Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Bicara Lewat Ketikan


__ADS_3

Marissa tidak tau apa yang terjadi, tapi setelah membuka mata, tiba-tiba ruangannya yang tadi berwarna biru pastel kini berubah jadi serba putih.


Ruangan ini begitu familiar baginya, rasanya dia pernah melihatnya di suatu tempat. Marissa mencoba berpikir kemudian mengingatnya. Dia tahu pernah melihat ini beberapa hari lalu di kamar rumah sakit dimana Raya dirawat.


Gue lagi di rumah sakit? Pikir Marissa.


Seseorang memanggil namanya sambil menggenggam tangan Marissa.


"Kamu udah sadar, Nak? Ya ampun, Nak, kamu ga apa-apa kan?" tanya seseorang yang tak lain adalah Bu Aga, mamanya Marissa. Tangisnya pecah melihat putri satu-satunya itu terbaring lemah dengan selang infus di lengannya.


"Kok Rissa ada disini, Ma?" tanya Marissa lemah.


"Kamu pingsan, sayang," jawab Bu Aga sambil membelai rambut anaknya itu.


"Kok Rissa bisa pingsan?" tanya Marissa masih belum bisa berpikir banyak.


Dia melihat kanan kirinya ternyata hanya ada Mamanya saja disana.


Tak berapa lama muncul Papanya yang baru keluar dari toilet lalu kaget melihat Marissa yang sudah sadar.


"Kamu udah sadar, Nak? Tunggu sebentar. Papa panggilkan dokter dulu." Pak Aga bergegas keluar dari ruangan Marissa untuk memanggil dokter yang merawat putrinya tersebut.


"Arya mana, Ma?" tanya Marissa mencari suaminya.


Bu Aga menatap Marissa nanar lalu membelai rambut Marissa.


"Semalaman Arya disini nungguin kamu. Tapi sekarang dia sedang pulang dulu, Nak. Dia harus menyerahkan tugas kantor pada asistennya agar bisa cuti kerja hari ini," jawab Bu Aga masih membelai Marissa penuh kehangatan.


Marissa tampak pucat, wajahnya layu. Beberapa ingatan terpapar dipikirannya. Dia jadi panik lalu segera memegang perutnya. Ternyata masih bulat.


"Tenang, Nak. Anakmu ga kenapa-napa kok. Hanya saja kamu jangan banyak gerak dulu, kondisimu masih sangat lemah," terang Bu Aga.


Terdengar suara derap langkah kaki dari luar menuju kamar Marissa. Saat pintu terbuka tampak Pak Aga dengan seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksanya.


"Kondisinya sudah mulai membaik, tapi karena Mbak Marissa sedang hamil saya sarankan untuk makan terlebih dulu walau masih terasa lemah. Dan usahakan jangan banyak gerak dulu ya. Jangan sampai stress juga karena ibu yang stress akan mempengaruhi kondisi bayi dalam kandungan. Jadi mohon hati-hati akan kesehatannya dan jaga asupan makan juga pola gizinya. Dan yang terpenting tolong supaya lebih dikontrol lagi emosinya agar bisa menjaga kondisi bayi dan juga diri sendiri Mbaknya. Kasihan kan bayinya kalau sampai ikutan lemah dan stress. Saya wanti-wanti ini karena kandungan Mbaknya sangat rentan untuk keguguran, jadi tolong lebih diperhatikan lagi ya," terang dokter itu lembut juga ramah. Lalu segera berpamitan setelah selesai memeriksa.


"Kamu kenapa toh Nak bisa sampai seperti ini? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kalau ada masalah cepat ceritakan sama Mama!" ujar Bu Aga sambil berlinang air mata menahan kesedihan. Hatinya tertusuk melihat anaknya terbaring lemah seperti ini.


Pak Aga meremas pundak istrinya. "Biarkan Rissa istirahat dulu, Ma. Kalau sudah lebih tenang dan enakan, baru kita tanya-tanya lagi ya. Rissa, sebentar lagi makanan kamu datang, kamu makan dulu ya supaya kamu dan anakmu kuat."


Marissa mengangguk lemah, tubuhnya tak berdaya, hatinya juga tak berdaya.


