Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Mengkhayal Cucu Sultan


__ADS_3

Mbak Ani yang percaya mistis, takhayul dan ghaib merasa merinding dengan kehadirannya di tempat ini.


Mana dia ini adalah seorang penakut yang punya kebiasaan aneh yaitu gemar mencari info tentang alien, ufo, hantu, misteri dan luar angkasa.


Bu Aga yang sudah paham kesukaan dan melihat gelagat Mbak Ani langsung menyadarkannya.


"Kamu masuk kamar yang benar kok Mbak. Dan sedang tidak pindah ke dimensi lain," jawab Bu Aga yang ternyata tadi mendengar ocehan Mbak Ani.


Mbak Ani terkekeh salah tingkah, dia menggaruk belakang kepalanya malu. "Maaf Bu saya pikir saya ada di dunia asing. Habis saya sapa Ibu dan Kakak tapi ga ada yang jawab."


"Iya, lagi pada kesel soalnya!"


Mbak Ani menaikkan kedua alisnya. "Kesel? Memang kesel kenapa, Bu?" tanya dia penasaran.


"Udah ah kamu gak perlu tahu, gak usah kepo! Cepet sini tolong bantu saya mau mandi."


Bu Aga yang keadaannya sudah membaik memutuskan untuk mandi untuk pertama kalinya semenjak dirawat di sini. Dia sudah tidak betah dengan badannya yang terasa lengket. Dia juga ingin melepas penatnya dari mood yang sudah berantakan pagi-pagi begini.


"E-ee iya Bu. Saya bantuin," jawab Mbak Ani menghampiri Bu Aga yang sudah bersiap turun dari ranjangnya.


Sepanjang hari mereka lewati dengan aktifitas berbaring saja. Nonton TV, main handphone, makan, main sosmed gitu aja terus. Tiap kali Bu Aga bicara, Marissa hanya menjawab seadanya. Mbak Ani juga sudah tak ambil pusing, dia senang sih dengan keadaan begini. Artinya kerjaannya tak terlalu banyak, karena kalau keduanya lagi bad mood emang jarang suruh-suruh. Seharian ini Mbak Ani juga hanya diam nonton sitkom kesukaannya dan bergerak sesekali sesuai permintaan Bu Aga maupun Marissa.


Sore sepulang kerja Pak Aga beserta Mama Papa Arya datang menjenguk mereka.


Mereka yang datang terlihat semangat berbeda dengan kedua orang yang masih bad mood berkelanjutan sampai sekarang.


"Papa bawain buah pir kesukaanmu," kata Papa Arya membuat senyum merekah diwajah Marissa tanpa dia sadari.


Segera Marissa meminta Mbak Ani membantunya untuk memotong buah itu, dia tak sabar memakannya.


"Loh Ma, kamu sudah lepas infusan? Emang sudah sehat?" tanya Pak Aga pada istrinya melihat selang infusan tak menjalar lagi di tangannya.


"Tadi Mama sudah diperiksa Pa sama dokter. Dan dokternya menyatakan Mama ini sudah sehat jadi boleh lepas infusan. Dan beliau juga bilang Mama boleh pulang kapan saja mama mau," jawab Bu Aga sambil mengelus lengan di bekas infusannya itu.


"Wahh syukurlah kalau Mbak sudah sehat, saya ikut senang dengarnya!" seru Mama Arya riang.


"Hehe iya nih Mbak, makasih ya. Saya juga sudah tidak betah berbaring terus seharian,"


"Iya, Mama bisa pulang malam ini, Ma. Kasihan kalau terus-terusan disini. Rissa ga apa-apa nanti sama Bibi. Mama istirahat aja di rumah," timpal Marissa sambil menguyah buah pir yang baru dipotong.


"Ah, tidak bisa begitu masa kalian hanya berdua disini. Nanti Papa ikut jaga juga ya," Pak Aga menawarkan diri karena tak tega melihat mereka hanya berdua di sini.


"Loh, jangan Pak. Nanti saya suruh Arya saja yang menjaga lagi disini, masa dia biarkan istrinya kesepian sih, hehehe." Tawa Papa disambut dengan tawa Pak Aga.


