! Kok teriak-teriak?" seru Mama dari kejauhan diikuti asiten lainnya. Dengan masih gagap Atik menjelaskan situasinya sedangkan Arya berusaha menaikkan tubuh Marissa ke pinggir kolam.
Mama langsung meloncat ke arah mereka dan membantu menaikkan Marissa dengan asisten lainnya. Mama bahkan menangis melihat keduanya basah kuyup apalagi Marissa sampai tak sadarkan diri.
"Ya ampun, Nak apa yang terjadi? Kok bisa sampai seperti ini?" tangis Mama sambil mengusap wajah Marissa.
Arya ikut naik ke pinggiran lalu memeriksa keadaan Marissa. Dia menepuk pipi Marissa mencoba membangunkannya tapi hasilnya nihil. Arya mulai panik, dia dekatkan telinganya ke hidung Marissa namun ia tidak mendapatkan suara nafas di sana.
Tanpa pikir panjang Arya meminta Mamanya agak menjauh lalu mencoba usaha memompa dada Marissa sebagai bentuk pertolongan pertama.
Melihat semua itu Atik menangis tak karuan. Dia merasa bersalah sekali karena tadi tidak sempat memperhatikan Marissa sebelum jatuh ke dalam kolam. Asisten lain tampak sibuk menenangkan Atik.
__ADS_1
Arya yang sangat berusaha itu mulai berpikir negatif. Dia takut setakut-takutnya. Pasalnya Marissa tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dalam hati Arya memohon supaya perempuan itu membuka matanya.
Mama juga ikut menangis histeris tak kalah dari Atik. Mama memanggil terus nama Marissa sambil diselingi doa.
Arya bingung luar biasa. Usahanya tak ada hasil! Kalau begini caranya apa boleh buat, Arya harus mencoba cara lain, mau tak mau dia harus memberi Marissa nafas buatan!
Saat bibir Arya akan menyentuh bibir Marissa, dia berhenti sejenak. 'Tunggu, kalau aku melakukannya bukankah ini pertama kalinya aku bersentuhan bibir dengan wanita? Itu artinya ini ciuman pertamaku dan ku lakukan dengan Marissa? Astaga! Ini sentuhan pertama setelah apa yang ku pertahankan selama ini?!'
Melihat jeda yang dilakukan Arya membuat Mama panik. "Arya! Apa yang sedang kamu pikirkan! Cepat berikan Rissa nafas buatan! Nyawanya sedang dalam bahaya sekarang!"
Ucapan Mama ini benar. Saat ini nyawa Marissa sedang dipertaruhkan! Tak ada waktu untuk memikirkan perihal bibir siapa yang boleh menyentuh bibir Arya pertama kali. Tanpa pikir panjang Arya melakukannya. Dia memberi nafas buatan sesuai intruksi yang pernah ditonton ya di salah satu kanal YouTube dunia kesehatan.
Arya panik karena awalnya tidak berhasil. Tetapi dia tidak menyerah! Arya mencoba lagi dan lagi hingga akhirnya,.. Dada Marissa terangkat hingga tersedak lalu dia memuntahkan air yang lumayan banyak. Marissa tampak terbatuk-batuk sambil berusaha untuk sadar.
"Rissa kamu gak apa-apa, Nak?" seru Mama histeris sekaligus menangis, perasaan lega menyeruak memenuhi dada Mama. Begitu pula dengan Arya, dia merasa beban berat di pundaknya runtuh seketika meski tiba-tiba dia teringat adegan bibir mereka saat bersentuhan tadi, membuat perasaan Arya campur aduk jadinya. Sisa sentuhan itu terasa nyata dan bersisa hingga menggetarkan dadanya.
Atik yang merasa bersalah pun kini ikut merasa lega sehingga membuat kakinya terasa lemas lalu jatuh terduduk ditempatnya berada.
Setelah Marissa sadar, Mama menyuruh Arya untuk menggendong menantunya itu ke dalam kamar, dibantu oleh Atik untuk mengganti baju Marissa yang basah.
Tanpa bicara apa-apa Arya naik tangga satu persatu. Ada rasa tak nyaman di hati Arya, perasaan seperti diperhatikan. Saat melirik wajah Marissa, ternyata mata mereka saling bertemu membuat Arya salah tingkah.
"Terimakasih," bisik Marissa sambil mengeratkan pelukan di leher Arya. Membuat dada Arya sesak, dan tanpa sengaja membuat langkahnya menjadi goyah. Hal itu membuatnya hampir saja terpeleset dan jatuh dari tangga.
"Maaf, lantainya licin karena bajuku basah."
"Lantainya basah atau kamunya yang deg-degan salah tingkah?" tanya Mama yang tanpa Arya sadari sedang mengekori mereka di belakang ikut menuju kamar Marissa.
Arya heran pada Mamanya, bisa-bisanya Mama mengejek padahal baru semenit yang lalu teriak-teriak histeris tak karuan.
Arya diam saja dan mempercepat langkahnya. Dia harus segera sampai supaya kesalah pahaman dalam hatinya ini tidak berlanjut semakin dalam.
__ADS_1
Apalagi sentuhan dia dengan Marissa saat ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama atau muka Arya bisa memerah tanpa bisa dikendalikan ataupun disadari olehnya.
***