
"Hoaammmm" Marissa menguap lebar-lebar sambil duduk disamping Arya yang sedang mengemudi.
"Kalau nguap tuh tutup mulutnya, gorilla aja bisa masuk kesana!" kata Arya jengkel.
"Suka-suka dong!" balas Marissa membuat Arya semakin jengkel. Laki-laki itu terlalu malas untuk meladeni Marissa karena nyatanya akibat dari kejadian semalam dia juga sebenarnya mengantuk sama seperti perempuan itu.
"Nanti bangunin gue ya kalau udah sampai." kata Marissa seenaknya mengambil posisi nyaman lalu menutup mata.
Arya langsung berpikir keras, harusnya Marissa sadar diri. Dia yang membuat kekacauan semalam, dia yang membuat waktu tidur Arya menjadi kurang, tapi sekarang dengan santainya dia malah enak-enakan tidur dan menyuruh Arya menyetirinya sedangkan dia tertidur indah bak putri raja.
Mendadak terlintas sebuah ide dibenak Arya. Dilihatnya kaca spion untuk memastikan bahwa tidak ada kendaraan apapun dibelakang, dia juga sengaja menepikan mobilnya. Setelah semua dirasa aman, dengan sengaja ia menginjak remnya kuat-kuat membuat dirinya terlonjak.
Begitupula dengan Marissa. Perempuan itu ikut terlonjak seperti melayang dari kursinya. Marissa langsung membuka mata lebar-lebar dari tidunya, dia sangat terkejut bahkan jantungnya sampai berdegup kencang tak karuan.
Arya menepi, lalu berpura-pura terkejut juga di depan Marissa.
"Kenapa sih lu? Ada apa? Kenapa rem tiba-tiba?" tanya Marissa.
"Aku ga konsen nyetir, maaf." kata Arya sambil menutup matanya dengan sebelah tangan dan menyenderkan kepalanya.
"Loh kenapa emang? Lu kenapa ga konsen gini sih?" tanya Marissa "bahaya loh tadi rem mendadak gitu!" sambungnya memprotes.
"Maafin aku, soalnya ini karena aku ngantuk berat, gara-gara kamu teriak kayak orang kesetanan semalam membuat waktu tidurku berkurang. Aku bahkan tidak bisa tidur lagi setelah kejadian itu, hanya dapat sejam saja aku tidur tadi sebelum kita pergi." kata Arya berbohong, waktu tidur Arya memang jadi berkurang tetapi semalam ia langsung tertidur sekembalinya dari kamar Marissa.
"Apaan sih lu kok jadi nyalahin gue, lagian lu omdo! Lu sendiri yang ngajak kita ke hotel sekarang kan, semalam pake acara ngomong 'aku sudah sangat bernafsu untuk pergi kesana' nyatanya malah lu sekarang yang mager." kata Marissa memperagakan omongan Arya sambil ngeleyeh dengan gaya mencibir.
Marissa melipat tangan sebal.
"Ya udah kita tunda aja dulu rencana hari ini, kita bisa jalanin rencananya besok. Sekarang kita pulang, aku ngantuk." kata Arya sambil menguap besar-besar menyindir Marissa.
"Lu tuh yang tutup mulut kalo lagi nguap. Bukan gorilla lagi yang bisa masuk, bahkan godzilla pun bisa masuk kesana! Omongan tidak sesuai dengan kepribadian!" kata Marissa kesal.
"Iya, iya maaf.." kata Arya dengan ekspresi datar.
"Terus sekarang gimana? Kita batal ke hotel? Lu ga jadi bantuin gue?" tanyanya.
Arya mengangkat bahu. "Mungkin kita undurin sampai besok deh." kata Arya lalu menguap lagi.
"Iish! Ga bisa gitu lah lu sendiri yang bilang bakal bantuin gue! Besok juga kan lu kerja, gimana caranya bantuin gue?" tanya Marissa. "Udah sana minggir lu, kalo emang lu ngantuk biar gue aja yang nyetir. Pokoknya hari ini kita jalanin sesuai rencana lu!" seru Marissa.
