Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Udara Segar yang Menyesakkan


__ADS_3

Arya menegakan kembali badannya guna mencegah Marissa keluar.


"Apaan sih lu Arya, gue ga akan berbuat konyol kali! Ga ada kerjaan banget gue hujan-hujanan ga jelas kayak gitu!"


"Terus kamu mau kemana bawa-bawa infusanmu itu?" Arya masih tak percaya.


"Gue mau ke toilet! Minggir lu!"


Mendengar jawaban itu Arya jadi malu. Perlahan dia menurunkan kedua tangannya, dengan canggung dia mempersilahkan Marissa.


Marissa mendelik pada Arya sepanjang perjalanannya ke toilet. Dia bahkan sempat menoleh untuk sekedar menaikkan sebelah bibirnya mengejek Arya.


Arya mengedip-ngedipkan matanya seperti anak ayam bingung harus bereaksi seperti apa.


Meskipun malu tapi Arya merasa tidak sepenuhnya salah karena sudah berbuat begitu. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama kan? Apalagi letak toilet itu dekat dengan pintu masuk kamar ini dan juga karena ucapan Marissa tentang hujan-hujanan tadi sehingga membuat Arya jadi berpikir macam-macam.


Arya menggaruk kepalanya. Bingung harus memasang wajah seperti apa kalau Marissa sudah keluar toilet nanti.


Sebuah pintu terbuka membuat kaget Arya, ternyata bukan pintu toilet melainkan pintu masuk utama, yang masuk itu adalah asisten Marissa yang sudah pulang dari mencari makan dan snack untuk Marissa.


Dia menyapa Arya ramah. Arya pun menyapa balik sambil berbenah.


Lagipula asistennya sudah datang, jadi Arya bisa pulang sekarang tanpa harus bertemu Marissa lagi kan? Akhirnya Arya tak perlu repot untuk memasang muka seperti apa, juga tak perlu menjelaskan maksud kelakuannya tadi. Dan bukan berarti saat ini dia ingin kabur, hanya saja dia tidak tahan pada dirinya sendiri yang begitu memalukan.


"Saya pulang dulu ya, Bi. Tolong jaga Marissa. Kalau ada apa-apa cepat hubungin saya ya," pesan Arya pada asisten Marissa yang akrab di sapa Bibi karena usianya yang sudah tak muda lagi. Bibi ini sudah mengabdi puluhan tahun di keluarga Marissa bahkan sebelum anak itu lahir.


Orang itu mengiyakan. Arya pun pamit pada Marissa di depan pintu toilet.


"Marissa, aku pulang dulu ya! Si Bibi udah datang nih," ucap Arya setengah berteriak.


Marissa hanya menjawab "hmm" dari dalam toilet.


Lalu Arya iseng untuk memastikan lagi, dia sengaja mengeraskan suaranya supaya didengar Marissa.


"Bi, kalau Marissa minta keluar jangan dikasih ya, soalnya dia mau main hujan-hujanan! Jangan mau di salah-salahin kalau dia kenapa-napa!" Bibi itu bengong tak mengerti, lalu sebuah suara terdengar dari dalam toilet seperti sesuatu yang dilempar lalu membentur pintu toilet.


Arya cengengesan sudah membuat Marissa kesal kemudian dia keluar kamar setelah berpamitan lagi pada si Bibi.


Paginya Marissa bangun dengan perasaan yang entah bagaimana harus dijelaskan. Mungkin efek kemarin malam karena hujan turun begitu deras maka dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ditambah lagi dia harus menghadapi kecemasan dari teroran yang diberikan oleh Tio.


Ya, Tio!


Memang, semenjak Arya mengatakan bahwa Mika tak akan mengganggu lagi itu benar adanya. Namun kepergian Mika itu malah menciptakan pengganggu baru lainnya.


Pagi kemarin sebenarnya ada sesuatu yang terjadi, tapi Marissa tidak menceritakan apapun pada Arya maupun orang tuanya.


Ketika bangun di pagi hari kemarin, Marissa mengecek ponselnya. Dia mendapati 51 panggilan tak terjawab dari Tio.


