Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Tertolak


__ADS_3

Pesta malam ini sangatlah seru! Semua memuji daging panggangan Arya.


Mbak Ani yang ikut liburan pun bahkan tambah berkali-kali daging tersebut dan terus menerus memuji Arya. Dia juga sampai mengkhayal kalau dia ingin punya suami seperti Arya dan bilang sirik dengan Marissa karena beruntung menikahi Arya yang mana hal tersebut membuat semua orang tertawa. Bahkan Marissa yang ikut mendengarnya jadi tersipu malu.


Selesai makan mereka lanjut memutar musik untuk berdansa, adapula yang karaoke. Lucunya Mbak Ani yang memiliki bakat terpendam bisa jadi MC di acara malam itu. Semua tampak happy karena suasana benar-benar seru.


Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam yang mengharuskan semua istirahat kembali ke kamar masing-masing.


Sesuai ucapannya tadi pagi, Arya mengambil satu bantal dan menaruhnya di lantai.


"Loh, kenapa itu bantal taro di bawah?"


"Kan tadi sudah ku bilang kalau aku akan tidur di lantai," jawab Arya hendak merebahkan dirinya.


"Tunggu dulu! Lu tidur di sini aja!"


Perasaan Arya jadi geli mendengar ucapan Marissa. Apakah dia mengizinkan kami tidur di ranjang yang sama? bisik Arya dalam hati.


"Lu gak perlu tidur di bawah! Saking gak maunya tidur seranjang sama gue sampai segitunya! Udah biar gue cari kamar lain aja!"


Arya jadi malu sendiri. Rupanya tadi Marissa menyuruh tidur di kasur karena dia mau pindah ke kamar lain bukan berarti ingin bersama tidur bersama. Arya sadar kalau mereka sudah salah paham. Marissa pikir Arya tidak ingin seranjang dengannya, begitu pula sebaliknya, Arya pun berpikir kalau Marissa lah yang tidak mau seranjang dengan dirinya.


Marissa menyeret kopernya keluar kamar tanpa permisi sama sekali pada Arya untuk mencari satu persatu kamar yang masih kosong. Karena ini vila milik keluarga nya jadi dia hapal letak-letak kamar ada dimana saja. Namun ada yang aneh! Dia sudah coba masuki kamar yang sekiranya kosong satu persatu tapi mengapa semuanya terkunci?! Aneh bukan?


"Ah, ini pasti ulah Papa nih yang ngebet banget pengen gue sekamar sama si Arya! Udah gini mau gimana lagi, coba ke Mbak Ani aja ah!"


Marissa pergi ke kamar Mbak Ani yang sekamar dengan seorang asisten lainnya bernama Dina.


"Mbak.. buka Mbak!" seru Marissa sambil mengetuk pintu.


Marissa hampir meloncat ketika Mbak Ani buka pintu karena mukanya penuh masker berwarna putih.

__ADS_1


"Bikin kaget aja Mbak Ani!"


"Heheheh, maaf atuh Kak. Kenapa juga Kakak malam-malam ke sini bukannya tidur?"


Marissa diam dulu sejenak mengumpulkan urat malu yang harus di buang olehnya.


"Boleh numpang tidur di sini nggak, Mbak?" tanya Marissa malu-malu.


Mbak Ani terkesiap lalu meneliti koper yang berdiri tegak di belakang Marissa.


"Ooohhh tidaakk bisaaa.." ucap Mbak Ani bernada, "di kamar ini kan sudah ada Mbak Ani sama Mbak Dina dan kasurnya cuma satu pula, lagian lebih kecil dari kasur kamar utama. Tidak mungkin kan ditambah satu orang lagi tidur di sana? Bisa-bisa kayak pindang ngelemper deh kita!" tolak Mbak Ani mentah-mentah.


Marissa kesal, kok ada sih ART yang begini sama istri majikannya? Beda lagi dengan pikiran yang ada di kepala Mbak Ani. Dia teringat jelas kata-kata Papa Arya yang sempat dia ejek sebelumnya.


"Kalau di vila nanti Arya atau Marissa datang ke kamar kamu buat numpang tidur, harus kamu tolak ya! Pokoknya berikan alasan apapun supaya mereka kembali ke kamar mereka sendiri," ucap Papa Arya masih terngiang-ngiang di benak Mbak Ani. Sebelumnya Mbak Ani merasa lucu tapi ternyata ucapan itu benar adanya. Dia makin heran sama pasangan ini, tidak di rumah tidak di sini kenapa keduanya tidak mau satu kamar dan bersatu dalam satu selimut? Kan enak, anget!


'Uh, mereka tidak tau nikmatnya bercinta apa? Sama! Mbak Ani juga gak tau! Hihihi!' ejek Mbak Ani dalam hati, 'hah, dasar jomblooo.. jombloo..' umpatnya ngenes pada diri sendiri.


