Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Analisa Wajah


__ADS_3

Bibi buru-buru memberikan air putih kepada Arya sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Loh yang sakit tadi itu cinta pertamanya Arya? Kok bisa kebetulan banget ketemu disini? Pantas aja kamu tadi panik gitu, ternyata.. ada sebabnya.." tersirat sedikit rasa kecewa pada wajah Bu Aga karena sudah memberikan ijinnya pada Arya tadi.


Arya sudah mulai memulihkan diri tak tersedak lagi dan mencoba berbicara dengan tenang. "Iya Ma. Tapi dia bukan cinta pertama Arya. Kami tidak punya hubungan apa-apa dari dulu, dia cuma teman SMA Arya saja. Tadi juga Arya itu panik makanya buru-buru mememuinya dan kaget juga karena tiba-tiba melihat dia lari-larian di rumah sakit ini,"


Marissa mendengus kesal, "Ya tetep aja meski ga ada hubungan apa-apa tapi lu suka kan sama dia?! Iya kan?! Mau lu ngeles gimana juga kalau lu suka ya artinya dia itu tetap aja cinta pertama lu. Gue juga tahu lu sebenarnya masih suka sama dia sampai sekarang kan? Ngaku lu!"


"Hahh? Maksud kamu apa sih aku suka dia sampai sekarang apanya? Jangan ngaco ya. Aku biasa aja kok sama dia!" Arya risih Marissa menodongnya seperti itu.


"Nah kalau ga suka sampai sekarang, terus kenapa lu masih aja pakai jam tangan buluk itu dari dia? Apalagi alasannya kalau bukan suka!"


Gara-gara ucapan Marissa, Bu Aga dan Bibi jadi tertuju melihat jam tangan yang dimaksud di pergelangan tangan Arya.


Arya yang diperhatikan begitu pun jadi ikut melihat jam tangannya sendiri lalu dengan gerak kaku memutarnya salah tingkah supaya jam itu tidak dilihat terus-menerus oleh mereka.


"Aku pakai jam ini karena aku suka sama model jam nya. Dan bukan berarti karena aku suka dengan jam tangan ini lalu menandakan kalau aku juga suka sama orang yang memberinya!"


"Bohong!" umpat Marissa tak percaya.


"Ya sudah kalau tidak percaya itu sih terserah kamu. Aku juga tidak ada hak untuk memaksa. Kamu mau percaya ataupun nggak juga tidak ada hubungannya denganku maupun Arista."


Marissa merasa panas kupingnya setelah Arya menjawab seperti itu.


Bukannya merayu istrinya, Arya malah angkat tangan begitu saja seolah tidak peduli istrinya mau percaya ataupun tidak. Ketidakpedulian Arya membuat Marissa geram. Dia akhirnya diam saking kesalnya, dengan wajah kusut Marissa tidur menyamping memandangi jendela yang tertutup tirai sambil tangannya menyilang di depan dada. Dan tak lupa bibir yang manyun ke depan.


Segala pikiran berkecamuk di kepala Marissa. Bu Aga tidak ingin ikut campur pada perdebatan mereka tapi dia berusaha ingin menghibur anaknya. Bu Aga memanggil-manggil Marissa dari belakang badannya tapi Marissa tidak menggubris dan tetap membelakangi Mamanya.


Sedang Arya tetap melanjutkan makannya beserta Bibi yang juga makan tanpa berani bersuara, terdiam seribu bahasa.


Setelah perdebatan mereka mengenai Arista. Akhirnya Marissa memutuskan untuk tidur lebih cepat. Dia bahkan tidak peduli kalau malam ini Arya ada disini menjaganya. Lagipula Arya juga sama kok terlihat tak peduli. Dia sibuk melihat siaran berita di televisi ditemani Bibi yang mungkin sudah tertidur di sofa satunya. Sedangkan Bu Aga yang dicuekin putrinya memilih memainkan ponsel sebelum benar-benar mengantuk.


Tanpa terasa waktu berlalu sudah tengah malam saja. Bu Aga yang masih betah memainkan ponsel melirik anaknya lalu merasa ada yang aneh dengan Marissa.