Marissa merasa bahagia luar biasa karena Tio mencarinya sampai segitunya. Apakah dia mengkhawatirkan Marissa karena sudah tahu keadaannya yang sedang terbaring di rumah sakit?


Marissa mengirim pesan guna meminta maaf karena ketiduran dan tidak sadar kalau Tio menelponnya sebanyak itu karena saat ini Marissa menggunakan mode silent untuk nada deringnya supaya tidak mengganggu Bibi yang tidur menemaninya.


Tapi apa yang dibalas oleh Tio sangatlah tidak sesuai dengan ekspetasi Marissa.


Tio malah membalas pesannya dengan kasar.


"Dimana Mika?"


"Lu sembunyiin dimana Mika dan anak-anak gue?"


Marissa jadi tegang. Maksudnya apa? Dia sungguh tidak mengerti ucapan Tio!


"Maksud lu apa sih Tio?" tanya Marissa mencoba kalem.

__ADS_1


"Ga usah pura-pura bego lu! Lu kasih Mika uang buat ninggalin gue kan! Lu pikir dengan kasih Mika uang terus dia pergi, artinya gue bakalan sama lu nantinya? Woi ngaca lu! Mana mungkin gue mau sama perempuan ***** kayak lu!"


Mendadak hati Marissa menjadi sakit membaca tulisan ini. Dadanya menjadi panas seperti ada gemuruh api disana.


Tak berapa lama Tio menelpon Marissa dan langsung diangkatnya.


Belum sempat Marissa bicara, Tio sudah membentak duluan.


"Cepetan jawab lu sembunyiin di mana keluarga gue, jawab bego! Jawab woi, dasar perempuan ******!" hina Tio tak ada henti-hentinya.


Tak terasa Marissa meneteskan air matanya lalu segera memutus sambungan telepon itu tanpa bicara sepatah katapun.


Bibi yang sedang berkemas untuk pulang dan berganti jadwal dengan Bu Aga itu jadi menghentikan kegiatannya lalu menghampiri Marissa.


"Loh loh loh,, Kakak kenapa kok nangis?" tanya bibi mengusap kepala Marissa.


Tanpa perlu berpikir lagi, Marissa langsung memeluk bibi sambil menangis. Dari yang pelan sampai tersedu-sedu.


"Aduhh sayang kok nangis, ada apa ini?" Bibi jadi khawatir melihat Marissa yang tiba-tiba seperti itu.


Marissa yang ditanya tak menjawab hanya diam dalam tangisnya sendiri. Marissa tak pernah menceritakan kehidupan gelapnya pada Bibi. Bukan karena tak percaya, tapi dia menutupi hal seperti itu dari siapapun bahkan dari keluarganya.


Marissa merasakan belaian di kepalanya lalu tepukan di punggungnya. Berkat itu dia jadi tersadar kalau sebentar lagi Mamanya akan datang.


Marissa melepas pelukan Bibi kemudian menghapus air matanya.


"Gak apa-apa kok, Bi. Kakak cuma ngerasa sedih aja tadi. Sekarang udah nggak lagi," jawab Marissa tersenyum.


Bibi menatap Marissa nanar, "Beneran kakak gak apa-apa? Bibi jadi ga tenang nih, ga tega mau pulang ninggalin Kakak dengan kondisi begini." Raut wajah Bibi jadi ikutan sedih.


"Gak apa-apa kok, Bi. Bibi harus pulang biar bisa istirahat. Kan nanti malam datang lagi gantian jagain Kakak," Marissa mencoba memperlihatkan wajah yang tegar.


"Oh iya, kejadian Marissa nangis tadi jangan diceritakan pada siapapun ya, Bi. Apalagi sama Papa dan Mama," pinta Marissa.


Tepat setelah bicara seperti itu Bu Aga datang.


Marissa membuat wajah memohon agar Bibi tetap diam dan akhirnya Bibi mengangguk mengiyakan. Dia pun segera berpamitan pada Marissa dan Bu Aga untuk pulang dan akan kembali lagi nanti malam.


