Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Kangen


__ADS_3

Arya menatapi Chicha dengan seksama. "Pasti Arista punya alasannya sendiri mengapa dia melakukan hal seperti itu. Aku pikir, Arista hanya ingin menunjukan kekuatannya dan berharap temannya yang dulu pernah mengucilkannya bakalan menyesal setelah melihat kesuksesan Arista bisa kuliah di sana. Dan mungkin dia sebenarnya takut kalau teman sekolahnya mengetahui kebenaran tentang dirinya yang gagal kuliah dan nanti malah akan membuatnya semakin di bully dan digunjing, karena itulah dia jadi nekat berfoto-foto seperti itu. Aku ingin kamu memakluminya," pinta Arya tulus pada Chicha.


"Ya.. Mungkin saja niat dia seperti itu. Walau nyatanya Arista tak pernah mengatakan alasan apapun tentang hal itu padaku, tapi bisa saja aku pun anggap seperti itu," ujar Chicha mulai menghilangkan keraguan pada sahabatnya.


Setelah mengatakan itu Chicha terlihat tampak berpikir, tiba-tiba saja dia teringat sesuatu kemudian berseru "Ooo.. aku baru ingat!" Chicha menjentikkan jarinya.


"Pantas saja ya! Tadi kan kamu bilang kalau disana ada orang yang kamu suruh untuk mengawasi Arista ya? Aku teringat satu hal! Jadi selama ini aku salah sangka ya? Sebenarnya aku pernah merasakan ada yang mengawasi ketika aku bersama Arista. Berarti itu orang suruhanmu ya? Ku pikir itu mantan pacarnya dulu,"


"Mantan pacar?" Arya tak salah dengar kan? Jadi selama ini Arista sudah pernah berpacaran disana? Tapi Arya tak pernah mendapatkan info apapun tentang itu. Dia hanya mendapatkan kabar kalau Arista selalu bersama-sama dengan seorang laki-laki dan perempuan yang pasti orang ini adalah Chicha. Dan kemungkinan besar dengan laki-laki ini pun mereka terlihat seperti berteman biasa.


"Iya! Dulu dia pernah punya pacar orang Thailand, sama sepertiku tapi kami datang dari daerah yang berbeda. Arista senang banget ketika bersama pacarnya dulu. Tapi pacarnya itu selingkuh, dan menyebalkannya lagi dia bukan selingkuh biasa,"


Entah mengapa hati Arya merasa kecewa saat mendengar Arista sudah pernah punya pacar disana. Rasanya mengapa ya jadi seperti dia yang sedang diselingkuhi?


Arya tetap memasang wajah tenang. "Maksudnya bukan selingkuh biasa itu gimana?" tanyanya penasaran.


"Pacarnya Arista dulu selingkuh bukan dengan perempuan tapi selingkuh dengan laki-laki!"


Arya tersentak kaget. Lagi-lagi dia ga salah dengar kan?


"Maksudmu laki-laki berpacaran dengan laki-laki?" tanya Arya benar-benar tak habis pikir.


"Kaget kan kamu? Apalagi Arista saat pertama kali mengetahuinya! Dia bahkan sampai membenci dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi perempuan. Bayangkan saja dia yang sudah merasa nyaman dengan pacarnya malah dikhianati. Pacarnya malah merasa nyaman dengan orang lain yang bahkan satu gender dengannya. Hati Arista hancur banget saat itu, berhari-hari dia bahkan mengurung diri tak mau makan. Kasihan sekali dia dikhianati dengan cara yang kejam sekali, kalau aku jadi dia pun pasti aku akan melakukan hal yang sama atau mungkin lebih parah dari dia. Mungkin aku sudah bunuh diri karena dicampakkan oleh orang yang ku cintai dengan cara yang tidak masuk akal,"


Chicha melihat wajah Arya yang pucat saking terkejutnya menyadarkan Chicha akan sesuatu. "Kamu jangan berpikir buruk dulu ya. Cowok-cowok dinegaraku tidak semuanya seperti itu kok. Yaaa meskipun di negaraku sudah banyak yang jadi transgender sekarang, tapi masih banyak kok cowok yang normal. Mungkin Arista sedang tidak beruntung saja karena bertemu cowok seperti itu."


