
"Selamat pagi Arya ganteng yang gantengnya melebihi Lee Min Ho!" sapa Marissa di meja makan membuat Arya tersedak hingga terbatuk sampai harus minum air putih satu gelas penuh.
"Selamat pagi Papa dan Mama mertua Rissa yang baik hati dan tidak sombong," sapa Marissa ceria. Wajahnya seperti matahari baru terbit, sangat cerah. Rasanya seolah tidak pernah ada kejadian apa-apa semalam.
"Kamu udah baikan, Nak? Papa dengar kamu jatuh ke kolam. Maaf ya Papa gak langsung jenguk kamu, tadi malam kamu sudah tidur. Rencananya Papa bakal lihat kamu saat sudah bangun nanti, eh malah kamu duluan yang samperin Papa," ujar Papa tak enak hati.
"Ah, Papa gak apa-apa kok. Rissa udah sehat, udah baik-baik aja. Kemarin kan sudah di obati oleh Arya,"
Lagi-lagi Arya tersedak. Dan minum satu gelas lagi. Masih saja terbatuk, lalu menuang segelas lagi. Hanya saja gelas yang ini hanya di minum setengahnya sampai batuknya reda.
Marissa mendelik melihat Arya yang salah tingkah. "Maksudnya, Arya kemarin langsung cepat telepon dokter buat datang ke sini. Jadi Marissa cepat ditangani, deh."
Papa manggut-manggut menahan senyum. "Kirain karena efek pertolongan pertama di samping kolam kemarin makanya bikin kamu baik-baik saja sekarang," goda Papa cengengesan yang sudah dengar cerita kejadian semalam dari Mama.
Tiba-tiba wajah Arya memerah. Dengan dalih ada urusan mendesak dia pergi lebih dulu tanpa menghabiskan sarapannya. Lebih baik Arya cari aman dari pada di goda mulu atau lebih parahnya bisa saja di wawancara mengenai 'pertolongan pertama' yang mereka maksud.
Meskipun sudah menghindar saat sarapan tapi Arya tetap tidak bisa mengabaikan Papa. Tidak di rumah, tidak di kantor, tidak waktu jam kerja maupun jam istirahat Papa selalu saja menggoda Arya sampai kepalanya pusing ditembaki pertanyaan bertubi-tubi tentang kejadian Marissa masuk ke kolam terutama kejadian setelahnya. Bahkan saat pulang dari kantor, Papa berpesan supaya Arya memperlakukan menantu kesayangannya itu dengan baik. Entah apa maksudnya.
Sesampainya di rumah, Arya menghempaskan tubuh terlentang begitu saja di atas kasur, entah mengapa hari ini rasanya lelah sekali.
Tiba-tiba Marissa mengetuk pintu dan masuk begitu saja tanpa izin. Arya kaget sampai terduduk.
"Sembarangan aja masuk kamar orang!" tegur Arya terkejut.
"Jalan yok!" ajak Marissa tiba-tiba.
"Haahh?"
"Ayok jalan. Buruan ih!"
"Ke mana emangnya?" tanya Arya bingung tapi Marissa enggan menjawab malah menarik tangan Arya bak anak kecil minta permen.
"Ke pengadilan agama lah. Ke mana lagi!"
Gila! Mendengar itu rasanya seperti ada yang sedang mencekik leher Arya! Membuatnya sulit bernafas dan mencerna.
"U-untuk apa?"
"Ya untuk urus perceraian kita lah."
Arya berdiri sambil menghempas tangan Marissa. "Kamu gila ya putusin hal begitu sendirian! Kenapa tidak berunding dulu denganku?"
"Kan kita sudah memutuskannya waktu di kolam renang. Kamu lupa?"
"Itu kan hanya keinginanmu saja. Lagipula kamu anggap keluargaku apa? Tiba-tiba minta bercerai begitu tanpa minta pendapat orang tuaku terlebih dahulu!"
__ADS_1
"Kok sewot? Bukannya itu keinginan terbesar lu selama ini?" selidik Marissa, "lu kan gak pernah suka sama gue!" sambungnya lagi.
Arya menghela nafas. "Tidak pernah suka bukan berarti aku mau bercerai. Pernikahan kita kan kontrak, jangan di putuskan semena-mena."
"Cih, dulu pas gue keguguran dia semena-mena langsung minta pisah," gumam Marissa kesal.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa."
"Lagipula ini sudah menjelang malam mana ada pengadilan agama yang buka," ucap Arya asal padahal dia tidak tahu pukul berapa sampai pukul berapa instansi itu tutup dan buka.
"Belum lagi siapin pengacara. Tidak bisa mendadak seperti ini," lanjut Arya.
"Uuhh, bilang aja lu gak mau bercerai, ya kaaannn," goda Marissa menoel dagu Arya membuat laki-laki itu kesal sampai mengelap kembali dagunya dengan bahu lengan.
"Tapi gimana pun gue tetep mau cerai! Abis lu ga pernah cintai gue layaknya seorang wanita sih, meskipun ini pernikahan pura-pura tapi perasaan gue gak bisa pura-pura. Rasanya gue emang gak tau diri atau memang gak ada harga diri, bisa-bisanya suka sama orang suci kayak lu, tapi ya mau gimana lagi, namanya juga perasaan gak bisa di bohongi."
"Suci apaan," dengus Arya, "yang suci itu hanya Tuhan semata."
"Iyaa, gue tau. Tapi maksud gue, lu kan gak pernah terkontaminasi oleh wanita manapun. Eh, sekalinya nikah malah dapat perempuan ber-aib seperti gue. Hhh.." kini gantian Marissa yang terlentang di kasur Arya sambil menghela nafas.
