
Tok Tok!
Arista dan Chicha kaget dengan bunyi ketukan pintu kamarnya. Siapa yang datang ke kamar mereka padahal tak ada satupun yang mereka kenal dan berencana untuk datang ke kamar ini.
Pintu itu bergeser. Seorang pria dengan jubah putih dan sepatu mengkilat masuk ke dalam.
Keduanya makin kaget karena yang datang tersebut adalah dokter yang membantu Arista tadi.
Dia membawa satu kantong plastik berisi perban dan obat-obatan. Ada sebuah jeruk juga di dalam plastik itu.
Dokter menyodorkan plastik pada Arista.
"I-ini apa ya Dok?" tanya Arista canggung menerimanya.
Dokter tersebut menengok lengan Arista, sudah di obati tapi hanya tertutup plester. Tadi dia sempat minta plester pada perawat yang mengobati lengan Chicha. Sedangkan tangan Chicha yang luka kini telah diperban dan jarum infus pun sudah pindah ke lengan satunya.
Dokter itu dengan kasar meraih lengan Arista lalu tanpa ampun mencabut plesternya.
Arista berteriak kesakitan, Chicha juga hampir pasang badan ingin menendang dokter itu.
"Kamu lihat?" Dia mengangkat plester Arista yang sudah penuh darah.
"Ternyata benar kata perawat itu, ternyata kamu keras kepala tidak ingin diobati dan hanya meminta plester saja."
Dokter itu meraih plastik tadi dan mengambil kain kasa lalu menekan luka Arista. Meski sakit Arista menahan untuk berteriak, tapi dia tampak meringis.
"Dokter sedang apakan teman saya?!" tanya Chicha garang, habisnya dokter itu tiba-tiba nyelonong masuk gitu saja dan berbuat sesuka hati pada Arista.
Dokter itu menatap Chicha dingin. "Kamu tidak lihat saya sedang mengobatinya? Yang harusnya bertanya itu saya, kenapa kamu diam saja saat melihat temanmu terluka dan membiarkannya menolak untuk diobati? Sedangkan lukamu saja sudah rapih terawat begitu, egois sekali!"
Chicha membelalakan matanya tapi akhirnya menunduk malu, dia tahu dia salah dan tidak punya kata-kata yang bisa diucapkan untuk pembelaan dirinya.
Arista melihat Chicha murung menjadi tidak enak hati. "Tadi Chicha sudah membujuk saya untuk mengobatinya, tapi saya pikir luka saya tidak terlalu parah, makanya.."
Kali ini tatapan dingin dokter itu tertuju pada Arista membuat gadis itu menghentikan ucapannya.
Tiba-tiba dokter itu mengajak Arista menuju wastafel untuk mencuci lukanya di air mengalir supaya menghilangkan kuman dan bakteri sebelum diobati. Arista meski terkejut tapi dia tidak menolak, entah mengapa dia manut begitu saja. Seolah hatinya mempersilahkan dokter itu bersikap semaunya. Karena dia tahu, dokter ini sekarang sedang membantu mengobati luka di lengannya.
Setelah dirasa cukup, dokter membawa lagi Arista ke tempat duduknya semula. "Nama saya Indra. Jadi kamu tak perlu bertanya lagi siapa saya. Saya Indra, dan sudah jelas saya ini seorang dokter." Indra memperkenalkan diri tanpa diminta.
Indra mengambil sebuah salep antibiotik lalu mengoleskanya pada luka Arista secara perlahan. Setelah itu dia menutup lukanya dengan perban jenis film dressing supaya luka tersebut tetap terlindungi meski banyak gesekan dan berfungsi untuk menjaga luka agar tetap kering.
"Kata perawat tadi namamu Arista dan temanmu Chicha. Ya kan?" Dokter itu tiba-tiba buka obrolan dan hal pertama yang dia tanyakan adalah nama mereka. Mungkin lebih tepatnya bukan menanyakan tapi memastikan.
"Are you FBI? Or CIA?" tanya Chicha memutar bola mata, "untuk apa anda mencari tahu siapa kami?"
Indra telah selesai membalut luka Arista. "Entahlah. Saya tidak pernah mencari tahu. Tapi kelakuan kalian tadi rupanya jadi obrolan hangat di kalangan tenaga kesehatan di sini. Rumor tentang siapa kalian dengan cepat telah menyebar dari mulut ke mulut. Dan dimana letak kamar kalian ini juga mereka sudah tahu semua, termasuk saya yang tak bisa tutup telinga bahkan untuk gosip semacam ini yang seringkali sebenarnya tidak ingin saya dengar."