"Tapi kan kamu lagi hamil, biasanya kamu ga mau nyetir kan karena sedang hamil?" tanya Arya pura-pura tak enak hati.
"Udah ah banyak omong. Cepat minggir ganti tempat!" seru Marissa lagi lalu keluar dari mobil untuk berganti tempat dengan Arya.
Arya meninju udara. Yes! pekiknya. Dia berhasil mengelabui Marissa. Agak tidak tega sih Arya menipu Marissa yang sedang hamil agar bisa gantian nyetir. Tapi kalau tidak begitu, Marissa akan terus berperilaku seenaknya, padahal kalau dilihat dari situasi yang ada, harusnya Marissa memperlakukan Arya dengan lebih baik karena sudah mau membantunya. Bukan malah bersikap sebaliknya.
"Jadi, aku sekarang boleh tidur nih?" Tanya Arya lagi-lagi merasa seolah tak enak setelah mereka selesai bertukar tempat.
"Hmmh." jawab Marissa tak acuh.
"Oke deh, maaf ya sudah ngerepotin. Nanti tolong bangunin aku ya kalau sudah sampai." kata Arya mengatakan hal serupa yang dikatakan perempuan itu tadi tapi dengan bahasa yang lebih halus.
"Hmmh." masih jawaban yang sama diberikan Marissa.
Mungkin dia kesal makanya jawab gitu doang, hahahah! Ledek Arya dalam hati.
Sambil tersenyum senang dia membetulkan posisi yang enak untuk tidur lalu menutup matanya.
Selama perjalanan Arya tidak benar-benar tidur. Dia malah merasa was-was disetiri oleh wanita hamil.
Tanpa sepengetahuan Marissa dia tetap pura-pura tidur hingga sampai tujuan agar aktingnya terlihat sempurna walau sesekali dia mengintip untuk melihat situasi jalanan.
Tak terasa mereka sudah sampai dihotel tempat mereka untuk menjalankan rencana.
Mobil berhenti setelah terparkir dengan rapih.
"Woi bangun udah sampai, cepetan gue penasaran sama nafsu lu itu apa sebenarnya!" seru Marissa membuat Arya geli mendengarnya.
Padahal semalam dia berkata seperti itu hanya bercanda, tapi entah apa yang terpikir dalam benak Marissa.
Arya turun mengikuti Marissa ke lobby utama hotel.
Disana Marissa menyelesaikan registrasi setelah sebelumnya booking online memesan sebuah kamar hotel yang sama dengan kamar yang ia tempati dengan Tio dulu.
Setelah beres, mereka pun bersama menaiki lift ke lantai 5 menuju kamar mereka.
Dada Arya tiba-tiba bergetar, dia merasa malu pergi ke kamar hotel dengan seorang perempuan walau status perempuan itu istri sahnya. Tapi ini kali pertama bagi Arya meski mereka tidak akan melakukan apa-apa nantinya, hanya menjalankan rencana dari ide yang dimiliki oleh Arya. Tapi rasanya tetap saja sedikit memalukan bagi Arya.
Marissa menempelkan sebuah kartu kunci pada pintu kamarnya dan pintu itu langsung terbuka.
Arya masuk mengikuti Marissa. Lalu menutup pintu itu.
"Jadi, ide apa yang lu maksud.." Marissa terkesiap melihat Arya tiba-tiba membuka kemejanya.
Jantung Marissa hampir copot melihat hal tersebut. "Lu gila ya? Mau apa lu? Ga habis pikir ya gue sama lu, lu mau apa?" tanya Marissa panik.
Tapi Arya malah menaiki kasur dengan santai dan melambaikan tangannya seperti om genit agar Marissa mendekatinya.
"Mau apa lu? Lu bilang punya rencana, tapi nyatanya lu ajak gue kesini karena berniat ingin menodai gue hah?" tanya Marissa dengan refleks menutup dada dengan kedua tangannya.
