Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Permohonan Maaf


__ADS_3

"Gue gak apa-apa, kamu tenang aja," ucap Arista pada Arya yang menyempatkan diri datang ke kamar Chicha. Beberapa kali Arista menelan ludahnya sambil melirik-lirik pada seorang yang memberikan tatapan kejam seolah ingin memakannya.


Pagi ini sebelum Arya pulang, dia ingin pergi menengok keadaan Arista dan Chicha terlebih dahulu. Dia tidak ingin kepikiran tentang kondisi mereka selama satu hari penuh nantinya. Arya pun pergi ke kamar Arista, tapi dia tidak datang sendiri melainkan bersama dengan Marissa.


Arya bersikeras ingin memastikan kondisi


mereka. Sepanjang malam dia kepikiran terus pada kedua gadis itu ditambah tak ada kabar apapun dari Arista bahkan hingga detik ini Arya masih tidak memiliki nomor Arista karena perempuan itu tidak pernah sekalipun menghubunginya.


Lu boleh pergi asal gue ikut! Arya mengingat kesepakatannya dengan Marissa sebelum mereka ada di tempat ini.


"Udah jelas kan, sayang? Teman kamu ini baik-baik saja! Sudah ku katakan kan kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik." Marissa tersenyum manis sekali, dia juga berbahasa formal.


Chicha merinding karena ketegangan suasana dalam ruangan ini, dia memilih tetap diam tak ingin repot untuk masuk dalam obrolan mereka. Dia tak berkutik saat melihat aura Marissa yang begitu kelam, tampak tenang namun tak dapat menyembunyikan sisi gelapnya yang kini sedang berapi.


"Tapi kamu bener gak apa-apa? Luka kamu hanya di lengan aja kan? Dan Chicha, kamu juga baik-baik saja?" tanya Arya memastikan lagi.


Baru saja Arista hendak membuka suaranya, tapi Marissa keburu bicara.


"Kamu bisa lihat sendiri kan sayang mereka berdua ini baik-baik saja. Yok kita balik ke kamar lagi," ajak Marissa. Suasana kelam ini membuat mereka canggung terkecuali Marissa yang tetap kalem malah seperti sengaja manas-manasin Arista, berpikir untuk membuatnya melihat siapa wanita yang kini memiliki Arya seutuhnya.


Arya yang tak punya kata-kata atau sekalipun hanya sekedar basa-basi belaka akhirnya tak bisa menolak lagi ajakan istrinya. Namun saat mereka akan berbalik pergi, tiga orang datang dan masuk ke kamar Chicha. Kedatangan mereka sontak membatalkan niat Arya untuk membawa kembali Marissa ke kamarnya.


"Kamu!" teriak Chicha tak sabar. Dia hendak berdiri menerkam namun dicegah Arista, meskipun tak dapat dipungkiri kalau Arista juga sama terkejutnya.


Arya kaget akan kedatangan orang-orang ini, begitu pula Marissa yang juga tak bisa menyembunyikan perasaan serupa.


"Loh, dia kan yang viral cakar-cakaran kemarin! Wah ada tontonan baru lagi nih!" seru Marissa, matanya tampak kegirangan melihat ibu-ibu yang kemarin sempat viral dalam satu penjuru rumah sakit.


"Tenang.. Tenang," Indra mengangkat kedua tangannya, memohon pengertian mereka semua. Dia datang bersama ibu yang kemarin bertengkar dengan Arista, mereka tidak hanya berdua namun ditemani pula oleh suami ibu ini.


"Ibu ini datang ke sini dengan maksud ingin meminta maaf atas kejadian yang terjadi kemarin," jelas Indra tak perlu basa-basi.


"Minta maaf? Yahh ga asyik ah! Kirain mau ada ronde ke dua, hmmm.." keluh Marissa membuat panas telinga semua orang di ruangan itu.


"Maaf ya kalau kedatangan kami ke sini tidak sesuai harapan kamu. Lagian saya juga tidak punya urusan dengan kamu, jadi tentu saja saya tidak perlu memuaskan hati kamu dengan ronde kedua seperti yang kamu harapkan!" Sindir Si Ibu pada Marissa.


