
Arya juga jadi kaku salah tingkah. Dia pun bingung sendiri kenapa bisa berkata seperti itu. Jangan-jangan ini efek dari sakitnya. Harusnya dia tetap berbaring di tempat tidur saja sampai sembuh dari pada ajak jalan Marissa dan mengalami hal memalukan begini.
"Langsung aja," Marissa memasang kewaspadaan, dia sebenarnya sudah ge-er alias gede rasa tapi tetap saja dia harus siaga bilamana ucapan Arya tidak betul-betul nyata, mungkin saja ada maunya.
Arya menoleh, Marissa menatap mata Arya lekat-lekat, "Lu pasti ada maunya kan? Kok bisa-bisanya ngaku-ngaku suka pas mau cerai? Udah deh jangan mainin gue, lu mau apa? Lu masih butuhin gue sebagai istri untuk apa? Lu bilang aja! Asal lu tau, meski kita sudah berpisah pun tapi gue gak akan lupa sama balas budi gue kok! Gue mungkin kasar tapi bukan orang yang akan lupa sama yang namanya bayar kebaikan!"
Ucapan Marissa barusan membuat Arya menghela nafas dalam-dalam.
Arya sudah ambil keputusan bulat. Dari kegalauan yang selalu dia rasakan selama ini, akhirnya terjawab sudah ketika dia menatap langit-langit kamar waktu Marissa meminta cerai.
Hatinya yang sakit dan tidak mau ditinggalkan adalah jawaban kalau sebenarnya dia sudah jatuh hati pada Marissa tanpa sadar.
Selama ini dia sudah kehilangan beberapa wanita yang disayanginya. Kini dia tidak mau kehilangan lagi hanya karena prinsip dan egonya semata.
"Kamu bilang mau balas budi kan?"
Marissa melirik tanah basah di bawahnya. Malu untuk menatap Arya lagi.Tanah basah itu tampak berembun oleh rumput-rumput kecil yang menghias di atasnya.
"Kalau kamu mau balas budi harusnya kamu........."
Marissa mengernyit, dia tidak mendengar kata terakhir di kalimat Arya barusan sebab ada sebuah motor dengan suara knalpot modif-an melintas di belakang punggung mereka. Marissa sama sekali tidak mendengar apa yang Arya ucapkan.
Marissa menatap Arya bingung. Arya yang di tatap seperti itu harap-harap cemas.
Aku ga salah ngomong kan? pikir Arya ikut kebingungan.
"Aku salah ngomong ya?" tanya Arya polos.
Marissa menggeleng cepat. "Bukan salah ngomong, tapi gue gak denger tadi lu ngomong apa!"
"Oh, ya sudah kalau tidak mendengar. Lupakan saja," ujar Arya pasrah.
Marissa melirik sinis. Dia sebal, kenapa gak memperjelas saja kata-kata tadi sih? Ini malah diurungkan seenak jidat!
"Apa-apaan sih lu! Tadi lu ngomong apa? Gak usah mainin gue kayak gini bisa ga sih!?"
__ADS_1
"Aku gak mainin kamu kok!"
"Kalau gitu tadi lu mau ngomong apa?"
"I, itu.."
"Itu apa sih!" Marissa sungguh tak sabar.
"Itu.. Aku tadi bilang harusnya.. kamu.. kamu.."
"Kamu apa?" tanya Marissa degdegan. Rasanya jantung Marissa mendesak ingin keluar. Dia malu, bagaimana kalau degup jantungnya yang terlalu kuat itu menonjol-nonjol dari balik baju dan naik turun ke permukaan dadanya? Imajinasi yang gila ini membuat ketakutannya semakin nyata! Ini pertama kalinya Marissa merasa setegang dan selinu ini!
"Harusnya, kamu.. kamu jagain aku sampai tua nanti!"
Marissa kaget. Dia bahkan tidak sadar membelalakan matanya. "Ke-kenapa juga gue harus jagain lu sampai tua?!"
Arya salah tingkah. "Kamu bilang mau balas budi kan? Balas budi lah dengan cara itu!"
Wajah Marissa memerah tak karuan. "Ya, tapi kenapa? Apa alasannya?"
Kalau kamu pernah dengar suara termos mendidih, nah begitu juga suara yang ditimbulkan dari kepala Arya dan Marissa setelah mendengar ucapan Arya barusan. Keduanya sama-sama mengeluarkan asap di atas kepala mereka dengan wajah merah seperti udang rebus yang mau matang.
Ini bukan cinta monyet, tapi malunya melebihi anak-anak ABG baru mengenal cinta!