__ADS_1
"Tidak ingin dengar tapi kepo juga, palingan dapat nguping!" umpat Chicha pelan tapi telinga Indra sangat aktif meresponnya.
"I hear you, girl! Saya bukan tipe yang suka menguping dan bergosip. Tapi seringkali saya mendengar begitu saja, atau bahkan berkat kepopuleran saya banyak sekali dokter dan perawat selalu memberikan laporan tentang apapun pada saya tanpa saya minta." Indra santai menjelaskan sambil mengupas jeruk yang dibawanya tadi, dia membelahnya menjadi dua. Setengah untuk Arista, gadis itu menerimanya dengan ucapan terimakasih. Dan satunya lagi untuk... Chicha sudah mengulurkan tangannya dia tahu itu bagian untuknya.
Tapi dugaan Chicha salah!
Setengahnya lagi malah dimakan oleh Indra. Chicha bengong tak habis pikir. Lalu Indra yang melihat mulut Chicha yang membesar lantas menguliti jeruk itu dan memberikan kulitnya pada Chicha.
"Kulit jeruk ini bagus untuk wewangian alami. Kamu bisa memencet kulit jeruk ini hingga airnya keluar dan mengusapnya di tangan," ucap Indra dengan tampang polos.
Chicha menarik nafas dalam-dalam menyingkirkan kulit itu dari tangannya. Menaruhnya di atas meja samping ranjangnya.
Arista yang melihat itu membagi jeruknya pada Chicha. Namun dicegah oleh Indra.
"Saya membawa jeruk ini bukan untuk dibagi kepada pasien, tapi untuk saya makan sebagai cemilan. Dan bukan berarti kamu bisa membaginya pada siapapun hanya karena saya memberinya padamu. Kamu harus mendapat ijin saya terlebih dahulu jika ingin memberikannya pada orang lain."
"Ma-maafkan saya. Saya tidak berpikir sampai situ." jawab Arista kikuk.
Chicha menatap sinis Indra. "Mau anda apa sih datang ke sini? Saya kan bukan pasien anda! Lagipula mengapa anda enak-enakan santai-santai di sini padahal rekan anda yang lain sedang berlomba menyelamatkan nyawa pasien! Makan gaji buta ya?" tanya Chicha. Arista kaget. Dia tak menyangka temannya itu tahu istilah gaji buta.
Indra memekik menahan tawa. "Ups maaf. Saya datang hanya karena hasutan pikiran saya sendiri yang menyuruh datang ke tempat ini. Dan untuk bagian tentang rekan saya yang lain yang sedang menyelamatkan nyawa pasien sedangkan saya nyantai disini itu karena hak saya. Ini bukan jam tugas saya lagi, jadi terserah saya mau ada dimana. Meskipun harusnya saat ini saya sudah ada dirumah sih, mandi air panas dan tidur nyenyak. Tapi karena melihat kelakuan kalian tadi membuat saya jadi penasaran, ditambah Arista yang keras kepala tak ingin diobati. Kasarnya, saya datang ke sini bukan sebagai dokter melainkan sebagai seseorang yang tertarik pada kalian."
Mulut Arista dan Chicha menganga. Rasanya seperti kena prank! Ada ya dokter seperti ini memanfaatkan jabatan untuk bertemu orang yang tidak dia kenal hanya untuk memenuhi rasa keingintahuan dan ketertarikannya!
"Berarti dokter datang ke sini hanya sebagai orang asing? Seenaknya datang dan memperlakukan saya semaunya? Dan dengan bodohnya saya mau terima begitu saja perlakuan dokter pada saya? Anda sedang mempermainkan saya? Anda bilang tidak bergosip, menguping dan sebagainya tapi datang langsung ke sini untuk mencari tahu sendiri? Seperti itukah? Saya pikir anda ini dokter yang memiliki perhatian ingin menolong orang berdasarkan naluri pribadi tetapi hanya anda disini hanya karena sebuah ketertarikan? Memang apa yang membuat anda tertarik? Atau siapa yang membuat anda tertarik? Saya? Chicha?"
Seperti tersadar, Indra menggaruk wajahnya. "Saya... sama sekali tidak sedang mempermainkan kamu. Saya ke sini karena kesal melihat tindakan kamu yang menolak untuk diobati maka dari itu.."
