
Dokter keluar dari ruangan setelah mengobati dan tak lupa untuk mengomeli Marissa. Karena tertawa terlalu semangat jahitan di perutnya jadi terbuka lagi.
"Kamu gak apa-apa? Sakit nggak?" tanya Arya khawatir.
Marissa tersenyum. "Nggak kok, gapapa."
"Syukurlah kalau gitu," ucap Arya lega.
"Syukur syukur matamu! Ya sakit lah jelas, pake tanya lagi," ucap Marissa kesal.
"Ih kakak jangan galak-galak gitu dong, kasihan tuh Mas Arya jadi ketakutan gitu mukanya," tegur Mbak Ani saat melihat wajah Arya yang awalnya lega jadi pucat pasi terkejut kena sentak Marissa.
"Abisnya nanya-nanya mulu udah tahu sakit!" keluh Marissa lagi.
"Yaudah deh maaf. Aku bakalan diem," kata Arya sambil tangannya mempraktekkan seperti resleting di mulutnya.
"Nah gitu dong nurut kayak anak kucing," ledek Marissa dan Arya angguk-angguk tak melawan.
"Yaaa ampuunnn! Marissa anakku!" suara Bu Aga saat menggeser pintu. Terpampang wajah khawatir diwajahnya, sangat jelas.
"Kamu gak apa-apa Nak? Kok bisa gini sih? Kamu habis ngapain sampai kebuka lagi jaitannya?" Bu Aga mendekati Marissa dan mengecek kondisi perutnya.
Sedangkan tangan satunya memegang handphone di telinga, "Papa dimana sih! Cepet datang kesini, Mama udah sampai nih! Kasihan Marissa ini, Pa!"
Terdengar samar-samar suara Pak Aga di ujung telepon, "Iya, iya Mah. Ini Papa baru kelar meeting mau langsung ke sana."
"Ya udah, cepetan ya!" lalu telepon di tutup.
"Aaduduuhh Nak kamu pasti kesakitan ya Nak? Ini sakit? Yang mana yang sakit?" tanya Bu Aga.
"Marissa gak mau ditanya sakit atau enggaknya, Bu," ucap Arya yang langsung diberikan tatapan tajam oleh Marissa.
"Khann.. tadi kamu bilang gitu ke aku.." bisik Arya. Marissa menunjuk dua jari ke arah kedua bola matanya lalu dikembalikan lagi pada Arya sebagai bentuk ancaman. Arya hanya menahan senyum.
"Rissa gak apa-apa kok Ma. Mama tenang aja, Rissa baik-baik aja," ujar Marissa menenangkan.
"Gini nih Mama tinggal sebentar langsung gini kamu kan! Mama sampai spot jantung waktu Mbak Ani telepon tadi!" omel Bu Aga saking khawatirnya.
"Maaf Ma, Rissa gak sengaja,"
"Gak sengaja apanya? Tadi Mbak Ani bilang katanya karena kamu ketawa-ketawa sama Arya? Ini lagi kamu Arya bukannya jagaain dan pastiin istrinya sembuh malah dibikin makin parah!"
"Maafkan saya, Bu. Saya juga tidak tahu keadaannya akan seperti ini."
"Mama udah dong Ma, jangan malu-maluin Rissa, gak usah salahin Arya juga."
"Malu-maluin gimana maksud kamu Nak. Wajar dong Mama ngomelin menantu Mama yang lalai jagain istrinya!"
"Arya gak lalai kok Ma. Arya itu baik, ingin menghibur Rissa aja, makanya Rissa ketawa-ketawa sampai gak sadar jahitannya terbuka lagi,"
Arya yang mendengar itu membelalakan matanya, tak dia sangka kalau Marissa akan pasang badan untuk membela dia di depan ibunya meski memang bukan salah Arya juga sih kalulau sampai jahitan Marissa terbuka. Satu orang pun tak ada yang akan tahu kalau bisa berakibat fatal seperti itu.
"Udah lah Ma. Lagian kan lukanya udah di tutup kembali, bukan masalah besar ini."
"Tapi Nak.."
"Tenang aja Mamaku yang cantikk.. Rissa baik-baik aja kok, bener. Rissa malah senang Arya bikin ketawa Rissa. Artinya Arya ingin Rissa bahagia," ucapnya tersipu malu.
Bu Aga yang mendengar itu langsung terdiam, otaknya berpikir dengan cermat. Dia menebak Arya sudah membuka hati untuk anaknya. Kalau dia terus-terusan mengomel dan menyalahkan Arya yang ada anak itu akan menutup lagi hatinya untuk Marissa.