Suami si Ibu mencubit lengan istrinya membuat wanita itu meng-aduh.


"Perkenalkan, saya Jono. Suaminya Ibu Mega ini yang kemarin sempat berantem dengan Mbak berdua. Saya ingin memohon maaf atas nama istri saya atas kejadian kurang mengenakan tempo hari. Tak hanya itu, maksud kedatangan kami kesini juga sekaligus untuk meminta pengertiannya supaya menyelesaikan masalah ini secara damai dan kekeluargaan agar masalah ini tidak sampai berlarut-larut apalagi sampai harus berurusan dengan pihak berwajib. Saya janji dan bisa menjamin kalau perbuatan istri saya ini tidak akan terulang lagi. Jadi saya mohon kerelaan hati dari Mbak berdua untuk memaafkan kami, khususnya istri saya ini," ucap Pak Jono sambil membungkuk-bungkuk, terlihat tulus. Dia bahkan sempat menulan ludahnya. Mungkin mulutnya terasa kering saat mengucapkan kata maaf yang dia takutkan tak di restui oleh si pemilik maaf.

__ADS_1


Dan yang dia takutkan mungkin saja memang terjadi, dilihat dari sikap Arista yang menunjukkan wajah tak sukanya.


Arista si pemilik maaf sekaligus korban yang paling menderita menatap Bu Mega tajam lalu berbicara pada Pak Jono tanpa mengalihkan pandangannya dari Bu Mega.


"Mengapa bapak tidak mau berurusan dengan pihak berwajib? Bukankah bapak seorang polisi? Setau saya kalau sudah berurusan dengan polisi pasti pihak keluarga yang beranggotakan polisi itu akan menang mengingat pasti akan banyak dukungan dari rekan sesamanya. Meski tidak semua tapi setau saya memang ada yang seperti itu. Apalagi mengingat perlakuan istri bapak yang arogan, terlihat tidak takut sama sekali karena memiliki seorang suami polisi sebagai backingan atas sikap buruknya terhadap kami berdua!"


Pak Jono membelalakan matanya. "Loh siapa yang bilang saya polisi toh? Saya memang kerja di Polres, tapi bukan sebagai polisi. Saya hanya petugas kebersihan di sana!"


Wajah Bu Mega ketar-ketir. Semua kebohongan dan kesombongannya gugur sudah. Dia yang kemarin berlagak sok berkuasa kini pasang wajah memelas minta dikasihani.


Arista yang memang takut berurusan dengan kepolisian dan segala sesuatu yang menyangkut hukum kini merasa mulai tenang. Tenangnya itu ia artikan sebagai kekuatan baru untuk melawan ketidak adilan atas dirinya kemarin karena dia memilih untuk mengalah, tapi sekarang berbeda. Kini dia tau derajat mereka sama, artinya mereka sama tanpa memiliki dukungan dari siapapun yang berkaitan dengan pihak berwajib, yang bisa melegalkan hukum dalam tiap situasi. Perasaan itu perlahan menguap menjadi amarah. Arista merasa tertipu sekarang.


"Ohh.. Jadi anda bukan polisi? Lalu mengapa Ibu ini mengancam saya dengan mengatakan kalau suaminya polisi?" tanya Arista geram.


"I-iya Mbak. Maafkan saya. Kemarin saya emosi jadi khilaf, saya ini orang susah makanya saya asal ngomong aja biar Mbak takut dan segera pergi. Itu karena saya merasa terancam karena melawan dua orang makanya saya berbohong seperti.. ituu.." Bu Mega tertunduk dalam. Dagunya hampir mencekik lehernya sendiri, dia tidak berani menatap Arista.


"Maafkan saya karena kemarin sudah memukul Mbak, itu saya kalut sekali karena saya memikirkan anak saya yang harus bulak-balik berobat dan membutuhkan banyak biaya. Saya sangat sensitif kala itu dan secara tidak sadar melampiaskan emosi saya pada orang yang tidak bersalah," sambung Bu Mega sambil menitikkan air mata. Mata dan hidungnya kini merah seperti kepiting rebus.


Alasan Bu Mega ini terasa aneh, tapi mengingat kondisi anaknya Indra mampu memahaminya.


