
2 jam rasanya seperti 2 tahun! Waktu yang dilalui oleh Arya dan keluarganya seolah tidak memiliki oksigen. Mereka sangat kesulitan bernafas karena gugup dengan nasib Marissa. Apakah Mika akan menepati janjinya? Lalu jika Mika memberi tahu keberadaan Marissa apakah nantinya dia akan diketemukan dengan keadaan selamat?
Bermacam-macam pikiran seperti memiliki kabel antar satu orang dengan orang lainnya. Sama-sama terhubung dengan hal dan pemikiran yang sama. Begitu pun dengan rasa cemas mereka seperti memiliki koneksi bluetooth yang bisa berbagi. Sangat terasa sekali.
"Arya, orang gila itu masih belum menghubungi?" tanya Papa panik dan kesal.
"Belum, Pa. Ini baru saja satu jam dari saat kami bertemu."
Mendengar itu kecemasan Papa naik satu tingkat. Papa bahkan sampai mondar-mandir tak karuan. Mama juga hanya duduk terdiam, sesekali menyeka air matanya. Entah Mama menangisi apa. Mungkin karena pikiran-pikiran buruk tentang Marissa yang menggelayuti kepalanya.
Tampak juga raut cemas pada wajah para asisten rumah tangga mereka. Bapak satpam juga sedang siaga patroli di depan rumah, takutnya ada serangan lain dari Mika jika dia tidak menepati janji.
Sedangkan di tempat lain Marissa hanya berdiam diri terduduk di sebuah kursi. Badannya sangat lelah dan pegal. Sesekali dia mengumpat pada Mika yang memperlakukannya seperti ini.
"Bukannya Mika dapat duit 3M? Setidaknya taro sanderanya di kamar hotel kek! Kan banyak hotel bintang 3 harga 200 ribuan. Modal dikit kek! Bisa-bisanya gue terikat ditempat gelap, pengap dan banyak serangga seperti ini!" keluh Marissa.
Teriak-teriak juga percuma! Dari tadi Marissa teriak kencang pun tidak ada yang dapat mendengar karena jarak bangunan ini dengan jalan besar sangatlah jauh. Ditambah lagi ini adalah bangunan terbengkalai. Manusia mana yang akan mendatangi tempat menyeramkan seperti ini? Marissa bahkan baru sadar jikapun ada yang mendengar teriakannya yang ada orang-orang pada ngacir ketakutan karena pasti dia bakalan di anggap sebagai hantu. -_-
Memikirkan itu membuat Marissa jadi takut sendiri. Gimana kalau dia teriak-teriak lalu ada yang menyautinya? Bisa mati duduk, ya, kan?! Dengan pertimbangan seperti itu membuat Marissa akhirnya pasrah saja dan menunggu hingga bantuan tiba.
Tapi...
Tapi sampai kapaaannnnn??!
Marissa sungguh sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini. Kakinya berkali-kali kesemutan dan kadang rasa itu hilang lalu kesemutan lagi. Ototnya terasa kebas. Meski begitu dia masih bisa merasakan sakit pada pergelangan tangan yang terikat ke belakang. Belum lagi dengan gigitan nyamuk-nyamuk bandal di area tubuhnya yang terbuka. Marissa berteriak ketika kulitnya terasa gatal tapi tak dapat dia garuk.
"Dasar siluman mata duitan!" jerit Marissa menyumpahi Mika.
"Udah dapat duit masih aja nyiksa gue kayak gini!"
Saat sedang asyik menggerutu seperti itu tiba-tiba ada yang merayap pada wajahnya, Marissa menelan ludah. Dengan keadaan gelap dia tidak bisa melihat apa-apa!
Tunggu.. Apa ini? Apakah ini tangan setan? Tanyanya dalam hati. Perasaan merinding mengalir begitu saja dan tak berapa lama sesuatu yang merayap itu terbang lalu nemplok lagi di mulutnya membuat Marissa kaget dan jatuh terjengkang.
Darah segar mengalir membasahi lantai tempat Marissa terjatuh, lantai itu dingin, seluruh tubuhnya ikut basah oleh cairan yang kental. Marissa merasa dirinya sudah tidak kuat, entah bagaimana sepersekian detik kemudian dia melihat cahaya yang menyilaukan. Ah, inikah jalan menuju surga? Tanyanya dalam hati. Lalu pelan-pelan matanya menutup rapat. Samar-samar dia mendengar namanya di sebut.
__ADS_1
Benar, sudah waktunya. Batin Marissa.
"Ah, sial. Gini banget akhir hidup gue," ucap Marissa lemah.
*
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Arya. Dari nomor yang diberikan Mika!
Gedung Cira lantai 4 menghadap jalan.
Heboh keluarga itu saat mendengar lokasi tersebut. Hampir semua orang mencari keberadaan gedung yang dimaksud. Salah satu asisten rumah tangga bernama Sita berseru tahu nama gedung itu lalu memberi tahu Arya tentang detailnya. Tanpa menunggu lama berbondong mereka menuju gedung tersebut. Dalam keadaan yang kalap Papa tak lupa menelepon seseorang untuk mengirim ambulans, mungkin saja nanti diperlukan.
