Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
CIMOL


__ADS_3

"Mengapa kamu menangis? Apakah ada yang terluka? Mana biar ku lihat," ucap Arya tampak panik sambil memperhatikan tubuh Marissa mencari luka yang sekiranya membuat dia menangis.


Marissa menghempas lengan Arya. "Gak ada!" bentaknya.


"Meong.."


Amarah Marissa jadi surut saat menyadari kehadiran kucing yang dia selamatkan tadi.


"Aduhh gemasnya! Ini kucing siapa? Kok bisa bersama denganmu?" tanya Arya sambil mengelus kepala kucing dengan lembut.


"Gak tau! Tadi dia kecebur di kolam gak bisa renang makanya gue selamatin dia, eh lu malah ikut-ikutan nyemplung. Jadi beban aja lu!"


Arya menggaruk belakang kepalanya, "Ya maaf," ucapnya lagi masih merasa bersalah.


Marissa memperhatikan kucing tersebut ternyata kakinya terluka, ada bekas kulit terkelupas dan masih merah. Ini pasti luka baru makanya dia kecebur dan hampir tenggelam.


"Pasti ini kucing Mang Inos atau tetangga sekitar terus maksa masuk lewat jaringan kawat itu dan terluka," tunjuk Marissa ketika menyadari ada sebuah lubang kecil di bagian bawah tembok kawat yang jebol pinggir kolam. Karena memang sekitar vila ini banyak pemukiman warga jadi tidak heran kalau ada kucing peliharaan yang nyasar ke sini.


"Kamu sih nakal!" ucap Arya pada si kucing yang malah di gaplok tangannya sama kucing tersebut.


"Udah ah gue bawa dulu buat keringin dia! Sekalian ganti baju!"


Marissa pun beranjak masuk ke dalam vila di ikuti oleh Arya di belakang. Keduanya berjalan satu jalur membuat lantai jadi becek karena tetesan air dari baju mereka di tambah suara kucing yang terus mengeong membuat Marissa jadi ingin cepat-cepat sampai kamar takut ada yang memergoki mereka basah kuyub seperti ini.


Arya memperhatikan langkah Marissa dan merasa heran. Loh kok menuju kamarku? Oh, mungkin mau ambil kopernya.


Tapi tidak!


Marissa benar-benar masuk ke kamar Arya, "Bawain koper gue masuk!" perintah Marissa tak segan-segan.


"Loh, kamu gak jadi pindah kamar?" tanya Arya heran yang di artikan sebuah keberatan bagi Marissa padahal maksud Arya hanya bertanya doang.


"Kenapa? Gak suka gue di sini? Seneng banget sih lu kalau kita pisah kamar!"

__ADS_1


"Bu-bukan begitu.."


"Udah diam lu! Terserah gue mau tidur di mana mau pakai kamar mana. Gak ada urusannya sama lu!" ucap Marissa kasar padahal dia malu kalau harus mengakui bahwa dirinya terusir dari sana sini sampai tak punya pilihan selain kembali ke kamar ini. Seenggaknya sampai Mang Inos kembali dan meminjamkan kunci untuk membuka sebuah kamar baru untuknya.


Terdengar suara riang tawa gembira dari arah kamar mandi. Marissa begitu seru bermain dengan kucing yang baru di kenalnya itu.


Keduanya keluar. Marissa menaruh kucing itu di dalam piyama handuk yang sedang di kenakannya. Kepalanya pun masih terlilit handuk.


Marissa melihat Arya duduk meringkuk di sisi kasur. Dia heran karena baju Arya sudah kering ."Sana buruan mandi, ngapain aja sih sampai baju kering di badan gitu?!"


"Loh, kan ada kamu di kamar mandi, aku kan nungguin kamu dari tadi, lama banget sampai kering bajuku." Marissa diam saja tak menjawab malah mencubit-cubit kucing gemas. Arya merasa di cueki langsung berdiri menuju kamar mandi.


Ketika Arya selesai mandi, dia lihat Marissa sudah terlelap di atas kasur sambil memeluk kucing yang tidak tau siapa namanya itu, hanya saja dia memakai sebuah kalung lonceng yang artinya kucing itu pasti punya pemilik. Pasti saat ini pemilik kucing tersebut sedang kebingungan mencari-carinya sedangkan si kucing enak-enakan tidur di kasur yang hangat bersama cewek cantik pula. Tau aja ini kucing mana yang mulus!