Arya menelan ludahnya sendiri tak menyangka Arista harus mengalami hal pahit sedemikian rupa. Dia pikir hanya dia seorang saja yang mengalami pahitnya drama percintaan, ternyata Arista sudah lebih dulu merasakannya sebelum apa yang Arya rasakan sekarang.


"Lalu, maksud kamu tadi saat bilang kalau kamu pikir orang yang mengawasi kalian itu mantan pacar Arista apa? Mengapa kamu berpikir begitu?"


"Oohh.. Itu karena setelah mereka berpisah setelah setahun lamanya cowok itu muncul lagi. Dia tidak tahu malu ingin kembali bersama lagi dengan Arista padahal Arista sudah mulai bisa melupakannya tapi cowok itu datang tanpa perasaan bersalah sama sekali. Arista yang tidak bisa melupakan pengkhianatan dan tak bisa percaya lagi pada cowok itu tentu saja menolaknya tapi cowok itu jadi marah dan mengancam Arista. Karena itu saat berpergian kemana-mana Arista dan aku jadi waspada. Tapi entah mengapa setelah beberapa minggu anehnya dia tidak pernah muncul lagi. Entah pergi ke mana, mungkin sudah berbaikan lagi dengan pacar cowoknya yang sesama jenis jadi tidak mengganggu lagi Arista," jelas Chicha panjang lebar.


Terbesit rasa iba menjalar di hati Arya. Malang sekali nasib Arista. Setelah ditipu bibinya dia harus hidup terombang-ambing di negeri orang, ketika dia merasa nyaman telah menemukan orang yang dirasa tepat bisa melindunginya tiba-tiba saja dia malah harus menerima pengkhianatan yang kejam. Tapi Arya bersyukur, untung saja dia dipertemukan teman yang baik seperti Chicha yang mau membantunya dalam segala keadaan bahkan masih setia hingga sekarang walau sedikit nyinyir.


Obrolan panjang lebar itu membuka kembali pikiran Arya. Dia merenung sepanjang jalan sepulang dari kamar Chicha, tentunya setelah menitipkan nomor ponsel Arya.


Setelah dipikir-pikir, ternyata hubungan dia dan Arista selama ini hanya terhalang oleh kesalahpahaman saja.


Andai Arya mau mengungkapkan isi hatinya, tak mustahil Arista pun akan jujur tentang perasaannya pada Arya. Yang artinya ternyata waktu itu mereka masing-masing memiliki perasaan yang sama yaitu suka satu sama lain.


"Aduuhh Nak Arya.. Kemana aja Bibi cari-cari dari tadi! Bibi cari sampai ruang IGD juga ga ketemu!" Arya terkejut dengan kehadiran Bibi yang tiba-tiba sudah ada didepan matanya. Raut wajah Bibi yang panik membuat Arya jadi ikut panik.


"Loh Bibi? Kenapa Bi kok cari saya sampai segitunya? Apa terjadi sesuatu?" tanya Arya cemas.


Bibi mengatur nafasnya perlahan. "Bukan Nak! Ga ada apa-apa, tapi itu si Kakak dari tadi nyariin aja Nak Arya. Dia suruh Bibi cari Nak Arya suruh cepat pulang ke kamarnya!" jelas Bibi.


Arya mendelik, dilihatnya ponsel di saku celananya. Tapi aneh, kalau Marissa mencarinya kenapa sama sekali tidak ada panggilan satupun darinya?


"Tapi Marissa ga ada nelpon saya Bi," ucap Arya selesai melihat ponselnya.


"Kalau itu Bibi juga gak tahu. Mungkin si Kakak malu buat nelpon Nak Arya langsung makanya suruh Bibi yang cari,"


Arya bingung. "Malu kenapa?"


"Tadi kan waktu Bibi mau keluar, sempat dilarang sama Bu Aga katanya biarin aja Nak Arya jenguk temannya dulu. Eehhh si Kakak malah kekeh suruh cari Nak Arya. Katanya pengen ketemu Nak Arya soalnya si Kakak... kangen, katanya!" Tawa Bibi hampir membuncah, dia geli sendiri dengan apa yang baru saja dia sampaikan tadi sesuai apa yang dikatakan Marissa sebelumnya.