Marissa melihat punggung Bibi menuju pintu keluar dan memastikan bahwa Bibi sudah benar-benar pulang. Tepat dengan itu Marissa mendapatkan sebuah pesan masuk, dari Tio.


"Lu dimana sekarang?!" tanya Tio tanpa basa-basi.


Mika yang kesal tak membalas. Dia malah sengaja mematikan ponsel lalu menyalakan televisi untuk mengusir mood jeleknya.


Bu Aga menghampiri. Marissa mencoba untuk bersikap biasa saja pada Mamanya seolah tak terjadi apapun, dia bicara normal, dan melakukan aktivitas pun dengan normal. Sikapnya terus seperti itu hingga Bu Aga pulang dan berganti jadwal dengan Bibi di malam harinya.


Bahkan setelah Bibi datang dan Arya datang yang mana ada kejadian Arya mengira Marissa ingin main hujan-hujanan, sikapnya tetap biasa saja.


Marissa sungguh tidak ingin membicarakan hal itu pada mereka.


Dan karena kejadian ini dia tanggung sendiri alhasil dia jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Pagi ini cuaca tak begitu cerah. Namun berkat hujan udara jadi terasa lebih segar. Karena penat yang mengganggunya semalam, Marissa ingin sekali menghirup udara luar yang lembap bekas hujan tadi malam.


Marissa meminta izin pada dokter dan Bu Aga untuk berjalan-jalan sejenak di taman.


Betapa senangnya Marissa ketika diperbolehkan. Karena kali ini si Bibi pulang untuk gantian jaga Marissa, jadi hanya ada Bu Aga sendiri disana jadi Marissa mengajak Mamanya untuk menemani jalan-jalan, lagipula Mama Arya akan datang kalau sudah agak siangan.


Sesungging senyum lebar menghiasi wajah Marissa saat tiba di pelataran taman. Dia menghirup nafas keras-keras lalu menghembuskannya. Rasanya ada sesuatu yang dingin menusuk dadanya, tapi itu terasa menyegarkan.


Berbeda dengan Bu Aga, beliau malah memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Entah sudah berapa lama mereka di sana, mungkin akibat saking dinginnya Bu Aga bahkan sampai tidak tahan untuk buang air kecil.


"Gak apa-apa, Ma. Rissa masih mau disini. Mama ke toilet aja dulu. Rissa tunggu," ujar Rissa saat Bu Aga memberi tahu keinginannya.

__ADS_1


Bu Aga pun pergi menuju toilet segera setelah memberikan kantung infus yang tadi di tentengnya pada Marissa yang duduk di kursi roda. "Mama cuma bentar, kamu tunggu disini ya biar teduh. Jadi kalau misal tiba-tiba hujan lagi kamu ga perlu panik buat cari tempat biar ga kehujanan," kata Mama setelah memastikan lagi tempat Marissa menunggunya aman dan nyaman.


Mama menempatkan Marissa di bawah atap sebuah saung taman. Dari sana pemandangannya juga cukup bagus. Dari samping tempat saung itu berada, terlihat sebuah tangga granit menurun menuju taman bunga di area bawah. Hamparan taman bunga itu tampak berwarna warni, sungguh memanjakan mata dan memberi hiburan bagi siapa saja dari kesuntukan rumah sakit.


Marissa juga bisa melihat beberapa pasien dan keluarga yang menjaganya ada di sini bersamanya meskipun mereka berpencar mencari tempat sendiri-sendiri agar tak mengganggu pasien lain yang juga ingin menikmati tempat ini. Marissa mendengar tawa dan keseruan dari arah bawah tangga. Mereka bahkan berfoto di hamparan bunga rasanya seperti melihat pemandangan orang-orang yang sedang berwisata di tempat wisata taman bunga.


Marissa sebenarnya takjub dan tidak habis pikir. Soalnya jika dilihat dari arah depan, bangunan rumah sakit ini tampak biasa saja, tapi pikiran itu akan berubah seketika saat melihat taman yang indah ini.


