
"Arista! Ada yang cari kamu tuh!" bisik seorang teman yang sama-sama shift malam memberitahu Arista.
"Katanya dia gak mau pesan apa-apa kecuali di layani sama kamu!"
"Sama aku? Maksudnya.. kenapa? Dia kenal denganku?" tanya Arista serius.
Temannya mengangkat bahu. "Tau dah! Udah sana samperin aja. Daripada kabur itu pelanggan ketiga kita," suruh temannya lagi.
Arista segera bergegas menemui orang yang dimaksud. Untungnya malam ini kafe agak sepi karena hujan terus mengguyur dari sore hari. Hal itu membuat pekerjaan Arista dan rekannya lebih senggang dari biasanya.
Aneh, siapa yang nyari ya? Pikir Arista heran karena bagi dia tak ada satupun yang dia kenal tahu kalau dia bekerja disini kecuali keluarganya sendiri, dan tentu saja Arya.
Apa jangan-jangan yang cari aku itu si Arya? Tebak Arista bingung. Tapi dia salah besar, kesalahannya itu bahkan membuatnya lebih terkejut. Mengapa dari semua orang harus ada dia yang datang mencari Arista? Dan bagaimana bisa dia tahu Arista kerja di sini?
"Dokter Indra?!" pekik Arista tertahan, bahkan tanpa sadar dia menutup mulutnya dengan tangan.
Indra yang duduk sambil menopang kaki di kursi paling ujung menyapa Arista dengan lambaian tangannya. Lalu melipat keduanya di depan dada. Andai banyak wanita disana pasti sudah bersorak ria. Sikapnya yang seperti itu pasti akan tampak keren apalagi di dukung dengan wajahnya yang mirip artis Korea.
Arista mendadak merasa jantungnya sakit. Dia deg-degan parah. Bukan karena dia terlena akan sosok Indra yang rupawan, tapi dia tahu kedatangan Indra ke sini pasti dengan maksud tertentu! Pasti dia ingin menagih hutangnya pada Arista! Padahal kalau dulu Arista tidak asal ceplos tak mungkin dia punya hutang sekarang!
"Dok-dokter Indra, ada apa ya cari saya?" mendadak kalimat yang terucap dari bibir Arista menjadi formal. Keringat dingin membanjiri tengkuknya. Bahkan gajian masih seminggu lagi, gimana cara dia membayar kalau Indra menagihnya sekarang?
"Sini duduk!"
"Ta-tapi saya sedang bekerja," tolak Arista.
Indra celingak-celinguk. "Sepertinya tak ada pelanggan, hanya satu orang di dekat pintu sedang ngejar tugas pakai wifi gratis. Jadi ku pikir kamu punya waktu senggang untuk kita bicara sebentar?"
"Ta-tapi.."
Indra berdiri dari duduknya menuju meja kasir dan menanyakan siapa leader untuk shift malam. Lalu meminta ijin untuk bicara sebentar dengan salah satu karyawannya.
"Sudah diijinkan!" seru Indra saat kembali ke tempat duduknya.
"Ayo duduk. Ada sesuatu yang harus dibicarakan."
"Kalau soal hutang, saya belum ada uang sekarang. Saya baru ada uang nanti minggu depan pas gajian, jadi dokter bisa menunggu sampai hari itu. Saya juga tidak akan kabur. Mengapa dokter harus mengejar saya sampai ke tempat kerja saya?"
Indra mengernyitkan keningnya lalu tertawa terbahak.
__ADS_1
"Kamu lucu sekali Arista, haha! Saya ke sini bukan untuk nagih hutang. Tapi kalau kamu berpikir seperti itu, yaaa sudah akan saya anggap juga seperti itu."
Arista berkenyit tak mengerti.
"Kamu bilang akan membayar minggu depan?"
Arista mengangguk.
"Tapi saya tidak bisa menunggu selama itu," ucap Indra mengejutkan Arista membuatnya mengangkat kepala hingga mereka saling tatap.
"Saya mau kamu bayar besok."
Arista terperanjat. "Besok? Saya gak punya uang! Saya sudah bilang kan akan bayar minggu depan! Dokter bener-bener lagi butuh uang banget ya sampai segitunya ngejar saya!"
Indra tersenyum dan mengangguk. "Saya sangat butuh uangnya besok."
"Dokter miskin atau kenapa sih? Mana ada dokter yang nagih hutang sama orang yang lebih miskin darinya. Kemarin juga kan itu saya hanya asal ngomong, kok diseriusin sih!"
Indra mengangkat bahu. "Itu salah kamu sendiri."
Arista kesal. "Terserah dokter mau bilang apa, tapi yang jelas saya tidak punya uang untuk membayar!"
"Kalau tidak bisa membayar dengan uang, mungkin bisa dengan cara yang lain?" saran Indra memancing Arista.
"Saya tidak menerima tawaran seperti itu. Saya akan bayar dengan uang sesuai perjanjian," tolak Arista tegas.
"Tapi saya ingin kamu membayarnya besok. Kalau tidak mau ya kita pergi saja melangkah ke jalur hukum atas dasar penipuan. Kamu pelaku dan aku korbannya." kata Indra merasa semua keputusan Arista berada digenggamannya.