Marissa melirik Arya yang berdiri salah tingkah. "Tapi lu beneran gak punya perasaan sedikit pun sama gue?"
Bukannya menjawab, Arya malah menarik lengan Marissa menyuruhnya berdiri dan pergi dari kamar ini.
Marissa yang sudah setengah berdiri malah hilang keseimbangan dan terpental lagi ke kasur, namun kali ini dia tidak sendiri. Tangan Arya yang menarik Marissa malah ikut tertarik membuat tubuh Arya goyah dan jatuh ke kasur tepat di atas tubuh Marissa.
Sungguh persis seperti adegan drama Korea, bedanya ini tidak lebay. Karena setiap adegan dalam drama Korea setelah jatuh bertumbuk begitu ujungnya pasti selalu saja ada tambahan adegan lain yaitu bibir menyentuh bibir, tapi beda dengan Arya dan Marissa karena yang saling bersentuhan adalah jidat mereka.
DUAGH!
"Aduuuhhh, Aryaa ogeb lu!"
"Kamu kok ngatain aku sih! Kan kamu sendiri yang tarik aku tadi!" bela Arya sambil berusaha berdiri. Tapi karena jidatnya terasa nyeri sampai membuat matanya berkunang, Arya akhirnya duduk di samping Marissa. Wanita di sebelahnya juga ikut duduk sambil mengelus dahi.
Pengennya adegan romantis malah jedotan. Pikir Marissa kesal, tapi anehnya dia malah senyum-senyum sendiri.
"Kenapa kamu malah nyengir? Benturan tadi bikin kamu gila ya?" tanya Arya sinis.
Marissa menoleh dengan tatapan pedas. "Lu yang gila, malah jedotin jidat! Sengaja ya lu!"
"Ih, apaan. Kalau sengaja ngapain ngorbanin jidat sendiri! Dasar aneh!"
"Ya kalau gak sengaja terus apa!"
__ADS_1
"Terus apanya apa? Itu kan salah kamu sendiri, ngapain tiduran di kasur orang. Kalau di suruh pergi tuh langsung pergi! Coba kamu langsung pergi gak akan kejadian begini!"
"Lu gitu banget sih jadi cowok! Bukannya minta maaf! Lagian tujuan gue datang kesini kan buat minta lu temenin gue jalan dari tadi! Kenapa malah di usir!"
"Lah, kan kamu minta ke pengadilan agama. Udah tau sekarang tutup!" ucap Arya gusar mengelus dahi yang sakitnya sebenarnya sudah berkurang, tapi dia pengen mendramatisir saja supaya Marissa cepat pergi dari kamarnya.
"Sesakit itu ya dahi lu?" bukannya peka dan segera pergi, Marissa malah mendekati Arya bahkan mengelus lembut dahinya.
Arya menepis tangan Marissa. "Apaan sih gak sopan pegang-pegang!"
"Yang gak sopan itu elu, gak sopan cium-cium orang lagi pingsan!"
Rasanya darah dalam tubuh Arya mendadak naik ke kepala. Kejadian kemarin malam mengusik pikiran dan hatinya. Muka Arya jadi merah terang. Kesal dan malu bercampur jadi satu.
"Siapa yang gak sopan! Bukannya terimakasih udah ditolongin malah ngatain kayak gitu seolah aku ini pria mesum!"
"Ya emang!" jawab Marissa tanpa dosa.
"Apa?!!!"
Kekesalan Arya memuncak. Dia ingin menjambak rambut Marissa saat itu juga. Meski bagaimana pun dia menjaga kehormatannya sebagai pria yang tidak akan pernah memukul wanita, tapi kalau menjambak rasanya bolehlah. (namanya juga kesal udah di ubun-ubun)
"Maksud gue ya emang,.. ya emang gue mau terimakasih sama lu! Makanya gue mau ajak lu jalan," ujar Marissa dengan nada lembut. Dia takut ucapannya malah jadi pembuka gerbang perang dunia ketiga antara dia dengan Arya.
"Hah?" Arya makin tidak mengerti, tapi kini tekanan darahnya mulai stabil. Aliran darah di kepala Arya rasanya mulai turun teratur.
"Ayok buruan!"
"Maksud kamu apa sih! Bukannya tadi kamu ajak jalan ke pengadilan agama buat cerai?"
"Nggak kok! Gue gak ada niat buat cerai setelah lu kasih kiss pertama lu ituuu.. Kan sayang banget gue yang sebagai pemegang rekor muri ciuman pertama Arya harus bercerai gitu aja," ledek Marissa sambil berdiri dan mulai beranjak pergi.
"Kamu tuh ya ngasal aja kalau ngomong! Terus tadi ngajak ke pengadilan agama buat apa?"
Marissa berhenti dan menoleh. "Ya boongan, wlee!" ledek Marissa lagi sambil menjulurkan lidah.
"Lagian gue tau kok jam segini mah pengadilan agama pasti udah tutup, ahahahah!" tawa Marissa puas.
Mendengar ocehan Marissa membuat Arya mematung di tempat. Syok berat yang dirasakannya membuat Arya tidak mampu berkata apa-apa.
"Udah gak usah bengong gitu! Ayok ikut gue, kita cari tempat nongkrong yang enak. Gue bakal traktir lu sebagai tanda terimakasih karena udah nyelamatin gue kemarin."
Melihat Arya yang memaku di tempat membuat Marissa ambil alih. Dengan sengaja dia mendorong punggung Arya supaya mulai jalan dan pergi ke tempat yang Marissa mau.
***
__ADS_1