Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Telepon dari Si Cebeng Matre


__ADS_3

"Kalau begini aja, lebih baik kita beritahu keluarga Marissa, Pa. Mama tidak tenang!" terbata Mama mengutarakan pendapatnya. Sedangkan Papa masih berpikir dengan hati-hati.


"Tenang, Ma. Kita tunggu dulu kabar dari pihak kepolisian. Mama juga kenal kan dengan Pak Irwan, teman Papa yang detektif itu? Sekecil apapun informasi yang dia dapat pasti akan di salurkan kepada kita, Ma. Jangan gegabah beri tahu keluarga Pak Aga dulu!"


"Tapi Marissa itu anak mereka, Pa!" ujar Mama bersikeras membuat Papa semakin galau.


Perbedaan pendapat mereka membuat riuh orang seisi rumah, di tengah hiruk pikuk itu terdengar sebuah suara samar dan getar dari ponsel Marissa yang sengaja diletakkan di atas meja ruang tamu, sesuai dengan apa yang mereka harapkan bahwa mungkin nanti akan ada seseorang yang disinyalir sebagai penculik bakalan menelepon ke ponsel tersebut.


"Ma, Pa. Ada telepon di HP Marissa!" seru Arya gusar.


"Da-dari siapa itu, Arya?" tanya Papa gugup sekaligus antusias sambil mendekati Arya.


"Gak tau, Pa. Di sini tulisannya 'Si Cebeng Matre'."


"Angkat Arya, angkat! Siapa tau itu penculik Marissa!" Mama panik setengah berteriak. Dipikirannya sudah bermacam-macam hal negatif. Belum lagi ketakutannya jika orang tua Marissa sampai tahu akan hal ini, apa yang harus ia katakan? Sikap seperti apa yang harus Mama tunjukkan? Perasaan getir, panik, khawatir dan takut semua menjadi satu. Tapi perasaan ini bukanlah satu-satunya milik Mama sendiri tetapi juga kepada Arya dan Papa, begitu pun juga sama dirasakan oleh seluruh pekerja di rumah Arya.


"Halo?" jawab Arya tak lupa merubah mode loud speaker supaya bisa didengar oleh semua orang, juga tak lupa menekan tombol rekam.


"Lu Arya ya? Hahahah, kaget ya lu! Nungguin telepon dari gue?" canda Mika bisa-bisanya disaat seperti ini.


"Kamu Mika, kan? Dimana Marissa? Apa yang kamu lakukan padanya?!" tanya Arya geram.


"Sstt.. sstt.. tenang.. santai! Satu-satu dong kalau nanya, gue kan males jawabnya! Ahahahah!"


"Mika! Tolong jangan macam-macam ya! Dimana kamu sekarang dan apa yang kamu lakukan pada Marissa?!"


"Uuhh.. co cwiitt! Ayang beb khawatir yahh ahahahha! Dah ah lu ngomong sendiri aja gih sama si bebeb yahh!" Mika lalu mendekatkan teleponnya pada Marissa, "tuh suami boongan lu kangen!"


"Arya!" Arya tersentak. Papa dan Mama sama kagetnya lalu ikut berkumpul mendengar suara Marissa. Masing-masing dari mereka ingin memastikan bahwa memang itu suara orang yang ingin mereka dengar.


"Arya! Dengerin gue baik-baik. Intinya nih perempuan gila mau minta uang tebusan buat bebasin gue. Lu siapin aja apa yang dia minta, atau gue bakal mati konyol disini! Gak sudi dong gue mati gak wajar ditangan perempuan brengsek kayak dia!"

__ADS_1


Lah? Mika bahkan belum basa-basi, tapi Marissa malah menjelaskannya sendiri. Arya tak habis pikir, dia kira bakal ada adegan seperti di film-film dimana penculik meminta tebusan dan yang diculik menangis tersedu-sedu minta untuk tak mengikuti keinginan penculik itu. Ini Marissa malah terang-terangan mendukung si penculik, bagi Arya bahkan hingga saat seperti ini pun Marissa seperti masih saja menunjukkan keegoisannya. Layaknya seseorang yang ingin menyelamatkan diri sendiri apapun caranya. Tapi bagaimana pun Arya juga tidak berhak berpikir seperti itu di situasi seperti ini. Mungkin saja sebenarnya Marissa sedang ketakutan sekarang dan dia seperti itu tuh karena ingin cepat-cepat lepas dari cengkraman Mika. Bisa saja kan?


