
Sepanjang malam Marissa terjaga. Dia gelisah dan tidak bisa tidur sama sekali. Sudah guling sana sudah guling sini tapi matanya tidak mau terpejam. Kadang-kadang dia juga mondar-mandir di kamarnya meskipun sudah tengah malam.
Marissa kembali berbaring namun terduduk seketika. "Gimana caranya ya gue bilang sama Papa dan Mama mertua soal keinginan cerai ini? Di satu sisi gue suka sama Arya tapi di satu sisi gue mesti lepasin dia. Kalau gue terus menjerat Arya seperti ini kan kasihan dia nya nanti. Bisa-bisa Arya melewatkan masa muda dan hidupnya hanya demi perempuan seperti gue. Ini ga bisa di biarin! Pokoknya mau tidak mau, berani atau tidak gue harus tetap bicara besok pagi!"
Marissa merebahkan kembali tubuhnya dan mencoba tidur. Lama-lama kesadarannya mulai hilang dan terlelap meski waktu terus berjalan.
Denting jam menggema di seluruh kamar Marissa. Tiba-tiba dalam tidurnya mulut Marissa bergerak mencoba memanggil nama Arya dengan lemah. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Tampak butir-butir air keringat sebesar biji jagung bertengger di keningnya.
Rupanya Marissa sedang bermimpi buruk! Di dalam mimpinya dia sedang di kejar-kejar oleh Kelvin dan Tio. Keadaan saat itu terasa sangat mencekam juga membingungkan. Marissa mau lari ke depan rupanya ada Kelvin, mau berbalik ke belakang tapi ada Tio sedangkan sisa kanan dan kirinya adalah jurang yang dalam hingga dia tidak punya pilihan lain selain pasrah.
Saat Marissa kalut dalam kebingungan itu dia hanya dapat terduduk putus asa lalu tiba-tiba Kelvin datang ke arahnya kemudian menjambak rambut Marissa dan juga menamparnya hingga ia tersungkur ke tanah. Marissa menangis sesenggukan lalu datanglah Tio yang menghalau Kelvin dan meninjunya membabi buta seperti orang kesetanan. Marissa yang melihat adegan itu jadi merasa terlindungi oleh kehadiaran Tio. Tanpa menunggu waktu lama Tio pun mengajak Marissa untuk bangkit berdiri dan di bawanya dia ke tempat yang di rasa aman tanpa Marissa tau kalau tempat itu sebenarnya berbahaya karena itu adalah bibir jurang! Tapi anehnya kenapa di sana ada sesosok lelaki yang tak asing lagi bagi Marissa? Setelah dilihat lebih dekat ternyata orang itu adalah Arya. Dia terlihat sedang berdiri juga di tepi jurang sambil memperhatikan Marissa yang meronta tak ingin pergi ke sana karena dia sadar ada jurang di ujung situ tapi Tio tidak peduli dan tetap memaksa membawanya ke tempat yang membahayakan itu.
Marissa bahkan sampai berontak juga meminta ampun tapi Tio tetap tidak mau memberi belas kasihan, dia terus saja menggiring Marissa seperti menggiring sapi. Marissa di seret dan di pukul supaya mau jalan hingga tanpa sadar tibalah mereka di tepi jurang tersebut. Marissa terus mencoba menahan kakinya supaya tidak terjatuh tapi Tio terus saja menekannya untuk terjun bebas ke bawah sana. Marissa menoleh pada Arya minta pertolongan tapi Arya hanya menatapnya dingin tanpa ekspresi sama sekali.
"Tolongg.., Arya," rintihan Marissa ketakutan.
__ADS_1
Namun sebelum dia menggapai tubuh Arya, tubuhnya sendiri sudah terlanjur di lempar oleh Tio ke jurang tersebut. Marissa dengan penuh ketakutan dan kengerian hanya bisa pasrah terjun bebas dari atas sana. Dia bahkan bisa melihat tanah yang di pijaknya tadi jadi makin tinggi dari kepalanya sendiri. Tubuhnya terasa melayang makin jauh dan jauh lalu turun ke bawah. Saat itu juga dia bisa melihat wajah Arya yang semakin mengecil dan tetap saja tanpa ekspresi.
Marissa tidak mau jatuh begitu saja. Dia terus berusaha untuk naik ke atas tapi sesuatu yang berat terus menariknya turun ke bawah. Ditengah kepanikannya itu hanya Arya saja yang bisa dia ingat.
"Arya.. Arya.. Tolongin gue! Tolonnnggg.."
"Arya.."
"Aryaaa.."
Marissa mengigau dalam tidurnya dan mendadak terbangun saat badannya terasa seolah telah jatuh ke dasar. Tubuhnya dalam dunia nyata pun ikut bergetar membuatnya terkejut hingga membuka mata.