Mendengar kata hukum membuat Arista menjadi gentar. Dia tidak mau berurusan dengan hukum. Tapi dia juga tidak punya teman yang bisa diminta tolong untuk meminjamkan uangnya. Satu-satunya teman yang terlintas dalam benaknya hanya Arya. Tapi Arista tidak bisa juga meminjam lagi padanya karena sebelumnya Arista sudah punya hutang dari biaya perawatan Chicha.
Apakah Arista harus terima saja tawaran Indra untuk membayar bukan dengan uang? Tapi dia mau apa? Apakah dicoba saja dulu?
Setelah proses berpikir yang panjang, akhirnya Arista memutuskan untuk menerima tawaran Indra tadi.
"Oke. Kalau saya gak bisa bayar dengan uang, saya bayar dengan yang lain. Tapi dengan apa?" tanya Arista.
"Apapun yang aku minta bakal kamu ikuti?"
Arista menelan ludah. Ada perasaan takut menggerogoti dadanya. "Oke. Apapun akan saya ikuti, asal bukan membunuh orang. Yakali hutang 5 juta cuma buat ngebunuh orang!"
__ADS_1
Indra tertawa mendengarnya. "Tentu saja bukan itu yang saya inginkan. Hanya saja.., apakah kamu masih perawan?" Arista membelalakkan mata atas pertanyaan tabu yang baru saja didengarnya.
"Mengapa dokter bertanya seperti itu?" tanya Arista geram, tangannya mengepal menahan rasa ingin menampar.
"Mmhh.. Bukankah tadi kamu berkata akan lakukan apapun yang saya minta," Arista menelan ludahnya lagi, pertanyaan itu seperti bumerang baginya, dia harap dia tidak akan mendengar permintaan Indra seperti apa yang dipikirkannya sekarang.
"Apakah kamu juga akan memberikan keperawananmu bila ku minta?" Arista hampir menangis mendengarnya. Matanya terasa panas. Dia mencoba menghirup nafas dalam-dalam mencoba tenang.
"Bagaimana kalau saya sudah tidak perawan?" tanya Arista memainkan strategi berharap ada penawaran lain untuknya.
"Wah! Itu malah lebih bagus! Bukankah kamu tidak akan canggung kalau aku meminta kamu tidur bersama denganku?" senyum Indra penuh makna.
Arista salah tingkah, matanya gerak-gerik liar. Dia panik dan ketakutan. Laki-laki ini sepertinya tidak waras dan mata keranjang! Arista harus menemukan jawaban yang tepat untuk keluar dari obrolan biadab ini.
"Kalau begitu, saya menarik kesepakatan saya tadi. Anggap saja saya tidak bicara apapun pada dokter," katanya akhirnya, "saya pastikan akan membayarnya besok apapun caranya. Dan sekarang saya masih ada pekerjaan, saya permisi."
Arista hendak berdiri tapi tiba-tiba Indra tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya memenuhi ruangan, bahkan pengunjung wifi gratisan terlihat sedikit melompat dan melihat ke arah mereka. Teman kerja di bagian kasir pun ikut menengok ke arah mereka membuat Arista malu.
"Arista.. Arista.. Kamu pikir aku sebejat itu?"
"Maksud dokter apa sih?!" tanya Arista tak suka.
"Tanpa kamu bilang pun aku tahu kok.." Indra berdiri mendekatkan kepalanya pada Arista "kamu itu masih perawan," bisiknya.
Arista menautkan alisnya, menatap sinis Indra.
"Maksudku.. Kamu ini gadis polos sekaligus ganas yang tak mungkin memberikan hal seperti itu pada sembarang lelaki diluar nikah. Tapi ya hal itu cuma diri kamu sendiri yang tahu benar atau tidaknya, jadi tolong koreksi jika aku salah," goda Indra. Arista hanya diam kesal dan malas berkata meskipun yang dikatakan Indra memang benar.
"Dan maksudku kamu tak perlu bayar hutang dalam bentuk uang adalah dengan cara kamu memberikan bantuanmu terhadapku, dan bantuan itu yang jelas bukan untuk hal-hal diluar normal seperti yang kita bahas tadi. Saya tidak akan meminta keperawanan, tidur bersama dan sebagainya. Hal-hal seperti itu adalah privasi kamu, dan saya tidak berhak."
"Tapi tadi mengapa anda membahasnya?"
Indra mengangkat bahu. "Entahlah. Ingin mengetahui kamu aja, dan penasaran bagaimana reaksi kamu kalau aku menggoda kamu seperti itu." senyum picik Indra membuat Arista ingin menjambak rambutnya.
"Lagipula aku tidak bisa menerima uang sebanyak itu hanya untuk mengobati luka di lenganmu dulu. Yang aku mau kamu hanya perlu membalas budi atas jasaku dulu. Gimana? Gampang kan?" sambung Indra lagi.
"Jadi intinya bantuan apa yang dokter inginkan?" tanya Arista tak sabar ingin langsung ke intinya saja.
"Jadilah kekasihku untuk sehari."
__ADS_1
Arista membelalakan mata selebar-lebarnya hampir melompat dari tempatnya sambil mulutnya menganga tak percaya. "Hahhhh?!"
***