
"A-Arya? Kamu kenapa disini?" tanya Arista wajahnya penuh kekhawatiran.
"Aku yang harusnya nanya, kamu lagi ngapain disini dan yang tadi kamu bawa itu siapa?" tanya Arya belum melepas lengan Arista.
Arista tidak menjawab dan tanpa persetujuan Arya, Arista menepis cengkraman lengannya.
"Maaf Arya, nanti gue jelasin. Sekarang gue harus bawa Chicha dulu ke IGD!" Arista pun pergi meninggalkan Arya yang berdiri dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya.
Apa yang terjadi pada mereka? Mengapa Arista memasang wajah panik begitu? Sebenarnya siapa yang sakit?
Semua pertanyaan berkumpul di benak Arya. Bibi yang ingin tahu pun menahan keinginannya untuk bertanya setelah melihat wajah Arya yang tampak berpikir dan terlihat pasti tidak tahu juga bila Bibi bertanya.
Mereka pun segera pergi menuju kamar Marissa. Namun sesampainya disana Arya mendadak meminta ijin kepada Marissa dan ibu mertuanya untuk keluar lagi, dia mengatakan ada hal yang baru saja terjadi. Arya menceritakan bahwa dia melihat temannya sedang membawa seseorang yang sakit seorang diri. Arya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Dan Bu Aga memberikan ijinnya tanpa banyak tanya karena dia tahu perasaan khawatir pada seorang yang sedang sakit itu seperti apa. Pasti orang yang sedang menunggui pasien itu butuh teman yang merangkulnya disaat panik, sama seperti yang pernah dirasakan oleh Bu Aga kemarin.
Setelah mendapat ijin Arya langsung keluar dari kamar itu bahkan mengabaikan pertanyaan Marissa yang ingin tahu siapakah temannya tersebut.
"Arista? Kamu gak apa-apa kan? Sebenarnya siapa yang sakit?" tanya Arya sesampainya di ruang IGD, membuat Arista kaget atas kehadiran dia di sana.
"Kok kamu ke sini?"
"Aku khawatir soalnya kamu terlihat panik gitu tadi. Memangnya itu siapa yang sakit?" tanya Arya lagi.
"Temanku Chicha, dia datang dari Singapura, tapi baru dua hari bersamaku dia tiba-tiba sesak nafas tadi lalu pingsan jadi aku cepat-cepat membawanya ke sini," jawab Arista dengan wajah yang masih diselimuti kekhawatiran.
Chicha adalah sahabat Arista yang dikenalnya selama di Singapura. Singkat cerita, Chicha adalah orang Thailand keturunan Indonesia. Ayahnya seorang Thailand tapi Ibunya asli Majalengka, Indonesia. Saat ini dia sedang bernasib sama seperti Arista, bertahan hidup dan memandirikan diri sendiri agar dapat menjahit tali kehidupan yang harus disambung olehnya juga keluarganya.
Memang, dulu keluarga Chicha ini sempat merasakan hidup berkecukupan bisa di bilang kaya raya, namun kini sudah jatuh miskin karena usaha orang tuanya kena tipu dan bangkrut hingga terlilit hutang sana sini. Mereka tidak punya uang lagi untuk membayar hutang tersebut bahkan setelah menggadaikan rumah tempat mereka tinggal.
Karena alasan itulah keluarga mereka akhirnya kabur ke Singapura. Dan untuk menyambung hidup, kehidupan yang berat pun mulai di lakoni oleh Chicha, salah satunya bekerja di pabrik garment, disanalah tempat dia bertemu dengan Arista dan pertemuan inilah yang menjadikan mereka sahabatan hingga kini.
Dan sekarang, Chicha harus kabur lagi karena keberadaan mereka sudah diketahui si penagih hutang hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke keluarga ibunya guna mencari tempat persembunyian baru karena mereka belum sanggup membayar hutang-hutang itu. Lagipula sedikit banyaknya Chicha ini bisa menggunakan bahasa Indonesia, tak jarang juga dia berbincang dengan Arista menggunakan bahasa tersebut.
Meski niatnya ke Indonesia adalah untuk kabur, tapi tak dapat dipungkiri, betapa senangnya Chicha bisa datang ke negeri ini. Akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan Arista, sahabat kesayangannya.
Arista pun menyambut sahabatnya itu dengan senang juga hangat, sudah dua hari dia menginap di rumah Arista, namun entah apa penyebabnya Chicha mendadak sesak nafas lalu pingsan hingga akhirnya dia di larikan ke rumah sakit seperti situasi yang terlihat saat ini.
Dokter ke luar setelah menangani Chicha, dia menjelaskan kalau Chicha sesak nafas akibat penyakit maag yang dideritanya.