"Maka dari itu Dokter Indra berbuat seenaknya pada saya, mengatasnamakan mengobati orang yang sedang terluka? Dan sekarang saya juga baru sadar, memang dokter apa yang mengobati orang asing yang tidak dikenal sesuai prosedur rumah sakit? Apakah itu legal?"
Indra tersentak mendengarnya.
"Biasanya berapa Dokter menerima bayaran untuk mengobati luka seperti saya? Dan berapa harga obat-obatan yang saya terima ini? Biar saya bayar. Saya tidak mau nantinya terlibat masalah atas kelakuan Dokter saat ini!" Arista bergetar saat mengatakan itu. Dia sudah menahan lukanya agar tak membeli obat, dia juga takut ditagih bayaran kalau menerima pengobatan di rumah sakit ini meskipun ini luka ringan. Karena dia tahu, dia harus hemat dan harus bisa mengatur keuangannya. Mana dua hari ini dia sudah ambil cuti kerja, otomatis gajinya bulan depan akan terpotong beberapa ratus ribu, dan baginya beberapa ratus ribu itu sangatlah berharga.
Indra jadi salah tingkah. Baru kali ini dia mendapatkan penolakan dari pesonanya yang selalu dia bangga-banggakan. Dia datang memang dengan niat hati ingin mendekati Arista dan memberikan image baik pada pertemuan pertama. Dia bahkan sudah memperhatikan Arista saat pertama kali datang ke rumah sakit ini ketika dia berlarian membawa Chicha.
Pagi tadi saat jam tugasnya usai. Dia hendak pergi ke lab bersama seorang perawat sebelum dia pulang. Saat itulah Indra tak sengaja melihat Arista terlibat keributan. Ditambah seorang anak yang dia kenal sebagai salah satu pasiennya mengalami sesak nafas. Segera dia menyuruh perawat tadi membawa anak itu untuk menerima penanganan dan tanpa pikir dia berlari menuju Arista tepat ketika Ibu itu akan meninju. Jantung Indra berdetak kencang saat meraih lengan Ibu itu sebelum benar-benar mengenai wajah Arista. Saat Ibu itu menatapnya, Indra langsung menyadarkan perihal kondisi anaknya yang sedang berjuang mendapat pertolongan sehingga Ibu itu histeris dan mengejar ke tempat anaknya dibawa.
Meski ini bukan lagi jadwal prakteknya, tapi bagaimanapun anak itu adalah salah satu pasiennya, jadi dia pun ikut menyusul mereka.
Indra menggaruk dagunya. Tampangnya yang seperti oppa korea ternyata tidak menarik minat Arista sama sekali. Bahkan bantuan yang dia berikan dengan tulus pun tak menyentuh hati Arista. Bukannya terharu dia malah marah setelah mengetahui tujuan kedatangan dirinya ke sini untuk apa. Arista benar-benar beda dari cewek lain yang pernah dikenalnya, yang mau begitu saja didekati sebentar, sedikit diberi perhatian dan hatinya langsung berbunga. Semua wanita yang diperlakukan seperti itu selalu wajahnya merona merah. Arista juga sama, tapi rona merahnya itu bukan akibat dari bunga-bunga bermekaran diatas kepala, tetapi karena lahar amarah mulai meletup-letup disana.
"Saya berterima kasih sebelumnya kepada Dokter karena sudah mau membantu saya. Tapi saya tidak bisa menerima bantuan ini secara gratis, jadi saya minta Dokter menghitung berapa total yang harus saya bayar," kata Arista lagi ingin segera menyudahi pertemuan ini dan membiarkan dokter itu pergi segera.
Indra dengan wajah polosnya seolah sedang berpikir, dia juga berlagak menghitung jari-jarinya.
"Baiklah. Kamu hanya perlu membayar saya 5 juta!" jawab Indra menetapkan harga.
__ADS_1
Arista hampir pingsan mendengarnya. Chicha juga hampir berdiri meninju dokter itu tapi infusannya tertarik menahan tubuhnya. Rasa sakit menjalar di lengan Chicha.
"Pengobatan apa yang harganya segitu? Anda crazy?" pekik Chicha marah.
"Saya tidak gila. Bukankah Arista sendiri yang minta untuk saya hitungkan?" jawab Indra santai.
Arista menatap Indra tak kalah tenang. "Apakah dengan 5 juta harga diri anda bisa saya laporkan ke IDI? Apakah Ikatan Dokter Indonesia akan memaklumi tindakan anda ini?"
