Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Surat dan Uang


__ADS_3

Indra semangat sekali masuk ke dalam ruangan kerjanya ketika seorang perawat menyerahkan sebuah box bingkisan tepat setelah Indra selesai melakukan operasi kepada seorang pasiennya. Yang membuat Indra semangat adalah karena bingkisan itu dari Arista.


Indra duduk di bangku dengan badan tegang. Dia deg-degan sampai jantungnya terasa linu. Kok tumben-tumbenan Arista kirim beginian? Kenapa harus kirim ke rumah sakit ya? Sengaja deh, biar ada rumor kalau dokter Indra sudah punya pacar sekarang, hihihi. Imajinasi Indra benar-benar melampaui batas.


Namun apa yang sudah melampaui batas itu mendadak kembali dan seperti terjun payung tak terkendali.


"Loh, kok? Kenapa Arista kirim ini?" Indra heran mendapati segepok uang ratusan ribu yang tersusun rapih di dalam box tersebut.


Setelah di cek ternyata ada sepucuk surat juga di sana.


Aku kembalikan uang ini. Kamu bisa memeriksanya kalau aku tidak ada memakainya satu rupiah pun. Hubungan kerja sama kita juga berakhir dengan kembalinya uang ini. Usainya pesta ulang tahun kakekmu maka usai juga kontrak kerja sama kita. Aku anggap hutangku sewaktu di rumah sakit itu sudah lunas dan jangan harap aku kembalikan uang yang sebelumnya sudah ku cicil padamu karena aku terima bayaran sebagai pacar sewaanmu itu dari lunasnya hutangku sebelumnya. Jika kamu berani lakukan untuk mengambil uang itu lagi, aku anggap kamu melanggar perjanjian kerja sama kita dan aku tidak segan untuk memberitahu keluargamu kalau hubungan kita yang sudah di umumkan saat pesta ulang tahun kakekmu itu hanyalah pura-pura belaka supaya kamu bisa menghindari perjodohan yang dilakukan oleh keluargamu.


Ku harap kamu jadi cucu yang membanggakan mengingat usia kakek yang sudah sepertiga abad itu. Cepatlah cari perempuan yang benar-benar sederajat denganmu, jangan cari perempuan yang levelnya di bawah keluargamu. Kasihan dia akan jadi bulan-bulanan keluargamu nantinya. Untung aku hanya pacar sewaan saja, jadi tidak sakit hati akan hal itu. Dan jika keluargamu bertanya tentang kejelasan hubungan kita, segera beri tahu mereka kalau hubungan kita sudah lama berakhir, sama seperti rencanamu sebelumnya. Jika ditanya kenapa, kamu bisa jadikan juga makian mamimu itu sebagai alasan dari putusnya hubungan kita. Lakukan itu ketika mereka membahas pernikahan. Dengan begitu setidaknya aku tidak akan menanggung resiko apapun lagi setelah usainya kerja sama kita ini.


Dan satu hal lagi, jangan pernah datang lagi mencariku. Urus saja hidupmu sendiri dan jangan ganggu hidupku lagi. Setelah selesai membaca surat ini, anggap saja kita tidak pernah kenal ataupun bertemu sebelumnya.


Arista.


Mak jleb! Rasanya ada sebuah panah menusuk jantung Arya, bukan hanya satu melainkan seribu! Dan ini bukanlah panah asmara yang bikin seseorang terbang melayang, tapi panah beracun yang amat sangat menyakitkan sampai mau mati rasanya!

__ADS_1


Indra menelepon nomor Arista namun tidak ada jawaban. Nomornya tidak aktif! Indra mencoba sekali lagi tapi hasilnya tetap sama.


Buru-buru Indra mengecek jadwal kerjanya dan segera bergegas pulang setelah memastikan kerjaan hari ini sudah usai. Dengan sigap dia segera melajukan mobilnya menuju kafe tempat kerja Arista.


Meskipun tau ini bukan waktunya jam kerja Arista, seenggaknya Indra pergi ke kafe itu dengan tujuan ingin meminta alamat Arista ke pegawai yang ada di sana.


