
Marissa mengunci pintu rapat-rapat begitu mereka masuk kamar. Arya yang melihat adegan itu lantas keringat dingin.
"Ke-kenapa di kunci pintunya?" tanya Arya gugup.
"Ssstt! Ini tuh tindakan perlindungan kita supaya tidak di ganggu!"
Glek! Arya menelan ludah. "Supaya tidak di ganggu?"
Marissa mengangguk mantap. "Betul! Lu mau orang tua kita ngikutan kita ke sini terus main interogasi ini itu soal perceraian kita kayak tadi? Ah, membayangkannya saja sudah ngeri! Gak bisa tidur tenang kalau hal begitu terjadi!"
"O-oh, tujuanmu mengunci itu hanya untuk bisa tidur tenang?" Arya melenguh lega.
Marissa mendelik curiga. "Memang lu mikirnya apa? Hayooo jangan-jangan..."
Arya menyumpal mulut Marissa dengan telapak tangannya. Dia enggan mendengar Marissa menyerukan pikirannya yang menggelikan.
Marissa menepis tangan tersebut sambil ketawa cekikikan.
"Sudah, aku mau cuci muka dulu biar langsung tidur!"
"Oke.. okee.. tidur yaa.. bukan yang lain, hihi!" goda Marissa masih mengikik.
Malam ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Perasaan canggung menyeruak di antara Arya dan Marissa yang saat ini tidur terlentang bersebelahan sambil keduanya kompak memegang selimut di batas dada. Keduanya juga bahkan saling curi pandang, sesekali melirik namun langsung buang muka jika ketahuan. Benar-benar seperti pasangan polos yang masih dibalut rasa malu-malu tapi mau.
Arya mengingat lagi ucapannya tadi di taman. Betapa memalukannya hal tersebut. Entah apa yang sudah merasuki Arya sampai bisa berkata demikian.
Adapun Marissa yang juga sama malunya sewaktu dia syok mendengar pengakuan Arya. Rasanya lebay sekali jika diingat-ingat apalagi ketika dia tanpa sadar mondar-mandir sambil kipas-kipas wajahnya di depan Arya. Lalu.. diam-diam dia juga teringat tentang ciuman mereka tadi. Tanpa tahu malu Marissa berpikir bibir Arya sangatlah lembut. Apakah ini rasa dari kesucian bibir seorang pria?
Marissa yang mencoba menetralisir pikirannya sampai harus memejamkan mata sekuat tenaga. Sadarkanlah pikiran busukmu Marissa! umpatnya dalam hati.
"Kamu kenapa?" tanya Arya yang menyadari keanehan perempuan disampingnya itu.
"Gak apa-apa. Cuma ngantuk doang," dalih Marissa berbohong.
"Ooh. Mmhh, apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?"
Marissa diam seperti berpikir. "Tidak."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, lebih baik sekarang kamu tidur. Aku juga mau tidur," jawab Arya yang kemudian memiringkan badannya membelakangi Marissa membuat perempuan itu cemberut tak percaya.
Oemji! Ini orang gak peka banget apa ya? Tau ah gelap! rintih Marissa. Saking kesalnya dengan sikap cuek Arya, akhirnya dia pun ikut memiringkan badan membelakangi suaminya. Apakah kode yang Marissa berikan sebelum mandi tadi tidak cukup untuk ke fase selanjutnya? Itu loh, anu.. yah you know lah!
Arya menghela nafas. Dia kenapa begitu sih? Seolah tadi tidak terjadi apa-apa gitu? Kok bisa dengan santainya bilang ngantuk. Kenapa dia gak menghargai perasaanku sama sekali sih? Ku kira dia akan bilang sesuatu atau melakukan hal apa gitu? kali ini Arya yang merintih. Tidak munafik kalau dia mengharapkan sesuatu dari Marissa karena dia sadar saat ini keduanya sudah bisa saling terbuka bahkan mengungkapkan rasa satu sama lain. Tapi dengan tingkah Marissa yang seperti itu malah membuat Arya jadi kecewa.
Arya dan Marissa yang saling salah paham pun tertidur dengan pikiran kekecewaan masing-masing.
Tidak berasa entah berapa lama mereka tertidur namun Arya akhirnya bangun lebih dulu ketika punggung tangan Marissa mendarat dengan keras di wajahnya.
Arya otomatis membuka mata. Dilihatnya Marissa masih pulas sambil menggertakan gigi dan sebelah tangannya menggaruk perut juga satu kakinya mengangkang menindih kaki Arya yang masih rapi terbalut selimut. Arya yang tadinya sempat kesel pada Marissa langsung luluh seketika melihat tingkah lakunya yang terlihat lucu.
Namun nyatanya kelucuan itu hanya bertahan lima menit saja sampai kemudian badan Arya terasa kaku dan kram karena sudah dikuasai oleh tangan dan kaki Marissa yang leluasa menimpanya.
Arya tidak bisa bergerak dan ingin segera menyingkirkan semua itu tapi tidak tega karena Marissa masih tidur pulas bak orang pingsan. Namun sebuah ketukan pintu merubah segalanya.
"Kak! Kak Arya! Kak Rissa! Bangun, Kak! Sarapan dulu jangan bikin anak terus, kan bisa dilanjutin nanti malam, besok, atau lusa!"
Dari cempreng dan blak-blakannya suara ini sih pasti miliknya Mbak Ani!
Apaan sih Mbak Ani ini sok tau banget, ngasal pula! Bikin malu aja, gimana kalau ucapannya didenger oleh Papa dan lainnya? batin Arya mengoceh.
