
Kali ini Arya yang membawa mobil Marissa. Sambil fokus pada stir, sesekali dia melirik ke arah wanita di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Marissa yang peka, "ada yang aneh di muka gue?"
"Enggak, cuma aneh di sikap kamu aja. Bukan hanya karena masalah tadi kamu ngomong ngasal aja ke Arista, tapi juga sejak sekembalinya kamu dari toilet kenapa pakai parfum banyak banget sampai nyengat begitu? Kamu sengaja bikin orang tidak nyaman di sekitarmu ya?"
"Apaan sih lu nuduh-nuduh? Itu ada alasannya kenapa gue pakai parfum banyak-banyak. Dan ada alasannya juga kenapa tadi gue bersikap begitu. Gue tau lu pasti gak suka kalau lu denger alasan itu tapi gue gak akan peduli! Lagian juga gue gak akan cerita ini," ucap Marissa slow.
Arya geleng-geleng kepala. "Kamu kenapa sih jadi aneh begini semenjak dari kasus penculikan waktu itu?"
Marissa diam tak menjawab, dia malah mengalihkan pandangannya ke sisi jalan.
"Apa mungkin jiwa asli kamu masih ikut di sandera Mika dan ikut pergi ke Taiwan?" tanya Arya lalu mengikik. Namun Marissa yang dibercandai seperti itu tidak menggubris.
"Diem ah lu! Sebel gue!" sentak Marissa jutek.
Arya otomatis berhenti tertawa lalu menoleh pada Marissa "Kenapa lagi sih kamu kok marah-marah gak jelas gitu?"
"Habisnya si Arista ngeselin banget tadi!"
Arya mengambil lagi wajahnya untuk fokus pada jalanan di depan mereka. "Ada apa lagi sama dia? Harusnya kamu minta maaf kan tadi, ini malah pergi gitu aja. Lagian kamu ke sana cari masalah sendiri pulangnya malah kesel sendiri, kan aneh."
Marissa memelototi Arya. Dia kesal jika terus menahan-nahan pikirannya sendiri. "Udah lah gini aja! Asal lu tau gue gak suka ya sama yang namanya basa-basi! Sekarang lu jujur! Sebenarnya lu masih suka kan sama Arista?"
Arya diam, sedikit terkejut dengan pertanyaan Marissa yang tiba-tiba. Matanya bergerak berpikir. Dia meniti jawaban yang baik dan benar, ini Marissa kenapa sih mendadak tanya begitu? Lagian dia pun tak tau apakah hatinya memang benar masih suka pada Arista atau tidak? Lagipula masa lalunya dengan Raya sangatlah kacau. Rasanya tidak tepat kalau Arya berani menaruh rasa kembali pada Arista bukan?
"Aku juga tidak suka basa-basi. Memangnya kenapa sih kamu tanya begitu?" Arya balik bertanya sebelum memberikan jawaban yang dia rasa tepat.
"Soalnya gue mau jodohin lu sama Arista!"
"Apa?!" Arya terkejut bukan main.
__ADS_1
"Kenapa kaget gitu? Kan lu tau kalau kita mau cerai. Kita sudah membahas itu sebelum datang menemui Arista kan?"
"Jadi kamu ini serius ajak cerai? Dan omongan di rumah tadi bukan sekedar candaan?"
"Yaiyalah! Emang kapan gue bilang bercanda?" jawab Marissa ketus sambil menyilangkan lengan di depan dada.
"Bagaimana bisa kamu ajak bercerai setelah mencuri ciuman pertamaku?!" ucap Arya panik tanpa sadar.
Marissa menoleh cepat ke arah Arya. "Emang kapan kita berciuman?" tanya Marissa ikutan panik salah tingkah.
Arya membeku dari pertanyaan Marissa, dia baru sadar sekarang. Rasanya malu sekali setelah mengucapkan kalimat tadi.
Ah, mau di taruh di mana mukaku ini?! batin Arya gelisah.
"Dimana-mana yang namanya ciuman itu dilakuan saat kedua orang sadar ketika melakukannya. Sedangkan yang lu lakukan kemarin pada gue hanyalah bentuk pertolongan semata! Lu nya aja yang kebaperan!" ucap Marissa mencoba meluruskan, lebih tepatnya menenangkan dirinya sendiri.
"Tapi bagiku tetap saja itu pertama kali aku mencium bibir seorang wanita!"
Marissa gerah dan tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki di sampingnya itu. Namun entah dari mana tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalanya untuk menjaili Arya.