Arya tertawa, lalu mengambil smartphonenya dan menunjukkan sebuah foto pada Marissa.
Itu adalah foto dia bersama Tio dikamar ini.
Marissa menelan ludah. "Dasar laki-laki munafik, so naif, so baik ternyata pikiran lu kotor juga! Jadi ini maksud lu udah sangat nafsu, lu mau macam-macam sama gue?" tanya Marissa gelagapan hampir berlari meninggalkan Arya tapi langsung dicegat Arya.
Arya bangun meraih lengan Marissa. Tapi Marissa memberontak seperti dalam drama. "Lepasin! Lepasin!" teriak Marissa.
__ADS_1
Arya menutup mulut Marissa dengan maksud tidak ingin ada salah paham, gawat jika teriakan Marissa terdengar sampai keluar bisa di kira Arya sedang menganiaya Marissa.
Tapi Marissa malah berpikir lain, Marissa semakin merasa terancam dengan tindakan Arya yang seperti itu. Dia memberontak semakin menjadi.
"Cukup Marissa!" bentak Arya membuat Marissa terkejut.
"Sudah ku bilang kan kalau aku mengutamakan nafsuku dan ingin memiliki tubuhmu, sudah ku lakukan sejak lama dan tidak perlu ditempat seperti ini. Kita suami istri, jika aku mau, aku akan melakukannya di rumah." kata Arya.
Marissa membelalakan mata tak percaya.
"Kita disini buat jalanin ide aku kan?" tanya Arya.
Marissa mencoba tenang, walau ragu tapi Marissa mengangguk. Melihat reaksi Marissa, Arya lalu membuka bekapan tangannya dari mulut Marissa. Lalu mengajaknya duduk.
"Jadi rencana kamu apa sebenarnya?" bentak Marissa masih setengah ketakutan.
Arya menatap Marissa datar, dipikirannya andai Marissa datang kesini bersama pacarnya si Tio itu apa reaksinya akan berlebihan seperti ini? Ga mungkin kan? Yang ada malah riang gembira, kalau dia datang bersama Tio dengan reaksi seperti tadi ga mungkin perutnya sekarang sedang terhuni.
"Jadi rencanaku adalah kita berfoto dengan pose serupa seperti foto kamu dengan Tio." Mendengar itu Marissa membelalakan mata juga mengerutkan keningnya.
"Untuk apa?" tanya Marissa tak suka.
"Aku pikir itu bisa dijadikan klarifikasi untukmu. Kamu ingat kalau foto kamu dan Tio disana hanya wajah Tio saja yang di blur? Aku punya rencana akan mengirim foto kita yang serupa dengan foto itu dengan wajah asliku. Nanti setelah membuat akun palsu, aku akan mengirimkannya ke akun gosip yang pengikutnya sedang rajin membicarakan kamu. Disana dengan akun palsu aku akan menjadi saksi bahwa orang di foto itu adalah aku, suami sah kamu. Dengan begitu gosip yang sedang beredar itu akan terbantahkan. Dan dengan begitu mereka akan berpikir ulang bahwa mungkin ada orang yang ga suka sama kamu sedang memanfaatkan situasi panas ini untuk makin menyudutkan kamu." Jelas Arya.
Marissa tersenyum mendengar penjelasan Arya itu. "Ide bagus! Tapi seenggaknya lu bilang dari awal, jadi gue ga salah paham seperti tadi." kata Marissa menahan malu.
Arya menghela nafas "Makanya jadi orang jangan selalu berpikir negatif!" seru Arya.
"Jadi kita hanya perlu berfoto seperti itu aja nih? Lalu pulang?" tanya Marissa memastikan.
"Iya. Setelah itu kita langsung pulang. Memangnya kenapa? Apa ada hal lain yang ingin kamu lakukan? Apa kamu mau melakukan itu? Men-sahkan hubungan kita sebagai sepasang suami istri?" goda Arya.
"Gila lu!" jawab Marissa membuat Arya tertawa.