Arista tahu kalau selama ini Chicha memiliki riwayat maag, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau sakit maagnya Chicha ini bisa sampai membuat gadis itu sesak nafas.
Dokter tersebut berkata lagi, dia menyarankan untuk merawat Chicha beberapa hari di rumah sakit ini sampai keadaannya pulih. Tanpa pikir panjang Arista langsung menyetujuinya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya jika dia membawa Chicha pulang dalam kondisi seperti itu. Masalah biaya rumah sakit, Arista bisa membayarnya dengan sisa gaji yang dia tabung dari awal dia masuk kerja di kafe. Tabungan itu tadinya ingin dia gunakan untuk mengambil sebuah kursus keahlian. Tapi keadaan ini jauh lebih mendesak, keinginannya untuk mendapatkan sertifikat supaya nantinya bisa mencari pekerjaan yang lebih baik harus dia tunda dulu sementara.
Setelah diberi penjelasan mengenai beberapa hal oleh dokter, Arista pun pergi untuk mengurus administrasi bersama Arya yang menawarkan diri untuk menemani.
Seorang perempuan petugas bagian administrasi keuangan memberikan kertas mengenai biaya keseluruhan pengobatan Chicha. Arista yang melihat angka dikertas itu tanpa sadar menelan ludahnya. Kepalanya langsung pusing, uang yang dia kumpulkan selama bekerja dikafe saja tidak bisa menutupi keseluruhan biaya itu. Dan tabungan yang dia kumpulkan selama kerja di Singapura pun sudah habis untuk merenovasi rumahnya yang sudah bobrok. Tidak ada pilihan lain, mungkin dia harus mencari pinjaman untuk menutupi sisanya. Untuk sekarang bayar dulu saja yang ada.
Arista mengocek tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dalam sebuah dompet. Tapi sesuatu membuat kepalanya panas. Dia panik luar biasa. Arista menepuk jidatnya. Kartu ATM yang dia bawa saat ini adalah kartu untuk menerima gaji. Sedangkan kartu untuk tabungannya dia taruh di laci dalam lemari kamarnya. Astagaaa.. Saking terburu-burunya dia sampai lupa membawa kartu mana yang ada uangnya. Tadi pun dia hanya membawa uang secukupnya saja untuk bisa sampai ke sini.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Arya melihat gelagat Arista yang panik dan kebingungan.
"Aduh, gimana ni Arya! Gue gak bawa Kartu ATM yang satunya. Kartu yang ini ga ada uangnya lagi, gimana coba gue bayar?!" jawab Arista wajahnya penuh gurat kecemasan.
Arya yang tak tega melihat kebingungan di wajah Arista itu langsung mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu, lalu dia berikan pada petugas administrasi bahkan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Arista.
"Kamu ngapain?!" tanya Arista yang terkejut melihat tindakan Arya.
__ADS_1
Petugas administrasi itu menerima kartu Arya lalu mulai menggesek dan menekan angka sebanyak total biaya yang diperlukan. Tapi Arya mencegahnya lalu mengatakan sesuatu yang suaranya sama sekali tak didengar oleh Arista. Setelah itu si petugas tampak bekerja dan membuat selembaran baru. Kemudian dia menggesek kartu Arya. Lalu Arya mengetik passwordnya dan semua urusan biaya rumah sakit Chicha pun terbayar.
"Udah, pake aja dulu," Arya memasukkan lagi kartu ke dalam dompetnya.
"Tapi kan gue ga minta lu bayarin Arya! Sumpah gue beneran lupa bawa kartu yang satunya, soalnya tadi gue panik banget liat Chicha pingsan, terus..terus gue.."
"Ssstt!" Arya menaruh jari telunjuknya di bibir Arista. Jari Arya terasa dingin, rasa dingin itu memenuhi bibir Arista membuatnya kaget.
Arista seketika terdiam. Dinginnya jari Arya seolah membekukan seluruh tubuhnya.
"Iya, tanpa kamu jelasin pun aku ngerti kok. Lagipula kan ini untuk sementara aja, nanti bisa kamu bayar setelah kamu pulang ke rumah. Atau kalau mau kapan-kapan juga boleh kok," jawab Arya membuat wajah Arista memerah.
Arista merasa kalau Arya ini paham dirinya sedang tidak memiliki uang. Atau mungkin Arya memang niat menolong saja sama seperti Arya si baik hati yang dia kenal selama ini.
Arista tak punya kata-kata lagi yang bisa dia ucapkan selain berterimakasih.
Arya menyerahkan kertas detail pembayaran itu pada Arista. Saat Arista akan melihatnya, teleponnya berbunyi. Melihat itu dari Chicha, Arista langsung mengangkatnya.
Arista senang sekali ternyata Chicha sudah sadar, karena itu Arista dan Arya langsung pergi menemuinya.