"Okelah kalau begitu. Untuk kali ini Mama maafin, tapi kalau sekali lagi kamu lalai jaga putri saya. Kamu akan berhadapan langsung dengan saya Arya! Paham?" ancam Bu Aga untuk memastikan saja lebih tepatnya.
"Saya pasti akan jaga Marissa sampai kontrak kami selesai. Jadi ibu tenang saja," jawab Arya tersenyum. Tapi kata-katanya itu membuat khayalan Bu Aga runtuh. Lagi-lagi Arya mengungkit soal kontrak. Apakah dia tidak akan serius dengan putrinya?
Arrgghh! Memikirkannya saja membuat pusing. Sudahlah, daripada masalah makin panjang kalau membahas ini lebih baik Bu Aga diam saja tak perlu menggubris omongan Arya.
__ADS_1
Dan akhirnya Bu Aga tak meladeni Arya lagi. Mereka mengganti topik dan pembicaraan lain sampai Pak Aga datang. Sesaat setelah datang ke kamar Marissa, Arya mengajak ngobrol di sofa dengan suara pelan dan menceritakan maksud Marissa meminta uang pada Papanya. Namun tidak disangka, bukannya marah Pak Aga malah tersenyum senang.
"Anakku sudah dewasa rupanya," ucap Pak Aga bangga.
Papa datang menemui putrinya. Tanpa menanyakan tujuan Marissa meminta uang, Papanya lebih memilih menyakana apa kabar Marissa dan apa yang dirasakannya saat ini.
Tak terasa sudah satu minggu Marissa di rumah sakit, hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Isak tangis Bu Mega memenuhi ruangan Marissa. Pak Jono dan istrinya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kamar Marissa saat tahu Marissa boleh pulang.
Marissa mengikat rambutnya ke belakang, luka jahitan dikepalanya tidak terlalu nampak tapi masih dapat terlihat. Namun rambut dia jadi awut-awutan saat Bu Mega memeluk Marissa dengan eratnya.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada Bu Marissa karena sudah membantu kamii.. Huuu.. uu.." tangis Bu Mega pecah lagi, tak peduli banyak pasang mata yang menyaksikannya.
Marissa menenangkan Bu Mega dibantu Pak Jono meski beliau pun ikut menangis. Dia merasa sedikit nyeri dibagian perut karena Bu Mega memeluknya begitu erat seolah pakai tenaga. Entah tenaga apa, mungkin tenaga dalam.
Bu Aga dan suaminya ikut terharu, disana juga ada Papa Arya yang ikut dalam suasana seperti hal besannya.
Setelah Pak Jono dan Bu Mega pergi, mereka juga sudah selesai berkemas. Bibi dan Mbak Ani yang sama-sama ada disana saling mengingatkan tentang barang apa saja yang mungkin tertinggal tetapi dari keduanya semua sudah oke.
Akhirnya mereka meninggalkan ruangan ini. Marissa melihat-lihat lagi kamar tempatnya dirawat, ada perasaan aneh yang muncul karena sudah terbiasa di sini tapi di sisi lain dia juga merindukan suasana rumah.
Sepanjang perjalanan Marissa hanya terdiam seperti orang galau sementara Bapak dan Ibu Aga beserta Papa Arya asyik dalam obrolan.
Di perempatan lampu merah mobil yang ditumpangi Bibi dan Mbak Ani berbelok beda arah menuju rumah Marissa. Sedangkan mobil yang ada Marissanya melaju menuju rumah Arya.
"Kamu lagi mikirin apa sih Nak? Sepi banget gak seperti biasanya," tanya Papa Arya yang menyadari pendiamnya Marissa saat ini.
"Gak apa-apa kok, Pa. Rissa lagi ingin diem aja," jawabnya.
Papa Arya manggut-manggut, namun sedetik kemudian Marissa membuka suaranya lagi.
"Si Arya kok ga ikut jemput sih, udah tahu hari ini Rissa keluar dari rumah sakit bukannya gimana kek," sungut Marissa kesal.
Semua orang akhirnya paham penyebab pendiamnya Marissa.
"Urusan apaan sih sampe ga bisa jemput segala!"
"Pokoknya urusan penting yang gak bisa ditinggalin, Sayang," ucap Pak Aga lagi.
Mendengar itu Bu Aga dan Papa Arya hanya senyum-senyum saja. Seolah sudah tahu urusan penting apa yang dimaksud.
Tanpa terasa perbincangan mereka membuat waktu berjalan sangat cepat, dan waktu perjalanan juga seperti dekat jaraknya. Tau-tau mobil yang mereka naiki sudah terparkir di depan rumah Arya.
