
"Arista yang di Singapura itu ya Mah?" tanya Papa mengingat nama tersebut.
"Loh kok di Singapura sih, Pa? Orang cewek yang namanya Arista itu ada di daerah sekitar sini. Kerja di kafe. Lagian tadi Rissa asal ngomong aja loh kalau cewek itu cinta pertama Arya. Ternyata bener ya, hahaha," ujar Marissa memberi tahu sambil tertawa.
"Hmmm dasar, jadi kamu cuma ngasal doang ternyata," kata Papa pada Marissa "jadi Arista udah pulang ke sini, Nak? Kok kamu ga cerita sama kita?" tanya Papa kini pada Arya.
"Udah, Pa. Tapi belum lama ini," jawab Arya singkat.
"Papa dan Mama juga kenal sama Arista?" tanya Marissa penasaran.
"Masa kita ga kenal sama cinta monyetnya Arya. Ahahaha." Papa tertawa mengingat hubungan kedua anak ini.
"Cinta monyet? Mereka pernah pacaran, Pa?" tanya Marissa antusias.
"Bukan pacaran sih, tapi lebih tepatnya sama-sama suka tapi sekedar cidaha, cinta dalam hati saja hahaha." Papa tertawa lebar meledek kenangan masa lalu milik Arya.
Papa membenarkan posisi duduknya untuk menceritakan sebuah kisah yang masih dia ingat dalam kepalanya. "Jadi ceritanya dulu waktu jaman SMA Arya ketahuan rusakin jam tangan pemberian Papa sebagai kado ulang tahunnya. Ketika jam itu sedang dibetulkan, tau-taunya Arya pulang pake jam yang sama tapi KW. Papa kaget dong terus tanya itu dari mana lalu Arya jawab jujur ceritain kalau itu dari Arista, cewek yang dia bantuin waktu kecebur ke sungai." Papa pun menceritakan kronologi lengkapnya bagaimana kejadian tersebut terjadi kepada Marissa.
"Sampai akhirnya Arista pergi ke Singapura untuk kuliah tapi sebenarnya dia tidak kuliah. Mungkin karena kangen, Arya jadinya diam-diam selidiki Arista karena tak ada kabar sama sekali darinya selama disana. Hingga sebuah kebenaran akhirnya terkuak. Kalau diingat-ingat, kasihan sekali anak itu. Sudah lolos masuk universitas di Singapura tapi malah di kekang tantenya agar tidak kuliah dan di perbudak kerja disana hingga kesempatan berharga masuk universitas itu akhirnya sirna. Arya marah saat mengetahuinya, lalu dia pun memberi tahu kami agar mau membantu Arista secara diam-diam. Kami pun setuju, kami bantu Arista dengan berbagai cara dan kemampuan kami. Tapi apa daya, tantenya mengancam akan melaporkan kami dan bilang akan membakar paspor Arista sehingga dia tidak bisa pulang lagi ke Indonesia. Arya yang tak ingin membuat Arista malu karena kami tau keadaannya saat itu, sampai detik ini dia masih menyimpan rahasia itu bahwa sebenarnya Arya sudah tahu Arista tidak kuliah disana," terang Papa dengan wajah nanar menjelaskan peristiwa itu.
"Loh, kan kalau paspor rusak atau hilang bisa diurus di kantor imigrasi, Pa?" tanya Marissa merasa aneh.
"Benar sekali, Nak. Tapi bagaimana kami membuatkan paspor baru kalau tantenya itu juga memegang semua berkas kependudukan Arista. Orang itu bahkan berniat menuduh kami sebagai penculik keponakannya padahal penculik sebenarnya adalah dirinya sendiri. Karena itu kami gak bisa berbuat apa-apa lagi, tak ada bukti juga yang memperlihatkan kekerasan dari tantenya, maka dari itu juga agar kami bisa tetap memantau Arista, sesekali Papa meminta kenalan yang tinggal disana untuk selalu mengecek keadaan Arista, bahkan kabar terakhir Arista sempat kerja pabrik sebelum pulang ke sini, entah bagaimana tantenya berubah pikiran untuk melepas Arista kembali lagi kepada keluarganya."
"Oo.. gitu Pa. Tapi ada yang aneh deh," Marissa memegang dagunya seperti sedang berpikir.
