Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Akhirnya Ketemu


__ADS_3

Indra berjalan cepat menyusuri mall dan mencari sebuah restoran yang dimaksud oleh Marissa. Patokannya adalah stand es krim di pinggir pagar pembatas.


Indra mengamati sekitar sambil celingukan. Setelah dia berhasil naik ke lantai dua, ketika itu pula matanya mendapati sebuah tulisan dari stand es krim yang dicarinya.


Marissa bilang, sebelum sampai ke sana Indra akan melewati restoran tersebut dan di sanalah mereka melihat Arista sedang bekerja sebagai pelayan. Tapi meski begitu Marissa masih sanksi kalau itu memang Arista atau bukan karena saat pulang mereka tidak lewat resto itu lagi melainkan putar arah sambil jalan-jalan keliling mall.


Indra juga jadi ragu awalnya tapi Arya berkata kalau dia yakin kalau yang mereka lihat memang benar Arista. Dia juga mendorong Indra supaya cepat menemui Arista karena kan sebelumnya mereka sempat berselisih paham dan Indra juga pernah menyatakan perasaannya terhadap Arista.


Arya yang sangat peduli pada Arista sebagai teman terbaiknya itu pasti mendorong hubungan mereka berdua. Mau bagaimana pun Arya ingin hanya hal-hal baik saja yang datang dalam hidup sahabatnya itu. Dan Arya tau kalau Indra adalah orang yang tepat karena dia juga sesama laki-laki jadi bisa menilai keseriusan Indra terhadap Arista.


Hanya saja Arya tidak bisa membantu lebih dari ini, dia tidak mau ikut campur banyak takut istri tercintanya ini jadi salah paham lagi. Bisa jadi brabe kan, apalagi sedang hamil begini.


Dengan perasaan H2C alias harap-harap cemas Indra memasuki restoran tersebut. Baru selangkah dia menapaki kakinya saat itu pula langkahnya terhenti ketika matanya mendapati sosok Arista sedang mengantarkan makanan ke sebuah meja dan ajaibnya lagi Arista pun melihat Indra.


Andai terkejutnya Arista itu lebay pastilah sudah jatuh semua makanan di tangannya sekarang. Untung saja dia bisa bersikap profesional meski wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya kalau dirinya bisa ditemukan oleh Indra.


Dengan cekatan Arista meletakkan makanan tersebut sembari memeriksa kelengkapan pesanan sedangkan Indra duduk di salah satu kursi kosong.


Setelah dari mengantar makanan itu Arista buru-buru kembali ke dapur, untung saja ada satu rekan kerjanya yang ambil bagian untuk melayani Indra. Betapa leganya dia saat itu.


Pikirannya benar-benar gundah, Arista heran bagaimana Indra bisa menemukannya padahal dia sudah berusaha pergi sejauh yang ia bisa. Dia bahkan rela pulang pergi dalam perjalanan dua jam dari rumah ke tempat kerjanya sekarang tapi tetap saja bisa ditemukan Indra itu rasanya seperti segala usahanya jadi sia-sia!


Kalau ditanya kenapa Arista tidak sewa tempat tinggal saja? Jawabannya adalah itu tidak mungkin dan sangat tidak efektif mengingat harga sewa yang mahal di daerah ini apalagi dengan yang gaji pas-pasan. Jika Arista memaksa cari tempat tinggal di daerah itu sama saja seperti kerja hanya untuk menyambungkan hidup yang artinya semua gaji hanya digunakan untuk bayar sewa dan makan sampai gajian lagi bulan depan nantinya.


Indra segera memesan makanan yang tidak terlalu berat. Sambil menunggu makanannya dia bolak balik memperhatikan arah dapur. Arista mau tidak mau pasti akan keluar dari sana untuk kembali bekerja. Itu pun jika Arista tidak kabur lagi dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja seperti sebelumnya. Maka dari itu Indra harus selalu waspada dan pasang mata.


Berjam-jam dia duduk di sana sampai jadi bahan gunjingan karyawan restoran, meski tidak julid secara terang-terangan tapi ya tetap saja risih sekali kan kalau ada seorang pelanggan ambil sebuah meja yang mana pesannya tidak seberapa tapi antrian pengunjung lainnya banyak dan silih berganti. Tidak terlalu masalah jika tempat itu kosong, tapi sangat merugikan jika situasi sedang ramai dan banyak pengunjung yang memerlukan tempat untuk makan juga.

__ADS_1


Indra yang paham situasi itu dan sudah terlatih juga semenjak Arista masih kerja di Kimochi Cafe pun memakai jurusnya seperti biasa, yaitu memesan lagi makanan atau minuman jika habis demi menunggu jam pulang Arista.


Arista sendiri pun ikut risih melihat sikap Indra yang masih saja seperti itu. Apalagi ini tempat kerja barunya dia yang mana tak ada satu orang pun yang tau kalau Arista itu mengenal Indra.


Arista sebenarnya ingin pergi dari sini, tapi tuntutan pekerjaan mencegahnya melakukan hal itu karena saat tanda tangan kontrak tertera bilamana dia mengundurkan diri sebelum habis masa kerja maka Arista wajib membayar denda, dan itu tidak kecil. Apalagi status dia sekarang masih seorang pegawai training.


