Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Wajah Merah Merona Satu Keluarga


__ADS_3

Marissa resah pada komentar netizen yang membicarakan tentang perceraian, dia tidak peduli pada Arya yang saat ini sudah mengetahui kebusukan yang dikatakan oleh netizen, toh Arya juga kan sudah tahu masalah sebenarnya sebelum dia setuju untuk nikah kontrak.


Namun hal lain yang membuat resah Marissa adalah karena Marissa kini tersadar pada kenyataan bahwa dia sudah tidak hamil lagi, yang artinya tidak akan ada moment melahirkan yang menjadikan tanda berakhirnya kontrak dia dengan Arya. Lalu setelah Marissa keguguran, apakah mereka harus benar-benar berpisah? Karena tak ada tertulis apapun dikontrak tentang masalah keguguran seperti ini, waktu itu Marissa sangat yakin sekali untuk melahirkan anaknya.


Apakah kontrak mereka akan menjadi tidak sah hukumnya? Apa yang harus Marissa lakukan? Kalau harus jujur, dia merasa berat sekali jika harus berpisah begitu saja tanpa persiapan, ditambah Marissa saat ini sedang dilanda oleh kesedihan yang begitu dalam.


Dan pasti akan aneh baginya jika selama beberapa bulan ini dia yang sudah hidup bersama dengan Arya dan keluarganya tiba-tiba harus pulang ke rumah orang tuanya tanpa rencana terlebih dahulu.


"Permisi," seru seseorang saat menggeser pintu kamar Marissa.


Tampak Mama Arya masuk diikuti oleh suaminya. Beberapa langkah dibelakang ada Arya juga ikut muncul.


Kemunculan Arya ini membuat Marissa menjadi salah tingkah.


"Aduuh gimana nih, kok tiba-tiba ada dia sih?" gumam Marissa tetiba menjadi panik.


"Uh baru aja gue omongin malah datang ngedadak gini," umpatnya dalam hati.


Marissa merapikan diri beserta rambut yang dia rasa berantakan tergerai di bahunya. Sedangkan Mbak Ani dengan sigap berdiri dari duduknya dan menjamu tamu mereka sambil menerima bingkisan buah yang dibawa oleh Papa Arya.


Mamanya Arya jadi ragu untuk masuk ke sana saat melihat kedua besannya itu tertidur diatas satu ranjang yang sama. Melihat hal tersebut, perasaan Mama menjadi tidak enak, Mama takut kalau kedatangan mereka malah mengganggu.


Cepat-cepat Mama taruh jari telunjuk di mulutnya agar mereka tidak berisik. Menyadari apa yang dimaksudkan oleh Mama membuat Marissa tersenyum malu, bingung harus membangunkan kedua orangtuanya atau jangan. Saat dia mencoba akan membangunkan kedua orang tuanya, Papa langsung mengisyaratkan agar jangan di bangunkan, Papa bilang kasihan mereka butuh istirahat banyak, Marissa pun akhirnya mengangguk setuju, lalu Mama dan yang lainnya berjalan perlahan mendekati Marissa sambil menahan senyum karena pemandangan romantis didepan mereka membuat siapapun yang melihat itu jadi tersipu.


"Kamu gimana sekarang keadaannya, udah enakan?" tanya Mama setengah berbisik.


"Udah lebih baik kok Mamah Mertua," jawab Marissa yang juga berbisik.


"Aduuhh, kepalamu sampai diperban gitu kasihan sekali, tapi tenang aja menantuku ini masih tetap cantik kok seperti sedia kala," ucap Papa bercanda dengan nada berbisik tapi malah kentara suara kerasnya. Hal itu membuat Pak Aga dan Bu Aga jadi terbangun dari tidur mereka karena mendengar suara orang sedang mengobrol.


Perlahan Pak Aga membuka matanya, baru sedetik dia langsung tersadar akan kehadiran keluarga besannya. Seketika itu juga Pak Aga bangkit dari ranjang sambil membereskan pakaiannya. Tak lupa dia mengucek mata, "Waduh Pak, kapan datangnya kok ga bangunin saya sih jadi malu nih saya. Ketahuan deh gimana romansa cinta saya dengan istri, hahahha" ujar Pak Aga bercanda yang dibalasi oleh tawa dari mereka semua yang ada diruangan itu.