"Kalau Papa selalu mengawasi Arista, dan Arya sebenarnya menyimpan rasa dengan Arista. Kenapa selama itu dia malah jatuh cinta pada Raya bukannya nungguin Arista pulang aja?" tanya Marissa tak habis pikir.
"Ga usah banyak tanya. Semua ini terjadi begitu saja," jawab Arya singkat, malas sekali untuk meladeni kekepoan Marissa.
Papanya tertawa kecil paham apa yang diinginkan oleh Arya untuk tak memberi tahu apapun lagi mengenai apa yang ditanyakan oleh Marissa. Papa pun menaikkan tuas rem di mulutnya agar tidak melanjutkan sebuah cerita yang diketahuinya. Mungkin suatu saat biar Arya sendiri sajalah yang menceritakannya ketika dia mau.
"Masa iya terjadi begitu aja sih! Ah, dasar main rahasia-rahasiaan lu! Ga seru! Tapi gue penasaran deh, terus sekarang si Arista itu udah jujur belum sama lu kalau selama ini dia bohong ga kuliah disana?" tanya Marissa pada Arya makin kepo.
"Belum. Mungkin berat bagi dia untuk menceritakan kebenarannya. Lagian ga ada hak aku juga buat tanya-tanya hal yang dirahasiakan bagi dirinya. Kamu hati-hati ya jangan sampai bilang macam-macam atau keceplosan kalau suatu hari nanti ketemu sama dia," Arya memperingati.
Marissa tersenyum manggut-manggut mencerna cerita yang didapatkannya padahal dalam hatinya dia merasa puas setelah mendengar cerita ini seolah baru saja memakan sebuah senjata yang disebut 'rahasia' untuk dia jadikan rudal dikemudian hari saat dia membutuhkannya nanti.
"Kamu juga Papa perhatikan masih aja pake jam tangan darinya, Nak. Jam itu berharga banget kayaknya buat km ya?"
"Mmm.. Arya suka aja Pa sama jam ini, kalau ga pake jam ini rasanya ada yang kurang aja karena udah kebiasaan," jawab Arya entah jujur atau hanya alasan saja.
Marissa jadi aneh. "Biasanya cowok-cowok tuh doyan banget ganti-ganti jam. Cowok miskin kayak Tio aja suka banget ganti jam. Lah elu malah pakein terus jam itu-itu aja sampe butek. Aneh deh." Marissa memicingkan matanya memperhatikan jam tangan yang melingkar di lengan kiri Arya.
Tanpa terasa mobil sudah ada di parkiran rumah sakit selama mereka berbincang. Mereka pun turun satu persatu lalu bergegas mencari kamar Raya.
Kamar Raya hanya diperuntukkan untuk satu orang pasien saja alias kamar VIP, sesampainya di kompleks ruangan itu Arya melihat suasana disana tampak lengang sekali karena tak banyak orang mondar mandir seperti kamar-kamar kelas biasa lainnya.
Mereka juga datang tepat di jam untuk besuk.
"Masuk Pa, masuk kemari. Aduhh repot-repot udah datang ke sini," ucap Om Randy sungkan tapi senang menyambut kedatangan keluarga Arya.
Di tempat tidur pasien tampak Raya yang dibantu oleh mamanya berusaha untuk duduk menyambut kedatangan mereka. Dan tampak di sofa panjang ada seorang anak kecil sedang terbaring, matanya terpejam tertidur pulas.
"Raka bobo ya tante?" tanya Arya tersenyum melihat betapa lucunya Raka yang tertidur sambil membuka mulutnya, menggemaskan.
__ADS_1
"Iya, Nak. Baru banget tadi dia tidurnya," jawab Ibu Raya, Tante Randy tersenyum walau wajahnya tampak lelah.
Namun senyuman Tante Randy tadi itu mendadak datar saat menyadari ada Marissa mengekor dibelakang Arya.
Arya yang peka langsung memperkenalkan Marissa kepadanya.
"Ini istri saya, seperti yang Tante sudah tahu sebelumnya. Namanya Marissa, mungkin ini kali pertama ya Tante bertemu dengannya?"
"I-iya, Nak. Ini kali pertama kami bertemu," jawab Tante ragu. Wajahnya tampak pucat seperti mendadak masuk angin. Atau mungkin malah seperti baru lihat setan.