"Untung ganteng, kalau enggak udah gue benyek-benyek tuh orang!" celetuk salah satu pegawai mencibir Indra tepat di depan Arista.


Arista yang tidak mau urusan jadi panjang memilih untuk diam saja mendengar ocehan seniornya. Kalau Arista menunjukkan gelagat mengenal Indra, bisa-bisa dia ditegur atasan bahkan dimusuhi oleh rekan-rekan kerja lainnya.


Semakin malam mall semakin sepi, para pengunjung yang lalu lalang pun makin berkurang hingga tak terlihat sama sekali.


Suasana restoran itu sunyi seketika, para pegawai malah kebingungan. Laki-laki yang tak lain adalah Indra itu kenapa masih duduk di sana bukannya pergi? Padahal kan restoran mau tutup!


"Itu orang ngapain sih di sana mulu? Gak pergi-pergi?" tanya seorang kasir pada rekan kerja yang sudah siap bersih-bersih dengan sapunya.


"Hani, kamu kasih tau pelanggan itu biar pergi, bilang restoran mau tutup!"


"Siap, Kak!" jawab pegawai bernama Hani menuruti perintah seniornya. Tapi Arista yang mendengar itu langsung mencegah dan menawarkan diri untuk mengambil tugas tersebut.


Arista ragu jika Hani meminta Indra pergi bagaimana jika si Indra malah bilang sedang menunggu Arista sampai pulang kerja? Ucapan seperti itu akan sangat membahayakan Arista nantinya. Apalagi sedari tadi Arista hanya diam saja menanggapi keluhan para rekan kerjanya soal Indra yang nyongclo di sana sendirian dan tidak pergi-pergi juga tapi didiamkan saja oleh Arista, kesannya jadi kayak yang sengaja kan!


"Kamu berani Arista?" tanya si senior.


Arista mengangguk, "Berani kok, Kak!" jawabnya mantap. Tentu saja berani orang dia kenal Indra. Meskipun nantinya Arista harus bicara langsung pada Indra, dan usahanya melarikan diri ini menjadi sia-sia. Tapi apa salahnya? Arista kan tidak melakukan kesalahan, kenapa juga dia harus melarikan diri lagi? Dia hanya perlu menegaskan kembali perihal hubungan mereka supaya Indra tidak mencarinya lagi seperti saat ini.


"Hadeuhh.. Tau aja cowok ganteng lu! Awas jangan sambil digodain!" ledek Hani.

__ADS_1


Arista hanya tersenyum simpul. Dalam hati padahal dia juga ogah-ogahan mesti godain Indra, orang yang sudah menyakiti hatinya.


Arista mendekati meja Indra membuat laki-laki itu tersedak saat sedang menyeruput minumannya yang tinggal setengah.


Indra hendak berdiri namun Arista memberikan kode supaya dia duduk saja demi menghindari kecurigaan.


Arista bersikap sopan namun sengaja berbicara dengan mengecilkan suaranya. Dia bersandiwara seolah sedang menegur pelanggan dengan sopan namun nyatanya kata demi kata yang dia lontarkan terdengar sebaliknya.


"Kamu gila ya ada disini? Ini tempat kerjaku, kamu mau hancurin hidupku? Cepat pergi dan jangan buat kesan seolah kamu mengenalku. Kami sudah telat untuk tutup restoran dan ingin pulang tapi kamu malah membuat kami menunggu karena kamu tidak kunjung pergi. Jadi sekarang silahkan pergi dengan tenang!" ucap Arista sambil membungkukkan badannya seolah bersikap sopan.


"Aku tidak mau pergi begitu saja. Aku ke sini untuk bertemu denganmu. Setidaknya biarkan kita bicara dulu," Indra memohon, wajahnya tampak memelas.


Arista mendesah. "Kamu tunggu saja aku di pintu masuk utama. Kita bicara setelah aku pulang."


"Aku bisa percaya pada kata-katamu kan? Kamu tidak akan pergi diam-diam tanpa sepengetahuanku lagi?"


Arista panik karena percakapan mereka berlangsung lama dari yang dia kira. Dia bahkan sempat menoleh kepada para senior dibelakangnya yang diam-diam memantau dari kejauhan.


"Kalaupun aku diam-diam pergi kamu pasti akan datang lagi ke sini besok, lusa dan lusa besoknya lagi. Aku tidak ingin mengambil resiko yang merusak reputasiku karena aku tidak bisa pergi begitu saja dari sini. Sistem kerja di sini berbeda dengan tempat kerjaku dulu. Aku harus bayar pinalti kalau mengundurkan diri sebelum waktu yang sudah ditentukan dalam kontrak. Jadi kamu tenang saja aku tidak akan menipumu dan pergi tanpa kamu tau," Arista bicara sambil menatap Indra tajam.


Indra mengerti tatapan itu seperti tatapan tak sabar menunggu dia untuk segera pergi dari tempatnya sekarang.


"Baik, aku akan tunggu kamu di bawah, di pintu utama. Jadi jangan coba-coba kabur begitu saja. Aku akan tetap di sana sampai kamu datang," ucap Indra setuju lalu bergegas merapikan barangnya dan pergi setelah membayar semua makanan yang dia pesan.


Para pegawai disana tampak berseru lega. Rupanya anak baru seperti Arista bisa juga diandalkan.


***

__ADS_1


__ADS_2