"Lu mau tau ciuman yang sesungguhnya itu seperti apa? Sini gue ajarin!" Marissa melepas sabuk pengamannya lalu mencondongkan diri ke wajah Arya. Beberapa sentimeter lagi kulit mereka hampir bersentuhan. Dengan jarak sedekat itu Arya bahkan bisa merasakan hembusan nafas Marissa, saat itu juga Arya panik lalu tanpa kendali membanting stir ke kiri membuat Marissa terguncang. Bukannya berciuman dengan Arya, dia malah berciuman dengan dashboard mobil.
"Gila lu mau bunuh gue ya?! Udah tau gue lagi gak pake sabuk!" cerca Marissa menumpahkan kesalnya.
"Kamu yang gila Marissa! Kelakuan kamu yang cocok di jadikan pertanyaan apakah kamu ingin bunuh kita berdua?!" bentak Arya benar-benar marah.
Sungguh Arya tak menyangka dengan kelakuan Marissa yang bar-barnya sudah di level keterlaluan.
Marissa mengusap-usap dahinya kesakitan. "Gue tadi cuma bercanda kali! Lu nya aja yang nanggepin serius!"
"Bercanda kamu bilang? Kamu gak sadar kalau tindakan kamu tadi itu berbahaya?!"
__ADS_1
Marissa tidak menjawab dia malah cemberut membuang muka ke sisi jalan lagi bahkan dengan sengaja bibirnya di monyongkan untuk menambah kesan kalau dirinya sedang kesal luar biasa.
Arya menghela nafas sabar. "Sekarang pakai sabuk pengaman kamu kembali! Baru aku jalanin lagi mobilnya."
"Gak mau!"
"Ini anak ya bener-bener!" Arya kesal untuk membujuk jadi dia inisiatif untuk memasangkannya sendiri. Dengan hati gondok Arya mencondongkan badan lalu mengambil sabuk itu hendak melilitkannya pada tubuh Marissa tanpa izin terlebih dahulu.
Saat Arya akan menarik sabuk tersebut lagi-lagi Marissa mencium wangi tubuh Arya yang menenangkan. Sesuatu hal yang sangat di sukainya dari semenjak dia mengenal Arya.
Marissa menatap Arya lekat-lekat. Mungkin karena perasaan tertahan ini sudah terlalu lama kemudian entah dorongan dari mana dia memeluk tubuh Arya begitu eratnya. Makin lama pelukan itu makin terasa hangat.
Arya tampak terkejut dengan tindakan Marissa. Dia pun berontak supaya Marissa melepaskannya.
Saat berusaha ingin melepaskan diri, Marissa malah makin mengeratkan pelukannya di tubuh Arya.
Mereka berpelukan cukup lama namun kemudian pelukan itu tiba-tiba mengendur. Namun setelahnya Arya malah mendapati tatapan Marissa yang tidak biasa.
Tatapan itu penuh cinta dan kehangatan. Tangan Marissa yang tadinya berada di punggung Arya entah bagaimana kini sudah berada di pipi laki-laki tersebut.
Arya bisa merasakan sentuhan jari mungil Marissa yang bertengger di pipinya. Tangan kecil itu lambat laun mengarahkan wajah Arya untuk bertemu dengan wajah Marissa dengan lembut. Arya bingung dengan situasi ini. Tapi dia juga tau tidak bisa menolak. Dengan kondisi yang seperti itu lagi-lagi dia bisa merasakan nafas Marissa menyentuh wajah Arya dengan lembut sama seperti sebelumnya. Dan bukan hanya itu, karena dia bisa merasakan nafas Marissa, kini Arya pun jadi tersadar mungkin saja saat ini Marissa bisa merasakan pula nafas Arya di wajahnya.
Semua tidak lagi dapat terkendali dan rasanya semua yang terjadi saat ini terasa berjalan begitu saja! Tidak tau tuntunan dari mana Arya refleks menutup kedua matanya begitu pula halnya dengan Marissa. Lambat laun Arya mendadak bisa merasakan sentuhan hangat di bibirnya. Sentuhan itu makin lama terasa makin intens. Makin dalam dan penuh gairah. Arya benar-benar tidak bisa menolaknya yang ada dia makin ketagihan!
Ini tidak mungkin terjadi kan? Oh Tuhan, bagaimana ini? Gejolak rasa yang bertaut dalam bibir satu sama lain! Bagaimana bisa mereka akhirnya berciuman?!
Marissa terlihat menikmati perlakuan Arya yang lembut. Nafas mereka beradu pacu di dalam mobil tidak peduli apabila ada orang lewat yang melihatnya.
Ya ampun! Rasanya ini mustahil kan? Apakah ini benar-benar nyata?!!
***
__ADS_1