"Ppfftt!" Arya menahan tawa. "Masa sih Marissa bilang gitu? Ada-ada aja, pasti alasan aja dia bilang gitu paling ada maunya doang."


Bibi menatap Arya. Mengapa Arya tak percaya kalau Marissa kangen padanya? Padahal seingat Bibi wajah Marissa bahkan sampai memerah saat mengatakan itu.


"Yaudah ayok Bi kita balik ke kamar Marissa," ajak Arya.


Bibi tak meladeni lagi ucapan Arya. Dia takut salah kalau dia makin menjelaskan soal kangennya Marissa. Bibi juga takut salah kalau apa yang dikatakan oleh Arya itu ternyata benar, kalau Marissa memang lagi ada maunya.

__ADS_1


Di tempat lain, Marissa sedang mempersiapkan dirinya. Semenjak tadi dia sibuk merapikan diri di depan cermin genggam. Dia bahkan berkali-kali menyisir rambutnya. Dan sengaja menaburkan bedak dan lipstik tipis di wajahnya. Dia menolak untuk terlihat jelek di hadapan Arya. Tak mungkin kan kalau Marissa yang lagi kesengsem malah terlihat dekil di depan cowok taksirannya. Meskipun sedang sakit, Marissa tetap berusaha terlihat cantik di depan suami yang mulai disukainya itu.


"Rissa kamu mau kemana sih dari tadi dandan mulu?" tanya Bu Aga heran.


"Ga kemana-mana Ma. Emangnya ga boleh ya Rissa dandan? Rissa kan mau terlihat cantik meskipun lagi sakit,"


"Ciee yang mau terlihat cantik di depan Arya ya?" goda Bu Aga meski dia tidak tahu kalau omongannya itu ternyata memang benar.


Suara pintu bergeser terbuka mengejutkan Marissa. Langkah kaki Arya memasuki ruangan itu di ikuti Bibi dari belakang. Marissa yang terkejut jadi gelagapan membereskan alat make up-nya. Segera dia sembunyikan di bawah bantalnya.


"Katanya kamu nyariin aku? Kenapa?" tanya Arya tanpa basa-basi saat menghampiri Marissa.


"Siapa juga yang nyariin elu, geer amat!" seru Marissa.


"Dih?" Arya mengerutkan dahi. "Tadi Bibi bilang di suruh sama kamu buat cariin aku. Sekarang aku udah datang malah bilang siapa yang nyariin, aneh!"


Marissa berdeham sambil memilin rambutnya. Bingung mau buat alasan apa. Rupanya dia belum siapkan kata-kata untuk situasi seperti ini.


"Dia itu kangen sama kamu, Nak. Tadi dia bilang sendiri loh," sela Bu Aga yang diam-diam mendengar ungkapan Marissa tadi pada Bibi.


"Beneran nih kangen? Atau ada maunya?" selidik Arya masih meragukan kerinduan istrinya.


"Kalau kangen kenapa, kalau ada maunya kenapa?" Marissa malah balik bertanya seolah sedang mempermainkan Arya.


Arya mendengus nafas kesal. "Loh kok balik tanya ke aku? Kan kamu yang nyari, itu tuh kenapa?" tanya Arya sesabar mungkin.


"Ya ga apa-apa. Pengen liat lu doang, ga boleh?" ucap Marissa dengan entengnya makin menyebalkan.


Arya menahan sabarnya lagi. Kalau dia bukan orang yang sabar mungkin sudah dia jembel kepala Marissa biar perbannya bertambah jadi sekalian menutup seluruh mukanya.


"Ya udah, ini kan aku udah ada disini. Kamu mau sesuatu atau apa gitu?" tanya Arya mengalah.


"Gak ada." jawab Marissa polos.


Arya mengerutkan hidungnya, bukan pengen bersin tapi karena kesal.


Mendengar itu ubun-ubun Arya terasa seakan diterpa angin panas. Ingin rasanya dia meladeni sikap menyebalkan istrinya itu tapi dia urungkan mengingat situasi dan kondisi ini sangat tidak menguntungkannya.