"Iya, iya benar juga ya. Kita aja tidak bisa membiarkan istri kita kesepian. Masa Arya tega sih, hahhaha."


"Ga usah!" Marissa menolak tiba-tiba, memutuskan obrolan mereka, "Rissa ga mau ada Arya disini lagi!" sambungnya dengan tampang geram.

__ADS_1


"Loh kenapa? Bukannya kamu senang Arya disini? Kamu kan lagi bucinan sama Arya," tanya Papa Arya merasa aneh.


Pak Aga melirik Bu Aga, setengah berbisik dan meminta kode bertanya ada apa dengan sikap Marissa itu? Apa mereka sedang bertengkar? Dan diangguk, diiyakan oleh Bu Aga.


Pak Aga geleng-geleng kepala. Nih dua orang lagi jalanin pernikahan apa cinta monyet sih, gampang banget berantemnya. Gampang banget musuhannya.


"Kamu bertengkar apa lagi sama Arya?" tanya Pak Aga tanpa basi-basi.


Marissa menyilang kedua tangannya di depan dada meski mulutnya masih bergerak-gerak menikmati buah yang dimakannya.


"Gimana nggak bertengkar, Pa! Rissa tuh kesel Arya selingkuh sama mantannya!"


Bak jeleder petir Pak Aga mendengarnya. Kata selingkuh berselingkuh terasa sangat sensitif baginya, apalagi Marissa dulunya adalah pelaku selingkuh, meskipun dia tidak tahu dan posisinya juga sekaligus korban. Tapi tetap saja dia salah karena mengandung anak di luar nikah apalagi yang membuahi adalah suami orang!


"Se-selingkuh? Selingkuh gimana maksudnya Nak?" tanya Mama Arya jadi panik. Dia tak percaya kalau anaknya akan berbuat hal seperti itu.


"Kamu pasti salah paham, Nak. Arya tidak mungkin selingkuh, dan mantannya siapa maksudmu? Raya? Itu tidak mungkin Nak! Setau Papa dia sedang di Aussie untuk rehat dirumah tantenya, jadi mana mungkin ada waktu untuk selingkuh dengan Arya," timpal Papa mencoba meyakinkan Marissa kalau omongan dia itu salah. Tapi Papa tidak tahu kalau ucapannya ini telah keluar dari zona obrolan karena yang dimaksud bukanlah Raya.


"Bukan dengan Raya Pa! Tapi Arista!"


"Hah? Arista? Kok bisa? Mana mungkin Arya selingkuh dengan Arista, Nak. Setau kami mereka berdua hanya sahabatan! Arista itu tidak pernah ada hubungan apapun dengan Arya selain teman, jadi dia bukanlah mantannya Arya," Papa sungguh tak percaya bahkan tak ada pikiran kalau yang dimaksud selingkuhannya itu adalah Arista.


"Sahabatan kan bisa aja jadi cinta," sindir Bu Aga.


"Hush kamu ini malah ikut-ikutan!" tegur Pak Aga pada istrinya.


Mbak Ani yang sudah mulai mengerti situasi akan kegelapan dalam ruangan ini makin memasang kuping lebar-lebar takut ada hal atau pembicaraan yang ketinggalan untuk dia dengar.


"Memangnya Mbak lihat Arya selingkuh dimana? Masa Arya tega begitu sih?!" Mama Arya jadi frustasi mengetahui sifat anaknya yang diluar batas. Seolah bukan Arya yang dikenalnya.


Bu Aga pun menceritakan bagaimana asal muasal Arista ada di rumah sakit ini, dan juga bagaimana penyesalannya yang telah memberikan ijin pada Arya. Penyesalannya ini seolah dia telah membuka pintu pada Arya untuk bermesraan dengan Arista dibelakang anaknya. Dia juga melanjutkan ceritanya soal tadi pagi perihal handphone yang dikembalikan oleh Arista. Dan bagaimana Arya menjelaskan dari sudut pandangnya.


