
"Tidak apa-apa Pak, Bu. Pasien hanya mengalami trauma psikis pasca kecelakaan hingga menyebabkan hilang kesadaran. Biasanya terjadi syok akibat benturan yang tidak disadari. Setelah melakukan beragam cek, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebentar lagi pun pasien bisa dipindahkan ke kamar rawat inap setelah kondisinya makin membaik," ujar seorang dokter yang menangani Indra.
Terlihat Papa dan Mami Indra saling berpelukan dalam tangisan lega. Keduanya termasuk Kakek langsung datang ke rumah sakit setelah dikabari oleh Indra sendiri. Mereka sangat cemas saat mengetahui Indra pingsan dalam perjalanan kemari.
"Syukurlah, anak itu tidak kenapa-kenapa," ujar Kakek mengusap pundak anak dan menantunya lembut.
Arista yang berada di belakang mereka langsung terduduk lemas tak berdaya. Rasanya semua beban yang sedari tadi bertumpuk di kepalanya hilang seketika. Air mata yang lama ditahannya itu kini jatuh tak terkendali.
Kakek yang menyadari kehadiran Arista ikut berjongkok lalu merangkul anak gadis itu berusaha membuatnya tenang. Arista yang sedari tadi menanggung bebannya sendiri tiba-tiba langsung buyar dan menangis sesenggukan saat seseorang menyadari kesakitannya. Entah berapa lama Arista begitu, menangis di dada seorang laki-laki tua.
Setelah tenang Arista duduk di kursi pengunjung depan kamar Indra yang sudah dipindahkan.
"Kamu tidak mau masuk?" tanya Kakek lembut duduk disebelahnya.
Arista diam saja. Dia tiba-tiba teringat tingkahnya yang dia sendiri juga tidak sadari tadi. Bisa-bisanya menangis dalam rangkulan kakek orang lain. Malu banget kalau di ingat!
Arista menggeleng dan bilang dia sudah cukup berada di sini. Yang penting dia sudah lega saat mengetahui kondisi Indra baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
"Kamu sebegitu sukanya ya sama cucuku sampai menangis begitu?" tanya Kakek tersenyum tapi seperti sedang mengetes Arista.
Arista tidak dapat menjawab hanya dapat tersenyum kikuk.
"Meskipun kalian tidak pacaran betulan, tapi saya bisa melihat ketulusan dari mata kalian berdua. Kamu benar-benar sayang pada cucuku. Begitupun sebaliknya. Indra juga sangat sayang sama kamu."
Mata Arista terbelalak langsung menatap Kakek tanpa sadar.
Kakek terkekeh melihat ekpresi Arista yang terkejut seperti itu.
"Kamu kaget, Nak? Tenang saja, saya tidak marah kok. Indra sudah menceritakan semuanya. Bahkan sampai tentang persoalan uang yang kamu kembalikan sebagai bayaran itu. Indra ceritakan semua sedetail mungkin hingga perasaannya sendiri pun dia cerita. Dan saat dia menceritakan itu, saya akhirnya sadar. Baru pertama kali saya mendengar dia bercerita dengan ekspresi begitu dengan wajah berbinar. Itu juga kali pertama dia menceritakan masalah hatinya dengan seorang perempuan padahal sebelumnya dia paling anti menceritakan hal tersebut. Tapi berbeda ketika dia menceritakanmu. Dia bisa menceritakan semua yang dia pikirkan dan dia rasakan dengan leluasa. Seolah dia baru saja menemukan seseorang yang selama ini dia cari, tapi dia malah bingung karena entah bagaimana Indra bisa ungkapkan rasa pada seseorang yang disukainya itu. Indra bahkan bercita-cita untuk membuktikan tepat ketika dia memperkenalkanmu sebagai pacar. Baginya saat itu adalah hal yang nyata hingga akhirnya dia bersumpah untuk membuktikan kalau dia bisa menikahimu suatu saat nanti. Dia juga menceritakan latar belakangmu tanpa ragu. Baru kali ini saya melihat cucuku satu-satunya itu jatuh cinta. Dan ketika melihat betapa khawatirnya kamu sama Indra, saya yakin bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama padanya. Lalu, kenapa kamu tidak mau membuka diri serta menunjukan perasaan yang nyata juga pada Indra? Untuk apa kamu tahan seperti itu? Bukankah itu sangat menyakitkan? Sebenarnya apa yang mengganjalmu untuk melakukannya?"