Setengah sadar Marissa mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia menenangkan diri setelah tau kalau tadi itu hanyalah mimpi belaka. Mimpi buruk yang sangat buruk!
Dengan lemas Marissa mengambil minum air di gelas yang tersedia di meja samping tempat tidurnya. Dia meminum air itu hingga habis tak bersisa. Setelah di rasa sudah tenang dia rebahkan kembali badannya dalam posisi miring sambil merenung mimpi apa tadi itu kok sampai terasa begitu nyata?
__ADS_1
Marissa masih ingat samar-samar wajah Arya di mimpi barusan ketika sedang melihat Marissa dengan tatapan datar. Apakah ini peringatan kalau dia benar-benar harus melepaskan suami yang mulai dicintainya itu? Tanpa terasa Marissa menjatuhkan air matanya. Dia pun teringat sekali lagi hari ketika Mika menculiknya. Moment di mana Mika dengan sengaja berjalan pelan seperti kura-kura hingga menghilang dari pandangan tapi rupanya balik lagi hanya untuk mengatakan sesuatu yang mmenyebalkan namun cukup untuk menyadarkan Marissa akan suatu hal mengenai Arya.
"Lu gak kasihan sama masa depan suami boongan lu itu? Udah berapa banyak hal yang lu buat supaya dia terlibat dalam masalah lu? Apa lu gak mikir dampaknya untuk masa depan Arya nanti? Semua orang di sekitarnya kan tau siapa istrinya Arya, dan bagaimana kelakuannya. Apa lu gak tau kalau diam-diam karyawan Arya pada menghujat dia di belakang? Kalau gue jadi lu sih mending gue lepas cowok baik-baik itu supaya dia bisa menentukan kehidupannya sendiri. Lagipula dengan ini urusan kita berakhir artinya urusan lu dengan Arya harus berakhir juga dong karena sudah tidak ada bayi yang di jadikan alasan mengapa kalian menikah. Gue bicara seperti ini bukan bermaksud untuk hal yang buruk tapi gue bicara begini karena gue tau rasanya sebagai orang tersakiti itu seperti apa. Hidup gue hancur karena pasangan gue sendiri, anak gue bahkan trauma sama kelakuan bapaknya sendiri. Lu juga pikirkan mental Arya! Mungkin saja dia trauma dengan kelakuan lu hingga akhirnya dia tidak mau membuka hati lagi dengan wanita lain. Siap-siap aja kalau nantinya lu yang di salahin! Yaa..tapi kan mau di akui ataupun tidak, semua kejadian ini emang salah lu ya?!" ujar Mika panjang lebar dengan segala perkataannya yang over dosis dan over thinking. Lalu pergi begitu saja dengan tawa yang di buat-buat.
Marissa tidak mengerti apakah Mika tulus mengatakan itu atau malah ada maksud tersembunyi lain untuk membuat Marissa tersakiti pada akhirnya? Tapi dia sadar betul kalau semua omongan Mika tadi memanglah benar! Selama ini Marissa hanya sibuk dengan hidup dan hatinya sendiri tanpa benar-benar tau isi hati Arya yang sesungguhnya. Lagipula Marissa sendiri yang selalu merasa enjoy di hubungan mereka padahal dia tau Arya selalu bersikap dingin padanya.
Harusnya Marissa sadar ketika Arya bersikap seperti itu! Ini malah mengharapkan supaya mereka jadi dekat dan saling mencintai. Benar-benar pikiran yang egois!
Karena kesadaran inilah yang akhirnya membuat Marissa membulatkan tekad untuk melepaskan Arya. Supaya selanjutnya Arya bisa memilih kehidupannya sendiri apapun yang dia mau tanpa paksaan siapapun seperti saat ini. Marissa hanya ingin Arya bahagia meski tidak memiliki diri Arya sepenuhnya. Marissa bertekad bagaimana pun caranya supaya Arya jangan lagi terlibat dengan urusan Marissa yang kesannya seolah Marissa sedang mengurung seekor burung dalam sangkar. Marissa tidak ingin Arya memiliki perasaan seperti itu.
Di lihaanya jam di meja yang masih menunjukkan pukul 4 dini hari. Masih sempat jika dia ingin tidur lagi sebelum jam sarapan tiba. Karena saat sarapan itulah waktu dan moment yang tepat untuk dia mengutarakan keinginannya bercerai dari Arya.
Baiklah sekarang gue tidur dulu untuk mengumpulkan energi kembali biar nanti sewaktu sarapan gue bisa bicarakan masalah perceraian ini dengan orang tua Arya, pikir Marissa dengan kesungguhan hati lalu dia kembali menarik selimut dan memejamkan matanya lagi.
***
__ADS_1