"Kamu udah sadar? Kamu ga apa-apa kan?" tanya Arista sesampainya disana.
"Aku baik-baik saja Arista. Terimakasih ya kamu sudah menolongku," jawab Chicha tersenyum. Lalu matanya melirik pada Arya, dia heran siapakah pria yang tak dikenali olehnya ini? Mengapa dia berada disini bersama mereka bahkan pria itu sampai menebar senyum juga.
Arista yang tersadar langsung mengenalkan mereka. "Oh iya. Chicha kenalin ini Arya, dia temanku waktu SMA dulu. Kebetulan kita ketemu disini tadi. Dan ini Arya, kenalin teman gue namanya Chicha. Dia turunan indo campuran. Ayahnya Thailand, tapi ibunya Indonesia asli Majalengka. Tapi kita ketemunya waktu di Singapura," Arista menjelaskan dengan sedikit canggung. Dia takut Chicha sahabatnya itu menyadari sesuatu.
"Oh! Ini Arya yang sering kamu ceritakan itu ya?!" tanya Chicha penuh semangat mengingat nama Arya yang tak asing lagi baginya. Benar saja! apa yang dikhawatirkan oleh Arista sudah kejadian.
Arista mengedip-ngedipkan matanya memberikan kode meminta Chicha untuk diam. Tapi Chicha yang tidak peka malah mengira kalau Arista sedang sakit mata.
Arya menoleh pada Arista sehingga gadis itu jadi salah tingkah. Bisa-bisa kode yang dia berikan untuk Chicha ini malah ketahuan dan dimengerti oleh Arya! Gawat!
"Ohh, iya nih. Mataku kelilipan, tapi sekarang udah ga apa-apa kok," jawab Arista bohong. Lebih baik dia berakting dari pada Chicha tidak menutup mulutnya.
"Mana sini lihat biar aku tiupin!" tawar Chicha. Dia mencoba duduk dari tidurnya tapi badannya ternyata terlalu lemah. Perutnya sakit saat dia mencoba duduk.
"Ahhh.. Susah sekali," jawab Chicha yang bahasa Indonesianya masih kaku.
"Sini kamu mendekat, biar aku bisa tiup," pinta Chicha.
Arya yang melihat usaha Chicha jadi merasa kasihan, akhirnya dia menawarkan diri supaya dia saja yang meniup mata Arista.
"Sini, biar aku yang tiup," kata Arya.
Arista membelalakan matanya karena terkejut. "Eh.. eh ga usah," katanya canggung. Tapi seolah telat Arya sudah memegang wajah Arista tanpa ijin lagi.
"Sebelah mana?" tanya Arya.
Arista mendadak membatu membuatnya jadi tergagap dan lagi-lagi berbohong asal menyebut, soalnya sudah kepalang tanggung kalau harus jujur sekarang, pasti malu sekali dia nanti.
"Kaa.. ka-nan," Arista yang gugup berkata sambil terbata.
Arya pun melebarkan sebelah mata Arista dibagian yang dia bilang lalu meniupnya. Sensasi dingin menguar masuk ke dalam bola mata Arista.
"Gimana udah enakan?" tanya Arya.
__ADS_1
"I-iya," jawab Arista terbata, "makasih ya!" sambungnya lagi.
"Oke. Sama-sama," Arya menampilkan senyum manisnya pada Arista membuat dia semakin salah tingkah.
Saat mereka tengah berbincang, seorang perawat datang. Perawat itu berkata akan membawa Chicha menuju ruang inap. Arista pun bersiap lalu mengikuti mereka dengan Arya yang masih mengekorinya di belakang.
Rombongan mereka menyusuri jalan berkelok yang baru pertama kali di lihat oleh Arista. Tapi ada satu keanehan yang disadari olehnya. Kenapa di sepanjang jalan ini jarang sekali terlihat orang dan makin lama mereka berbelok pada sebuah lorong dimana masing-masing terdapat banyak kamar dengan pintu tertutup dan suasana disana sepi sekali. Perawat itu membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam salah satu kamar, tapi Arista belum selesai juga menghabiskan keheranannya. Arista membaca tulisan VIP di depan pintu kamar itu.
Kenapa mereka ada di ruangan VIP? Arista buru-buru mengambil kertas pembayaran tadi dan menyamakan nama ruangan di kertas dengan yang terpampang disana. Ternyata nama ruangan ini benar dan sama seperti yang tertera di kertas. Kenapa bisa begini?
Arista menarik lengan Arya ke luar saat dia hendak masuk ke dalam kamar.
"Arya, waktu bayar tadi kamu minta masukin Chicha ke ruangan VIP?" tanya Arista meminta kepastian dan di iyakan oleh Arya.