Wajah Pak Aga tampak memerah menahan malu, matanya juga tampak merah lelah karena tiba-tiba terbangun dari tidur.


Bu Aga yang sudah tersadar juga mencoba duduk ditempat tidurnya dan merapikan diri dengan wajah yang juga memerah menahan malu sama seperti suami tercintanya.


"Sudah Mbak, tidak perlu memaksa untuk duduk, Mbak tiduran aja tidak apa-apa," ucap Mama tapi Bu Aga berkata ingin duduk saja karena merasa sungkan pada kehadiran mereka, akhirnya Mama menuruti keinginan Bu Aga dan membantunya untuk duduk dengan nyaman.


"Maaf ya kami malah menyambut kalian dengan tidak baik, ga sadar banget waktu kalian datang," sela Bu Aga memohon maklum. Semua orang masih senyum-senyum.


"Aduuh malu sekali saya, tadi kalian lihat kami lagi teletubies gitu," kata Pak Aga lagi.


"Ah bisa aja teletubies, hahaha" ucap Papa tertawa karena geli mendengarnya.

__ADS_1


Arya juga ikut tertawa. Beberapa detik kemudian dia tiba-tiba mengeluarkan sebuah bingkisan bunga yang sedari tadi ada di belakang punggungnya.


"Waduh Arya menantuku bawa apa itu?" tanya Pak Aga melihat gerak-gerik Arya yang jarang dilihatnya.


"Arya bawa ini untuk Marissa, Pak." jawab Arya tenang. Setelah menjawab pertanyaan Pak Aga, Arya langsung beralih pada Marissa.


"Gimana kabar kamu?" tanya Arya pada Marissa sambil memberikan bingkisan bunga yang sedari tadi dipegangnya. Hal itu membuat wajah Marissa jadi memerah. Salah tingkahnya jadi naik level.


Mbak Ani yang jarang sekali bicara memperhatikan anggota keluarga majikannya itu satu persatu. Mbak Ani merasa suasana ini terlihat lucu menggemaskan sekaligus terharu biru, selama dia bekerja di keluarga itu, baru kali ini Mbak Ani melihat pemandangan langka seperti sekarang.


Mereka tampak kompak sekali. Hari ini satu keluarga itu wajahnya terlihat memerah semua. Ada yang menahan malu, ada yang kesengsem, ada yang senang semua warnanya itu sama-sama merah merona. Mbak Ani bahkan hampir keceplosan untuk terkikik geli.


"Aduuhh tuan putri seneng banget nih dapat bunga dari pangerannya," goda Pak Aga pada pasangan itu.


"Apaan sih Papa norak deh ngejek-ngejek gitu," jawab Marissa seolah kesal padahal diam-diam hatinya berbunga.


Marissa melihat wajah Arya, tapi ada yang aneh. Sejenak dia mencoba meneliti wajah laki-laki tersebut. Meskipun tadi Arya bersikap lantang memberikan bunga padanya tapi anehnya wajah Arya tidak menunjukkan tanda-tanda tersipu atau semacam perasaan yang sama seperti yang Marissa rasakan.


Wajah Arya terlihat datar dan hanya tersenyum seperlunya. Tidak ada guratan-guratan kesengsem sama sekali. Apakah Arya ini hanya basa-basi saja atau memang sama sekali tidak bisa mengekspresikan perasaan?


Atau mungkin Arya malu menunjukkannya dan sebenarnya saat ini dia setengah mati sedang menahannya.


Marissa mencoba berpikir positif, dengan begitu dia bisa menikmati moment manis ini.


Tapi tiba-tiba Mama Mertuanya merubah suasana dengan berbicara mengenai dirinya juga anaknya, membuat suasana hatinya menjadi suram.


Kasarnya, Papa dan Mamanya saja berusaha tidak mengungkit hal ini, eh malah datang Mama Mertua yang mencoba mengungkitnya dan mengingatkan lagi Marissa pada anaknya.