Indra yang mengamati situasi itu merasa Arista pasti akan memakluminya juga dan segera memaafkannya. Mudah-mudahan saja seperti itu, Indra yakin Arista ini seorang pemaaf dan berhati tulus.


Penjelasan Arista sangat masuk akal. Dia biarkan dirinya saat ini tersakiti agar bisa melindungi masa depannya yang mungkin saat ini masih tak jelas, tapi karena tidak jelas itulah membuatnya harus tetap memiki catatan kelakuan baik jika mau diterima di berbagai tempat kerja karena dia tahu tidak bisa selamanya kerja di Kimochi Kafe apalagi sebagai pelayan shift malam.


"Tapi sekarang saya sudah tidak takut lagi jika harus berhubungan dengan polisi. Saya akan mencari bukti untuk menjebloskan anda ke dalam penjara!" bentak Arista.


Bagai di sambar gledek Indra tertegun mendengarnya. Ucapan Arista barusan sungguh tidak sesuai ekspektasinya. Indra pikir Arista ini gadis berwujud bidadari yang murah hati dan pemaaf. Tapi nyatanya Arista berpendirian keras. Dia bahkan berani tampil setelah memastikan situasi dan dapat memanfaatkan suasana menguntungkan untuk dirinya sendiri.


"Iya benar! Pasti ada diantara pasien atau perawat yang kemarin memvideokannya. Kita pakai saja video itu sebagai bukti. Saya akan ikut cari video kami yang teraniaya kemarin, mungkin saja ada yang upload di suatu tempat tanpa kita sadari!" timpal Chicha semangat.


Pak Jono berlutut dan memohon-mohon. Tak disangka dia bahkan menangis.


"Jangan Mbak. Jangan! Tolong


maafkan istri saya sekali ini saja. Saya mohon. Anak kami sedang sakit, kasihan dia kalau tau ibunya bakal masuk penjara. Nanti anak saya tidak ada yang jaga kalau istri saya gak ada. Saya juga tidak bisa menemani anak kami karena saya bekerja, dan juga kalau ada video seperti yang Mbak bilang lalu memperkarakannya, saya bisa dipecat dari pekerjaan saya sekarang. Saya mohon Mbak, pekerjaan saya ini adalah satu-satunya pekerjaan


yang saya miliki untuk menyambung hidup kami sekeluarga," pinta Pak Jono sesenggukan.


Beberapa waktu suasana diam. Pak Jono masih dalam tangisnya hanya bisa berpasrah diri.

__ADS_1


Semua orang tegang dalam ruangan itu, tapi ada satu suara yang memecah ketegangan itu diantara mereka. Yaitu isak tangis Marissa.


"Hiks, hiks! Udahlah Arista, lu maafin aja Ibu ini kali ini aja. Kasihan bapaknya sudah berlutut gitu, kasihan juga anaknya akan menderita kalau lu mau lanjutin kasus ini ke hukum! Kalau bapak ini dipecat, mau makan apa mereka nanti ke depannya?" semua menatap Marissa nanar. Arya memang bukan pertama kali melihat Marissa menangis, tapi baru kali ini dia tahu kalau Marissa rupanya memiliki sifat tidak tegaan pada orang lain. Jujur saja Marissa merasa iba melihat bapak yang sudah renta dihadapannya ini berlutut bahkan menangis sesenggukan. Dia bisa melihat sosok seorang suami juga ayah yang harus rela melepas harga dirinya dan berlutut dengan wajah pucat ketakutan. Tubuh tua dan pakaian lusuhnya membuat Pak Joko makin terlihat putus asa.


Arista mengeraskan wajahnya. Sebenarnya juga dia tidak tega pada Pak Jono. Tapi bagaimanapun, ini kesempatan bagi dirinya untuk membuktikan diri dan membalas perbuatan tidak menyenangkan yang menimpa dirinya dan Chicha kemarin.


"Maaf kata lu? Lu gak ingat kemarin dia bahkan gak mau dengerin gue saat gue minta maaf! Hanya karena gue kesandung tiang sialan ini!" tunjuk Arista pada kaki tiang infus Chicha. "hanya karena ini, dia sanggup mempermalukan gue di depan umum bahkan memukul gue tanpa ampun, tanpa sebab?! Dia lakuin semua itu saat gue udah minta maaf loh!"