"Mulai sekarang jangan pernah berpikir hal seperti itu lagi, pikiranku selalu waras untuk hal seperti itu. Aku tidak akan melakukan hal itu jika bukan dengan wanita yang kucintai. Bahkan dengan Raya sekalipun, perempuan yang sangat aku sayang. Aku benar-benar menunggu sampai kami sudah sah menjadi suami istri, baru aku akan melakukannya. Dulu pikiranku seperti itu, sekarang sudah tak mungkin lagi karena ternyata dia sudah melakukannya terlebih dahulu dengan laki-laki lain." jelas Arya diselingi curahan hati yang terdengar sedih.
"Jadi ada untungnya kan lu ga nikah sama dia? Berterima kasihlah sama gue karena kebusukannya sudah terbongkar sekarang." kata Marissa dengan pedenya berasa jadi pahlawan untuk Arya.
Arya tak mau berkata apapun, karena apa yang dipikirkan Marissa salah besar. Lebih baik dia tidak tau sama sekali kebenaran itu, bahkan jika anak yang dikandung Raya bukan anaknya, Arya akan tetap menerima Raya apa adanya.
Tapi semua sudah mustahil menerima Raya sekarang setelah mengetahui betapa piciknya perempuan tersebut.
"Sampai kapan lu akan dapetin cewek yang lu cintai? Awas jadi perjaka tua lu nanti!" ledek Marissa.
"Ga masalah. Aku hanya akan hidup lurus dengan tetap memegang prinsipku." ujar Arya. Tanpa disadari ucapan Arya tadi menyentil hati Marissa yang hidup kebalikan darinya.
"Kita malah membahas hal lain, ayo cepat kita selesaikan ini!" kata Arya lagi mengajak fokur pada rencana mereka.
"Tapi gimana kalau Mika malah menyebar foto aslinya? Rencana kita akan sia-sia dan foto ini malah jadi akan memperburuk keadaan nantinya." kata Marissa cemas.
Saat mendengakan penjelasan itu tampak wajah Marissa yang gugup.
"Kamu sudah siap sekarang?" tanya Arya memastikan.
Marissa mengangguk ragu, dia bingung apakah ini cara yang benar, tapi bagaimana lagi tak ada jalan lain dipikirannya jadi dia sekarang hanya bisa setuju mengikuti ide Arya, ia lalu bersiap-siap.
Sebelum melakukan photoshoot, perempuan itu memastikan makeup dia sesuai persis seperti di foto sebelumnya ketika bersama Tio.
Dia bahkan sengaja mengacak rambutnya agar terlihat sama. Marissa juga menurunkan sedikit tali bajunya sampai dada agar sesuai seperti foto.
Setelah dirasa pas, Marissa menaiki kasur dimana Arya sudah menunggunya.
Marissa mempersiapkan smartphone, ia mendekat pada dada Arya lalu mendekapnya.
Sedikit gugup rasanya. Karena tak dapat dipungkiri, dada Arya terasa halus dan hangat, tubuhnya pun wangi. Ukuran bidang dadanya sama seperti Tio. Jadi orang yang melihat pun tidak akan curiga nantinya jika itu bukan orang yang sama. Dan untungnya lagi foto itu hanya menampilkan sedikit dibagian dada. Karena perut Arya tampak rata berbeda dengan perut Tio yang sedikit buncit.
Tak terhitung berapa foto yang mereka dapatkan agar bisa dipilih nantinya.
Setelah dirasa cukup, Arya memakai lagi kemejanya. Begitupun Marissa, ia merapikan pakaian dan riasannya.
Sebelum mereka benar-benar pergi, Marissa san Arya sepakat memilih salah satu foto yang dirasa sama persis.
Memang jika ada ahli yang meneliti, foto ini pasti akan ketahuan. Tapi Arya yakin hal seperti itu tidak akan terjadi jika Marissa mau mengikuti perkataan Arya dan menjalankan semua sesuai rencana.