"Sudah Ma, jangan bahas itu lagi. Kasihan Marissa jadi teringat lagi dia," ucap Papa melarang Mama untuk berbicara lebih setelah melihat perubahan raut di wajah Marissa.


Tapi bukannya setuju dengan perkataan Papa, Arya malah mendorong ucapan Mama agar tidak terhenti sampai situ saja.


"Mama sampai seneng banget waktu Marissa udah lewatin masa kritisnya, bahkan hampir tidak tidur demi menunggu kabar siumannya Marissa, wajar saja kalau Mama membahas hal ini sekarang, Pa. Mama hanya merasa terharu dan ingin menunjukkan betapa leganya dia saat ini," ujar Arya membuatkan situasi agar telihat tidak ada yang salah paham pada Mamanya yang seolah ingin mengungkit kesedihan Marissa.


"Papa ngerti Nak. Cuma Papa takutnya Marissa sedang tidak enak hatinya kalau kita membahas ini sekarang," jawab Papa memberikan alasan melarangnya tadi tapi bukan berarti tidak memperbolehkan sama sekali. Hanya saja Papa ingin Mama lebih peka pada perasaan menantunya yang sama-sama mereka tahu gampang tersinggung itu.


Marissa hanya menaikkan sebelah alisnya pada Arya seperti tanda bahwa dia paham. Lalu bergantian menatap Mama mertuanya begitu dalam, dia merenggangkan kedua lengannya agar Mama mendekat untuk menerima pelukan Marissa.


Mama pun menerima pelukan Marissa. "Tidak apa-apa kok, Pa. Rissa malah seneng Mama Mertua sampai seperti itu khawatirnya pada Rissa. Makasih ya Mama Mertua! Rissa pikir selama ini Mama Mertua ga peduli sama Rissa. Akhirnya sekarang Rissa tau kalau sebegitu besarnya rasa sayang Mama Mertua pada menantunya ini. Rissa jadi senang karena sudah disayang," ujar Rissa sambil berpelukan.


Bu Aga menitikkan air mata melihat pemandangan didepannya. Marissa tampak tegar dihadapan mereka semua, tapi hati rapuh Bu Aga tidak bisa di bohongi, dia tau sekali kalau putrinya itu sedang memendam perih yang begitu sakit hanya saja enggan untuk diungkapkan dengan bersikap cuek dan biasa saja pada sekitarnya.


Masih teringat jelas kejadian itu dibenaknya. Bu Aga masih saja terbayang akan kecelakaan Marissa tempo hari. Dan sekilas dia teringat lagi bagaimana darah menetes dari tandu yang melewati Bu Aga saat petugas membawa Marissa untuk diberikan pertolongan.

__ADS_1


Meskipun Bu Aga tahu hati Marissa masih sakit, tapi dia juga memaklumi perilaku Mama. Bu Aga mengerti kalau Mama juga sama khawatirnya pada Marissa. Dia malah senang melihat betapa baiknya Marissa diperlakukan dengan penuh cinta oleh mertuanya padahal Mama Arya bukanlah mertua sungguhan sepenuhnya.


Setelah melewati moment haru itu seperti biasa tiap orang mengambil porsi bicaranya masing-masing. Papa bicara dengan Pak Aga. Mama mengobrol dengan Bu Aga. Mbak Ani yang tidak mau mengganggu akan kehadirannya itu undur diri keluar ruangan, dan akan kembali ketika diperlukan.


Kasihan sekali Mbak Ani, padahal tadi dia sedang seru-serunya nonton sitkom, kesal tidak ya dia karena tontonannya jadi terganggu? Tapi namanya juga pekerjaan, ya harus terima resikonya kan. Sambil menunggu di luar, Mbak Ani bermain handphone untuk mengusir jenuhnya. Mungkin saat ini dia sedang gencar mencari sitkom lain untuk ditonton sebagai peneman sepinya.


"Kamu udah tahu mengenai berita kamu yang saat ini sedang viral?" tanya Arya pada Marissa secara hati-hati.


"Tau kok. Kenapa?"


"Mengenai Tio? Sudah tahu juga?" tanya Arya lagi bukannya jawab dulu pertanyaan Marissa yang tadi malah nanya lagi, akhirnya membuat istrinya itu jadi kesal.