"Haduhh Mama.. Mama.. Kok bisa-bisanya sih nuduh orang tanpa bukti? Itu Arya sudah menjelaskan semua kronologinya kan? Kok kalian malah menyimpulkan kebaikan Arya itu jadi perselingkuhan? Papa ga habis pikir ya sama pola pikir kalian berdua! Bantuin orang kesusahan kok dianggap selingkuh!" ujar Pak Aga geram karena kepanikannya seolah baru saja dipermainkan.


"Iya, Mbak. Rissa. Saya juga tidak percaya kalau Arya itu selingkuh. Bukan karena dia anak saya terus saya bela. Tapi karena saya tahu sendiri sifat Arya itu seperti apa. Jangankan selingkuh, untuk deketin cewek aja dia malu-malu," Mama ikut menjelaskan. Baginya semua ini hanyalah kesalah pahaman saja.


"Papa juga setuju Rissa, Arya tidak mungkin seperti itu. Dia anak baik-baik kok. Tidak mungkinlah selingkuh selingkuh gitu! Dulu memang dia ada rasa pada Arista tapi tidak mungkin kalau sampe selingkuh, itu sih seperti dia sedang melakukan hal yang bukan prinsipnya. Karena Arya hanya akan mencintai wanita yang memiliki perasaan sama dan status pengikat dengannya, ya seperti dengan Raya dulu. Itu juga Arya gak pernah macem-macem kan sama Raya," tambah Papa Arya.


Marissa cemberut, sedikit penyesalan menguar di hatinya. Iya sih, cowok kaku gitu gimana mau main cinta-cintaan sama wanita?


"Terus tadi kamu marah-marah sama Arya?" tanya Pak Aga lagi.


"Yaaa gituu.. dikit.." jawab Marissa pelan.


Pak Aga geleng-geleng kepala. "Ckck.. Ya ampun Naaak! Kurang-kurangin kebiasaan marah-marah kamu itu. Gimana Arya mau suka sama kamu kalau terus galak seperti itu!"


"Yaaa maaf, namanya juga terbawa emosi," jawab Marissa pelan.

__ADS_1


"Minta maafnya jangan sama Papa, bilang langsung sama Arya. Lain kali dengerin apa kata suamimu itu apalagi ketika dia sudah menjelaskan. Masa kamu ga bisa kasih kepercayaan pada Arya, suamimu sendiri?!"


Marissa hanya menunduk lesu. Mau tak mau dia terima ucapan Papa. Meskipun begitu Marissa sebenarnya cemas kalau Arya memang ada hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan Arista.


"Pokoknya nanti malam biar Arya yang menjaga kamu di sini. Papa ingin kamu minta maaf padanya jangan sampai kalian bertengkar lagi untuk kesalahpahaman seperti ini lagi!"


"Iya Pak, saya juga setuju. Biarkan Arya yang menjaga malam ini supaya mereka berbaikan. Masa kita biarkan anak-anak kita tidak harmonis hanya gara-gara salah paham ya. Lagipula Arya besok bebas tugas kok karena meeting klien penting sudah dilakukan tadi," support Papa Arya.


"Emangnya ada keharusan nikah kontrak mesti harmonis?" tanya Marissa bete.


"Ya harus dongggg..." Jawab Pak Aga dan Papa Arya serempak. Mereka saling pandang lalu tertawa. Terlihat sekali keduanya sebenarnya menginginkan pernikahan kedua anaknya ini lebih dari sekedar nikah kontrak. Bahkan diam-diam terkadang ketika mereka saling bercerita selalu membayangkan seorang cucu dari pasangan ini lalu bilamana dewasa nanti dua kakek ini jadi sedih karena memikirkan betapa berat beban cucunya ini harus jadi anak sultan tapi juga harus siap memimpin dua perusahaan sekaligus. Lalu ketika memikirkan beban dua perusahaan di pundak cucunya ini kemudian mereka membayangkan seorang cucu lagi untuk meringankan beban cucu pertama supaya warisan perusahaan kakek-kakek itu bisa di bagi dua nantinya. Namun rupanya dirasa belum puas Pak Aga masih saja protes ingin tambah satu cucu lagi karena perusahaan dia bergerak diberbagai sektor. Rupanya dia sendiri pun sebenarnya merasa kewalahan harus mengurus semua usahanya seorang diri. Alangkah baiknya untuk memiliki satu cucu lagi kan? Untuk mengimbangi semuanya jadi total semua ada tiga cucu yang mereka harapkan lahir dari pernikahan Arya dan Marissa. Kalau mengingat itu keduanya kadang senyum-senyum sendiri. Karena bagaimana pun khayalan mereka bisa saja terwujud dan bisa saja tidak tergantung hubungan kedua anak mereka itu yang bak kucing dan tikus, tak bisa akur.