Marissa beranjak dari duduknya, mondar-mandir sambil mengipas wajah dengan kedua tangannya. Suhu dingin di bukit ini tidak bisa menyejukan hawa panas yang mengepul dari kedua sejoli itu.
"Ini mustahil! Gak mungkin banget lah lu suka sama gue! Lu pasti ada maunya kan? Iya kan?Ngaku lu!"
"Aku gak ada niat seperti itu! Kenapa kamu gak percaya padahal aku sudah berusaha mengatakan hal memalukan seperti itu sekuat tenaga!"
"Gak! Ini gak benar! Lu pasti bohong! Iya kan?! Lu bohong kan?!"
Arya mendesah pasrah. "Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas aku tidak akan menyangkal lagi ucapanku tadi! Karena itu, ku mohon supaya kamu mempertimbangkan lagi perceraian ini!"
"Kenapa juga gue harus pertimbangkan lagi! Gue udh mantap ingin bercerai! Harusnya lu kasih alasan masuk akal kenapa kita tidak boleh bercerai!"
__ADS_1
"Bukankah sudah ku bilang itu karena aku suka padamu? Atau mungkin,, ci.. cin.. cinnta," ujar Arya malu-malu.
Marissa syok! Sekujur tubuhnya mendadak kaku di tempat.
"Ti, ti, ti, ti, ti, ti, ti, tidakkk mungkin!" seru Marissa terbata seperti kaset rusak yang di pasang pada radio usang.
Ini pasti mimpi kan? Ah, ini pasti cuma khayalan gue yang selalu gue bayangkan sama seperti sebelumnya! I know! Ayolah sadar, Rissa! rengek Marissa pada dirinya sendiri.
"Memangnya mengapa tidak mungkin? Salahkah aku jika akhirnya aku menyukaimu?" tanya Arya berwajah kecewa.
"Bukan gitu! Maksud gue.., itu kan sangat mustahil. Kenapa seorang Arya bisa suka sama gue? Bukannya lu senang bisa lepas dari gue? Kenapa malah menyatakan perasaan ketika kita akan berpisah begini?!"
"Ya supaya kita tidak berpisah!" Baru kali ini Marissa terperanjat oleh ketegasan Arya.
"Aku memang menyesal menikahimu, tapi aku juga takut lebih menyesal lagi jika aku melepasmu! Semua rasa ini campur aduk dalam hati dan pikiranku. Ketika membayangkan kamu pergi dari hidupku, entah mengapa rasanya bayangan kesunyian tiba-tiba menyelimuti hari-hari di masa depanku nanti. Saat memikirkan itu aku jadi ngeri sendiri. Aku juga sempat berpikir mungkin nanti bisa mendapatkan wanita yang lebih baik setelah berpisah darimu, tapi anehnya aku gak bisa menyangkal kalau aku takut gak bisa bertemu wanita sepertimu."
"Seperti gue? Lu tau kan gue ini orangnya seperti apa?"
"Judes, galak dan selalu menyebalkan," jawab Arya tanpa sungkan.
"Ya, itu lu tau. Di tambah lagi gue tukang bikin masalah! Sangat tidak masuk akal kalau lu bisa suka sama gue yang urakan! Belum lagi... belum lagi masa lalu gue! Lu tau kan gue udah gak perawan?!" tiba-tiba air mata menyentuh pipi Marissa, "lu gak pantes sama gue yang hina dan kotor ini! Lu mesti cari perempuan baik-baik yang masih bersih!"
"Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku bukan Tuhan yang bisa menghakimimu. Bukankah selalu ada kesempatan kedua bagi seseorang untuk berubah? Tuhan saja bisa memberikan kesempatan kedua bagi hambanya yang mau berubah. Kenapa aku manusia kecil ini tidak bisa memberikanmu hal serupa? Semua manusia layak untuk mendapatkan hidup lebih baik. Lagipula aku sudah ikhlas dengan masa lalumu. Aku pun tidak peduli dengan kondisi tubuhmu. Yang ku pikirkan saat ini, aku takut kehilangan kamu. Argh! Ini sangat memalukan! Pokoknya, intinya aku tidak mau kita berpisah!"
Tetiba wajah Marissa jadi panas saking tersipu. Arya yang sama tersipunya juga memalingkan badannya membuat mereka saling membelakangi satu sama lain karena malu.
"Ka-kalau begitu buktikan!" tantang Marissa asal bicara.
Arya menoleh kebingungan. Apa yang harus dibuktikan? Sorot matanya bertanya seperti itu.
"Apa yang harus dibuktikan?" tanya Arya polos.
Marissa mengangkat bahu. Arya makin bingung.
Mengapa membuktikan cinta pun harus ada bukti?
__ADS_1
***