"Nanya mulu sih lu udah kayak wartawan aja! Daripada lu nanya mulu mending cariin wartawan sekalian biar gue diwawancara kan bisa dapat duit, nah elu ga bayar ini atau apa tapi nanyaaaa mulu! Nannyaaaaa muluuu!" jawab Marissa blak-blakan mengeluarkan emosi seperti biasa.


Arya geleng-geleng kepala, "Ku pikir setelah kepalamu luka kamu akan berubah sedikit tidak mudah marah, namun rupanya tidak. Tetap sama. Ckckck," Arya berdecak sambil nyengir.


"Apaan sih ga jelas!" Marissa melipat kedua tangan didepan dada kesal. Bibirnya manyun.


"Aku kan cuma mau pastiin aja kalau kamu ga apa-apa kalau tahu ternyata di Tio itu ga dipenjara tapi dikirim ke rumah sakit jiwa," jelas Arya.


Muka Marissa memerah. Walau dia terlihat kesal tapi sebenarnya dia sedang salah tingkah. Dia hanya tidak bisa mengontrol perasaannya maka dia sengaja emosian yang dibuat-buat supaya menutupi perasaannya itu.


Ditambah baru saja dia dengar ungkapan Arya yang ingin memastikan kalau Marissa tidak apa-apa saat tahu Tio kekasihnya itu tidak dihukum sebagaimana seharusnya. Marissa tak ingin tersipu mendengar pengakuan itu tapi hatinya keburu cenat-cenut.


Lalu diam-diam Marissa memaki dirinya sendiri, belum juga beres urusan dengan Tio masa secepat ini gue ada rasa sama Arya. Ga lucu kan kalau dia tau gue mulai memendam perasaan buat dia? Dan pasti bakal lebih lucu lagi kalau rasa gue ini hanya dimiliki sendiri alias bertepuk sebelah tangan. Mau ditaro dimana muka gue nanti?! Pikir Marissa.


Inget, Arya itu ga peduli sama lu Marissa. Jadi jangan kegeeran ya! titah Marissa pada diri sendiri.


"Gue ga apa-apa kok saat tahu itu. Emang dari awal itu semua rencana Papa untuk menghukum Tio dengan menaruhnya ditempat sakit seperti itu, supaya Tio tidak bisa lagi merasakan udara bebas selayaknya manusia normal dan nantinya diharapkan Tio akan sadar akan kesalahannya dan menyesal telah melakukan perbuatan kejamnya sama gue," jelas Marissa dengan wajah amarah yang tertahan. Hati berseri pinknya jadi berubah hitam kalau mengingat atau membicarakan Tio.


Tapi amarah itu terpaksa dia turunkan demi memenuhi kekepoannya pada Arya yang sedari tadi ingin dia tanyakan.


"Lu tumben bawa gituan buat gue, ada angin apa?" tanya Marissa.


Arya mendelik, "Kamu tuh ya selalu aja berpikiran negatif. Emangnya harus punya angin dulu baru bisa baikin kamu atau kasih sesuatu yang bagus buat kamu?"


Marissa mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, kan biasanya lu baik kalau lagi ada maunya doang sama gue," jawab Marissa masih mengetes Arya.


"Ya ampun aku sepicik itu ya di pikiran kamu?" Arya mendecak lagi tak sangka.


"Ya kalau ga ada maunya, terus kenapa bawa gitu?" Marissa masih mengincar jawaban dari Arya, jujur saja Marissa ingin mendengar alasan yang indah keluar dari mulut Arya tentang mengapa dia membawa bunga-bunga cantik itu padanya.


"Ya wajar dong seorang suami bawa bingkisan bunga gini untuk istrinya yang sedang sakit, apakah menurutmu itu aneh?" mendengar itu tetiba kepala Marissa terasa melayang, bunga-bunga bertebaran di latar belakang Marissa berada, seperti halusinasi riang dalam Anime Jepang.

__ADS_1


Gue ga salah dengar kan? Arya bilang buat istrinya.. Iiiihh ga nyangka deh.. Gue diaku sebagai istri nih?batin Marissa kesenangan.


***


__ADS_2