Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Ke'GeeR'an


__ADS_3

Semalaman Marissa terjaga dalam tidurnya, bahkan hingga pagi menjelang ia tak juga terlelap karena memikirkan apa yang dikatakan oleh Mika tentang Tio yang hanya berusaha memanfaatkannya.


Situasi ini sungguh menyebalkan. Logika dan perasaan sedang bertengkar di dalam diri Marissa.


Memang Marissa pun menyadari kalau selama berpacaran dengan Tio, entah berapa banyak uang yang sudah ia keluarkan untuk laki-laki tersebut. Bahkan tak ada satu pun kencan dimana Tio yang membayari keperluan mereka, makan, minum, transportasi semua dari Marissa. Dan banyak juga alasan yang Tio berikan agar Marissa memberinya uang, entah karena orang tuanya sakit, bayar hutang, bayar kontrakan dan lainnya dan selama itu pula Tio membohonginya kalau dia sebenarnya sudah menikah bahkan sudah mempunyai 2 anak.


Kenyataan pahit harus ditelan oleh Marissa namun perasaannya tetap berkecamuk, masa iya Tio hanya memanfaatkannya?


Apakah mungkin mereka berbagi cinta diatas ranjang yang sama kalau Tio hanya sekedar memanfaatkannya bahkan hingga membuat Marissa hamil?


Dia masih ingat betul kehangatan yang diberikan oleh Tio, perasaan tulus dan sayang dan sorotan mata kebahagiaan yang bertemu saat mereka bersatu.


Bukankah Tio terlalu bodoh untuk meninggalkan jejak begitu saja didalam diri Marissa? Jejak yang berupa seorang bayi tak berdosa.


Tapi setelah Tio pergi tanpa peduli akan jejak itu, munculah pikiran baru yang seolah membenarkan bahwa Tio memang hanya memanfaatkannya, ia bahkan tega pergi, membuang darah daging yang sedang bersarang ditubuh Marissa.


Kecewa, sedih, marah berbaur menjadi satu seperti sebuah jarum yang bercabang lalu bersama-sama menusuk hati Marissa dalam satu komando. Sakit sekali.


Begitu menyakitkannya bahkan air mata pun tak dapat lagi jatuh.


Disaat seperti ini, dia ingin ada seseorang yang memberinya perhatian, mendengar curhatnya, memberikan masukan yang menenangkan. Tapi siapa? Malu sekali rasanya kalau ia bercerita pada Mama Papanya, yang ada amarah meluap dari kedua orang tuanya. Dia juga tak memiliki teman karena tak ada satupun yang ia percaya. Dan tidak mungkin juga ia bercerita pada Arya, gengsi lah!


Tapi... kan Arya tau permasalahan yang sedang dihadapinya, dia juga ikut mendengar semua omongan Mika. Apa salahnya kalau Marissa bertanya pada Arya? Ah, jangan deh! Yang ada Arya malah bakal mengejek habis-habisan. Hal ini membuat Marissa bingung.


Tiba-tiba, sebuah dorongan bangkit dalam dirinya, kakinya seperti bergerak sendiri turun dari ranjang menuju pintu, tangannya pun bekerjasama, membuka pengait kunci dan knopnya, pintu itu terbuka dan kakinya mulai melangkah menuju kamar Arya yang tepat disebelahnya.


Setelah berada didepan pintu itu, kini tangannya mulai bekerja lagi hendak mengetuk kamar Arya, tapi sesuatu dalam dirinya menahan, hati dan pikirannya bertolak belakang. Hatinya ingin mengetuk pintu dan bertemu Arya, tapi pikirannya melarang. Kegalauan ini membuatnya gugup. Ia menunduk sambil memikirkan keputusan, dilihatnya perutnya yang menonjol saat menunduk. Ia jadi teringat Tio.


Baiklah, ini bukan saatnya mengutamakan gengsi. Ia harus menemukan jalan keluar yang tak bisa ia temukan, dan satu-satunya harapan adalah bertanya pada Arya.


Marissa menarik nafas perlahan lalu membuangnya. Tangannya sudah mengepal dan siap mengetuk, belum sempat tangan itu menyentuh pintu namun pintu itu tiba-tiba terbuka membuatnya terkesiap.


Marissa terkejut dan salah tingkah, begitu pula dengan Arya yang sama terkejutnya mengetahui Marissa berdiri disana.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Arya.