"Maaf, Kak. Kalau data seperti itu dipegangnya sama personalia. Tapi meski Kakak bertanya sama bagian personalia sekalipun, saya rasa mereka tidak akan kasih karena itu menyangkut data pribadi pekerja. Kenapa Kakak tidak menghubungi orangnya langsung saja?"


Kalau Indra bisa hubungi Arista, pasti sudah dia lakukan dari tadi. Masalahnya Indra tidak bisa hubungi Arista sama sekali.


"Kamu sama sekali tidak tau di mana rumahnya?" tanya Indra lagi memastikan.


Indra yang paham akan gelagat pegawai tersebut langsung mempersilahkan tempat untuk pengunjung dibelakangnya.


"Baik kalau begitu, terimakasih," ucap Indra kemudian pergi keluar kafe.


"Harus cari ke mana ini Arista?" tanya Indra lirih sembari celinguk kiri dan kanan meski dia tidak tau apa yang dicarinya dengan melakukan hal tersebut.


Bahkan hingga malam datang, Indra kembali ke kafe itu lagi untuk mencari Arista. Tapi rupanya sebuah kenyataan makin menusukan panah yang sudah menancap sedari tadi terasa makin dalam dan menyakitkan.

__ADS_1


"Arista sudah resign dari dua hari yang lalu, Kak," ucap pegawai yang sudah hafal dengan wajah Indra, "memangnya dia gak bilang sama Kakak? Bukannya kalian pacaran?"


Hah pacaran? Apakah mereka berpikiran begitu selama ini?


"Ti-tidak. Arista tidak bilang apapun pada saya. Dan juga Arista bukan pacar saya," jawab Indra lemah.


"Oh ya? Saya pikir Arista berbohong kalau Kakak bukan pacarnya. Ternyata kalian memang tidak pacaran ya, hehe.. Boleh dong Kak saya daftar?" pegawai itu memainkan matanya dengan genit sambil usaha merayu Indra tapi laki-laki tidak menggubris sama sekali, orang lagi pusing nyari Arista ini malah digodain gak jelas begitu!


Indra pun pergi setelah mendapat informasi tersebut. Badannya sudah masuk ke dalam mobil dan hanya perlu menjejalkan kaki pada pedal gas tapi masalahnya Indra tidak tau harus pergi ke mana!


Dua hari lalu, bukannya itu sehari setelah hari ulang tahun Kakek? Tapi kenapa? Kenapa Arista tiba-tiba resign di hari tersebut dan mengembalikan uang 100 juta itu?


Indra merasa sangat menyesal. Sebelumnya memang betul kalau Indra sedikit kecewa pada Arista karena merasa dibohongi sewaktu menurunkan Arista dipinggir jalan yang ternyata itu bukan komplek menuju rumahnya. Karena itulah Indra berencana untuk menunggu Arista menghubunginya duluan. Tapi nyatanya malah kebablasan. Belum lagi karena Indra beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaannya dan jadwal operasi pasien yang padat, ditambah urusan keluarganya juga yang membuat keruh pikiran Indra yang mana orang tua Indra meributkan terus kejadian di pesta ulang tahun Kakek waktu itu. Entah meributkan sikap Mami yang jadi bahan tontonan saat pesta, atau meributkan status Arista dan mendesak Indra untuk segera memutuskan Arista yang statusnya dianggap rendah. Bahkan setelah Kakek bilang dirinya hanya lulusan SMA pun, Mami tidak peduli malah mengatakan meski Kakek hanya lulusan SMA tapi Kakek datang dari keluarga baik-baik dan terpandang juga cukup berada makanya bisa membangun usaha yang besar seperti sekarang. Beda dengan Arista yang gak jelas asal-usulnya.


Semakin memikirkan hal itu semakin Indra kecewa. Andai dia menyingkirkan keegoisan dan emosinya dan menghubungi Arista lebih dulu, mungkin saat ini Indra masih bisa duduk di salah satu kursi pengunjung sambil memandangi Arista yang sedang bekerja seperti biasanya.


Sekarang, jangankan duduk memandang Arista, tau gadis itu dimana pun Indra tak tau!


***

__ADS_1


__ADS_2