Marissa merasa bersalah karena telah membuat mamahnya sedih dan khawatir karenanya. Terasa sekali baginya sekarang, setelah dia mengandung dia jadi tau arti penting seorang anak bagi ibunya. Apalagi dia adalah anak satu-satunya di keluarga ini pasti ibunya begitu mencemaskannya. Hal ini membuatnya sadar dan merasa bersalah, sebagai anak satu-satunya Marissa bukannya membuat orang tuanya bangga, dia malah menjadi beban untuk mereka dengan segala persoalan ***** bengek yang tak ada habisnya.


Marissa mencoba tak menangis walau matanya terasa sakit dan panas, dia yakin hidung dan kelopak bawah matanya sudah memerah sekarang.


Saat makanannya datang, Bu Aga langsung menyuapi Marissa dengan penuh kesabaran. Wajah Marissa yang tadi pias kini mulai sedikit merona seolah terisi nyawa.


Tiba-tiba ponsel Marissa berdering. Dia meminta tolong agar ponselnya diambilkan. Mama menuruti dan memberikannya. Saat Marissa cek, sebuah pesan masuk dari Mika.


Batas waktunya cuma sampai besok. Jangan lupa atau lu tau akibatnya.


Saat membaca itu Marissa keselak. Dia batuk-batuk tak tertahan bahkan beberapa butir nasi muncrat dari mulutnya. Wajahnya kembali pias lagi.

__ADS_1


Marissa ingat, Mika hanya meminta dua hari untuk menyerahkan uang sisanya. Sedangkan dia sudah tidak sadarkan diri dari kemarin malam dan sekarang malah terbaring lemah seperti ini. Bagaimana caranya dia supaya bisa membayar? Lagipula dari mana dia bisa dapat sisa uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat?


Bu Aga segera memberinya minum agar Marissa berhenti batuk.


"Pelan-pelan, Rissa!" pinta Bu Aga panik.


Pak Aga mendekati mereka lalu menepuk-nepuk lembut punggung Marissa yang masih saja terbatuk bahkan setelah minum. "Kamu kenapa sih Nak kok bisa sampai batuk gini? Tadi kamu abis liat apa emang di HP-mu?" tanya Pak Aga curiga karena sebelumnya Marissa membaca sesuatu di ponselnya.


"Ga apa-apa kok Pa. Rissa cuma keselek biasa aja," jawab Marissa bohong.


"Makannya pelan-pelan aja Nak biar ga keselek kayak gini lagi," pinta Pak Aga yang kini mengusap lembut punggung anaknya.


Saat mereka sedang sibuk memperhatikan Marissa, pintu kamar terbuka setelah diketuk sebelumnya. Kemudian tiga orang terlihat masuk bersama kedalam kamar, ternyata Arya dan kedua orang tuanya.


"Rissa udah sadar, Nak?" tanya Mama senang lalu menghampiri mereka.


"Iya sudah, Mbak. Tapi dia baru aja keselek ini," jawab Bu Aga pada besannya dengan raut wajah khawatir menceritakan apa yang baru saja terjadi.


"Loh, kok bisa gitu sih? Hati-hati dong, Nak," ujar Mama lagi, mukanya ikut cemas.


"Biasa lah Marissa, tadi dia makannya cepet-cepet, kayak baru keluar dari goa, udah kelaperan banget kayaknya," jawab Pak Aga bergurau.


Mereka tertawa mendengar candaan Pak Aga. Marissa juga ikut tertawa tak keberatan dengan candaan Papanya.


"Nak Arya udah selesai urusan kantornya? Maaf ya bikin Nak Arya jadi ga masuk kerja hari ini," kata Bu Aga merasa tak enak hati.


"Ya ga apa-apa Bu. Kan bos saya juga tau alasannya ga masuk kerja itu karena apa, lagian si bos malah ikutan bolos juga, nih sekarang ada disamping saya," kata Arya menunjuk Papanya yang berdiri di sampingnya.


Mereka tertawa lagi bersama. Walau Arya ahli waris perusahaan namun tetap saja kedudukannya di kantor masih jadi anak buah Papanya. Karena itu dia memanggil Papanya dengan sebutan bos.


"Mama sampai kaget loh waktu liat kamu pingsan kemarin," ingat Mama sedih.


"Mana kamar kamu ancur banget lagi," celetuk Arya sengaja yang langsung disikut Mama.


"Maksudnya kamar ancur apa Arya?" tanya Bu Aga aneh.


