Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Duduk di Bangku yang Lembap


__ADS_3

Semua orang pergi ke kamar Arya untuk menjeguk. Papa yang masih memasang wajah cemberut usil menoel hidung Arya membuatnya terbangun.


"Kamu kenapa tiba-tiba sakit begini?" Arya menggeliat lemah, tersadar banyak pasang mata sedang memperhatikannya. Dia hendak duduk namun di larang oleh Mama untuk tetap berbaring saja.


"Itu karena..." Marissa menutup mulut Arya supaya tidak menceritakan kejadian malam itu.


"Harusnya kamu jangan sakit ketika liburan begini Arya!" sindir Papa kesal, "kalau sakit kan jadi susah.." sambungnya lagi dengan suara pelan namun enggan melengkapi kalimatnya.


"Susah bikin anak, gitu ya kan Pak?" tanya Bu Aga cekikikan. Tumben sekali Bu Aga mau bercanda hal macam itu.


Papa garuk2 kepala sambil nyengir manggut-manggut.


"Hah bikin anak? Itu ide gila, Ma! Dan tidak mungkin akan terjadi!" Marissa panik menutup mulut dengan kedua tangannya.


Bu Aga mendelik. "Loh kenapa tidak mungkin? Kalian kan pasangan sah suami istri."


"Tentu saja tidak mungkin karena Rissa akan cerai dengan Arya!" jawab Marissa akhirnya keceplosan. Tapi dia tidak menyesal karena memang dari awal dia ingin memberitahukan hal ini, hanya memang menunggu waktu yang tepat saja.


"Kamu gila ya!?" bentak Bu Aga marah.


Marissa tersentak, mulutnya langsung rapat.


"Setelah apa yang Arya lakukan dan berikan padamu selama ini, kamu malah minta cerai? Apa Mama tidak pernah mengajari kamu cara berterima kasih?" Marissa mendesah. Dia tidak habis pikir dengan Mamanya sendiri.


"Ma," Marissa menatap kedalaman mata Bu Aga, "Rissa tau cara berterimakasih, karena itulah Rissa harus melepaskan Arya secepatnya. Sudah cukup Rissa membebani Arya dengan semua masalah Rissa. Dan sudah cukup juga dengan kontrak pernikahan ini. Bukankah janji kita hanya sampai Rissa melahirkan? Tapi nyatanya saat ini Rissa sudah tidak memiliki bayi itu lagi, jadi apa yang mesti di tunggu? Maka dari itu Rissa ingin kami pisah supaya tidak ada yang tersakiti lagi baik itu Rissa maupun Arya," jelas Rissa membuat semua orang gugup.


Arya yang terbaring lemah hanya bisa menelan ludah dan menatap langit-langit kamar saja.


"Sudah, sudah. Lebih baik kita diskusikan hal ini lain kali saja. Kasihan kan Arya sedang sakit, yang ada makin sakit dia kalau melihat kita ribut-ribut seperti ini," lagi-lagi Mama Arya menengahi.


Marissa keluar dari kamar itu dengan wajah yang kesal. Di ikuti oleh Bu Aga namun bukan untuk mengejar anaknya melainkan ingin laporan kepada suaminya, Pak Aga.


Malam datang begitu cepat, Marissa kembali lagi ke kamar dengan wajah cemberut. Seharian ini dia habiskan waktu keliling vila dan nongkrong di cafe sekitar vila. Sebenarnya dia tidak ingin menghindari masalah pagi tadi, hanya saja rasanya malas jika harus memperdebatkan segala sesuatu yang sudah jelas juntrungannya.

__ADS_1


Ketika Marissa masuk kamar, Arya sedang duduk di atas kasur menunggu kepulangannya.


"Kamu benar-benar ingin bercerai?" tanya Arya tidak basa-basi.


"Udah jelas kan?" jawab Marissa seraya menutup pintu.


Arya diam saja, padahal jantungnya berdebar tak karuan. Dia tau kalau keputusan Marissa tidaklah salah namun entah mengapa hatinya tidak mau setuju dengan hal itu.


"Kamu mau jalan-jalan ke puncak vila? Kata Bu Aga di atas sana pemandangan kota di malam hari terlihat sangat indah," Arya mencoba mengalihkan topik.


"Ogah, malas amat! Lagian baru aja nyampe malah di ajak jalan!" seru Marissa menyilangkan lengannya.


"Baiklah kalau tidak mau. Tadinya ku pikir setidaknya ini jalan-jalan untuk terakhir kalinya kita bersama," mendengar ucapan Arya tersebut membuat hati Marissa jadi sakit.


