Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Kesepakatan


__ADS_3

"Lu gak lupa kan dulu gue pernah minta 2 Miliyar tapi lu malah kasih gue cuma 500 juta, yang bahkan belum setengahnya jumlah dari yang gue minta?!"


Marissa menelan ludah. Mengapa Mika malah mengungkit itu sekarang?


"Sekarang gue mau minta sisa uang itu. Oh iya, karena lu nunggak dan berani gak kasih apa yang gue minta jadi gue anggap duit itu berbunga, bunganya 100%. Yaahh jika dihitung beserta bunga, artinya jumlah yang gue mau adalah minta 3 Milyar! Gimana? Seru kan? Lu pasti sanggup dong!" seringai Mika membuat jantung siapa pun yang mendengar ucapannya jadi deg-degan.


Marissa menelan ludah sekali lagi. Papanya bisa kena darah tinggi kalau sampai tahu hal ini.


"Itu sih duit receh buat orang kaya seperti keluarga lu kan? Apalagi lu itu anak satu-satunya yang mereka punya! Jangankan 3M, seluruh harta lu aja kalau gue minta pasti bakal di kasih kan? Ahahaha!"


Mika bertolak pinggang sambil membunguk menatap wajah Marissa, "Tapi gue gak akan seserakah itu, kok. Gue hanya minta uang tebusan yaahh yang sewajarnya ajaa lahhh, hmmm.." Mika tersenyum licik.


Marissa tak berani berkata apa-apa semenjak Mika mengeluarkan pisau bahkan sempat bersentuhan dengan batang lehernya. Tapi di sisi lain, Marissa juga merasa iba pada Mika dan anaknya. Meski perasaan Marissa gundah, dia ingin mencoba bertanya untuk memastikan sesuatu.


"Ka-kalau lu udah dapat uang itu, terus lu mau apa?" tanya Marissa gugup.


Mika berjalan lagi membelakangi Marissa. "Gue mau kabur. Bersama anak-anak gue. Mungkin kalau negara ini sulit menerima keberadaan gue beserta anak-anak gue, ya mau gak mau gue bakal buka lembaran baru di negeri yang lain," jawab Mika jujur.

__ADS_1


"Oh ****! Lu sengaja nanya gitu supaya bisa lacak gue setelah lapor polisi nanti ya?!" Mika panik seolah menyadari sesuatu, tapi.. dia mulai tenang kembali.


"Ohh, iya. Ngapain gue panik gini ya, kan gue gak bakal lepasin lu gitu aja setelah dapat duit tebusan itu," nada suara Mika berubah jadi dingin.


"Ma-maksud lu, mau apain gue setelah ini hah?!" meski takut tapi ujungnya Marissa meninggikan suaranya juga tanpa sadar.


"Ya gue tinggalin lu di sini lah. Biar lu mati dengan tenang dan membusuk dengan sendirinya," jawab Mika menggoda Marissa dengan evil smirk yang sengaja dibuat olehnya.


"Gi-gila lu! Yang ada lu bakal jadi buronan polisi, bodoh! Boro-boro buka hidup baru di negara lain, kemungkinan lu malah bakal buka hidup baru di penjara! Dan anak-anak lu akhirnya terlantar karena tidak ada yang menjaga! Lu gak kasihan sama mereka kalau mereka tahu kedua orang tuanya narapidana?! Dan.. Dan gue juga pastikan gue gak akan diam aja! Bahkan setelah mati sekalipun bakal gue gentayangin lu! Kalaupun nanti saat tiba waktunya lu mati dan akhirnya masuk neraka, gue jamin gue sendiri yang bakal seret lu ke neraka itu! Bahkan tempat yang paling bawah penuh derita, dan semua itu akan gue lakukan dengan tangan gue sendiri!" Marissa takut setengah mati hingga berteriak-teriak seperti itu. Dibayangannya, bagaimana jika dia mati di gedung ini karena mengalami kelaparan dan kehausan, lalu setelah waktu berlalu tubuhnya tak pernah bisa ditemukan hingga bertahun-tahun lamanya dia hanya sendiri disitu cuma meninggalkan sejumlah tulang berulang yang terduduk di kursi sambil mengenakan pakaian yang sudah usang seperti yang ia pakai saat ini. Uuh, mengerikan sekali!