"Udah ah, Kak. Lebih baik Kakak kembali saja ke kamar tidur bersama suami Kakak. Lagian kan sudah sah kenapa mesti harus pisah ranjang mulu sih? Mau ngejek kami yang jomblo ini ya?"


Mbak Ani sedikit mendorong Marissa keluar supaya dia bisa menutup pintu kamarnya, "Sekarang Kakak kembali ke kamar ya, Mbak Ani sama Dina mau istirahat cape kerja seharian. Sayang juga kan ini masker retak-retak kalau bicara terus sama Kakak!" ucapnya sambil menutup pintu hingga akhirnya tertutup.


Di balik pintu yang sudah tertutup itu Mbak Ani bersyukur sekali sampai-sampai hampir menitikan air mata. Rasanya seperti memenangkan awards karena aktingnya yang luar biasa. Dina yang baru kembali dari toilet terheran-heran sama sikap Mbak Ani yang tidak wajar itu.


Marissa menggeret kembali kopernya menuju kamar dia sebelumnya. Dia frustasi kenapa semua kamar bisa terkunci di saat seperti ini sih?


"Ini pasti kerjaan para orang tua yang sok-sokan mau comblangin anak-anaknya nih!" oceh Marissa kesal.


Tanpa terasa dia sudah ada di depan pintu kamarnya lagi. Mau tidak mau Marissa harus masuk ke dalam kan? Tapi, langkahnya begitu berat. Nyalinya jadi ciut karena malu. Sebelumnya Marissa sok sokan pergi cari kamar lain tapi sekarang malah kembali lagi karena gagal mendapatkan kamar kosong tersebut! Kalau tiba-tiba balik lagi seperti ini, maluuuu kan sama Aray?!


Marissa berpikir sejenak kemudian memarkirkan kopernya di depan kamar. Ada satu kamar lagi yang belum dia cek. Benar! Kamar Mang Inos, penjaga vila!

__ADS_1


Hah? Marissa mau tidur bareng Mang Inos? Bukan! Bukan!


Marissa mau minta Mang Inos buat buka kamar yang terkunci itu. Secara, Mang Inos ini kan penjaga vila pasti semua kunci dia punya.


Dengan langkah riang juga penuh harap Marissa pergi ke kamar Mang Inos di bawah. Akhirnya dia menemukan jalan keluar!


Sedikit berlari akan mempercepat usahanya. Marissa pun sampai lalu mengetuk kamar Mang Inos.


"Mang..! Mang..! Ini Rissa, mau minta tolong sesuatu."


Hening. Tidak ada jawaban sama sekali, bahkan suara derap langkah dari dalam kamar pun tak terdengar.


"Apa Mang Inos tidak ada di kamarnya ya?" tanya Marissa pada dirinya sendiri.


Tapi dia tidak mau putus asa terus berusaha mengetuk pintu itu lagi. Namun nihil! Hasilnya tetap sama. Marissa bahkan nekat menggerakan knop pintu kamar Mang Inos namun ternyata terkunci. Pasti benar Mang Inos sedang tidak di kamarnya. Ke mana ya kira-kira? Apa Mang Inos sedang keluar?


"Coba ku cari saja kali ya di taman belakang siapa tau Mang Inos masih merapihkan tempat bekas pesta barbeque tadi?"


Dengan keputusan yang di buatnya sendiri, Marissa pun pergi menuju taman belakang untuk mencari Mang Inos.


Sambil melihat segala penjuru Marissa memanggil-manggil nama Mang Inos tapi tak ada jawaban sama sekali.


Ketika dia hendak berbalik ke dalam vila lagi matanya menangkap sesuatu yang aneh di dalam kolam. Suara kecepak-kecepak kecil mengganggu telinganya. Dia penasaran apa yang ada di sana lalu buru-buru Marissa pergi memeriksa.


Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seekor kucing tercebur ke dalam kolam dan berusaha berenang namun tidak bisa.


"Loh aneh kok kucing gak bisa berenang? Apa dia terluka ya?" tanya Marissa. Semakin lama kucing itu seperti hilang kekuatan. Melihat itu membuat Marissa refleks menceburkan diri ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan kucing tersebut.


Tinggal sedikit lagi Marissa bisa menggapainya! Dan hap! Kucing itu kini berada di tangan Marissa tapi gerakannya yang meronta membuat Marissa jadi kewalahan.


"Awww!" pekik Marissa merasakan perih cakaran di leher sebab kucing tersebut tidak mau diam.

__ADS_1


Bagaimana bisa gue kembali ke daratan kalau ini kucing berontak terus? Apa gue lempar aja ya dia ke pinggir kolam baru gue renang ke sana?


***


__ADS_2