Ditengoknya Marissa yang meracau seolah kesakitan. Keringat dingin membanjiri wajahnya sedang matanya masih terpejam.


"Rissa, Rissa bangun Nak! Hey, kamu kenapa!" Bu Aga panik melihat anaknya seperti itu ditambah Marissa tidak merespon ataupun membuka mata.


Bu Aga masih berusaha membangunkan Marissa mengguncang lengannya tapi lengan itu terasa hangat. Kemudian menyentuh pipinya yang juga hangat. Marissa demam.


Arya yang melihat Bu Aga seperti itu lantas menghampirinya dan bertanya ada apa. Bibi yang sudah tertidur pun jadi terbangun dan menyusul untuk melihat kondisi Marissa.


Bu Aga menjelaskan situasinya, tanpa menunggu lama Arya pergi mencari dokter yang berjaga malam.


Tak lama kemudian Arya datang bersama dokter beserta seorang perawat dan langsung memeriksa keadaan Marissa.


Setelah mengetahui bagaimana kondisinya, dokter tersebut memerintahkan perawat untuk mengambil sesuatu.


Arya yang khawatir bertanya pada dokter ada apa dengan Marissa.


Dokter itu tersenyum. "Tidak apa-apa jangan khawatir. Ini hanya demam biasa efek dari benturan, setelah saya suntikan obat pereda dia akan kembali membaik kok," jelas dokter.


Tak berselang lama perawat tadi datang dengan membawa wadah stainless steel yang didalamnya terdapat sebuah suntikan dan tabung cair.

__ADS_1


Dokter itu mengambil jarum suntik dan mengambil cairan didalam tabung tersebut lalu menyuntikkannya dalam infusan Marissa.


"Saya sudah memberikan obat peredanya, tunggu saja beberapa saat nanti demamnya pasti akan turun dengan sendirinya," terang dokter lagi masih tersenyum ramah lalu berpamitan setelah selesai menjelaskan dan melakukan tugasnya. Arya pun tak lupa berterima kasih atas penanganan mereka.


Bu Aga yang iba pada anaknya mengusap rambut Marissa dengan sedih. Matanya sayu.


Bibi datang dengan sebuah kain basah dan memberikan kain itu pada Bu Aga.


Bu Aga menggunakan kain itu untuk mengelap keringat di wajah putrinya secara lembut dan pelan.


Arya yang tak melakukan apa-apa lalu berinisiatif meminta kain lap itu dan mulai melakukan pekerjaan Bu Aga tadi. Dia juga menyuruh mertuanya itu agar kembali beristirahat. Begitu pula dengan Bibi, Arya memintanya untuk kembali tidur, biar dia saja yang malam ini begadang menjaga Marissa.


Dengan canggung Arya mengelap wajah Marissa pelan-pelan. Rasa hangat karena demam tersebut dapat dia rasakan dari kain lap yang menyentuh kulit Marissa.


Selama berbulan-bulan menikah baru kali ini dia bisa melihat dan memperhatikan setiap detail wajah istrinya dengan begitu jelas.


Kalau dipikir-pikir Marissa itu cantik juga sebenarnya. Bahkan saat sedang tidur seperti ini pun masih terlihat cantik. Cara tidurnya yang seperti bayi membuatnya tampak menggemaskan.


Arya bisa leluasa menganalisa tiap detail dan lekuk wajah istrinya, benar-benar dia perhatikan dengan seksama. Dan baru kali ini juga dia menyadari kalau bibir Marissa ternyata tipis dan bentuknya bagus.


Tiba-tiba saja sebuah pikiran terlintas di benaknya. Dia jadi teringat kata orang jaman dulu, kalau seseorang memiliki bibir yang tipis itu artinya orang tersebut gampang sekali marah, ternyata hal seperti itu cocok dengan Marissa. Bibirnya tipis dan pemarah.