"Te-tebusan gimana maksudnya?" tanya Arya hati-hati.


"3 milyar! Cepat siapin duit segitu dalam waktu 24 jam. Dan jangan coba-coba untuk lapor polisi kalau gak mau nih bocah tengik kenapa-napa!" ancam Mika membuat syok jantung. Entah sejak kapan handphone itu beralih tangan padanya.


"Kamu gila, Mika! 3 milyar? Udah kayak minta duit 3 ribu aja, gampang banget mintanya!" protes Arya tak sungkan.


"Ehh ini anak malah ngejawab! Emang harga Marissa berapa? 3 ribu? Oh iya ya, kan dia wanita murahan jadi tebusannya juga murah! Hwahahahah!" Arya tercengang. Untuk kesekian kalinya juga kedua orang tua Arya ikut tercengang. Tiba-tiba telepon tertutup. Semua orang panik. Seisi ruangan mendadak speechless. Suasana diam itu berlangsung beberapa detik namun riuh kemudian. Banyak pikiran-pikiran yang berubah jadi omongan negatif keluar dari antara mereka. Terutama dari para pekerja di rumah Arya yang ikut mendengar percakapan tersebut.


Namun hal itu berlangsung sementara lalu kembali tenang saat Mika menelepon lagi. Arya mengangkat dengan cepat tak lupa melakukan hal yang sama seperti tadi men-loudspeaker dan rekam.


"Ahahahahha! Kaget yah? Arya, lu pikir gue bodoh?! Gue sengaja matiin telepon tadi, karena gak mungkin dong gue sukarela kasih kendor waktu telepon ini, yang ada lu udah siaga buat lacak keberadaan gue. Dan jangan berani ya lu buat rekam-rekam telepon ini!" DEG. Ketahuan! Kok Mika bisa tahu tadi Arya merekam? "karena lu tau kan apa akibatnya? Nyawa istri lo tercinta ini taruhannya!"


"O-oke.. aku gak merekam atau lapor polisi sesuai permintaan kamu. Tapi, bagaimana caranya aku bisa kasih kamu 3 Milyar? Kemana harus ku kirim? Dan apa jaminannya Marissa akan selamat jika aku mengirim uang tersebut?" Arya bohong soal merekam karena hal itu masih berlangsung. Dia tidak mungkin menghentikannya setelah Mika bicara seperti itu, yang ada bisa memancing amarah Mika karena mendengar tombol rekam yang berhenti.


"Hhmmh gimana yaa..," goda Mika bikin kesal tapi was-was.


"Dalam bentuk cek. Bisa kan ya? Gak sulit dong."


"Mau apa lu seenaknya aja lu!" jawab Mika tak suka.


"Lu mau dapat duitnya kan? Gue juga gak mau lama-lama di jadiin sandera begini hanya demi uang segitu! Biar gue bikin kesepakatan antara kalian berdua."


Mika menatap sinis Marissa. Entah apa yang ingin dikatakan olehnya, tapi Mika juga penasaran. Lagipula kalau Marissa berkata macam-macam, Mika kan punya kuasa penuh atas Marissa. Dia bisa saja tinggal memukul kepala Marissa dan membuatnya pingsan.


"Baiklah.." kata Mika tenang.


"Halo. Arya? Ini gue. Lu udah bilang tentang ini ke Papa Aga? Kalau belum, gue harap lu jangan beritahu dulu, dan gue juga bakal sangat berterimakasih sama lu. Tapi ada satu hal yang gue inginkan. Gue minta tolong untuk lu berikan apa yang Mika minta. Saat Papa Aga pulang, biar gue sendiri yang bicara dengan beliau untuk mengganti uang tersebut. Dan juga, sebelum lu melakukan transaksi ini. Tolong buatkan surat perjanjian antara gue dan Mika,"


Mika tersentak langsung menjauhkan handphonenya dari wajah Marissa. "Apa-apa lu! Seenak jidat bikin surat perjanjian, mau lu apa?"

