Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Ditolongin Jomblo


__ADS_3

Saat Arista sampai, pemandangan mengerikan terpampang nyata di depan matanya. Bagian kiri mobil Indra sudah penyok dan serpihan kaca bertebaran dijalanan. Arista menjerit histeris sambil memanggil nama Indra. Saat dia ingin mendekat untuk membuka mobilnya Indra tanpa diduga seorang pria yang entah siapa dan datang dari mana menahan tubuh Arista supaya perempuan itu tidak bertindak gegabah di lokasi kecelakaan.


Arista yang sudah kalang kabut seperti kesetanan meraih-raih udara. Saat seluruh tubuhnya terasa begitu lemas tiba-tiba pintu mobil Indra terbuka dan menampilkan sosok Indra yang berantakan. Kemeja kirinya robek dan menyisakan darah di lengan. Tampak juga darah segar mengalir di kening sebelah kiri kepala Indra. Rupanya saat kecelakaan itu terjadi, meskipun airbag mobil itu berfungsi sempurna tapi tetap saja Indra tidak bisa menghindari serpihan kaca yang terpental dari sebalah kiri bagian mobil yang terkena benturan.


"Mas gak apa-apa, Mas?" tanya orang-orang yang mengeremuni Indra bergantian.


"Mas, di dalam cuma Mas seorang?"


"Mas, ada yang terluka lagi selain Mas?"


"Bang, menepi dulu, Bang! Sini saya bantu jalan!"


"Iya Bang, menepi dulu. Ya ampun untung gak terluka parah," ujar seorang lainnya.


"Mas tadi kenapa serobot lampu merah? Lain kali hati-hati, Mas!"


"Mas tunggu sebentar ya, saya sudah panggilkan ambulance sedang di jalan menuju ke sini!"


"Mas benar gak apa-apa kan?"

__ADS_1


Dan segala pertanyaan lainnya menyerbu telinga Indra.


Melihat sosok Indra yang terpampang nyata di depan mata Arista membuat Arista langsung meloncat. Entah kekuatan dari mana Arista langsung berdiri tegap lepas dari tahanan orang tersebut dan berlari menghampiri Indra kemudian langsung memeluknya tanpa ampun. Hal itu membuat Indra terkejut karena sebelumnya dia tidak sadar dengan keberadaan Arista yang juga ada di tengah orang-orang yang sedang mengerumuninya.


"Mbak kenal Masnya? Udah, Mbak jangan nangis lagi. Bawa Mas-nya menepi dulu!" saran seseorang ditengah haru biru Arista.


Atas saran orang-orang tersebut, mereka pun akhirnya menepi ke samping pembatas jalan. Beberapa orang saling bantu untuk menertibkan jalanan yang sempat macet. Tidak berselang lama mobil polisi dan mobil ambulance datang bergantian. Indra ditanya beberapa pertanyaan oleh polisi dan kemudian naik ke ambulance untuk melakukan pemeriksaan fisik, entah bagaimana urusannya dengan polisi atau mobilnya yang rusak atau urusan dengan supir truk yang menabrak. Indra tidak sanggup mengurus semua itu dengan kondisinya yang seperti ini. Maka dari itu dia sudah menghubungi keluarganya sebelum naik ke dalam mobil ambulance dan meminta sekretaris pribadi keluarga mereka untuk mengurus semua permasalahan ini mewakili Indra dan juga meminta supaya supir truk itu untuk tidak dipersulit dengan menjadikannya sebagai tersangka karena bagaimanapun di sini sudah jelas Indra lah yang salah karena menerobos lampu merah meski dia tidak sadar sekalipun.


Indra tidak mau menyusahkan si supir truk. Dia bahkan meminta sekretaris keluarganya itu membereskan segala urusan secara kekeluargaan bahkan meminta supaya supir truk dapat kompensasi yang layak atas kejadian ini. Indra juga bersedia jika harus mengganti truk yang rusak tersebut. Dia juga sudah siap jika harus di tuntut si supir tersebut.