Marissa dibantu oleh Bu Aga saat turun dari mobil. Sedangkan Papa Arya sibuk mengetik sesuatu didalam ponselnya.
Mereka berempat pun serempak jalan menuju pintu besar rumah milik keluarga Arya.
Ini adalah saat yang mendebarkan bagi Papa Arya, Pak Aga dan Bu Aga. Tapi tidak dengan Marissa yang tidak tahu apa-apa, karena saat pintu dibuka...
"SURPRISE!!!"
Sebuah kejutan membuat bengong wajah Marissa. Bunyi terompet dan ucapan selamat datang bergema di ruangan itu. Semua asisten rumah tangga sibuk meniupkan terompet dan menaburkan kertas mengilat di udara.
Sedangkan Arya sibuk membawa sebuah kue tart dibantu oleh Mamanya yang menjaga lilin supaya tetap menyala.
Marissa bingung tapi terharu. "Loh ada apa ini? Hari ini kan bukan ulang tahun Rissa," pekiknya aneh namun juga bahagia.
"Memang bukan hari ulang tahunmu sayang, tapi kami membuat ini sengaja untuk merayakan kembalinya kamu dari rumah sakit. Setelah apa yang menimpa kamu dan melihat kondisi kamu sekarang, ini seperti kehidupan kedua yang diberikan padamu maka dari itu kami wajib merayakannya," ucap Mama Arya senang.
"Oia, ini idenya Arya loohh.." sambung Mama Arya lagi dengan senyum lebar dan mata berkaca-kaca.
Bukan hanya Mama Arya saja yang seperti itu, suaminya dan Pak Aga pun sama, apalagi Bu Aga yang sudah banjir air mata lalu memeluk dan menciumi wajah putri satu-satunya itu.
"Selamat datang kembali ya Nak. Mama gak mau ya dengar atau lihat kamu kenapa-kenapa lagi," rengek Bu Aga sebagai ibu yang melahirkannya. Tergurat cemas yang begitu mendalam diwajah Bu Aga.
Marissa menitikkan air mata, bibirnya bergetar. Dia tidak sanggup berkata apa-apa hanya mengangguk-angguk dengan semangat.
__ADS_1
Melihat Bu Aga seperti itu, Pak Aga juga ikut memeluk dan mencium Marissa. "Anakku yang cantik, dengar yah kata-kata mamamu tadi, Papa juga tidak mau kamu kenapa-kenapa. Ke depannya lebih jaga diri lagi dan jadikan semua sebagai pelajaran. Kamu boleh jadi orang baik terhadap orang lain, tapi jangan lupa untuk baik juga kepada dirimu sendiri. Jaga diri, jangan mudah percaya sama orang ya Nak," pesan Pak Aga.
Lagi-lagi Marissa tak dapat bersuara hanya mengangguk sambil menangis sesenggukan.
Tak lupa juga dengan Papa Arya yang ikut memeluk menantunya itu, "Menantuku yang cantik dan satu-satunya, Papa juga berharap kamu baik-baik saja. Tidak boleh terjadi hal seperti ini lagi. Papa sudah anggap kamu sebagai anak sendiri. Kalau kamu sakit Papa juga sakit, kalau kamu kenapa-kenapa gimana perasaan Papa, Nak. Jadi Papa juga harap kamu lebih mawas diri. Yang lalu biarlah berlalu, untuk masa depan berusahalah segala sesuatu yang terbaik ya Nak. Yang penting kamu sehat dan baik-baik saja sudah cukup bagi Papa," mendengar itu Marissa malah menangis makin keras.
Bu Aga ikut sibuk menenangkan Marissa sambil mengelus punggungnya cepat-cepat.
Mama Arya juga cepat-cepat menghampiri Marissa dan memeluknya, membuat Arya jadi kewalahan memegang kue sekaligus menjaga lilin.
"Mama juga berpesan supaya kamu gak kenapa-kenapa lagi ya Nak. Apalagi sekarang kamu tinggal disini bersama kami, untuk kedepannya kalau ada apapun yang kamu inginkan atau masalah yang kamu hadapi kamu boleh cerita pada Mama jika kamu merasa berat dan tidak sanggup bercerita kepada Mama atau Papamu sendiri. Bukan berarti Mama ingin mendahului kedua orang tuamu, tapi Mama tidak ingin kamu merasa sendiri lagi. Anggap saja Mama sebagai temanmu disini ya Nak," kata Mama penuh perhatian.
Marissa mengangguk-angguk masih terisak.