"Sa-saya bingung, bagaimana saya harus menjelaskannya. Saya tau Indra ini pria tampan dan mapan. Ketika tau dia seorang dokter, saat itu membuat saya berpikir untuk tidak coba-coba menyukainya.. Kami datang dari kehidupan berbeda. Level kami berbeda. Seperti bumi ketemu langit, tidak bisa saling bersentuhan satu sama lain. Dia yang seorang dokter saja membuat saya sadar untuk memiliki batas tertentu untuk sadar diri tidak boleh menyukainya, apalagi sekrang, saat tau dia cucu seorang pemilik perusahaan makanan instan yang tersohor. Cucu konglomerat. Semakin tebal batas yang harus saya miliki. Karena itu..."
"Karena itu kamu merasa tidak pantas untuk cucu saya? Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Hanya karena Indra cucuku maka artinya dia memiliki kekayaan milikku? Kamu salah jika berpikir seperti itu, Nak. Indra hanya seorang dokter, bukan pengusaha. Apa yang jadi pekerjaannya maka itu pula pendapatannya. Dia memang mewarisi apa yang ku punya sekarang. Tapi dia tidak berhak menggunakan satu sen pun jika dia dirasa tidak pantas untuk memilikinya. Kamu mengerti sampai sini? Itu bahkan berlaku pada kedua orang tuanya. Jika kamu takut karena kamu berpikir datang dari level yang berbeda, maka kamu salah besar. Indra bisa seperti sekarang pun berkat bakat dan kerja kerasnya yang dia peroleh sendiri. Saya tidak pernah ikut campur atas segala karir cucu dan anakku. Mereka dapatkan semua itu atas usaha mereka sendiri."
Arista terdiam mendengar sebuah kenyataan yang diceritakan langsung oleh Kakek Indra. Rasanya tidak ada kata yang bisa dia ucapkan untuk melakukan pembelaan atas kata-katanya barusan.
__ADS_1
"Dan juga apa yang membuat kamu berpikir kalau kalian punya batas yang tebal, seperti bumi dan langit? Bukankah kamu tau, bumi tidak akan jadi tempat yang nyaman jika tidak ada langit, dan langit juga tidak akan ada gunanya jika tidak ada bumi. Keduanya jelas saling membutuhkan. Kenapa kamu harus membuat rumit pikiran-pikiran seperti itu? Saya tau cucu saya seperti apa. Indra ini memiliki hati yang hangat. Wajahnya betul-betul mewakili hatinya sendiri. Bukan wajahnya saja yang tampan, tapi hatinya pun begitu. Dia akan suka pada seseorang tanpa memandang siapa orang tersebut. Andai jika dia melihat status dan diri seorang wanita, mungkin sudah dari dulu dia menikah. Tapi toh buktinya dia selalu menolak semua perempuan yang saya serta Papa Maminya kenalkan. Memangnya apa kurang mereka? Para wanita itu pintar, cantik, punya nama, karis cemerlang dan datang dari kalangan berada tapi tidak ada satupun yang dapat memikat hati Indra. Tapi kamu... Hanya kamu yang bisa memikat hati Indra, bahkan dari awal kalian bertemu. Jadi hilangkan semua pikiran buruk tentang dirimu sendiri, karena nyatanya kamulah satu-satunya pemenang yang ada dihati cucuku itu.."
Mendengar semua penuturan kakeknya Indra membuat Arista tak sengaja menitikan air mata. Entah sudah berapa banyak tangisan yang dia keluarkan hari ini. Rasanya matanya sangat bengkak tapi air mata ini tidak mau kalau disuruh berhenti.
"Arista.. Kamu dicari sama Indra," ucap Kia menggeser pintu kamar ruang inap anaknya.
Kakek mengangguk-angguk sambil mempersilahkan Arista masuk. Awalnya dia ragu, kenapa jadi seperti ini? Aneh sekali. Perlakuan keluarga Indra jadi lebih hangat terutama Maminya yang bahkan memanggil nama Arista.
"Ba.. Baik.. Permisi, saya masuk dulu ke dalam," ucap Arista sopan lalu masuk ke dalam kamar Indra. Otomatis Papanya pun ikut keluar setelah mempersilahkan Arista mengobrol dengan Indra berduaan.
Melihat kondisi Indra yang lemah lagi-lagi Arista menangis. Kepalanya yang tertempel perban serta tangan kirinya yang terkilir banyak luka juga jari-jari yang lecet membuat Arista sedih.
Arista duduk di kursi sebelah kasur Indra. Dia bingung harus bicara apa. Indra juga sama bingungnya. Keduanya jadi canggung entah mau memulai dari mana.
"Kamu.." suara Indra dan Arista keluar secara bersamaan.
Keduanya saling tatap dan merasakan debaran yang sama. Kok bisa sih mau ngomong samain gini? Sebenarnya apa yang Indra maupun Arista ingin utarakan?
__ADS_1
***