Marissa menundukkan kepalanya untuk menyapa Tante Randy, begitu juga dengan Tante Randy balas menyapa Marissa dengan sama menundukkan kepalanya.
Raya yang melihat adegan itu lantas membuang muka sambil berjengit hidungnya seperti orang mau bersin. Raya muak melihat Marissa disana.
"Gimana kondisi kamu sekarang, Raya?" tanya Mama lembut sekali bahkan sambil mengusap kepala Raya.
Entah bagaimana, Raya yang diperlakukan seperti itu lantas meneteskan air mata sepersekian detik kemudian lalu entah bagaimana juga tiba-tiba dia memeluk perut Mama yang berdiri disampingnya sambil menangis sesenggukan. Air matanya yang keluar banyak itu sampai membasahi baju Mama.
Ada perasaan bingung juga kasihan, Mama juga merasa tak enak pada Raya dan orangtuanya jika menolak pelukan ini, lantas Mama balas memeluk Raya, menepuk punggungnya dan membelai kepala Raya dengan penuh kehangatan. "Kamu sabar ya, Nak. Mungkin ini cobaan. Kamu harus kuat menghadapinya!" belai Mama memberikan penghiburan.
"Ehhheh. Ini jelas karma loh Ma, bukan cobaan," sindir Marissa dengan nada pelan. Meski begitu, semua orang diruangan itu dapat mendengarnya.
Arya merangkul pinggang Marissa dan diam-diam mencubit pinggulnya. Marissa menjerit.
"Aw! Kamu kenapa sih!" tanya Marissa kesal.
Semua yang disana menatap pasangan itu. "Hehe maaf Om, Tante, Marissa berisik ya. Tadi ga sengaja Marissa keinjek kakinya," ujar Arya beralasan. Mendengar itu Marissa menaikkan sebelah bibirnya tak percaya.
Om dan Tante Randy tersenyum tertahan memaklumi. Sedangkan Papa dan Mama malah menjadi canggung dibuatnya.
Marissa memutar bola matanya lalu cemberut.
"Jadi kapan Raya bisa pulang, Pak?" tanya Papa kepada Om Randy guna memecah suasana suram.
"Mungkin beberapa hari lagi sampai kondisi Raya sudah pulih total," jawab Om Randy.
"Kamu udah makan?" tanya Mama melihat piring makan Raya masih belum tersentuh sama sekali.
Raya geleng-geleng.
"Anaknya ga nafsu makan dari kemarin, padahal gimana mau sembuh kalau makan aja ga mau," keluh Tante Randy dengan wajah sedih. Tampak lingkaran hitam di bawah matanya.
Mama senyum maklum. "Mau Tante suapin?" tawar Mama membuat Marissa mengernyitkan dahinya kaget.
Raya tersenyum manis sekali walaupun dengan bibirnya yang pucat berwarna abu-abu. Lesung pipi yang dulu disukai Arya masih tampak mempesona.
Najis! Kesenangan banget tu anak, batin Marissa.
Marissa sampai berpikir kalau bibir Raya yang berwarna abu-abu itu seperti sudah dibedaki sebelumya agar terlihat pucat sehingga siapapun yang melihatnya akan menjadi kasihan.
Karena kesal Marissa duduk disofa lainnya yang ternyata sudah ada Arya disana. Sedangkan Papa tampak sibuk berbincang dengan Om Randy dan Mama tentu saja sedang menyibukan diri dengan menyuapi Raya yang ditemani oleh Tante Randy.
"Aneh sih, nyokap lu jauh-jauh dateng hanya buat nyuapin anak ga tau diri itu doang. Buang-buang waktu banget deh," kata Marissa setengah berbisik pada Arya.
"Ssttt!" Arya menaruh jari telunjuk dibibirnya. "Kamu kok ngomong gitu, nanti kalau di dengar bagaimana?" bisik Arya.
__ADS_1
"Ya ga apa-apa dong kalau didengar malah bagus kan! Biar anak gila itu tau diri," balas Marissa yang juga berbisik.
Raya yang sibuk makan diam-diam memperhatikan mereka. Dia tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi dimatanya hubungan pasangan kontrak ini terlihat semakin intens. Membuatnya iri, cemburu dan menyesal.