Sesampainya di tempat tujuan, tanpa menunggu lama mereka langsung masuk dalam gedung. Suara derap langkah kaki Arya dan Papa serta seorang kenalan Papa menggema. Sorotan senter bertautan mencari-cari dalam wilayah itu. Satu persatu mereka menaiki tangga yang licin berlumut.
Sampailah mereka di lantai 4. Saat sibuk menyoroti cahaya pada setiap sudut, senter Arya tak sengaja mengenai sesuatu di ujung seperti sesuatu yang meringkuk dan benar posisi itu memang menghadap ke jalan.
"Marissa?!" pekik Arya tertahan lalu berlari ke arah tempat Marissa berada di ikuti oleh Papa dan temannya.
Arya sudah berdiri di depan Marissa yang meringkuk masih terikat dengan kursi. Dibangunkannya Marissa dengan menepuk wajahnya berkali-kali. Sedang Papa dan temannya sibuk membuka tali temali yang melilit tubuh Marissa.
"Marissa!" teriak Arya.
Lalu Marissa tersadar. Ini suara Arya, bukan?
"Apakah sebenarnya gue belum mati?" tanya Marissa lemah.
"Mati apa sih, Marissa! Sadar kamu! Buka mata mu!" jerit Arya.
"Rissa, ini Papa Nak! Kamu gak apa-apa kan? Buka matamu Nak!" pinta Papa yang sudah menangis tersedu.
Saat teman Papa menyarankan untuk membawa Marissa terlebih dahulu keluar dari gedung ini, tiba-tiba Marissa membuka matanya dan terkejut karena saat ini dia sudah ada di pelukan Arya.
"Gila, di surga ada sosok yang menyerupai Arya ya? Hebat!" puji Marissa setengah sadar masih dengan suara lemah.
"Kamu ngomong apa sih! Mana ada ini surga! Sadar Marissa kamu masih di bumi, masih hidup!" ucap Arya.
__ADS_1
Terkesiap Marissa mendengar itu, dia terduduk dengan seksama. Menepuk pipinya sendiri dan rasanya sakit! Di lihatnya ada tiga orang pria di hadapannya membuat Marissa waspada. Jangan-jangan itu manipulasi setan, jangan-jangan gue malah jadi hantu penasaran penghuni gedung ini?
"Huwaaaaa..." Marissa menangis tiba-tiba membuat kaget mereka.
"Kamu kenapa Marissa?! Sadar Marissa, sadar!"
"Gue gak mau jadi hantu penunggu gedung busuk ini! Dosa gue berat banget ya sampai gak bisa nyentuh surgaaa? Huwaaaaa!"
"Ppffttt.." teman Papa menahan tawa membuat Papa dan Arya yang kebingungan jadi mengerti.
Rupanya Marissa sedang berhalusinasi sudah mati karena terlalu lama terperangkap di gedung ini.
"Marissa, kamu tidak mati! Kamu masih hidup! Ini! Lihat ini aku!" kata Arya sambil memegang kedua pipi Marissa.
Marissa yang di tatap seperti itu jadi salting dan perlahan langsung tersadar. Saat sudah ada dengan keyakinannya masih di bumi, refleks dia menjauhkan tangan Arya dan segera menyentuh kepalanya.
"Loh, bersih, tidak ada darah!" Lalu Marissa merebut senter di tangan Arya untuk menyinari lantai tempat jatuhnya tadi. Lantai itu juga bersih tidak ada darah atau cairan apapun.
Oh Tuhan, apa yang ku pikirkan? Jerit Marissa dalam hati karena telah berhasil mempermalukan dirinya sendiri karena ternyata dari tadi dirinya memang berhalusinasi!
"Yaiya! Ku bilang juga kan kamu masih hidup! Sudah jangan terlalu banyak berpikir, lebih baik kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa tubuhmu, di bawah sudah ada ambulans menunggu." Tanpa permisi Arya langsung menggendong Marissa dan menyerahkan senternya pada Papa biar Papa menyinari jalan di depan, sedangkan teman Papa berjaga di belakang.
Dengan langkah yang gagah Marissa merasakan tubuhnya berguncang di kedua lengan Arya. Karena takut tidak seimbang dia bahkan melingkarkan lengannya di leher Arya dengan erat.
Bau ini, bau tubuh Arya yang pernah dia cium saat mengambil foto untuk klarifikasi gosip waktu itu. bau yang enak dan menyenangkan. Rasanya dia ingin berlama-lama di pelukan Arya tak ingin turun dari gendongannya.
Bahkan Arya yang sibuk mengomel tentang kenapa sih Marissa bisa sampai di tempat ini dan omelan lainnya tak begitu di dengar oleh Marissa. Suara Papa yang selalu bilang hati-hati tentang jalan yang licin pun tak di perhatikan oleh Marissa. Dia hanya menikmati tubuh Arya tak peduli apapun disekitarnya.
"Marissa! Marissa! Lepas!" pinta Arya saat mereka sudah sampai dan Arya menurunkan Marissa untuk berbaring di kasur pasien (Emergency Bed).
Suara Arya menjadi pengganggu kenikmatan hakiki itu. Dengan kesal Marissa menghardik Arya, "Gak bisa apa gendong bentar lagi!"
Mendengar ucapan Marissa membuat semua orang disana terbengong sebentar lalu tertawa setelah tahu maksud Marissa kecuali Arya yang cuma bisa geleng-geleng kepala.
***
__ADS_1