
"Sayaangggg... Ini gila, gila, gila banget! Masa si cupu mau nikah sama dokter Indra!" teriak Marissa berjalan tergesa-gesa sambil mengelus perutnya yang sudah sangat bulat mencari Arya di ruang kerja.
Demi mengghibah seseorang yang dianggap mantan pacar suaminya itu, Marissa rela jalan membawa bayi yang sudah siap dilahirkan bulan ini dengan kepayahan bahkan dengan pinggang yang cenat-cenut linu dibuatnya.
"Si Cupu siapa sih, Sayang?" tanya Arya langsung bangkit dari duduknya dan mengabaikan layar laptopnya yang masih menyala menampilkan data-data memusingkan.
Arya bantu Marissa jalan menuju sofa dan mendudukannya di sana.
Marissa memberikan sebuah kertas tebal berwarna emas kepada suaminya. Arya membaca isi tulisan dari kertas tersebut. Rupanya itu undangan pernikahan Indra dan Arista.
Arya terkejut. Bagaimana bisa akhirnya mereka menikah? Ini kabar baik dong!
"Kenapa muka kamu begitu? Kamu gak rela ya akhirnya si mantan nikah?" tanya Marissa cemburu.
Arya menipiskan bibirnya sambil geleng-geleng tidak percaya. "Ada apa sih denganmu, Cintaku? Kenapa dipikaranmu selalu cemburu, cemburu dan cemburu pada Arista? Kamu sendiri kan tau kita berdua ini dari dulu hanya sahabatan."
Arya perhatikan penampilan istrinya yang berantakan kemudian bantu dia mengikat rambutnya yang awut-awutan. Sebelah terurai, sebalah terikat. Sangat tidak karuan.
"Siapa juga yang cemburu, iuuhh.." jawab Marissa gengsi.
"Kalau gak cemburu lalu apa alasannya kamu bilang begitu?"
Marissa angkat bahu. Males dan memang gengsi jika Marissa bahas alasan kenapa dia bersikap begitu. Tapi pikiran dan suasana hati Marissa masih gelisah, masih meronta.
"Tapi kamu sedih kan dia nikah?" tanya Marissa lagi.
Arya geleng kepala. "Kenapa aku harus sedih? Aku malah senang akhirnya dia menikah. Apalagi dengan dokter Indra."
__ADS_1
Marissa menoleh cepat pada Arya. Rambut yang belum sempat terikat kuat itu langsung terlepas dan kembali berantakan.
"Kenapa emang dengan dokter Indra? Terus kalau sama orang lain kamu gak senang? Kalau si Arista menikah sama orang lain kamu bakal resah gelisah, begitu?! Terus setujunya sama si Indra doang? Iya? Begitu?!"
Cerocos Marissa malah membuat Arya terbahak. "Kamu kenapa sih sensi banget? Tentu saja aku senang dia menikah dengan dokter Indra. Karena aku tau Arista pasti akan bahagia dengannya. Akhirnya dia bisa menemukan jodoh yang tepat yang akan selalu mencintai Arista selamanya sampai tua. Sama seperti aku mencintai kamu selamanya. Sampai tua juga," Arya memegang wajah Marissa dengan kedua tangannya lalu mencium bibir Marissa tanpa permisi.
Marissa tersipu malu. Bisa-bisanya Arya ada perubahan bisa jadi se- so sweet begitu.
Tunggu! Tunggu! Tunggu!
Tapi kenapa Arya bisa so sweet pas lagi ngomongin Arista?
Tiba-tiba saja wajah Marissa yang tadi tersenyum manis itu mendadak berubah kecut.
"Tau ah nyebelin!" ucap Marissa tiba-tiba membuat Arya bingung.
Arya yang tidak peka mencoba mengajarnya sambil gelitikin perut Marissa. "Kamu kenapa sih, Sayang? Kenapa? Coba cerita.. jangan main pergi gitu aja dong.." ucap Arya lalu memeluk istrinya itu dari belakang sambil sesekali mengelus dede bayi yang masih ada di dalam perut Marissa.
Marissa manyun-manyun manja, lagi-lagi Arya menciumnya. Seketika itu juga senyum merekah dari bibir Marissa seolah ribuan bunga sedang panen di wajahnya.