"Ingat ya, kamu ga perlu posting apapun. Tunggu beberapa minggu ketika keadaan mulai normal kamu bisa beraktivitas lagi di sosial media kamu." kata Arya mengingatkan.
"Iya bawel banget sih!" celetuk Marissa. Arya yang sudah tau sifat Marissa tidak ambil pusing dikatain bawel seperti itu.
Tahap demi tahap rencana merekapun dijalankan, namun khusus akun instagram fake hanya Arya saja yang boleh mengetahuinya.
Arya sama sekali tidak percaya memberikan akun dan sandi untuk diketahui bersama dengan Marissa mengingat emosi perempuan itu tidak bisa terkontrol sama sekali.
"Ga ada yang ketinggalan kan?" tanya Marissa saat mereka hendak meninggalkan kamar itu.
Arya menjawab dengan mengangguk. Saat mereka sudah turun ke lobby utama, Marissa menyerahkan kembali kunci hotel kepada receptionist. Namun suatu hal yang tak terduga terjadi disana.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat bebas dipipi Marissa.
Marissa terkejut begitupula dengan Arya yang berdiri disebelahnya.
Seorang wanita yang sedang hamil besar tiba-tiba menghampiri Marissa dan memukul pipinya tanpa alasan yang jelas. Marissa bahkan tidak mengenal siapa wanita tersebut.
"Kamu ya dasar pelakor ga tau diri! Berani-beraninya rusak rumah tangga orang!" kata wanita itu emosi sambil menunjuk-nunjuk muka Marissa.
Dilihatnya Marissa memegang pipi kesakitan, Arya langsung pasang badan "Maaf, Bu. Anda siapa tiba-tiba menampar istri saya? Apa ibu punya masalah dengannya?" Tanya Arya.
__ADS_1
Arya tak suka dengan situasi ini tapi ia juga ragu, pikirannya menjadi jauh dan mengira-ngira. Apa ibu hamil ini korban Marissa juga makanya dia tampak benci pada Marissa. Ah, mana mungkin Marissa kan hanya berpacaran dengan Tio!
Ditanya seperti itu wanita itu gelagapan, dari jauh tampak seorang pria setengah berlari menghampiri mereka dengan wajah cemas.
"Maaf, maaf. Maaf, Mas. Maaf, Mba. Istri saya sedang mengandung jadi dia gampang emosi. Tadi saya lihat dari jauh istri saya menampar Mba, maaf sekali Mba." Kata pria itu yang ternyata adalah suami si penampar.
"Oh, ini Mba Marissa? Wah pantas saja.." ucap pria itu lagi terkejut, ujung kalimatnya terdengar sungkan.
"Ayah, gimana ini? Ibu ga sengaja nampar dia." bisik perempuan itu merengek.
"Tolong jelaskan, kenapa istri bapak ini tiba-tiba menampar istri saya. Kami bahkan tidak kenal dengan kalian!" Seru Arya tak terima.
"Iya, Pak. Kita memang tidak saling kenal. Jadi gini, istri saya ini fans berat Marissa dari awal dia muncul di sosial media. Istri saya aktif sekali mengikuti Marissa, tapi ketika dia tahu Marissa ada skandal seperti sekarang, istri saya ini geram, berulang kali dia ngidam ingin menampar Marissa karena saking kesalnya." Arya dan Marissa tampak terperangah mendengarnya "jadi karena tak sengaja bertemu disini, tanpa disadari istri saya malah menampar istri bapak seperti tadi. Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini." sambung pria itu lagi memohon sambil menunduk dalam.
"I-iya.. saya tidak sengaja. Maafkan kecerobohan saya Marissa," kata wanita itu tak enak hati meminta maaf. "saya hanya kesal karena kamu yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Saya benar-benar menyukaimu tapi jadi benci karena kamu sudah jadi pelakor dan merusak kebahagiaan orang, tolong maafkan saya." ucap wanita itu lagi ketakutan padahal Marissa tidak berkata apa-apa.
Arya menghela nafas, dilihatnya Marissa yang membuang muka.