Bu Aga yang melihat kelakuan mereka malah cekikikan geli.


"Bilang aja yang sejujurnya kalau kamu itu kangen sama Arya. Jangan bikin suamimu kesal, tuh lihat mukanya jadi merah pasti nahan kesal!" tebak Bu Aga. Nilai 100 untuknya karena tebakannya memang benar.


Marissa melipat bibirnya menahan tawa. Lucu juga ya Arya dikerjain kayak gini, pikirnya.


"Gue suruh Bibi cari lu biar lu makan malam. Ini kan udah jamnya makan, lu malah keluyuran!" dalih Marissa masih malu untuk mengungkapkan isi hatinya meski sebenarnya sudah terwakilkan oleh Mamanya.


"Oohh.. kirain kenapa. Kan kamu bisa telepon aku ga usah suruh Bibi cari segala, kan kasihan Bibi cape jadinya. Mana waktu ketemu kayaknya panik gitu,"


"Emang Bibi tadi panik pas cari Arya?" tanya Marissa tak menyangka kok sampai segitunya.


"Ya panik atuh Kakak. Kan kakak bilang kangen mau liat Nak Arya, Bibi takutnya kalau ga diturutin nanti kepala Kakak yang luka malah jadi sakit,"


Muka Marissa memerah. Lagi-lagi Bibi mengungkit ucapannya soal kangen saat meminta Bibi mencari Arya.


"Ohhh.. jadi beneran karena kangen yaa?" goda Arya berbisik, jemarinya menopang dagu sambil menatap Marissa.


"Aku jadi bingung deh. Sebenarnya kamu cari aku mau suruh makan atau emang kangen beneran seperti kata Bibi dan Mama Aga tadi?"


Marissa jadi salah tingkah ditanya seperti itu. "Mmmhh.. ya jelas lah mau suruh makan.. Apaan sih lu pede banget! Mana mungkin gue kangen! Bibi sama Mama mah ada-ada aja itu sih bercandaan doang," jawab Marissa lagi-lagi cari alasan.


"Iya deh aku percaya. Tapi lain kali kalau emang kangen langsung telepon aja jangan suruh Bibi yang cari, kasihan Bibi kebingungan kayak tadi loh,"


"Iihh! Kan gue bilang mau suruh lu makan. Bukan karena kangen, gimana sih!"

__ADS_1


"Ups! Emang aku tadi bilang kangen ya? Ya maaf kalau salah. Aku rubah deh, nanti lain kali kalau kangen telepon aja yaa," ledek Arya lagi.


"Tuh ya kan ngejek mulu! Gue kan udah bilang kalau bukan karena kangeeennn!" rengek Marissa seperti bayi baru menetas.


"Iya bukan karena kangen, tapi rindu.." ejek Bu Aga menimpali.


"Iya ya Bu. Bukan karena kangen tapi karena miss you.." timpal Bibi yang tak disangka membuncahkan tawa Arya dan Bu Aga.


Mereka tertawa tak hentinya mendengar candaan Bu Aga dan Bibi terkecuali Marissa yang mesem-mesem menahan tawa.


Marissa bingung harus berekspresi seperti apa. Antara malu dan senang juga kesal bercampur jadi satu.


Nih cowok kaku ngeselin banget sih ih! Kan gue jadi malu ketauan bohongnya kalau ternyata gue emang kangen sama dia! Mana Mama sama Bibi pake ikut-ikutan segala lagi ngeledekin! ucap Marissa dalam hati geregetan.


"Ya udah Bi, ayok kita makan. Biarin aja dulu itu yang kangen menikmati rindu yang sudah terobatinya sekarang. Tadi Bibi bawa apa?" tanya Arya mengakhiri sesi menggoda Marissa.


"Bibi bawa ayam bakar sama sayur capcay sama cemilan banyak tinggal pilih aja ya," jawab Bibi sambil menuju tempat makanan yang tadi dia bawa kemudian membuka tempat makan itu satu persatu. Arya terpana melihat semua makanan itu. Cocok sekali untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Mereka pun akhirnya makan bersama. Bu Aga dan Marissa hanya menonton saja karena mereka sudah mendapatkan jatah makanan dari rumah sakit.