__ADS_1


Marissa menatap Mika tajam. "Bukannya tadi lu bilang akan pergi sejauh mungkin dan gak akan ganggu hidup gue lagi? Lu pikir gue bakal percaya gitu aja sama mulut busuk lu?!"


Mika menyambat, "Dan lu pikir juga gue gak tau mau lu apakan surat perjanjian itu? Mau lu jadiin bukti atas penculikan ini dan lapor polisi sehingga gue bakal jadi buronan nantinya, hah?"


Marissa menghela nafas. "Lu kan emang pantas di laporin polisi karena udah bertindak kriminal begini, Mika."


Mika menelan ludah.


"Tapi lu tenang aja, gue gak akan lakuin hal itu kok. Jadi biarkan gue bicara lagi dengan Arya," pinta Marissa.


Mika memperhatikan wajah Marissa dengan penuh curiga.


"Lu bisa percaya sama gue kali ini aja," pinta Marissa lagi.


Mika ragu namun dia kembali mendekatkan handphone itu ke depan mulut Marissa.


"Arya. Dengar gue baik-baik. Jika lu sudah lapor polisi, tolong segera hentikan itu. Tapi jika belum, gue harap lu gak pernah lakuin hal itu, meski gue bakal kenapa-kenapa sekalipun. Gue minta lu jangan lapor polisi! Dan juga.. untuk masalah surat perjanjian, pasti lu udah dengar pembicaraan gue dan Mika tadi kan? Jadi, tolong buatkan surat perjanjian yang menyatakan jika Mika telah menerima uang sebesar 3 Miliyar sebagai bentuk tanggung jawab Marissa terhadap Mika dan anak-anaknya atas kesalahan di masa lalu. Dengan diterimanya uang tersebut, maka ke depannya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara kedua belah pihak. Dan apabila dari satu pihak ada mengganggu pihak lainnya baik itu pihak Mika maupun pihak Marissa, maka orang tersebut harus bersedia di proses secara hukum."


"Gimana, Mika? Gue bisa di percaya kan? Gue tau gue bajingan. Tapi jangan lupa, lu juga sama bajingannya. Jadi daripada lu ikat-ikat gue gak jelas gini, lebih baik kita selesaikan dengan cara damai. Jangan sampai ada salah satu dari antara kita tersakiti lagi dan menambah panjang masalah yang sudah ada!"


Arya dan kedua orang tuanya yang mendengar itu diam tak percaya. Bagaimana mungkin Marissa punya sosok bijak seperti ini? Apakah ini kemajuan diri Marissa atau memang sifat terpendamnya?


Mika pun sama, kaget tak percaya. Dia diam seolah sedang berpikir panjang dan menimang-nimang omongan Marissa barusan. Sebuah kata yang keluar dari mulut Marissa membuat lamunannya buyar. Terngiang-ngiang lagi dan lagi dengan ucapan, "Gue memang bajingan, tapi jangan lupa lu juga sama."


Mika sadar bahwa omongan Marissa itu salah besar, karena Mika merasa bahwa dirinya bukan hanya sekedar bajingan. Tapi sesuatu yang lebih kotor yang bahkan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Namun.. semua sudah terlanjur begini. Mika rasa tak masalah lagi jika dia harus jadi bajingan atau bahkan lebih dari itu..


...karena ini semua dia lakukan tak lain hanyalah demi anak-anaknya.. dan secuil hati pun secara sadar tau ini juga demi dirinya nanti di masa depan.


Mika menutup telepon itu sepihak kemudian dengan sengaja menjambak rambut Marissa dari belakang sehingga membuatnya hampir terjengkang.

__ADS_1


"Pinter juga ide lu!"


***


__ADS_2