Hubungan ini benar-benar tidak ada harapan, pikir Marissa.


Baiklah, setidaknya ini akan jadi kenangan mereka terakhir. Pasti setelah berpisah mereka tidak akan bertemu lagi satu sama lain dan pastinya akan menjalani kehidupan masing-masing.


"Yaudah! Pakai jaket lu, di luar dingin!" ucap Marissa perhatian meski kaku.


Mereka berjalan kaki ke dataran yang lebih tinggi karena mobil sulit di akses ke sana sebab jalan yang sempit. Sepanjang jalan keduanya hanya berdiam diri saja, tak ada pembicaraan sama sekali. Yang mereka dengar hanya tiupan angin atau suara anak kecil menangis di dalam rumah atau anak kecil pergi ke warung naik sepeda bersama temannya.


Mereka terus berjalan beriringan dalam kesunyian. Tiba-tiba Marissa teringat sesuatu.


Bukannya Arya lagi sakit?! Harusnya kan dia istirahat sekarang, kenapa gue malah mengiyakan ajakan dia ini sih?! Ah, jadi kikuk gini deh perasaan! rintihan hati Marissa menjerit dalam dada.


Marissa khawatir dengan keadaan Arya namun gengsi untuk menunjukkan perhatiannya. Tidak mungkin juga dia tiba-tiba mengajak pulang setelah berjalan cukup lama.


Tidak ada pilihan lain selain terus berjalan kan? Marissa jadi berangan, andai saat ini mereka berjalan bisa sambil bercerita, bersenda gurau dan saling merangkul dari angin dingin yang menyelimuti mereka. Tapi apa daya, kedua orang ini sama-sama bingung dan membisu.


Tibalah mereka di puncak yang di maksud oleh Arya. Ini adalah spot terbaik yang Marissa tau sepanjang dia berlibur ke daerah ini.


Ada sebuah bangku kayu di sana, bangku itu sedikit basah karena lembap. Tapi kaki yang sudah lelah ini tidak bisa lagi di ajak untuk kompromi mencari tempat duduk bersih lainnya, jadi mereka pun duduk di bangku tersebut.

__ADS_1


Bangku itu terletak di pinggir jalan dengan posisi depan belakang tak ada sandaran. Jadi siapapun bisa duduk bebas mengarah ke manapun mereka suka. Tapi kali ini Marissa mengajak Arya untuk duduk menghadap pemandangan kota di dataran bawah. Sedangkan di belakang mereka adalah jalan umum yang biasa di lalui orang meski malam ini sudah sepi minim sekali yang lewat.


Marissa menghirup udara segar, sebuah senyum mengembang di wajahnya saat dia menatap ribuan lampu menyala di daerah kota di dataran bawah yang jauh dari tempatnya berada.


Arya ikut tersenyum. Seketika dia membuka mulutnya untuk bicara.


"Kamu serius ingin bercerai?"


Marissa menoleh, "Gue bukan orang yang suka bercanda untuk hal seperti itu. Ya jelas lah serius!"


Arya mendesah. Ragu-ragu dia berkata tapi hatinya terus mendorong untuk mengungkapkan semua perasaannya.


"Tapi aku tidak mau," ucapnya lemah.


Marissa mendelik tak percaya. "Loh? Kenapa? Bukannya selama ini lu yang ngebet cerai?"


Arya diam sembari berpikir. "Iya sih. Tapi itu dulu, kalau sekarang..." Arya menghentikan ucapannya. Dia tidak yakin untuk berkata lebih lanjut.


"Sekarang apa?" tanya Marissa, rasa penasaran yang selalu tidak pernah bisa di rem olehnya.


"Kayaknya..."


"Iya? Kayaknya?"


"Kayaknya.. aku..."


"Aku apa? Lu kenapa sih? Tinggal ngomong doang ribet amat!" murka Marissa akhirnya memuncak saking tidak sabarnya mendengar pengakuan Arya.


Arya menghela nafas. "Kayaknya aku mulai menyukaimu," jawab Arya malu.


Kepala Marissa seolah melayang. Rasanya ada ribuan kembang api meledak-ledak di udara. Hari ini bukan perayaan pesta kembang api, tapi di mata Marissa, langit luas dengan pemandangan kota seolah menerbangkan letusan kembang api segala warna. Rasanya indah sekali.


Wajah Marissa memerah, bingung harus bersikap bagaimana.

__ADS_1


***


__ADS_2