Arya juga bisa dengan jelas mengamati wajah istrinya yang minim kerutan padahal dia jelas-jelas hapal sekali sifat Marissa yang pemarah itu tapi anehnya seperti tak memberikan efek apa-apa pada wajahnya seperti mitos yang sering diucapkan orang-orang kalau suka marah-marah nantinya bisa cepat tua. Dan tua yang dimaksud disini bukan soal umur tapi wajah yang terlihat tua tapi wajah Marissa bahkan tidak terlihat seperti wajah pada umurnya sekarang, dia malah terlihat seperti remaja.


Remaja labil! Hehehe! pikir Arya tersenyum sendirian.


Memikirkan soal kerutan itu Arya jadi berpikir apa mungkin paradoks tentang cepat marah cepat tua itu sebenarnya hanyalah kiasan belaka yang tujuannya untuk menakut-nakuti si pemarah agar lebih bersabar dan menahan emosinya supaya dia takut nantinya cepat tua. Karena pikiran seperti itu akhirnya si pemarah bisa mengontrol emosinya dan lebih bersabar.


Atau mungkin dibeberapa tempat mitos itu memang nyata sama seperti halnya tentang bibir tipis Marissa yang menandakan si empunya ini adalah pemarah.


Entahlah, yang pasti inti dari semua ini Arya mengagumi wajah Marissa yang memang cantik tak peduli bagaimana masa lalunya dan kehidupan yang dia jalani saat ini.


Arya yang sedang mengagumi keindahan wajah Marissa mendadak dibuat terlonjak kaget bahkan hampir terjengkang manakala Marissa tiba-tiba membuka matanya.


Dan mata Marissa ini terbuka dengan tidak biasa seperti orang normal pada umumnya. Marissa membuka matanya langsung membelalak memelototi Arya begitu saja tanpa ancang-ancang terlebih dahulu seperti di sinetron-sinetron saat orang sedang siuman.


"Apa lu liatin wajah gue sampai kayak gitu?! Pedofil ya lu!" tanya Marissa galak meski suaranya lemah.


Arya membenarkan posisi duduknya. "A-apaan! Siapa juga yang lihatin wajah kamu. Orang aku cuma mastiin aja kondisi kamu, soalnya dari tadi kamu keringatan banyak banget," Arya berdalih mencoba memeberikan alasan yang sekiranya masuk akal.


"Lagian siapa juga yang pedofil! Emangnya kamu anak kecil?!" Arya kesal, tapi lebih tepatnya kesalnya ini sengaja dia tunjukan untuk menutupi rasa malunya yang sudah terepergok begitu saja sama si empunya wajah yang dari tadi dipandanginya.


"Kamu ga lihat disampingku ada Mamaku? Aku ini anaknya! Kamu kayak gitu ke anak orang ya sama aja pedofil, tau!" jawab Marissa memberikan alasan gak jelas, entah serius entah sedang bercanda.


Bu Aga yang mendengar keributan ini terbangun lalu berusaha duduk. "Rissa, kamu sudah sadar Nak?" sapa Bu Aga merasa bersyukur.


Bibi yang sempat terlelap pun terbangun lagi menghampiri Marissa.


"Kakak udah sadar, Kak? Ya ampun Bibi tadi khawatir banget Kakak demam, terus ngingau mana keringatan banyak banget lagi," kata Bibi sambil memijat-mijat kaki Marissa dibawah selimut.


"T-tuh kan bener! Kamu itu keringatan banyak makanya aku lap-in wajah kamu sambil pastiin kondisimu. Kamunya aja yang geer," ucap Arya kini merasa menang dan aman karena Bibi sudah memperkuat alibinya.


Marissa memutar kedua bola matanya, dia tau kalau Arya hanya alasan saja.

__ADS_1


Bu Aga memegang pipi Marissa guna mengecek suhu tubuh putrinya. Dan benar seperti kata dokter tadi kalau demamnya bakalan turun.


"Kamu udah enakan sekarang Nak?" tanya Bu Aga memastikan.


Marissa mengangguk, "Iya mah. Rissa udah jauh lebih baik kok,"


"Kamu mau minum sayang?" tawar Bu Aga.