Para staff hotel ditempat itu memperhatikan mereka bahkan ada yang datang untuk melerai mereka karena disangka sedang bertengkar.
Marissa melihat sekeliling, beberapa staff hotel yang berjaga dibagian receptionist tampak berbisik-bisik seperti sedang membicarakannya.
"Lain kali lebih hati-hati. Jangan seenaknya memperlakukan orang seperti itu, apalagi menggunakan alasan ngidam untuk berbuat sesuatu sesuka hati." kata Marissa.
Pasangan suami istri itu membungkuk merasa bersalah. "Maafkan kami." ucap pria itu lagi.
Marissa sudah tak ambil pusing, ia hendak melangkahkan kaki untuk meninggalkan keributan ini tapi ia berbalik kembali untuk mengatakan sesuatu.
"Biar saya jelaskan ya Bu, agar anda tidak tidak perlu menampar saya lagi jika kebetulan bertemu nanti. Saya ini memiliki suami. Saya tau banyak sekali gosip diluar sana yang sedang membicarakan saya sebagai pelakor. Tapi itu tidak benar, salah satunya ibu tau tentang foto yang lagi panas itu kan? Itu adalah foto kami! Makanya kami sekarang sedang menyelidikinya. Ini sungguh tidak seperti yang ibu kira. Itu foto kami saat honeymoon, dihotel ini. Kami pikir ada yang sengaja ingin menjelekkan nama saya. Kalau ibu fans saya, harusnya ibu percaya pada saya, buka percaya ada gosip ga jelas seperti itu." terang Marissa dengan ungkapan formal.
Wanita hamil itu menunduk, dari wajahnya terlihat merasa bersalah tak karuan.
Banyak bicara sekali perempuan ini. Pikir Arya mendengar ucapan Marissa tadi. Memang itu bagian dari ide yang ingin dipublikasikan oleh mereka, tapi apa memang perlu Marissa bicara panjang lebar seperti ini pada orang yang tidak dikenalnya.
Setelah mengatakan itu, Marissa pergi diikuti Arya dari belakang. Pasangan suami istri itu menunduk saja menunggui kepergian Marissa dan Arya. Bahkan suami istri tadi tidak jadi checkin di hotel tersebut karena sudah terlanjur malu. Meeting untuk bisnis wanita hamil itu jadi tertunda karena harus mencari hotel lain untuk disinggahi.
Andai mereka tidak berurusan dengan Marissa mungkin hal seperti itu tidak perlu terjadi. Dan perjalanan bisnis mereka bisa lancar tanpa hambatan. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur.
Marissa masuk kedalam mobil Arya dan segera memasang sabuk pengaman. Dia memejamkan matanya, seolah tau Arya akan banyak bertanya.
"Kamu ga apa-apa?" tanya Arya. Sesuai prediksi Marissa, Arya pasti akan bertanya-tanya.
Marissa tak menjawab pertanyaan Arya. "Ga usah dipikirin lagi, walau ini melenceng dari rencana. Tadinya aku berharap semua orang tahu klarifikasi foto itu dari akun gosip tapi tanpa ku sangka ada orang yang akan diberitahu oleh kamu sendiri secara langsung. Ya sudahlah, sudah terlanjur kamu memberi tahu ya mau gimana lagi." Kata Arya sambil menjalankan mobilnya.
Dada Marissa panas, dasar cowok ga peka! Gerutu Marissa dalam hati.
"Masih sempet lu mikirin masalah foto padahal baru tanya apa gue ga apa-apa?" sentak Marissa, kesal sekali rasanya.
Arya menipiskan bibirnya. "Aku ga maksud gitu sih, cuma menyayangkan aja. Tapi aku serius tanya apa kamu ga apa-apa?" tanyanya lagi tapi tak diacuhkan Marissa, pertanyaan Arya ini malah makin memperburuk suasana hati Marissa.
"Yang harus disayangkan itu sikap wanita gila itu bisa-bisanya nampar orang sembarangan, kenal aja ngga! Harusnya kamu sebagai suami jelasin sendiri malah menyangkan ucapan aku tadi!" kata Marissa kesal.
