Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Renungan


__ADS_3

"Tapi ini sangatlah tidak bisa di biarkan Marissa! Mereka malah hidup bahagia dengan uang itu setelah menghancurkan hidupmu! Kamu terima itu?!" tanya Bu Aga kesal.


Marissa hanya terduduk diam tidak berani menjawab, bagaimana pun dia juga manusia biasa yang bisa merasa kecewa. Tapi jika dia tidak mengikhlaskan semua itu maka semua keburukan yang telah menimpanya tidak akan berakhir. Baginya saat ini adalah menutup masa lalu dan membuka lembaran baru. Ini tentu tidak mudah bagi Marissa tapi pasti tidak akan mudah juga bagi anak-anak Mika terutama bagi anaknya yang paling besar. Dengan alasan seperti itu Marissa menjelaskan lagi kepada mamanya.


"Bu Aga tenang saja, meski Mika menerima uang tersebut tapi kami sudah punya bukti perjanjian yang menjamin kalau wanita itu tidak akan menggangu Mika lagi. Dan Bu Aga tidak perlu khawatir karena meski kami terlihat mengikuti permintaan Mika, tapi sebenarnya kami sudah melacaknya dan kini telah mendapatkan posisinya, kami tidak akan melepas Mika begitu saja. Dan benar seperti apa yang dikatakannya, dia pergi keluar negeri bersama anak-anaknya menuju Taiwan. Entah apa yang akan dilakukannya disana, tapi setidaknya dia sudah menepati semua ucapannya sesuai surat perjanjian yang sudah kami buat," sela Papa mencoba bicara.


Diselingi juga oleh Arya yang menjelaskan tentang surat perjanjian tersebut. Meski waktu pertemuan dengan Mika di restoran hampir tidak berjalan sesuai rencana, karena waktu itu Arya yang saking khawatirnya sehingga melupakan kendati surat perjanjian tersebut. Dia bahkan harus mengejar Mika sampai ke parkiran setelah diperingati oleh Pak Irwan yang diam-diam mengintai. Untungnya Mika seperti tidak peduli dan langsung tanda tangan begitu saja, itu pasti karena dia ketakutan bilamana dia tiba-tiba di sergap dari segala arah.


Dan sosok Pak Irwan inilah yang memiliki jasa menemukan Mika. Beliau jugalah kenalan yang dimaksud sebagai teman Papa yang ikut membebaskan Marissa dari gedung terbengkalai waktu itu.


Marissa menganga tak mengerti. Kok bisa Papa punya kenalan seperti itu? Marissa bahkan kaget karena diam-diam keluarga Arya menyelidiki Mika padahal perilaku mereka seolah mengikuti keinginan Mika untuk tidak melaporkan pada polisi atau siapapun. Atas pertanyaan itu Papa menjelaskan sosok Pak Irwan sahabatnya ini adalah salah satu detektif swasta yang hebat. Lalu bercerita panjang lebar hingga Marissa akhirnya paham mengapa semua terasa mengalir begitu saja bahkan Mika pun sepertinya tidak sadar.


Bu Aga menghembuskan nafas berat. "Baiklah, saya sudah mendengarkan semua penuturan kalian. Untuk uang yang sudah di keluarkan termasuk jasa detektif itu tinggal kalian hitung saja nanti akan saya bayar."


Bagi Bu Aga hutang adalah hutang.


Bagi Marissa pun sama.


Apalagi Bu Aga telah menyadari semua kejadian ini ada kesalahan Marissa juga. Melihat apa yang dilakukan oleh keluarga Arya, rasanya uang 3M itu tidaklah cukup dia kembalikan untuk menggantikan nyawa putrinya. Ah, mungkin nanti dia akan meminta suaminya untuk memberikan uang tersebut dua kali lipat.


"Tidak apa-apa Bu Aga. Marissa juga kan anak kami. Dia ini istri Arya. Uang itu tidak setara dengan keselamatan Marissa," lihat! Papa pun berpikir demikian, "lagipula ini juga keteledoran kami dalam menjaganya, jadi sudah sepatutnya kami melakukan itu sebagai orang tua dan keluarga, jadi uang tersebut tidak perlu di bayar kembali."


Bu Aga menelan ludah. Meskipun kaya raya, tapi tetap saja baginya 3 Miliar itu bukan uang yang sedikit.