Meski kejadian ini mengilukan tapi ada satu hal yang patut Indra syukuri karena tidak ada satu korban pun dari semua peristiwa ini. Itu sangat membuatnya lega. Dan juga meski terluka tapi Indra tidak menganggap dirinya sebagai korban, Indra malah merasa bersalah dan menyayangkan insiden yang mengikutsertakan beberapa orang itu. Hanya luka begini sih tidak ada apa-apa nya bagi Indra.


Melihat Arista menangis begitu membuat Indra jadi sedih hingga dia juga ikut mengeluarkan air mata tepat ketika seorang petugas kesehatan memberikan pertolongan pertama kepada luka-lukanya.


"Kenapa? Kenapa? Apa ada yang sakit? Di mana yang sakitnya?" tanya Arista cemas melihat Indra menangis. Dia pikir Indra menangis karena kesakitan.


Indra hanya menggeleng lalu tersenyum. Indra merasa miris. Masa harus kejadian begini dulu baru dia bisa melihat sosok dan perasaan Arista yang sebenarnya?


Indra merasa bersalah sekaligus malu karena telah menjadi penyebab sebuah kecelakaan dan merugikan banyak orang. Tapi mau gimanapun Indra sedikit senang sih karena hal ini juga dia jadi bisa memegang lagi tangan Arista yang hampir pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Ma-maafin aku.. Hiks.. Aku bikin kamu jadi gini," ucap Arista penuh sesal.


Indra menghapus air mata di pipi Arista dengan tangan kanannya yang tidak terluka.


"Kenapa kamu minta maaf? Ini bukan salah kamu. Ini kecerobohanku sendiri, jadi jangan menyalahkan dirimu begitu.." ucap Indra lembut.


"Enggak! Ini salahku! A-andai aku tidak mengatakan hal-hal buruk dan pergi be-begitu saja mungkin semua ini tidak akan terjadi! Karena keegoisanku, kamu jadi menderita seperti ini. Maafkan aku.. hiks.. hiks.." ucap Arista lagi sampai terbata karena perasaannya terhadap Indra yang campur aduk. Ada sedih, marah dan kecewa serta rasa bersalah. Ada juga senang, haru, juga perasaan penuh syukur. Semua jadi satu. Arista tidak bisa ungkapkan semua itu dengan kata-kata. Hanya emosi yang dia berikan saat ini yang bisa mengungkapkan semua perasaan dalam hati dan pikirannya.


"Jangan begini, Arista. Kenapa kamu berpikir seperti itu? Itu hanya akan membuatku sedih! Semua kejadian ini terjadi atas kecerobohanku sendiri. Aku yang harusnya minta maaf karena telah membuatmu menangis seperti ini. Jadi sudah cukup, jangan salahkan dirimu lagi," ujar Indra masih lembut namun suaranya terdengar melemah.


Arista yang diperlakukan begitu makin sedih dan masuk ke dalam perasaannya sendiri.


Petugas yang duduk di antara mereka hanya diam membisu menyaksikan kisah asmara sepasang pria dan wanita seperti dalam drama pertelevisian. Statusnya yang jomblo bertahun-tahun membuat hatinya meronta-ronta untuk keluar dari mobil ini. Sudah kesekian kali dia merasakan diri seperti transparan dan seolah tidak ada. Sudah kenyang pula dia diperlakukan tidak terlihat oleh orang-orang dalam kehidupan sehari-harinya dan kini harus menerima nasib yang sama dari pasien yang sedang ditolong olehnya. Sungguh terlalu! Benar-benar ya, nasib.. Nasib..


Indra tersenyum mendengar kalimat demi kalimat yang Arista lontarkan. Dia bahkan berpikir apakah ini halusinasi dari efek benturan semata?


Tiba-tiba kepala Indra jadi pusing dan mendadak penglihatannya jadi gelap hingga akhirnya sosok Arista yang ada di depan mata menghilang dari pandangannya.


Melihat Indra tak sadarkan diri membuat Arista panik dan ketakutan setengah mati. "Indra! Indra kamu kenapa?! Bangun Indra! Jangan begini! Jangan tinggalkan aku! Ku mohon! Ku mohon! Bangun! Huhuhu..."

__ADS_1


***


__ADS_2