"Ga apa-apa kok, Mbak. Maksudnya Arya, pas kita nemuin Marissa pingsan, dia panik nyampe bikin kamar Marissa berantakan buat bawa Marissa ke rumah sakit," ujar Mama mencari alasan.


"Belajar nyindir darimana lu?" bisik Marissa pada Arya yang duduk di kasur sisi satunya bersebrangan dengan Bu Aga dan Mama.


Arya mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik sesuatu disana.


Jawab jujur, kamu ada masalah apa sampai ngamuk kayak gitu semalam?


Arya menyerahkan hasil ketikannya tadi agar dibaca Marissa dengan tanda spasi yang masih berkedip.


Bukan urusan lu!


Balas Marissa mengetik singkat lalu mengembalikan kembali ponselnya pada Arya. Kelakuan mereka cukup terabaikan oleh kedua ibu mereka yang sedang berbincang.


Arya memberikan lagi ponsel tersebut kepada Marissa. Awalnya Marissa marah tapi langsung merebut ponsel itu saat melihat layar tersebut memperlihatkan sebuah tampilan chat dengan penerima bernama Mika dimana isi didalamnya adalah saat Arya memaksa ingin bertemu dengan Mika.


Arya menarik ponselnya tak peduli jika Marissa sudah membaca semua isi chat tersebut atau belum. Kemudian Arya mulai mengetik.

__ADS_1


Dia ngancam kamu buat nyebarin video "pembuatan anak" kan? Setelah aku tau, aku langsung balik ancam dia atas dasar pemerasan dan pencemaran nama baik, juga penyalahgunaan UU ITE. Aku gatau bagaimana awal ceritanya, tapi aku sudah bertemu dengan Mika sebelum datang ke sini dan benar saja dia mengungkapkan semua hal beserta keinginannya. Katanya kamu sudah kirim 500juta dan sekarang dia sedang menunggu sisanya ya? Tapi kamu tenang aja, dia udah ga akan berani memeras kamu lagi. Lagipula dia ga betulan akan berbuat seperti itu kok, dia hanya ingin menakutimu karena alasan uang. Dan untuk masalah uang yang sudah kamu kirim sih terserah kamu maunya gimana, kamu ingin uang itu kembali lagi atau merelakannya, semua keputusan ada padamu. Tapi aku mau kasih tau sesuatu, Mika takut pada ancamanku dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak mau memperpanjang urusan ini lagi. Dia hanya memohon agar uang yang kamu kirim tidak di ambil kembali. Alasannya karena dia butuh uang itu untuk membayar psikolog buat anaknya. Karena anak pertama Mika pernah tidak sengaja melihat video dewasa kalian. Anak itu sekarang jadi tertekan mentalnya, jadi pemurung dan lebih banyak diam. Mika mungkin tampak keras padamu, tapi alasan dia sebenarnya adalah untuk anak-anaknya. Dia memilih cerai dan menjauhkan diri dari Tio agar dapat memulai hidup baru guna memperbaiki kesehatan mental anaknya.


Arya menyerahkan ponselnya. Marissa membaca dengan seksama. Ekspresi wajah Marissa berubah-ubah ketika membaca teks tersebut, dari melotot, menyipit, kesal, mengernyitkan dahi dan sekarang matanya malah berkaca saat membaca bagian tertentu dalam teks yang diberikan oleh Arya.


"Ini bohong kan? Anaknya Mika pernah lihat..." bisik Marissa tak percaya.


"Kalian lagi ngapain sih?" tanya Mama memergoki mereka.


"Kalau mau ngobrol berdua bilang aja deh, kan kita bisa keluar dulu daripada tulis-tulisan kayak gitu," timpal Bu Aga.


"Ohh, ngga kok Bu. Kita cuma lagi iseng doang, bukan hal penting ini kok, lagian Marissa masih makan kan, belum abis itu," tunjuk Arya pada mangkuk makanan yang dipegang oleh Bu Aga.


Bu Aga jadi terkejut. Dia lupa kalau sedang menyuapi anaknya. Rasanya seperti balik lagi ke 20 tahun lalu ketika dia bersama ibu-ibu kompleks sedang bergosip ria sambil menyuapi anaknya tapi saking asiknya bergosip dia jadi lupa kalau sedang menyuapi hingga makanan anaknya menjadi dingin. Ibunya ngobrol, anaknya malah main lari-larian.


