
Arya sedang menatap layar komputernya dengan serius saat ponselnya berdering. Fokusnya terpecah, segera dia lihat siapa yang menelepon dan mengganggu konsentrasinya saat ini. Dan tertulis sebuah nama yang tak asing lagi di layar ponsel tersebut. Papa.
Arya tau alasan Papa menelepon. Pasti karena dia meninggalkan Marissa tadi. Arya menghela nafas, menyiapkan diri untuk mendengar omelan Papa.
"Ya.. Halo, Pa?"
"Arya!!" kan bener. Dari suara aungannya sudah dipastikan Papa akan menerkam Arya karena masalah Marissa tadi.
"Iya, Pa. Kenapa?" Arya mencoba santai dan pura-pura tidak tahu.
"Kamu pulang sekarang!"
"Kenapa sih, Pa? Kalau masalah Marissa tadi.."
"Marissa di culik! Kita gak tau dia dimana sekarang! Papa minta kamu pulang secepatnya saat ini juga!"
'Aduhh Papa ini. Segitunya mau ngomelin sampai ngarang cerita segala. Ini pasti akal-akalan si Marissa nih!' pikir Arya supaya dia panik dan segera pulang. Tapi Arya tidak mau percaya mengingat betapa sekongkolnya Marissa dan Papanya itu.
"Udah ah, Pa. Gak usah ngarang cerita begitu hanya supaya Arya datang ke sana. Kalau tentang masalah tadi pagi yang Arya ninggalin Marissa, nanti saja Papa ngomelin Aryanya. Sekarang Arya sedang sibuk sama keluhan klien dari Surabaya. Papa juga kapan datang ke kantor udah siang gini? Mentang-mentang bos datang se.."
"Ya ampun ini anak dibilangin! Papa lagi serius ini malah dianggap ngarang cerita. Masalah keluhan klien dari Surabaya itu bisa dialihkan ke manajer marketing! Ini masalah serius menyangkut nyawa Marissa. Istri kamu! Cepat pulang sekarang!"
'Apaan sih. Ya kali Marissa di culik! Sama siapa? Kayak bocah aja bisa diculik-culik gitu,' pikir Arya masih sanksi dan berusaha menggunakan nalarnya.
__ADS_1
"Halo, Arya?" tiba-tiba ada suara Mama di balik telepon sana.
"Yang Papamu katakan itu benar, Nak. Marissa di culik oleh seorang wanita entah siapa tadi saat akan berangkat sewaktu baru keluar dari gerbang."
Arya menekan kedua matanya dengan jari merasa konyol. Mengapa kedua orang tuanya seperti ini? Mamanya pun sampai ikut-ikutan sekongkol untuk berbohong? Aduhhh.. Arya tak habis pikir.
"Masa bisa sih, Ma? Kan ada satpam di pos. Kok bisa di culik pas baru keluar gerbang? Lagian Marissa pasti di antar supir. Gak mungkin nyetir sendiri dengan keadaan masih sakit seperti itu."
"Aduh kamu ini kok gak percayaan banget! Marissa memang di antar supir. Tapi kata supir kita Pak Deni tadi ada seorang wanita pakai masker dan jaket hitam tiba-tiba meloncat ke depan mobil mereka. Dengan cekatan dia juga berhambur menggedor jendela di samping tempat duduk Marissa sambil buka maskernya. Lalu Marissa spontan menyebut nama Mika. Setelah itu Marissa keluar dari mobil dan entah mengapa bilang sama supir kalau dia akan pergi dengan wanita itu,"
Tunggu sebentar. Mendadak Arya mengingat sebuah kejadian yang dialaminya pagi tadi. Sama persis seperti yang Marissa alami, dia juga hampir menabrak seorang wanita dengan ciri-ciri yang sama. Memakai masker dan mengenakan jaket hitam, dia juga tiba-tiba melompat ke depan mobilnya setelah beberapa meter keluar dari gerbang. Tapi anehnya wanita itu hanya diam sambil menatap tajam ke dalam mobil dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Bahkan saat Arya keluar mobil hendak menanyakan keadaannya, entah bagaimana wanita itu sudah pergi tidak tahu ke mana. Apa jangan-jangan wanita tersebut adalah orang yang sama? Dan supir itu bilang kalau Marissa sempat menyebut nama Mika? Bukankah Mika yang dia kenal itu Mika istri Tio mantan pacar yang menghamili Marissa? Jadi garis besarnya, mungkinkah Mika memang sudah mengincar Marissa makanya matanya hanya fokus mencari dalam mobil Arya dan pergi begitu saja karena tidak ada Marissa disana?
"Kenapa Mama bilang itu penculikan? Bukannya Marissa ikut atas kemauannya sendiri?" tanya Arya memastikan.
"Awalnya kami pikir juga begitu. Tapi Pak Deni bilang ada yang aneh sebelum mobil yang dinaiki Marissa dan orang bernama Mika itu pergi. Entah mengapa wanita itu membuang tas Marissa keluar dari jendela dan pergi begitu saja, seolah Marissa sudah dibuat untuk tak sadarkan diri. Karena mana mungkin Marissa diam saja saat barangnya dibuang begitu saja kan? Dan setelah melihat itu Pak Deni langsung inisiatif mengambil tas Marissa lalu mengejar mereka, namun dia kehilangan jejak saat di perempatan lampu merah. Karena itu buru-buru Pak Deni lapor sama Mama dan Papa. Pokoknya kamu cepat datang saja ke sini! Lebih jelasnya biar kami ceritakan saat kamu sudah di sini!"