"Meskipun begitu ibu ini sudah mengaku salah. Dan Pak Jono serta Bu Mega juga sudah minta maaf. Apa salahnya kamu memaafkan mereka? Kalau kamu malah membalas perbuatannya, apa bedanya kamu sama Ibu ini kan?" tanya Indra mencoba menetralisir keadaan tapi yang ada ucapannya malah memperkeruh suasana.


"Harusnya lu tanya sama Ibu ini! Kemarin gue juga udah minta maaf tapi dia gak mau terima malah pukul gue seenaknya! Lu bisa ngomong gitu karena gak ngerasain kan! Coba lu ada di posisi gue kemarin bakal gimana? Gue sadar diri gue orang miskin makanya gue diem gak mau balas perbuatan dia saat dia bilang suaminya polisi. Sekarang ternyata semua itu palsu! Lu tau apa yang gue rasain sekarang? Penyesalan! Gue nyesel banget sekarang karena kemarin gue gak mukul dia balik! Dan saat ini gue ingin balas perlakuan dia, apakah gue salah?"


Skak Matt! Indra membisu diam seribu bahasa. Dia tidak bisa menyangkal omongan Arista karena dia tahu pasti sangatlah tidak menyenangkan jika berada di posisi Arista saat itu.


"Kamu tidak perlu takut untuk 'tidak berbeda' seperti Ibu ini. Malah kalau perlu kamu harus sama seperti yang dia lakukan padamu. Dengan begitu dia bisa merasakan juga sakit apa yang kamu rasakan kemarin. Sekarang kamu bisa menukar posisi kalian. Bagaimana kamu menyakiti ibu ini, dan bagaimana ibu ini merasakan sakit yang kamu terima. Dengan begitu artinya kalian bisa impas!" Arya tiba-tiba membuka suara mendukung Arista.


Marissa menoleh pada Arya, dia kaget dengan jalan pikiran Arya yang tidak seperti biasanya. Sudah diluar jalur kebiasaan.


"Maksud lu ga masalah Arista mukul ibu ini gitu?" tanya Marissa heran.


Arya mengangkat bahunya. "Entahlah. Mungkin seperti itu, terserah Arista saja."


"Gila lu ya! Ya kali mau mukul orang tua!" bentak Marissa kesal.


"Aku tidak bilang Arista harus balas pukul ibu ini, mungkin bisa membalasnya dengan cara yang lebih elegan." Arya menyilangkan kedua tangannya.


"Aku juga setuju Arista. Kamu harus membalas perbuatan Ibu ini supaya dia dapat merasakan sakit yang kamu rasakan kemarin!" seru Chicha ikut membela.


"Dan sakit yang kamu rasakan juga tentunya," bisik Arista pada Chicha. "mungkin masuk bui adalah balasan setimpal untuknya, dan jika tidak mau mungkin ibu bisa bayar denda ganti rugi saja. Kira-kira 30 juta kali ya."


Indra terkekeh. "Kamu ngaco ya, bahkan kerugian kamu saja tidak sampai segitu. Kamu tahu kan apa pekerjaan suami Bu Mega ini?!"


"Tentu saja kerugian saya sampai segitu. Bahkan itu saya sudah berbaik hati untuk menguranginya. Dokter Indra lupa ya biaya berobat ke dokter saja 5 juta? Belum lagi kami perlu bolak-balik psikolog untuk mengatasi trauma kami sekarang akibat serangan Bu Mega dan itu gak gratis! Saya sudah adil loh menentukan harga."


Bu Mega membelalakkan matanya, tampak kilatan cahaya nanar ketakutan. Jangankan bayar denda, untuk pengobatan anaknya saja uring-uringan pinjam sana sini. Tanpa sadar kini dia berlutut sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di atas kepala memohon ampun.


"Baik, baik saya mengerti maksud kalian. Sekarang apa yang harus saya lakukan supaya kita impas? Asalkan jangan masukin saya ke penjara ataupun bayar denda. Apapun akan saya lakukan!" ujar Bu Mega dengan wajah datar namun pasrah.


***

__ADS_1


__ADS_2