"Aduhh Rissa Mama sampai lupa, makan lagi Nak buka mulutnya aaa," Bu Aga mulai menyuapi anaknya kembali. Marissa yang tak berdaya hanya menurut dengan tatapan lurus dan kosong.


Arya berdiri dan pamit agar dapat bergabung dengan bapak-bapak di sofa.


Bagi Mama dan Bu Aga, Marissa terlihat makan dengan penuh khidmat. Tapi bagi Marissa dia makan dengan tanpa menyecap, makanannya terasa hambar, dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dia telan karena pikirannya kini beralih pada rasa berdosa sudah mengotori dan melukai mental seorang gadis kecil di bawah umur yang seharusnya tak boleh melihat adegan seperti itu.


Jika dia menjadi anak kecil tersebut, entah apa yang akan dilakukannya. Memikirkan jika Marissa ada diposisi anak itu saja dia sudah tak sanggup. Dia bahkan merasa mual saat membayangkan jika ayahnya ketahuan berbagi tubuh dengan wanita lain selain ibunya, melihat bagaimana mereka bermesraan mengkhianati keluarganya. Rasanya jijik sekali!


Pikiran seperti itu terus merayapi kepala Marissa selama dirawat di sini. Selama itu pula dia tidak lagi mendengar kabar dari Mika. Semua ancaman yang membuatnya gila itu mendadak sirna.


Tak seperti kemarin, di hari kedua ini Arya datang setelah pulang kerja bersama Papanya. Sedangkan Mama sudah datang dari pagi guna menemani Bu Aga karena Pak Aga juga harus pergi ke kantornya. Walau ada seorang asisten yang ikut menemani Bu Aga disana tapi Mama tidak enak hati kalau tidak sering menemui menantunya tersebut.


Bahkan Marissa sendiri yang menyuruh Papanya pergi kerja karena dia maklum dan tau betul bagaimana pekerjaan Papanya yang super padat.


Malam ini Bu Aga pulang ke rumah. Besok baru datang kembali, sedangkan asisten tadi sedang mencari makan di kantin rumah sakit. Mama juga ikut pulang bersama Papa yang menjenguk sebentar tadi. Sedangkan Pak Aga belum bisa datang ke sini karena urusan kantornya belum selesai. Arya juga mungkin sebentar lagi pulang setelah asistennya kembali dari makan.


Marissa menatap jendela disamping kasurnya, hujan turun sangat deras. Buliran air hujan menempel dikaca yang sedang dipandanginya.


Di saat yang sama, Marissa masih memikirkan semua kesalahannya.


"Ngapain diliatin kayak gitu? Pengen hujan-hujanan?" gurau Arya sambil mengupas kulit pisang tapi bukan untuk Marissa melainkan untuk dimakannya sendiri.


"Apakah dengan hujan-hujanan bisa melunturkan semua dosa-dosa gue?" tanya Marissa sensi.


"Yee di ajak ngomong apa malah jawab kemana," ujar Arya sambil mengunyah pisangnya, dia kesal karena baginya ucapan Marissa tadi tidak nyambung sama sekali.


"Entah mengapa gue jadi merasa bersalah dan kecewa pada diri gue sendiri.." Marissa merenung menatap kosong tanpa mengubah pandangannya dari jendela tadi.


Namun Marissa tiba-tiba bangkit berdiri dari kasur dan mengambil kantung infusnya.


Arya perhatikan Marissa dengan seksama, tapi karena mengingat ucapannya tadi Arya jadi panik.


"Mau kemana kamu? Jangan aneh-aneh deh, kamu mau hujan-hujanan seabad lamanya juga tetap ga akan bisa membersihkan semua dosamu!" Arya menghalangi Marissa dengan membentangkan kedua tangannya.


Marissa membelalakan matanya dengan kening mengernyit. Bibirnya juga ikut mengernyit kesal.


"Awas!" ucap Marissa datar, "jangan halangin jalan gue!"


"Ga bisa! Kamu ga boleh keluar, yang ada kamu malah tambah sakit kalau main hujan diluar!"

__ADS_1


"Minggir ihhh!" Marissa mendorong lengan Arya ke samping membuat laki-laki itu hilang keseimbangan bahkan hampir tersungkur.


***


__ADS_2