Bagi orang yang tak pernah masuk rumah sakit ini pasti tak akan menyangka ada tempat sebagus ini di dalam bangunan yang notabenenya khusus untuk orang sakit. Dan siapa saja bisa datang kesini tak peduli dia dirawat dari kelas kamar manapun.


"Nanti ke bawah ah kalau Mama udah datang," gumam Marissa riang.


Tiba-tiba Marissa terkejut karena ada seseorang memegang kursi rodanya dari belakang.


Pasti Mama, pikir Marissa.


Saat Marissa menoleh, wajahnya berubah jadi pucat. Baru kali ini dia melihat wajah seseorang yang dikenalnya seperti itu.


"Ti.. Tioo ngapain lu disini? K-kok lu bisa masuk! Apa lu kesini karena mau ketemu gua? Tapi.. ini kan bukan jam besuk," kata Marissa tanpa sadar terbata. Mungkin dia sedang mencoba mengatasi rasa ketakutannya yang entah datang darimana.


Tio memutar hingga kini berdiri di depan Marisssa. Dia menatap Marissa dengan mata yang merah, kulit wajahnya berminyak, bibirnya kering gelap, rambutnya awutan. Sebuah perban mengelilingi pergelangan tangannya. Rasanya Marissa seperti sedang melihat orang mabuk yang habis berkelahi.


Apakah Tio jangan-jangan memang sedang mabuk? Kenapa ada luka ditangannya? Kenapa dia bisa ada disini sekarang?


"Lu pikir gue ke sini buat jenguk lu? Percaya diri banget lu!"


Tio mengangkat tangannya yang terluka, "Lu liat ini? Inilah alasan gue bisa berada disini!"


"Gue sengaja bikin diri gue sendiri terluka agar bisa bertemu dengan lu disini Marissa," jawab Tio sambil tersenyum memperlihatkan giginya.


"Ke-kenapa? Kan lu bisa langsung datang aja ga perlu banyak action segala, norak banget sampai lukain diri lu sendiri!" kata Marissa kesal tapi takut.


"Karena gue ga bisa datang ke sini selain di jam besuk. Dan alasan lain mengapa gue ingin segera menemui lu adalah karena gue mau minta jawaban, dimana lu sembunyiin Mika dan anak-anak gue?!" tanya Tio dengan wajah penuh amarah.


Marissa yang tak mengerti beringsut memundurkan kursi rodanya.


"Gue gak tau lu lagi bicarain apa, yang jelas gue ga pernah sembunyiin Mika dan anak-anak lu! Gue juga gak tau dimana mereka sekarang!" jawab Marissa jujur tapi Tio gak percaya.


Tio makin mendekati Marissa. Dia menahan kursi roda Marisssa yang hendak kabur. Tio bahkan tak peduli jika ada banyak pasang mata yang melihatnya.


Tio menarik kerah baju Marissa membuat wanita hamil itu terpaksa berdiri dari duduknya.


"Dimana Mika sama anak-anak gue! Gue tau lu sebenarnya mengetahui keberadaan mereka kan! Jawab gue kalau lu ga mau kenapa-kenapa!" ancam Tio.


"Gu-gue gak tau sumpah!"


Tio menarik Marissa keluar dari kursi rodanya, dia membawanya sampai ke bibir tangga.


"Jawab atau gue bunuh bayi lu!" ancam Tio lagi.


"Lu gila ya?! Lu mau apa hah! Lu mau celakain bayi gue? Sadar Tio, bayi gue ini anak lu!" bentak Marissa.


Keringat dingin membasahi punggung Marissa. Udara segar yang tadi sempat dia hirup terasa jadi menyesakkan.


Marissa sudah di ambang ketakutannya. Dia sudah pasrah bilamana Tio melakukan sesuatu yang buruk padanya.


Tio masih bersikeras menuduh Marissa menyembunyikan keluarganya.


"Gue tanya sekali lagi! Dimana istri dan anak-anak gue?!"


Air mata mulai mengalir di pipi Marisssa. Dia menggeleng kepala keras-keras.


"Gue ga bohong, gue ga tau Tio!" jawab Marissa putus asa.

__ADS_1


***


__ADS_2