"Ayah," panggil Raya.
Om Randy mendekat. "Iya kenapa, Nak?"
"Raya punya satu permintaan sama Ayah, boleh?" tanya Raya sambil berusaha menelan makanan di mulutnya. Tante Randy menegakkan minuman padanya sebelum dia mulai bicara lagi.
"Permintaan apa, Nak? Bilang aja apa yang kamu butuhkan?" tanya Om Randy lagi.
"Raya ga butuh apa-apa kok, Yah. Raya cuma mau minta tolong izinin Raya bicara berdua aja sama Arya, boleh kan?"
Arya membelalakan mata, Marissa mengernyitkan dahinya lebih dalam dari sebelumnya sampai alisnya tampak bersatu. Papa dan Mama saling tatap.
"Mau bicarakan apa, Nak?" tanya Om Randy segan karena dia tak enak hati untuk mengabulkan permintaan Raya kalau bukan Arya sendiri yang memberikan izinnya.
"Sesuatu yang hanya bisa Raya bicarakan berdua saja dengan Arya," jawab Raya. Wajahnya yang pucat tampak memelas. Arya galau, dia kasihan pada Raya tapi baginya semua situasi ini sudah jelas sekali, rasanya tak perlu ada yang harus dibicarakan lagi dengan Raya. Tapi, entah mengapa Arya teringat kembali dengan hilangnya bayi Raya yang malang itu, alasan mengapa Raya bisa ada ditempat ini.
"Tidak apa-apa Om kalau Raya mau bicara dengan saya. Mungkin bagi Raya ini sebuah omongan yang dirasa privasi diantara kita berdua. Saya ga masalah kalau harus bicara dengannya," kata Arya memberikan izinnya.
"Ohh tidak bisa!" cegat Marissa cepat.
"Kalau lu mau bicara sama Arya, harus ada gue juga dong! Gue ga mau suami tersayang gue di hasut-hasut sama lu nantinya," ucap Marissa nyeplos begitu saja.
Kuping Raya seperti tersengat. Hatinya gondok mendengar ocehan Marissa.
"Aku ga mau ada dia, aku hanya mau bicara sama kamu aja Arya," pinta Raya dengan suara lemah.
Kesal. Marissa mengernyitkan hidungnya sambil bertolak pinggang bangkit menuju Raya, tapi Arya menghadang tubuh Marissa dengan tangannya.
Arya menatap Raya lalu mengangguk, "Marissa kamu tunggu aja diluar sama Mama Papa ya. Aku bakal bicara sebentar doang kok sama Raya,"
Marissa cemberut lalu kembali duduk karena tak mau pergi. Terpaksa Arya menggaet lengan Marissa agar beranjak dari tempat dudukya. Papa dan Mama juga ikut membujuknya agar mengikuti perkataan Arya hingga akhirnya mau tak mau Marissa pun nurut.
Sambil keluar Marissa bicara setengah teriak, "Arya kalau lu di apa-apain sama dia teriak aja yang kenceng, tenang aja lu ada dirumah sakit ini kalau kenapa-kenapa bisa langsung dibawa cepet ke IGD. Teriak aja jangan lupa!" ujar Marissa sambil mengintip kebelakang karena ada Mama yang merangkul pundaknya mengajak keluar ruangan.
Raka yang mendengar ocehan Marissa itu jadi terbangun dari tidurnya dan akhirnya dia juga ikut keluar diajak oleh Tante Randy untuk meninggalkan Arya dan Raya agar dapat bicara berdua saja didalam kamar tersebut.
Arya memperhatikan satu persatu dari mereka keluar kamar, bahkan dia sempat melambaikan tangan pada Raka yang menoleh ke belakang sambil mengucek matanya, masih mengantuk.
Setelah semua keluar dan pintu tertutup, Arya langsung bertanya pada Raya.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Arya tanpa basa-basi, dia berdiri diujung tempat tidur Raya.
Tapi bukannya menjawab, Raya malah turun dari tempat tidurnya lalu berjalan menghampiri Arya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Arya panik.
Raya tidak menjawab lagi tapi dia berjalan tertatih untuk mendekati Arya dan hal mengejutkan pun terjadi!
Tanpa minta persetujuan Arya terlebih dahulu, Raya tiba-tiba memeluknya.
***
__ADS_1