"Iya, iya bentar. Sebentar lagi kami turun!" jawab Arya setengah berteriak yang refleks membangunkan Marissa. Perempuan itu setengah sadar sambil mengucek mata tapi ketika melihat wajah Arya tepat di depan matanya Marissa pun cepat-cepat untuk mengusap bibirnya terlebih dahulu takut ada bekas iler nempel di sana.
"Halo Arya cintaku sayangku, good morrniingg.. I love youu.." sapa Marissa ceria hendak mencium Arya namun laki-laki itu segera menghindar. Rasanya aneh sekali Marissa berperilaku seperti itu tanpa canggung sama sekali setelah semalam tidur begitu saja.
"Kamu sudah bangun? Segera mandi dan siap-siap untuk sarapan bersama."
"Hahh? Bersama? Hanya kita?" tanya Marissa dengan mata berbinar.
Arya menggeleng kecut. "Tentu saja sarapan keluarga!"
Marissa kecewa. Bayangan romansa di benaknya pupus seketika.
Marissa menggaet lengan Arya sewaktu turun ke ruang makan selesai berdandan. Namun rasanya ada yang janggal, perjalanan mereka seperti masuk ke dunia lain. Kenapa wajah orang-oranf di meja makan itu tampak aneh? Semuanya sama-sama tersenyum mencurigakan. Seringai mereka terlalu lebar jika harus di sebut sebagai senyum biasa atau sekedar senyum sapaan.
"Adduuhh yang udah bulan madu semalam pasti lelah, sini, sini kalian duduk sarapan buat tambah tenaga," goda Papa Arya tak sungkan meski bicara begitu dihadapan besannya.
__ADS_1
Mama Arya menepuk lengan Papa, "Hust, Papa! Jangan bilang gitu, kasian kan mereka nanti malu!" tapi Papa yang di tegur seperti itu malah cengengesan dan bahkan sempat-sempatnya tos dengan Pak Aga.
"Kita tidak bulan madu tuh, dan semalam tidak terjadi apa-apa dengan kami," ujar Marissa seolah berbicara dengan teman, tidak ada malunya.
Semua yang tadinya nyengir langsung meluruskan bibirnya serempak. Tak ada lagi lengkungan di sana.
"Loh, kenapa?" tanya Pak Aga protes.
"Kenapa apanya sih, Pa? Itu kan terserah kita dong mau gimana, masa Rissa mesti kasih tau Papa urusan begituan?"
"Hehehe, oh iya iya ya iyaa.." jawab Pak Aga mengalah dan jadi langsung kikuk.
"Jangan gitu, Nak. Pak Aga itu hanya syok mendengar ucapanmu barusan, sama halnya loh dengan Papa. Kalau kalian tidak segera bulan madu lah kapan bapak-bapak ini ganti status jadi kakek-kakek, dong? Iya gak besan? Hahaha.." tawa nyaring Papa membahana di ruang makan. Masalahnya Papa tidak tertawa sendirian tapi ditemani juga oleh Pak Aga. Rasanya berisik sekali!
Selesai bergurau begitu mereka lanjut makan. Acara sarapan ini berjalan dengan khidmat dan penuh kehangatan hingga Pak Aga nyeletuk yang mengagetkan semuanya.
"Rissa, kalau punya anak nanti mau berapa?"
Marissa dan Arya saling pandang. "Gak tau, Pa. Segimana di kasih Tuhannya aja," jawab Marissa sambil tangannya mengiris daging di piring.
"Kalau bisa 5, biar rame, huwahahaha!" canda Pak Aga random.
Tawa itu di sambut oleh Papa Arya. "Tanggung sekali itu Besan, kenapa tidak 11 saja biar kita bikin lapangan sepak bola?"
"Boleh, boleh tuh, ide bagus!" tawa mereka masih membahana. Humor bapak-bapak membuat kesal Arya. Harus banget ya bicara seperti itu di depan mereka? Kenapa tidak memikirkan perasaan Marissa sih. Bagaimana jika Marissa sakit hati? Mereka pikir istriku ini induk kucing?
Ketika akan memastikan Marissa yang sakit hatinya, Arya malah mendapati kenyataan lain. Entah apa yang di pikirkan oleh istrinya itu, bukannya kesal dia malah senyum-senyum sendiri. Ada yang gak beres! Pasti dia ngayal yang ngaco-ngaco nih?!
Arya mendekatkan dirinya ke telinga Marissa. "Kamu kenapa malah senyum-senyum gitu sih? Bukannya marah!?"
Marissa balik mendekatkan mulutnya ke telinga Arya. "Marah kenapa? Ini tuh malah bagus! Coba kamu pikirkan deh, kalau kita banyak anak, banyak juga waktu bikinnya. Artinya banyak anak banyak gaya! Hihihi!"
"Maksudnya? Kamu ngomongin apa sih?"
"Maksudnya tiap bikin anak kita pakai gaya berbeda-beda! Ada gaya...hmmppp.." refleks Arya menutup mulut Marissa dengan tangannya. Dia sudah paham apa yang istrinya itu bicarakan. Wanita ini ceroboh sekali menceritakan imajinasinya itu di hadapan semua orang!
"Kalian kenapa sih? Gaya apa maksudnya?" tanya Bu Aga penasaran yang ternyata meski berbisik sekalipun ada saja yang mencuri dengar omongan mereka.
__ADS_1
Bisa gawat ini! Apakah Bu Aga mendengar semua obrolan mereka? Arya panik. Sebagai orang yang kaku dan tak berpengalaman dalam 'bergaya', bagaimana dia harus menanggapi situasi seperti ini?
***