"Umm.. maaf semuanya, sepertinya ini lilin harus segera ditiup karena sudah banyak meleleh," sela Arya tak kuat lagi menahan kue. Tangannya terasa pegal.
"Oohh iya iya, Nak. Ayo tiup dulu lilinnya," ajak Mama Arya.
"Tunggu sebentar!" sela Papa Arya. Semua mata yang terkejut tertuju padanya.
"Kita semua sudah memberikan pesan, kamu sebagai suami sekaligus penanggung jawab acara ini masa tidak mau kasih ucapan sedikit pun?" tanya Papa Arya pada anaknya.
"Ah, itu nanti saja Pa, sekarang sudah waktunya tiup lilin keburu lelehannya makin banyak," dalih Arya.
"Ah lelehannya ga sampai bikin kuenya ga bisa dimakan ini kok. Sini gantian Papa aja yang pegang, kamu kasih ucapan dulu sama istrimu," paksa Papa Arya sambil merebut kue ditangannya tanpa persetujuan Arya. Meski tidak setuju sekalipun, ya Arya mau tidak mau harus menurutinya. Lagipula akan terlihat kekanakan kalau Arya menolaknya.
"Aduh, harus bicara apa aku.." pikir Arya bingung karena di agendanya tidak ada bagian yang seperti ini.
"Mmhh.. Marissa.."
Marissa menghapus air mata di pipinya lalu menatap Arya lekat-lekat.
"Selamat datang kembali ke rumah ini. Sama seperti yang lainnya, aku harap kamu gak akan kenapa-kenapa lagi. Jangan bertindak gegabah, kurang-kurangin galak dan sarkas kamu. Selalu mawas diri, jangan asal ngatain orang, bersikap sedikit lembut sama orang lain. Jangan gampang terjerumus sama omongan orang, harus cari tau dulu pastinya sebelum kamu melakukan sesuatu. Semoga semua yang terjadi kemarin jadi pembelajaran agar tak terulang kembali dimasa mendatang. Dan satu lagi.. Aku harap kamu tetap sabar dan tabah karena kehilangan bayi yang selama ini kamu jaga dengan baik. Mungkin segitu aja dari aku," tutup Arya. Segitu saja dan sempat bingung awalnya, tapi nyatanya dia yang berucap paling banyak, dan diantara semuanya hanya Arya seorang yang berani memberi dukungan atas gugurnya janin milik Marissa.
Semua orang tua disana bukan tidak mau membicarakannya, hanya saja mereka mewanti-wanti supaya Marissa tidak teringat lagi pada kesedihannya itu.
"Nah.. gitu dong.. itu baru menantuku.." ucap Pak Aga senang sambil menepuk pundak Arya.
"Nak, dengerin dan ingat semua yang diomongin oleh suamimu tadi ya.. Jika sulit katakanlah pasti Arya juga akan sedia membantumu," kata Pak Aga lagi.
Arya yang mendengar itu hanya mesem-mesem saja meski dia merasa aneh. Untuk apa Arya bantu Marissa lagi kalau kontrak mereka akan segera usai.
"Sekarang sudah bisa kan tiup lilinnya?" tanya Arya ingin buru-buru supaya tak ada ucapan lagi yang harus dia rangkai didepan semuanya.
"Ehh.. tunggu dulu," cegah lagi Papa Arya yang jujur saja membuat Arya kesal.
"Apalagi sih Pa?" membuat Arya frustasi.
"Masa abis kasih nasihat panjang lebar gitu gak kamu rangkul dan cium istrimu?" goda Papa. Dan disambut riang oleh yang lainnya.
Marissa bahkan sampai nge-blush dibuatnya. Tapi berbeda dengan Arya yang langsung panik dan mendadak panas kepalanya. Bukannya selamat dari harus mengeluarkan rangkaian kata, ini malah lebih parah dari itu!
"Apa-apaan sih Papa ini malu-maluin aja!" jeritnya.. dalam hati.
"Ta-tapi," Arya terbata.
"Ayolah Nak, tunjukkan kegentlean-mu," Papa Arya malah semakin memojokkan anaknya.
Arya yang bingung di pojokan untuk mendekati Marissa dan merangkulnya. Perasaan aneh menjalar dalam tubuhnya. Satu sudah beres, tubuhnya sudah mendekat dan merangkul wanita didepannya itu, dan kini tinggal intinya yaitu mencium kening Marissa.
Dengan perasaan aneh, Arya mendekatkan bibirnya di pucuk kening Marissa, beberapa centi lagi hampir mendarat. Wajah Marissa memerah dia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Arya di keningnya.
Arya semakin mendekat, makin mendekat.. dan...
***
__ADS_1