Arya mengeringkan rambut dengan handuk yang masih menggantung di lehernya sambil duduk di kasur di sisi sebelah Marissa. Dia buru-buru mengerjap ketika dia sadar sedang senyam senyum sendiri memandangi wajah Marissa yang cantik dan lugu meski kadang mirip harimau ganas.


"Ada apa dengan aku sih?!" bisik Arya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.


Rasanya badan Arya jadi rileks setelah mandi, dia pun merebahkan diri dan tertidur tanpa sadar pagi datang. Rupanya Arya tidur kebablasan.


Srek.. Srek.. Srek..


Arya hampir mengerjap dengan suara asing yang di dengarnya. Paling ini hanya mimpi, dia memohon pada dirinya sendiri supaya 5 menit lagi dia tidur setelah itu pasti akan langsung bangun.


Suara tadi terdengar lagi kini makin intens dan keras di sertai suara mengeong yang memenuhi kamar. Ternyata kucing itu sudah bangun duluan dan sedang menggaruk pintu berharap keluar.


Marissa pun mendengarnya lantas membuka mata. Tiba-tiba saja dia berteriak ketika sadar ada Arya di depannya sedang memeluk tubuhnya. Arya yang kaget pun terbangun dan rupanya Arya pun tak kalah terkejut. Pasalnya dia juga sadar ternyata ada lengan Marissa yang melingkar ke pinggangnya. Mereka sama-sama teriak dan malu. Keduanya bahkan saling menghempas dan sama-sama juga jatuh ke lantai.


"Meongg.." ujar si kucing seolah sedang berkata, 'apa-apaan sih kalian!' -_-


"Dasar cowok mesum!" pekik Marissa bangkit berdiri sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


Arya celingak celinguk sambil menunjuk diri sendiri. "A-aku? Cowok mesum?!"

__ADS_1


"Ya iyalah lu! Siapa lagi yang ada di kamar ini?"


"Sembarangan ya kalau bicara!"


"Kalau bukan, kenapa lu peluk-peluk gue? Benar kan dugaan gue semalam kalau lu emang tukang cari kesempatan dalam kesempitan!"


Arya menaruh lengannya di pinggang sambil geleng kepala tidak terima di katakan seperti itu. "Kalau aku cowok mesum lalu kamu apa? Memangnya kamu tidak mesum? Kamu juga kan peluk-peluk aku barusan? Sama dong kalau kamu juga ambil kesempatan dalam kesempitan?!"


Marissa merasa tertantang. Dia buang selimutnya lalu ikut menaruh lengan di pinggang mencak-mencak. "Apa lu bilang?!"


Marissa menghampiri Arya dan dengan sengaja menyenggol bahunya. Arya hampir kehilangan keseimbangan karena tidak sangka Marissa akan bersikap seperti itu.


"Kamu pikir aku tidak akan tega karena kamu wanita?" Arya maju pasang badan balas menyikut Marissa.


Marissa jatuh ke kasur namun ketangguhannya membawa dirinya bangkit kembali lalu balas lagi menyikut Arya tak mau kalah.


Arya terkesima dengan kekuatan Marissa. Mentang-mentang baru bangun tidur jadi full energy? Oke, siapa takut?!


Saat akan maju membalas Marissa tiba-tiba Arya mengerem dirinya sendiri karena mendadak kucing tadi sudah berdiri di antara mereka seolah jadi penengah dan terus mengeong-ngeong dengan berisik.


"Ya ampuunn Cimol sayaangg ternyata dirimu ada di situu.." Marissa mengais kucing yang dia beri nama Cimol itu.


"Sejak kapan kamu menamai dia Cimol? Itu kan nama makanan?"


"Ya gak apa-apa deh! Dia kan putih lucu kaya cimol," jawab Marissa. Obrolan mereka jadi teralihkan saat sikap Marissa melunak gara-gara seekor kucing.


Sekilas senyum muncul di bibir Arya karena dia merasa Marissa sangat lucu saat itu, namun senyuman itu hilang begitu saja ketika Arya kepergok menatap Marissa yang langsung di pelototi oleh istrinya itu.


Marissa menatap Arya dengan jutek lalu pergi membawa Cimol ke bawah untuk memberinya makan.


Arya terkesima dengan pemandangan itu, kok bisa singa kasih makan kucing ya? Arya tau sekasarnya diri Marissa rupanya punya sisi baik yang jarang dia perlihatkan.


***

__ADS_1


__ADS_2