Sambil melihat Arya makan, Marissa jadi terpikirkan sesuatu.


"Arya, emang tadi lu jengukin siapa sih? Kok kayaknya tadi panik gitu?" tanya Marissa penasaran.


Arya mengunyah makanannya dengan lahap ternyata masakan Bibi enak sekali. "Jenguk temenku, kebetulan tadi ketemu pas jemput Bibi di lobby," jawab Arya tanpa memalingkan mata dari makanan didepannya.


"Ohh yang cewe lari-larian tadi ya Nak Arya?" tanya Bibi jadi teringat.


"Hah cewe?!" Marissa kaget. Kok Arya ga bilang temennya itu cewek?! "cewek siapa maksudnya?"


"Itu loh Arista," jawab Arya sambil tetap mengunyah "yang dulu sempat kena banjuran kamu di kafe waktu berantem sama Mika," sambung Arya menjelaskan supaya Marissa mengingat lagi orang tersebut. Tapi tanpa dijelaskan pun sebenarnya Marissa sangat ingat dan tahu siapa dan yang mana perempuan yang bernama Arista itu.


"Arista yang cinta pertama kamu itu?!"


Arya tersedak sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Marissa yang seperti sedang membongkar rahasianya pada dunia.


"Ngapain sih kamu ketemu sama dia segala?!" tanya Marissa dengan nada suara yang makin meninggi. Semburat bola api muncul didalam matanya.


***


🌟NB :


Haii semua readers~


terimakasih sebelumnya karena kalian masih setia membaca novel author sampai episode ini yaa!


Disini author ingin membahas komentar readers yang ga bisa author balas satu persatu.


Setelah author baca-baca rupanya banyak dari kalian yang ternyata kurang sreg sama keberadaan Arista didalam kisah percintaan Arya. Nah maka dari itu author ingin membahasnya sekarang.


Untuk tokoh Arista ini memang sengaja author tonjolkan karena dia ini salah satu pion penting dalam novel. Author bisa saja hanya fokus pada cerita Arya dan Marissa. Tapi tetap, author tidak ingin menghilangkan Arista begitu saja tanpa sebab seolah dia tiba-tiba diculik oleh kegelapan atau masuk lubang hitam! (wadidaww!)


Kedepannya tokoh Arista, sedikit banyaknya pasti akan tetap ada di novel ini. Dan untuk keberlangsungan hubungan pasangan kontrak Arya-Marissa author masih bayang-bayang saja akan disepertiapakan nasib mereka hehe. Jikalau pun nantinya Arya tidak jadi bersama Arista author ingin menamatkan cerita ini dengan adil dan baik. Author tidak ingin membuat pembaca kebingungan kemana ini tokoh Arista kok tiba-tiba anyep tanpa kejelasan atau ini gimana Arista nasibnya? Maka dari itu author tetap ingin membawa Arista dalam alur cerita. (🥺🥺kasian Arista anak malang.. cup~ cup~)


Dan satu lagi, untuk jadwal update author mohon maaf karena tidak bisa terschedule dengan baik dikarena kesibukan sehari-hari author ditambah kondisi badan juga sedang tidak fit akibat cuaca saat ini sedang tidak baik dan membuat author kurang fokus mengerjakannya. 😭


Oiya! Untuk semua readers dimanapun kalian berada jangan lupa jaga kesehatan juga ya~


Kalian juga pasti merasakan kan cuaca saat ini tuh lagi ga enak bingittss! 😞😔


Dan ingat selalu patuhi prokes untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari ancaman virus bahaya!


Oke kalo gituuu------------------


Sekian dulu dari author ya, dadahhhh~

__ADS_1


🦛🍎


🐣Oia, author tiba-tiba kepikiran sesuatu, gimana ya kalau Arista dibikin jadi jahat aja, kalian setuju ga? Author iseng nih pengen bikin ubun-ubun kalian makin panas pas baca novel ini yiihahahhahaha🙈


__ADS_2