Indra tersentak kaget. Arista bukan main, strategi dia terlalu jauh untuk menggertak Indra.
Indra memasang wajah kikuk. "H-haha.. Iya.. Iyaa ampunn.. Mengapa kamu serius sekali sih menanggapinya? Tadi saya hanya bercanda loh!"
Arista menyipitkan kedua matanya sinis, sedangkan Chicha mendengus kesal.
"Saya tidak akan memperhitungkan bantuan yang telah saya berikan dan tidak mau meminta balasannya dengan uang. Anggap saja saya memberi bantuan pada orang yang sedang kesulitan. Bukankah sesama manusia itu harus saling tolong menolong?" tanya Indra menampilkan senyum, ada lesung di pipi sebelah kirinya. Ditambah mata coklat terang yang mempesona. Cocok sekali jadi boyband dari pada dokter.
Sebenarnya dokter ini manis, tapi sayangnya menyebalkan!
"Tapi saya tidak mau menerima bantuan secara cuma-cuma. Saya tidak mau berhutang," Arista masih kekeh, tapi dia ingin membayar bantuan itu secara bijak sesuai harga yang dibayar oleh Indra untuk membeli obat dan perban serta jasanya. Intinya Arista menginginkan harga yang masuk akal!
"Mmhh.. saya kan sudah bilang tidak mau dibayar dengan uang. Tapi kalau kamu kekeh begini, saya juga bingung harus membuat kamu membalas bantuan saya ini bagaimana. Kalau begitu..," Indra mengeluarkan kartu namanya lalu memberikan kartu itu pada Arista, "nanti kamu hubungi saya ya biar saya bisa simpan nomor kamu dan hubungi kamu bila suatu waktu saya butuh bantuan. Oke?"
Arista menerima kartu yang disodorkan oleh Indra. "Ta.. tapi saya tidak ingin,..."
Indra mengangkat tangannya. "Saya tidak menerima alasan apapun. Kalau kamu keberatan untuk membalas bantuan saya, setidaknya kamu terima bantuan saya ini secara cuma-cuma dan tak perlu merasa sungkan. Karena kamu ini kan manusia dan saya juga manusia. Sudah jadi tugas kita untuk saling tolong menolong."
Indra seperti menebalkan telinganya, dia tak hiraukan lagi panggilan Arista yang mencegahnya pergi karena bagi gadis itu urusan ini belum lah selesai. Namun Indra dengan senyum puas melangkah kaki keluar dari kamar Chicha.
Dalam hati Indra merasa menang. Memang dia ikhlas membantu Arista, tapi itu bukan tanpa sebab melainkan karena dia juga ingin mengenal Arista lebih dekat dan memanfaatkan kesempatan ini untuk bertukar kontak supaya mereka bisa lebih saling berhubungan ke depannya.
Kamu memang cerdas Indra! pikir Indra girang.
Chicha merebut kartu nama itu dari tangan Arista lalu membacanya keras-keras : Indra Jonathan - Dokter Spesialis Anak. Dan dibawahnya tertera nomor ponsel yang bisa dihubungi.
"Arista, sepertinya dokter itu suka deh sama kamu," ucap Chicha mengembalikan lagi kartu nama itu.
"Hush! Gak mungkinlah. Paling dia gak ada kerjaan doang, cowok caper mentang-mentang dokter. Paling dia bocil, masih dokter magang."
"Ya meskipun caper, tapi gak bisa dipungkiri kalau dia itu ganteng kan, hihihi.." ujar Chicha cekikikan, "lagian masa sih dokter magang tapi udah punya kartu nama. Di sana juga tertera nama rumah sakit ini. Bukannya itu berarti dia memang dokter tetap di sini?"
"Gak tahu ah! Jangan tanya aku, kamu tanya aja sendiri sama dia! Lagian kalau kamu tertarik padanya, kamu saja yang simpan kartu namanya."
"Untuk apa, Arista? Untuk apa aku tertarik padanya kalau dia tidak mau padaku dan hanya tertarik padamu?"
Arista mengangkat bahu. "Apa salahnya kalian kenalan dulu kan?" tanya Arista.
Memang benar ucapan Arista, tidak ada salahnya Indra dan Chicha kenalan lebih dulu. Namun tanpa dia tahu rupanya ucapan ini akan menjadi bumerang bagi dirinya.
__ADS_1
***