Bukannya menjawab, perempuan itu malah balik bertanya. "Lu mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Marissa saat melihat Arya dengan pakaian rapinya.


"Mau ke kafe semalam." Terang Arya.


"Kenapa? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Marissa.


"Bukan, itu.. ah tar aja aku jelasin pas udah pulang, keburu pergi orangnya." Ujar Arya sambil melihat jam tangannya lalu pergi begitu saja meninggalkan Marissa dalam keheningan.


Marissa masih terpaku ditempatnya, berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. "Ngapain ya dia ke kafe itu lagi? Keburu pergi orangnya maksudnya apa sih? Dia janjian sama orang apa gimana sih?" Tanya Marissa pada dirinya sendiri. Disaat yang bersamaan perut Marissa berbunyi.


"Aduhh dede lapar yaa? Udah waktu nya sarapan ya? Dede kita mamam yukk." Ajak Marissa pada anaknya dan ia pergi ke ruang makan sambil mengelus perutnya dengan lembut.


Ditempat lain Arista sedang bersiap merapikan barangnya karena jam kerjanya akan segera berkahir dan di gantikan shift pagi.


Dia lelah sekali, bukan hanya tubuhnya tapi mulut dan telinganya pun ikutan lelah karena ia harus mendengar dan menjawab berbagai pertanyaan dari teman-temannya. Yang paling di ingatnya adalah, "Lu beneran pacaran sama laki-laki yang tadi? Lah bukannya disamping dia itu istrinya si laki ya? Anjir pelakor lu! Hahaha." Walau pertanyaan itu di selingi tawa namun kalimat tersebut tetap sulit di cerna. Benar juga, jika orang-orang hanya memakan mentah-mentah omongan Mika, hasilnya memang akan menjadi kesalahan pahaman seperti itu. Pelakor, sebuah kata yang menyeramkan bagi Arista.


Masih melamun, seorang temannya menepuk bahu Arista agar segera pulang dan ia pun mengiyakan sambil tersenyum ramah lalu mengikuti orang itu dari belakang.


Namun hal mencengangkan terjadi saat ia membuka pintu restoran, ternyata ada seseorang yang sedang menunggunya di luar.


"Arista." Panggil orang tersebut.


"Arya?" Arista terkejut, bukan hanya dia tapi temannya pun sama terkejutnya. Waduh gawat, bisa-bisa kesalah pahaman ini menjadi semakin besar dengan kehadiran Arya disini.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini?" Tanya Arista gugup.


"Ada sesuatu yang harus aku katakan, kamu ga keberatan kan ikut aku sebentar?" tanya Arya.


Teman-teman Arista yang mengerti situasi langsung pamit undur diri untuk pulang duluan, Arista mengiyakan dan hanya pasrah bila diperjalanan mereka akan menggunjingnya di belakang.


"Emang kamu mau ngomong apa? Tidak bisakah kalau disini saja?" tanya Arista.


Arya menggeleng. "Ga enak kan kalau kita bicara di lingkungan kerja kamu."


Omongan Arya membuat Arista berpikir, ada benarnya juga yang dikatakannya. Bakal rame kalau makin banyak yang melihat mereka berduaan apalagi setelah kejadian semalam. Maka diputuskan Arista untuk mengikuti Arya dan bersama masuk ke dalam mobilnya.


Di tengah peluh sehabis kerja, rasanya nyaman ia bisa bersandar didalam mobil Arya, sambil melihat-lihat suasana kota di pagi yang cerah. Tapi tanpa disangka perut Arista berbunyi tanpa mengenal situasi dan kondisi.


"Kamu lapar?" Tanya Arya.


Wajah Arista memerah manakala ia sadar bahwa Arya mendengar anak band didalam perutnya.


"Ngga, kok." Jawab Arista bohong. Tapi lagi-lagi siapa sangka kalau perutnya tidak mau diajak kerja sama mengikuti mulut Arista.


Arya tersenyum tanpa berpaling melihat Arista, tanpa berkata apa-apa Arya tampak sibuk melihat kanan-kiri jalanan lalu mendadak menghentikan laju mobilnya di bahu jalan dan tepat di pinggirnya ada sebuah gerobak bubur ayam.


"Kamu ga apa-apa kan kalau kita makan bubur dulu?" Tanya Arya sambil melepas sabuk pengaman.