Marissa yang terlalu galak, dan Arya yang cuek dan kaku selalu tak ambil pusing membuat mereka jadi terlihat seperti dua kutub magnet yang sama tapi saling tolak menolak.


Marissa gelisah melihat jam dinding berkali-kali. Bu Aga akhirnya benar-benar telah pulih dan memutuskan untuk pulang ke rumah malam ini bersama Pak Aga. Begitu juga dengan mertuanya yang juga pulang. Kini, dikamar seluas ini hanya dihuni oleh dia sendiri bersama Bibi.


Hatinya resah menunggu Arya yang katanya akan menjaganya lagi malam ini.


Ternyata bukan hanya Marissa seorang saja yang menunggu Arya tetapi Bibi juga.


"Bibi sudah bawa makan malam banyak, tapi Nak Arya kok belum datang juga ya? Keburu laper nih nungguin Nak Arya kelamaan," celoteh Bibi, perutnya sudah berdisco ria.


Detik demi detik bahkan Marissa hitung demi menjaga harapannya supaya tak terlalu menggebu-gebu.


Meski terlihat lebay, tapi nyatanya hati Marissa tak tenang. Dia senang Arya akan menjaganya lagi malam ini, tapi dia juga malu kalau ada Arya di sini. Marissa yang sudah marah pada Arya bingung harus bersikap apa nantinya. Dia benci suasana canggung tak karuan yang ujungnya akan membangkitkan emosi diri. Sesungguhnya Marissa tidak mau berantem lagi dengan Arya. Dia hanya ingin dimanja-manja, dia mau Arya duluan yang mendekatinya dan memberi perhatian. Dengan begitu Marissa bisa langsung melupakan kejadian tadi pagi tentang Arista atau apapun itu masalahnya.


Arya yang sudah ditunggu kedatangannya akhirnya datang. Dia masuk dengan membawa sebuah ransel di punggungnya. Penampilannya itu sudah seperti anak bujang baru pulang kuliah. Marissa yakin sekali sepanjang perjalanan pasti dia mendapati mata jelalatan dari cewek-cewek yang terpesona oleh penampilannya.


"Kuliah dimana Kak? Hhehe," canda Marissa ketika Arya masuk ke dalam kamarnya.


"Uhm? Aku keliatan seperti anak kuliah ya? Mm pantesan ya!" Arya berpikir lalu merasa apa yang dipikirkannya memang benar.


"Pantesan kenapa? Lu digenitin perempuan?"


"Mmhh.. Bukan digenitin sih, tapi diliatin mulu sama orang terutama cewek-cewek, hehehe.." jawabnya, sok kecakepan.


Entah bagaimana mereka berbicara seperti biasanya seolah masalah tadi pagi dan semalam telah terlupakan begitu saja, seolah tak terjadi apa-apa. Baguslah kalau begitu yaa.


Arya juga menyapa Bibi dan langsung menanyakan menu makan malamnya. Arya memang sengaja tidak makan dulu dari rumah karena dia tau Bibi akan membawa makanan, apalagi makanan Bibi menurutnya sangatlah enak.


Bibi juga tampak senang Arya langsung menanyakan makanannya, orang dari tadi dia sudah kelaparan nungguin Arya yang tak kunjung datang.


Bibi membuka satu persatu wadah makanannya. Arya melihat perkedel salah satu makanan kesukaannya tanpa permisi langsung dia comot untuk mencicipinya.


"Enak Bi!" serunya senang.


Marissa ragu-ragu tapi dia butuh kepastian, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya ini. "Lu tadi gak ke tempat cewek itu lagi kan?" tanya Marissa penasaran. Marissa berharap semoga saja Arya tidak tersinggung oleh pertanyaannya ini.

__ADS_1


***


__ADS_2