"Memang kenapa?" tanya Arya dengan polosnya.
Arista meremas lengan baju Arya. "Kamu kok ga ngomong dulu sama aku?!"
"Loh, bukannya tadi kamu dengar aku minta ruangan ini. Dan kamu juga udah lihat detailnya di kertas itu kan?"
"Gue baru lihat ini sekarang!" jawab Arista lemas sambil menggoyangkan kertas tersebut. Kepalanya langsung mengepul mengingat bagaimana cara dia membayar tagihan sebesar ini nantinya.
"Kenapa kamu seenaknya gini? Aku kan gak minta kamu bayarin ruangan ini!" bisik Arista takut terdengar oleh Chicha. Perawat itu masih sibuk memindahkan Chicha ditempat tidur kamar ini beserta merapikan dan menggantungkan selang infusannya.
"Kan aku sudah bilang kamu bisa membayarnya kapan-kapan," jawab Arya merasa hal seperti ini harusnya tak perlu diributkan.
"Kamu ga ngerti.." ucap Arista putus asa.
"Aku ga ngerti apa sih Arista, aku ga masalahin kok kalau kamu mau bayar kapanpun,"
"Oke! Oke gue paham. Gue ngerti niat baik kamu, tapi plis seenggaknya kamu bisa kan minta persetujuan gue dulu sebelum kamu ambil keputusan seperti ini?" Arista benar-benar putus asa sekarang.
"Memangnya kenapa? Apa salahnya aku masukin temanmu ke ruangan ini? Bukannya malah bagus ya kalian jadi bisa lebih bebas dan bisa beristirahat juga dengan nyaman di ruangan seperti ini, aku hanya ingin memberikan yang terbaik aja buat kalian,"
"Memang iya benar kamu yang memberikan kamar terbaik ini, tapi, aku juga yang akhirnya akan membayar kan? Arya, denger ya, bukan maksud gue perhitungan sama Chicha tapi masalahnya kamu pikir dong mampu ngga gue bayar tagihannya nanti? Meskipun tagihan rumah sakit sudah lunas tapi gue tetep aja ngutang sama kamu!"
"Aku kan sudah bilang kamu bisa membayarnya kapan saja saat kamu punya uang kan?"
"Tapi kapan gue punya uangnya? Jujur aja gue gak punya uang! Bahkan di kamar biasa aja duit gue kurang tapi lu seenak udel masukin ke kamar mewah gini. Gue bayar lu gimana, pake apa?!" tanya Arista marah dari nada bicaranya pun terdengar setengah membentak. Getar suara yang tak bisa dia kontrol bahkan sampai ke telinga Chicha.
Chicha yang mengerti tentang apa yang mereka bahas menjadi sedih dan tidak enak hati. Dia berpikir mengapa kedatangannya malah jadi menyulitkan sahabatnya? Harusnya Chicha sendiri yang membayar pengobatannya. Tapi saat ini diapun sama tidak punya uang. Chicha jadi menyalahkan dirinya sendiri harusnya dia tidak usah datang saja menemui Arista jika ujungnya hanya merepotkan sahabatnya seperti ini!
"Kamu tenang saja Arista, aku juga tidak akan menagihnya jika kamu tidak punya, sebenarnya aku ikhlas membantu kamu. Aku hanya ga mau kamu merasa ga enak hati jadi aku bilang kamu bisa kapan saja membayarnya. Tapi setelah tahu jadinya seperti ini, kamu boleh untuk tidak membayarnya kok. Aku ini niat membantu. Aku sudah ikhlas. Jadi kamu ga perlu bingung dan mikir macam-macam lagi ya," bujuk Arya mencoba meredamkan amarah Arista.
Arista hendak menjawab Arya lagi namun terabaikan karena Chicha memanggilnya dari dalam kamar.
Arista pun menghentikan obrolannya bersama Arya dan menghampiri Chicha. Dia pikir Chicha ingin meminta sesuatu.
Chicha memang meminta sesuatu tapi sesuatu ini adalah sesuatu yang membuat Arista menjadi malu dan menyesal atas ucapannya tadi.
"Arista aku tidak mau dirawat di sini. Aku merasa sudah sehat. Sekarang aku mau pulang saja ya?" pinta Chicha.
Mendengar permintaan Chicha yang tiba-tiba seperti itu membuat Arista tersadar. Berarti dari tadi semua omongannya bersama Arya telah didengar oleh Chicha ya sehingga dia menjadi tidak enak hati dan meminta pulang?!
Hal ini sungguh mengganggu pikiran Arista membuatnya merasa bersalah. Apakah ucapannya tadi sudah menyakiti hati Chicha sehingga membuatnya menjadi sungkan dan mengajak pulang?
__ADS_1
***