"Lalu bagaimana dengan Pak Aga? Apakah sudah di beri tau?"
"Kamu kan tau sendiri Nak, Pak Aga itu sekarang lagi di Shanghai. Kami belum berani menghubungi mereka. Tapi ini Papa lagi minta tolong sama kenalannya seorang detektif. Dan saat ini juga Papa akan pergi ke kantor polisi untuk membuat keterangan bersama Pak Deni sebagai saksinya. Makanya kamu cepat pulang sekarang!"
"Baik, Ma. Arya akan pulang ssekarang juga"
Setelah telepon terputus Arya langsung bergegas pulang ke rumah.
__ADS_1
Ini beneran atau hanya prank seperti yang sudah-sudah? Sambil menyetir mobil Arya teringat suara Marissa yang menyerukan kata "Surpriseee!".
Kata itu terngiang-ngiang di benaknya. Tapi dari sikap Papa dan Mama yang panik seperti itu, ini pasti betulan kan?
Ah. Andai saja ini hanya prank, ini akan jauh lebih baik mengingat siapa Mika sebenarnya. Istri sah Tio yang dia rebut suaminya. Meskipun tanpa tahu Tio sudah beristri, tetap saja kenyataan tak bisa dipungkiri kalau Marissa itu adalah seorang pelakor, faktanya dia memang berpacaran dengan suami orang! Dan disini Mika status istri yang dikhianati sudah pasti menyimpan dendam kepada Marissa. Arya yang mengerti situasi seperti itu jadi takut sesuatu terjadi dengan Marissa, karena dia tahu seseorang yang menyimpan dendam dapat melakukan apapun terhadap orang lain yang dia anggap sebagai lawannya.
Arya sulit fokus untuk mengendarai mobilnya. Hatinya gelisah, pikiran juga tak tenang. Ada perasaan yang menginginkan supaya tak terjadi apa-apa dengan Marissa.
Meski dia mencoba berpikir positif tetap saja tak bisa masuk pada akalnya. Secepat yang Arya bisa akhirnya dia sampai di pelataran rumahnya. Dia terburu-buru masuk untuk menanyakan kronologis yang lebih detail. Dilihat dari kondisi rumah yang kosong hanya ada Mama dan asisten rumah tangga beserta satpam yang berjaga di pos, sudah dia pastikan kalau Papa dan Pak Deni sedang berada di kantor polisi sekarang untuk membuat laporan.
Dengan wajah panik Arya langsung meminta penjelasan lebih pada Mama sesampainya di sana. Mama bilang kalau pada awalnya Marissa masuk dalam mobil Mika atas kemauannya sendiri dan secara sadar. Tapi ada yang janggal, jika memang begitu mengapa tas Marissa dibuang begitu saja, apalagi setelah di cek semua isi dalam tasnya ternyata masih lengkap termasuk dompet dan HP. Di mana HP tersebut adalah satu-satunya alat komunikasi Marissa.
Arya meminta Mama untuk menelepon Papa guna mengetahui kelanjutan dari laporan mereka.
"Kami sudah kasih laporan, Ma. Tapi menurut polisi meski ada saksi dan bukti tapi ini masih tidak bisa disebut sebagai kasus penculikan karena tidak ada bukti lain yang mengarah ke sana. Jadi polisi meminta kita tunggu perkembangan kasus ini. Bisa saja Marissa pulang tidak lama lagi. Dan kita hanya salah paham saja karena terlalu panik."
"Pulang bagaimana, Pa? Bagaimana kalau Marissa pulang sudah tak bernyawa lagi! Lagian polisi ada-ada aja, salah paham bagaimana maksudnya kalau Pak Deni yang melihat secara langsung saja berpikir kalau Marissa itu memang di culik!" kata Mama emosi. Tiba-tiba Arya merebut telepon itu.
"Pa, yang membawa Marissa pergi itu pasti Mika istrinya Tio. Istri sah pacar Marissa dulu yang sudah menghamili dia, kita harus segera mengusutnya sebelum sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi pada Marissa. Sudah pasti Mika menaruh dendam padanya! Apalagi alasan Mika membuang tas Marissa jika dia tidak ingin Marissa melakukan komunikasi dengan orang lain?!"
"Tenang Arya! Tenang! Bisa saja kamu salah mengira. Untuk sekarang kita tunggu dulu perkembangan dari pihak kepolisian. Untuk berjaga-jaga akan Papa tambahkan kesaksian kamu ini pada mereka supaya mereka punya pandangan siapa yang membawa Marissa saat itu."
Telepon pun terputus. Dari raut wajahnya, Arya nampak frustasi. Mama mengelus punggung anaknya itu supaya lebih tenang. Baru kali ini lagi Mama melihat kecemasan di wajah Arya yang begitu nyata setelah insiden Arista beberapa tahun lalu.
__ADS_1
Dalam hati, Mama berdoa supaya Marissa baik-baik saja dimanapun dia berada. Dan diam-diam Arya juga memanjatkan doa yang sama dalam hatinya.
***