"Ya aku bingung juga mau ngomong gimana ditambah ibu tadi lagi hamil besar. Mau disangkal juga aku bingung karena kenyataannya memang sesuai dengan apa yang ibu tadi bilang." Kata Arya.
Marissa makin gedek. "Lu ya benar-benar! Pantes aja si Jalan Raya nikung, mana ada cewek yang mau sama cowok ga peka kayak lu! Walau kenyataannya gitu. Seenggaknya lu lindungi gue sebagai istri lu!"
"Kenapa kamu malah bawa-bawa Raya sekarang? Aku bingung apakah aku harus lindungi kamu karena kamu hanya istri kontrakku. Kita hanya menikah secara terpaksa, dan.."
"Terus kenapa sekarang lu bantuin gue sampai mau melibatkan diri seperti ini kalau lu kepaksa? Harusnya lu diem aja ga usah ikut campur!" potong Marissa ditengah kalimat Arya yang belum lengkap.
Arya menepikan mobilnya dan mengerem mendadak lagi, hal itu jadi kebiasaan barunya setelah mengenal Marissa.
"Kamu mau tau alasannya? Karena gara-gara kamu, hidupku ikut berantakan!" ucap Arya dengan emosi tak tertahan, "kamu sudah melibatkan aku disiaran langsung kemarin tanpa bertanya dulu padaku, bahkan dari hari pertama setelah kita menikah, dikantorku banyak sekali orang yang bergosip tentangmu! Kamu tanya kenapa aku ikut campur? Bukan karena aku ada perasaan padamu, tapi karena aku ga mau pengacau sepertimu semakin jauh membuat masalah yang ujungnya akan berimbas padaku. Aku ga senaif yang kamu pikir, aku juga bisa jadi orang yang egois sepertimu!" terang Arya membuat dada Marissa memanas.
Marissa melotot pada Arya tapi Arya tak gentar, ia balas dengan tatapan sinis pada Marissa.
Marissa merasa muak mendengar pengakuan Arya barusan. Harusnya dari awal dia berterus terang seperti ini, rasanya dia bisa gila jika terus bersama dengan orang itu.
Marissa tau, bagaimanapun mereka tidak akan pernah akur. Dia ingin sekali secepatnya melahirkan dan menyelesaikan kontrak pernikahannya dengan Arya.
Marissa mengambil tas dan merapihkan barangnya dengan kecepatan kilat.
Sambil masih emosi dia keluar dari mobil Arya dan menutup pintu mobil itu dengan kasar.
Arya mengeram bibirnya sambil memejamkan mata.
Arya membuka kaca mobilnya untuk melihat apa yang akan dilakukan Marissa. Dari sana ia melihat perempuan itu berjalan dengan gelisah menyebrangi jalan tanpa peduli banyak kendaraan melintas. Suara klakson bersautan ketika Marissa menyebrang seperti orang mabuk.
Melihat itu Arya panik dan langsung turun dari mobilnya berusaha mengejar Marissa.
Saat ia ingin menghampiri Marissa, sebuah mobil sedan melaju kencang ke arah perempuan itu. Klakson panjang menghiasi udara jalan raya tempat mereka berada.
Orang-orang di sekitar sana memasang mata cemas pada Marissa.
Mobil itu mendekat dengan bunyi klakson yang keras.
"MARISSA AWAASS!" teriak Arya dari belakang.
Seperti tersadar dari lamunanya Marissa melihat ke arah kirinya, kakinya langsung lemas melihat sedan itu mendekat ke arahnya.
Orang-orang yang tadi hanya melihat situasi kini mulai berdatangan menghampiri mereka.
Kaki Marissa bergetar dengan hebatnya, seluruh tulang dalam tubuhnya terasa rontok semua, badannya jadi lemas seketika.
'A-aku.. aku harus gimana? Apa yang harus kulakukan?' pikir Marissa.
***
__ADS_1