Hari berganti begitu cepat. Tanpa terasa tiba juga hari yang dinanti yaitu hari sakral bagi Indra dan Arista untuk melabuhkan pelayaran cinta mereka.
Marissa mengatur napas di depan cermin sambil menabur blush on di pipi sebagai pemanis pada wajahnya yang sedikit tembam akibat efek hamil. Hatinya berdebar tak tentu. Wanita itu juga bingung sendiri kenapa dirinya bisa begitu? Yang nikah siapa, yang degdegan siapa! Bisa-bisanya Marissa grogi di hari spesial orang lain. Apa karena ini adalah moment pertamanya dia keluar dan berbaur dengan banyak orang sebagai istri sah suami tercinta?
Marissa mengingat-ngingat kejadian di masa lalu. Jika berkumpul atau menghadiri sebuah acara jarang sekali dia membawa Arya. Bila pun datang bersama pasti tidak ada kata mesra, jikapun dipaksa, semua hanya kepura-puraan saja.
Tapi kali ini beda! Marissa bisa benar-benar menunjukkan rasa cintanya di hadapan orang banyak apalagi hasil cinta mereka menghasilkan bukti dari perut besarnya itu.
__ADS_1
Sebentar! Marissa berpikir keras. Ih, so ngartis banget yah dia, bisa-bisanya berpikir begitu di nikahan orang lain. Itu kan pesta pernikahan Arista dan Indra yang mana di hadiri keluarga besar dan kerabat dekat serta rekan kerja saja. Mana mungkin ada yang mengenal Marissa, ya kan?
"E-eh tapi kan, gue selebgram! Siapa sih yang gak mengenal Marissa!" celetuknya nyengir di depan cermin sambil mengamati penampilannya itu.
Marissa sudah siap-siap dengan riasannya tersebut. Dia juga sudah memastikan kado pernikahan yang akan dia berikan itu terbungkus dengan rapi. Orang tua serta mertua juga sudah berdandan rapi dan sama-sama akan pergi ke pesta pernikahan. Bedanya mereka tidak akan pergi ke pesta yang sama. Berbeda dengan Arya dan Marissa, mereka akan pergi ke pesta pernikahan salah satu pengusaha kenalan mereka.
"Kalian pergi sekarang juga? Memang pestanya jam berapa?" tanya Bu Aga bercermin di cermin kecil yang sengaja dia bawa.
"Jam 10 pestanya mulai, Ma," jawab Arya mengecek jam tangannya.
Marissa berjalan sambil dirangkul pinggangnya oleh Arya sedangkan satu tangan lagi memegang bingkisan kado pernikahan yang sudah mereka siapkan.
Hari ini adalah hari pernikahan Indra dan Arista. Bertepatan sekali dengan undangan pernikahan dari kenalan circle pengusaha Papa dan Mama.
Semua orang tampak repot beranjak masuk ke dalam mobil masing-masing demi mengejar waktu, namun sesuatu tiba-tiba terjadi. Marissa merasakan perasaan yang aneh. Perutnya mendadak mules luar biasa. Dia bahkan hampir jatuh tergeletak jika tidak ditahan oleh Arya.
Marissa merinding ketika kakinya di aliri oleh air yang dia tau dari mana asalnya.
"Arya, Arya air ketubanku pecah!" teriak Marissa membuat semua orang terkejut sampai berhamburan dari mobil mereka. Tanpa diduga rupanya Marissa siap melahirkan saat ini juga! Ini jauh dari prediksi dokter yang mengatakan dia akan melahirkan sekitar dua minggu lagi.
Arya sesigap mungkin berusaha tenang kemudian mengangkat tubuh Marissa ke dalam mobil.
Dia sampai lupa beberapa waktu yang lalu kalau mereka akan pergi ke pesta pernikahan sahabatnya itu. Saat ini yang ada dipikiran Arya adalah bagaimana caranya dia bisa menyelamatkan istri dan calon buah hatinya itu supaya tepat waktu mendapat tindakan di rumah sakit.
Tanpa pikir panjang Arya membawa Marissa ke rumah sakit sekarang!
***
__ADS_1