Namun bayangan Marissa yang membuat dirinya menjadi emosional itu malah lucu di mata Mika. Dia bahkan sampai tertawa terbahak-bahak.


Dengan kondisi terikat di tambah tekanan yang diberikan oleh Mika membuat Marissa jadi kikuk. Di satu sisi dia takut, satu sisi marah, satu sisi iba, dan tak bisa dipungkiri ada juga satu sisi dia merasa bersalah. Andai Marissa tidak berpacaran dengan Tio waktu itu, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.


"Pikiran lu bocil dan ruwet banget, Marissa! Gini ya jadinya kalau seorang putri kaya di jejelin terus cerita dongeng dari bayi, udah gedenya jadi ngayal macam-macam. Lu kira setelah mati, lu beneran bisa gentayangin dan seret gue ke neraka, hah? Gimana kalau lu akhirnya gak mati dan gue bebaskan?" kini suara Mika tiba-tiba melemah. Sedikit lembut dari sebelumnya.


"Gue bilang kan tadi, kalau gue berbuat seperti ini bukan tanpa alasan. Gue benci sama lu, sumpah! Tapi gue juga sayang sama anak-anak gue. Setelah cerai sama Tio, gue sekarang yang jadi tulang punggung bagi mereka, meski dengan cara yang salah seperti saat ini. Tapi bukankah wajar kalau gue minta uang sama lu, karena bagaimana pun lu itu sumber dari masalah keluarga gue! Lu lihat kan sekarang keluarga gue hancur berantakan, anak-anak gue yang gak tau apa-apa malah jadi korban. Seenggaknya dengan gue minta tebusan ini, mungkin gue bisa maafin lu. Dengan cara ini lu bisa nebus kesalahan lu pada anak-anak gue dengan cara menjamin hidup dan masa depan mereka yang sudah lu hancurkan. Yaahhh emang kedengarannya egois dan gak tahu diri. Tapi sungguh gue muak harus hidup seperti ini! Gue mau buka hidup baru, tapi gue buntu apalagi duit yang gue terima kemarin sedikit demi sedikit abis hanya untuk pengobatan anak pertama gue. Jadi yaa.. mau gak mau lu mesti kerja sama turutin apa mau gue! 3M. Setelah itu gue janji akan pergi dari hidup lu dan gak akan ganggu lu lagi apapun alasannya."

__ADS_1


Marissa diam. Terngiang kembali omongan Arya tentang Mika ketika minta uang tempo lalu. Arya bilang dia melakukan sesuatu seperti itu bukan atas kemauannya semata tetapi demi anak-anaknya juga.


Marissa sedih, karena mau membela diri bagaimana pun akar masalahnya memang ada pada diri Marissa. Dan omongan Mika jika dipikir memang ada benarnya. Masalah yang dia sebabkan, secara tidak adil malah harus ditanggung oleh anak-anak Mika yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Jika dibilang karma, ini terlalu jahat. Marissa tidak mau karma diberikan pada orang yang tidak ada hubungan dengan pelaku kejahatan sebelumnya. Seperti apa yang diyakini masyarakat kini, misal orang tua jahat maka akan ada karma yang akan diterima oleh anaknya. Harusnya tidak begitu, bukankah yang jahat itu orang tuanya? Lagipula bagi Marissa saat ini Mika sedang menerima karmanya. Lihat saja mata Mika yang sudah kosong dan tidak tahu lagi arti hidup hingga nekat melakukan hal bodoh seperti saat ini.


"Oke kalau itu mau lu. Yang penting lu janji penuhi kata-kata lu tadi. Setelah lu dapat uangnya lu pergi sejauh mungkin, buka lembaran baru bersama anak-anak lu. Dan ingat, jangan pernah ganggu hidup gue lagi!"


"Oh my God! Akhirnya lu mengerti juga yah ternyata. Pinteerrr.. Seneng deh gue sama orang yang gak basa-basi kayak lu," Mika mengedip-ngedipkan matanya genit.


"Sekarang lu lepasin gue biar bisa siapin uangnya segera," pinta Marissa dengan mata nanar.


"Oh noo... Bukan begitu cara mainnya sayang, tapi seperti ini.."


Mika mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu menelepon seseorang entah siapa itu.


"Tunggu dan lihatlah."


Dan tak lama suara sambungan terdengar sampai telinga Marissa.

__ADS_1


Tut... Tut... Tutt..


***


__ADS_2