__ADS_1


"T-tapi, Pak, bagaimana mungkin uang sebanyak itu tidak kami kembalikan?" Bu Aga ternganga.


Papa senyum. "Tidak apa, yang penting sekarang Marissa baik-baik saja, dan semoga saja ke depannya masalah seperti ini tidak akan ada lagi."


Semua hening. Apakah keputusan Papa ini tulus atau ada tujuan lain? Masa bisa-bisanya memberikan uang sebanyak itu untuk orang yang bahkan tak ada status sah sebagai menantu keluarganya. Tapi Arya dan mamanya sudah tidak heran lagi dengan sifat Papa yang baik seperti ini.


Saat matahari hanya menyisakan sinar kemerahan, saat itu Pak Aga datang. Wajahnya yang sedikit sangar menekuk tatkala melihat Marissa tertidur di ranjang. Tak kuasa Pak Aga memeluk membuat Marissa terkejut dan terbangun dari tidurnya.


Di sana hanya ada Bu Aga dan Mama karena Papa juga Arya harus pergi mengurus pekerjaan.


Tampak raut wajah marah dari wajah Pak Aga. Dia bahkan membentak istrinya karena tidak bisa menjaga Marissa dengan baik. Tapi Marissa buru-buru melerai dan bilang kalau itu kesalahannya sendiri karena telah tertipu untuk mengikuti Mika. Setelah dijelaskan panjang lebar, Pak Aga juga tak luput dari keterkejutan masalah uang 3M yang diberikan oleh Papa Arya. Bahkan uang tersebut tak perlu dikembalikan.


Besoknya mereka merayakan kepulangan Marissa dari rumah sakit dengan pesta barbeque di halaman belakang rumah Arya. Tepat di sebelahnya ada kolam renang, Marissa duduk di pinggiran sambil memasukkan kedua kaki dan berayun.


"Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Arya.


Marissa mengangkat bahu. "Entahlah.Tidak bisa disebut baik juga tidak bisa disebut buruk."


"Mengapa seperti itu?"


Marissa menggeleng tak tahu. "Gue hanya lagi kepikiran sesuatu. Meskipun rasanya lega saat Mika pergi, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati."


"Hal mengganjal? Apakah itu?"

__ADS_1


"Elu Arya!" spontan Marissa bicara tak sabar.


"Hah? Kok aku sih?" Arya terkekeh, "memangnya kenapa?"


"Setelah dipikir-pikir apakah kita cerai saja?"


Arya tidak salah dengar karena sesuatu tiba-tiba seperti menghujam jantungnya.


"Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu yang paling ngebet sama pernikahan ini?" tanya Arya heran.


"Waktu gue di culik gue tersadar akan sesuatu. Rasanya gue nyusahin lu doang selama pernikahan ini. Lagipula benar kata Mika, pernikahan ini hanya kebohongan tapi kenapa lu terus aja keseret masalah gue yang jelas gak ada hubungannya sama lu."


Arya diam tak berani menjawab, takutnya salah bicara.


"Kita cerai aja. Nanti gue yang bilang sama Papa. Lagipula percuma pernikahan ini diteruskan kalau tidak ada cinta diantara kita, ya kan? Dan untuk masalah uang 3M itu, gue udah minta Papa untuk menukarnya dengan saham perusahaan. Jadi ke depannya kita tidak ada hubungan apalagi selain bisnis dan kerjaan."


Setelah bicara seperti itu Marissa berdiri dan pergi tanpa menunggu tanggapan Arya. Sedangkan Arya masih berdiam diri disana, mencerna kata-kata Marissa yang dirasa aneh.


Arya diam memikirkan kata cinta yang dimaksud oleh Marissa. Apa karena Arya tidak mau membuka hati untuknya jadi membuat Marissa menyerah? Karena baik Arya dan Marissa tahu kalau di sini hanya Marissa saja yang mencinta. Mungkinkah dia lelah dengan sikap Arya yang selalu dingin padanya, ditambah lagi Marissa yang terus saja menimbulkan masalah dan membawa Arya ke dalamnya?


Arya melihat langkah Marissa makin menjauh. Perasaan ditinggal seperti ini mengapa terasa menyakitkan? Apakah setelah perceraian, perasaan ini akan lebih menyakitkan?


***

__ADS_1


__ADS_2