Arista terkesiap. "Jangan, gue ga lapar kok. Kita ga usah makan bubur. Gue ga lapar sama sekali." Kata Arista menolak.


"Oh gitu, yaudah kamu tunggu sini aja ya sebentar, aku yang lapar mau makan bubur dulu." Kata Arya.


Arista terkejut dan wajahnya memerah lagi, malu. Bisa-bisanya dia ke'geer'an Arya mau kasih makan. Padahal Arya yang mau beli untuk dirinya sendiri.


Waktu Arya hendak membuka pintu mobilnya, perut Arista beraksi lagi, kini suaranya lebih besar.


Arista tak menjawab, dia menggigit bibir bawahnya antara mau dan malu. Tapi semua itu lenyap saat perutnya berubah seperti konser Linkin Park yang banyak penontonnya. Ia pun kalah, Arista dengan cepat membuka pintunya lebih dulu dari Arya lalu secepat kilat menuju tukang bubur di sampingnya.


Arya yang melihat tingkah Arista cengengesan sambil geleng kepala. "Sifatnya masih aja sama gengsian, ga pernah berubah." Gumam Arya sambil membuka pintu dan menghampiri Arista. Dia tau Arista bakal menolak ajakannya kalau dia tidak bilang seperti tadi.


"Bang buburnya dua ya, yang satu ga pake daun bawang." Pesan Arista membuat Arya terkejut.


"Kamu ga mau pake daun bawang?" Tanya Arya curiga.


"Bukan gue, tapi kamu. Tuh bubur buat kamu." Jawab Arista membuat Arya terkesima, ternyata benar itu bubur untuknya. Luar biasa sekali Arista masih mengingat apa yang tidak di sukai Arya.


Ia jadi teringat jaman sekolah dulu, saat pertama kali mereka makan bubur bersama, Arya dengan sengaja memisah-misahkan daun bawang dalam mangkok sebelum memakannya. Saat melihat itu Arista langsung nyeletuk "Anak orang kaya makannya pilih-pilih ya." Mengingat masa itu membuat Arya tersenyum kecil jadinya. Ternyata walau Arista sarkas tapi dia perhatian.


Saat bubur mereka datang Arista langsung mengaduk buburnya dan melahapnya dengan cepat. Berbeda dengan Arya yang makan buburnya sedikit-sedikit tanpa mengaduknya terlebih dahulu.


"Makannya pelan-pelan aja, kalau kurang kan bisa tambah lagi." Kata Arya tapi tak di gubris Arista.


"Kalau dilihat gaya makan kamu kayak gini, sepertinya kamu belum punya pacar sama sekali ya?" Tanya Arya.


Arista tersedak lalu batuk. Ia meminum air dengan segera. "Maksudnya apa nanya gitu?" Tanya Arista tak suka.


"Habis kamu kalau makan kayak orang kalap gitu ga bisa jaim dikit."


"Ya ngapain harus jaim segala, apalagi di depan kamu. Kan kamu bukan pacar gue." Jawab Arista.


"Ohh jadi kalau hanya sama pacar kamu aja kalau makan jadi jaim lemah gemulai gitu?" Tanya Arya.


"Yaiyalah. Masa gue ga jaim tar gue jomblo mulu." Jawab Arista sambil mengunyah.

__ADS_1


Arya tertawa, "Terus sekarang udah punya pacar?"


"Apaan sih kamu, ga usah ngetes kepo gitu deh, tar tau gue belum punya pacar kamu cari kesempatan buat ngerayu. Sorry ya gue ga mau!" Jawab Arista super pede.


Mendengar itu Arya tertawa ngakak. Arista terkejut dan segera tersadar.


"Aku ga ada pikiran gitu loh, emang bener aku kepo tapi ga ada tujuan sampai kesana." Kata Arya lagi masih tertawa.


Wajah Arista memerah. Dia sadar sudah salah bicara. Masa dia tidak bisa memilih kata atau berekspresi tanpa merasa kegeeran?


"Bu.. bukan gitu maksud gue. Ya wajar dong gue mikir gitu, lagian kamu ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba nungguin gue pulang kerja dan ajak gue jalan. Perempuan mana yang ga akan mikir macam-macam." Dalih Arista.


"Kayaknya perempuan yang kayak gitu cuma kamu doang deh." Ledek Arya.