Marissa menggangguk, Bu Aga meminta Bibi untuk memberikan air putih. Kemudian segelas air putih yang diberikan oleh Bibi langsung diminum oleh Marissa dan habis saat itu juga bahkan dia tunggu hingga tetes terakhir.


"Kamu haus banget ya?" tanya Arya dengan suara kecil tapi masih kedengaran oleh semuanya.


"Bukan haus," jawab Marissa ketus.


Arya melirik Marissa dengan tatapan bertanya. Kalau bukan haus jadinya apa?


"Tapi lagi ngademin hati!" cerocos Marissa tak jelas.


"Ngademin hati gimana maksudnya?" Arya masih saja tak mengerti.


"Ya ngademin hati dari pengkhianatan seseorang yang berstatus suami tapi selingkuh sama cinta pertamanya!" semua orang kaget mendengar ungkapan Marissa.


"Hush! Rissa pamali ngomong selingkuh selingkuh gitu!" tegur Bu Aga.


Arya bahkan sampai menepuk jidatnya geleng-geleng kepala. "Kamu kenapa sih masiiihh aja ngungkit itu lagi? Emang ga boleh aku ketemu teman lamaku?"


"Ya ga boleh! Udah tau kamu punya istri malah keliaran sama cewek lain. Apa kata orang kalau lihat!"


"Masalahnya tadi dia sedang kesulitan. Dan aku datang menghampirinya hanya untuk mengecek keadaannya saja, dan itu aku lakukan pun karena aku merasa kasihan melihat dia panik hanya seorang diri saat itu. Makanya aku ke...."


"Udah pokoknya aku ga mau dengar alasan apapun dari kamu. Intinya aku ga suka kamu bertemu dia, pergi ke tempat dia ataupun berurusan sama dia!" ujar Marissa memotong ucapan Arya.


"Memang apa masalahnya sih?! Dia itu hanya temanku!"


"Bagimu mungkin dia itu memang temanmu, tapi di mata orang lain bisa jadi anggapannya bukan itu! Dan bisa saja di mulut kamu bilang hanya teman, tapi kalau di hati siapa yang tahu?!" Marissa menggebu mengeluarkan emosinya menunjukkan kecemasan akan adanya orang ketiga dihati Arya. Tapi sayang, Arya sangat tidak peka dan malah menganggapi ucapan Marissa itu dengan kesal.


Arya melipat bibirnya menahan sabar "Kan orang juga gak ada yang kenal aku ini siapa, apa coba yang harus dikhawatirin?!" jawab Arya putus asa melihat kecemburuan Marissa yang tak berdasar.


"Kamu tuh ya kalau dibilangin!" Marissa jadi kesal.


Perdebatan seperti ini malah bikin Arya kesal juga. Sudah sadar bukannya gimana malah ngajak ribut!


Arya sampai berpikir lebih baik Marissa tidur anteng lagi aja kayak tadi, demam lagi kek atau gimana biar ga bawel dan cari gara-gara untuk masalah sepele seperti ini.


"Yaudah iya. Maaf kalau kamu gak suka. Lebih baik kamu tidur lagi aja istirahat daripada nanti demam lagi."


Setelah mengatakan itu Arya pergi menuju sofa lalu berbaring disana tak peduli kalau ada Bu Aga dan Bibi yang memperhatikan. Terlihat sekali kalau dia sangat malas untuk meladeni Marissa dan berdebat lebih panjang lagi.


Marissa melihat kelakuan Arya yang tidak sesuai dengan harapannya. Bukannya minta maaf karena sudah membuatnya cemburu ini malah marah dan pergi meninggalkan Marissa yang terbengong disana.


Padahal Marissa inginnya Arya mengerti atas rasa cemburunya, meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Marissa juga mau kalau Arya tidak akan pernah berbohong lagi padanya saat ingin bertemu dengan temannya terutama jika temannya itu adalah Arista.


Apa hanya karena menjadi istri kontrak makanya Marissa tidak bisa mewujudkan harapannya itu?

__ADS_1


***


__ADS_2