"Enak aja! Gimana gue ga mikir aneh-aneh apalagi setelah kejadian semalam. Kamu pasti berantem kan sama istri kamu yang selebgram itu. Terus cari aku buat pelampiasan cinta kamu. Apalagi karena mbak-mbak yang sama kalian bilang aku ini pacar kamu.Terus kamu mau manfaatin aku, iya kan?Kalau kamu mau ajak aku selingkuh, sorry ya, aku ga mau! Aku gak mau jadi pelakor!" Ceplos Arista lalu menenggak minum sebanyaknya.


"Aku udah selesai, biar aku yang bayar. Biar aku pulang sendiri aja!"


Saat Arista mengeluarkan uang dari kantong jaketnya, Arya mencegah. Mulut Arya bergetar-getar dan tampak penuh, ia sedang menahan tawa hingga tak dapat ditahan lagi lalu ledakan tawanya membahana begitu keras sampai tukang bubur ikut terkejut di buatnya.


"Aristaaa.. Apakah di Singapur kamu banyak nonton drama atau memang ada hal yang terjadi seperti itu disana?" Tanya Arya "aku ga ada pikiran sampai sana loh, ckckck."


Arista tampak kebingungan.


"Jadi gini Arista, aku ajak kamu kesini cuma mau meluruskan kesalahpahaman semalam. Aku juga mau minta maaf karena kejadian itu mungkin bakal bikin citra kamu jelek di tempat kerja dan mungkin orang-orang juga berpikir sama seperti yang tadi kamu katakan. Karena itulah aku ajak kamu bicara ditempat lain agar tidak menambah kesalahpahaman yang sudah ada. Aku benar-benar minta maaf karena sudah menyeret kamu ke masalah aku, tapi semata-mata itu ya terjadi begitu aja, aku juga ga tau kalau ternyata kamu kerja di kafe itu." Terang Arya menjelaskan.


Wajah Arista lagi-lagi memerah, perasaannya jadi tak karuan, malu sekali rasanya ia sudah mengutarakan pikiran tanpa tau sebabnya, ingin sekali ia segera kabur dari tempat itu.


Arista menggigit bibirnya, ia ingin membalas ucapan Arya tapi apa daya tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.


"Oia, aku juga penasaran. Sejak kapan kamu kerja di kafe itu? Kok ga bilang-bilang sama aku, sih?" Tanya Arya.


"Siapa kamu, ngapain juga gue bilang-bilang segala." Jawab Arista jutek, padahal sebenarnya dia tidak ingin berkata seperti itu, tapi dia terlanjur malu dan gengsi. Jadinya kata-kata tadi keluar begitu saja


"Loh ko tanya siapa kamu? Kan aku teman kamu, harusnya kamu bilang dong jadi aku kan bisa main-main ke sana."


"Aku disana buat kerja bukan main-main." Dan terjadi lagi, Arista tetap jutek. Ingin sekali ia memukul mulutnya sendiri.


"Yeee jutek amat sih jawabnya."


Arista gelisah, suasana menjadi canggung dan dia tau dialah penyebabnya. Sekelibat ia menoleh lengan Arya yang sedang menyendok bubur ke mulutnya, ia melihat Arya masih memakai jam tangan pemberiannya waktu SMA. Tiba-tiba mulutnya gatal dan ingin bertanya.


"Itu.. Jam tangan jelek gitu kenapa masih saja kamu pakai? Udah tau KW." Tanya Arista masih dengan nada juteknya.


Arya terkekeh, "Ini jam tangan berarti bagiku. Soalnya kan pemberian dari kamu."


Hatinya seperti di sengat tawon. Ngilu sekali saat mendengar apa yang dikatakan Arya tadi.


Pikiran liar menjelajahi setiap ruang di kepala Arista.


'Iihh gilaa, jam tangan buluk gitu aja bisa berarti?Apa jangan-jangan si Arya suka sama gue dari dulu ya, iihh parah parah parah!' batin Arista.


Tak sengaja mata Arista bertemu dengan mata Arya, mereka saling menatap, Arya juga tampak senyum-senyum sendiri.


'Ahhh... Kenapa juga si Arya natap gue kayak gitu?' batin Arista menendang-nendang imajinasi liarnya.


Apakah ini sinyal dari Arya pada Arista? Ah, kalau memang suka, kenapa dia ga bilang dari dulu?


***

__ADS_1


__ADS_2