Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Impas


__ADS_3

"Apa yang harus saya lakukan supaya kalian mau memaafkan saya? Apa saya harus menampar dan menjambak rambut saya sendiri?" tanya Bu Mega tapi tak ada satu kata pun diucapkan oleh Arista maupun Chicha untuk menjawab pertanyaannya, "baik kalau memang begitu mau kalian, akan saya lakukan supaya kalian bisa memaafkan saya!"


Tanpa ba-bi-bu, Bu Mega menampar pipinya sendiri, bolak-balik, kanan-kiri. Kini tangannya pindah ke kepala. Seperti orang kesetanan dia menjambak rambutnya sendiri.


Semua tercengang atas tindakan Bu Mega yang begitu tiba-tiba. Tak terkecuali Arista, awalnya dia juga terkejut. Tetapi, dia lihat sepertinya tekad Bu Mega untuk menyelesaikan masalah ini terlihat begitu kuat. Arista jadi senang, bukannya menghentikan aksi nekat ibu itu, Arista malah tampak seolah mengejek, dia dengan sengaja memprovokasi Bu Mega.


Arista berlagak menggaruk lengannya dengan gerakan lambat seperti memberi kode untuk memiliki luka yang sama sepertinya. Dia melakukan itu dengan cara menunjukan luka perbannya dengan sengaja.


Bu Mega ternganga, matanya nanar. Bukan ini yang diharapkan oleh Bu Mega, dia sebenarnya ingin Arista menghentikannya, bukan malah makin memojokkannya! Tapi mau bagaimana lagi kelakuan Bu Mega sudah kepalang tanggung, dan dia pun sebenarnya mengerti akan kemauan Arista yang di isyaratkan itu. Entah apakah yang lain juga mengerti dan berpikir sama seperti Bu Mega, atau mungkin hanya dia saja yang paham tentang bagaimana kerasnya diri Arista. Tadinya saat menampar dan menjambak rambut, Bu Mega pikir Arista akan mencegahnya. Tapi tanpa terduga, dengan jelas dia malah ingin Bu Mega makin menggila dengan merasakan sakit yang Arista juga rasakan tentang sikunya yang berdarah. Bu Mega yang sudah terlanjur mempermalukan dirinya sendiri pun tak dapat mengelak untuk berbuat lebih. Memenuhi apa yang diinginkan oleh Arista meski itu tak terucap dari mulutnya langsung. Akhirnya dia pun berdiri lalu berlari pada ujung tembok dikamar Chicha, dengan berani dan tentu saja sengaja dia membenturkan sikunya.


Semua orang di sana terkejut. Indra mencegah kelakuan Bu Mega untuk menyakiti dirinya sendiri. Tapi yang lain diam termasuk Pak Jono. Bahkan suaminya sendiri saja sudah pasrah, dia berpikir mungkin jika ini satu-satunya jalan terbaik untuk menyelesaikan urusan mereka. Pak Jono melepaskan keegoisan dan harga diri istrinya di depan orang banyak semata-mata untuk menjaga nasib anak mereka ke depannya. Maka dari itu dia hanya menahan diri untuk tidak mencegah kelakuan Bu Mega untuk menyakiti dirinya sendiri.


Marissa mengguncang ujung baju Arya, berharap dia akan menghentikannya tapi Arya hanya berbisik, "Biarkan saja."


Dokter Indra yang ikut dalam kekacauan itu tak bisa tinggal diam. Dia terlihat payah dan kewalahan menangani Bu Mega yang sedang menggila, benar-benar seperti sedang dirasuki setan.


"Sudah Bu, hentikan!" pinta Indra. Tapi Bu Mega tak mau dengar, dia tetap membabi buta.


Bu Mega tampak bringas saat membenturkan lengannya ke siku tembok. Sekali, dua kali hingga tiga kali munculah darah segar mengalir di sepanjang lengannya. Itu adalah bayaran untuk luka yang diberikan kepada Arista.


Setelah mendapati luka itu, tergurat sebuah senyum di bibir Bu Mega, tapi senyuman itu mengeluarkan air mata. Pipinya basah.


Bu Mega menatap Arista, matanya seolah bertanya 'Apakah ini sudah cukup? Apakah kau sudah puas?'


Arista paham tatapan itu. Tapi rasanya belum cukup sampai dia dengan sengaja lagi memegang lengan Chicha.


Bu Mega juga tahu ini belum berakhir. Dirinya hanya bisa pasrah, ini benar-benar keadaan kepalang tanggung! Berhenti pun percuma!


Setelah mengerti keadaan tak akan berakhir sebelum mendapati luka yang sama dengan Chicha, dia tahu Arista tidak akan mungkin melepaskannya. Menyadari itu mata Bu Mega mulai liar. Mencari sesuatu untuk bisa melukai pergelangan tangannya sendiri. Hal itu ia lakukan untuk menebus luka yang diterima oleh Chicha.


Saat dia kebingungan, tampak sesuatu yang mengilat diatas meja sebelah ranjang Chicha. Sebuah pisau buah! Dengan cekatan dia meraih pisau itu dan hendak menggoreskan benda tajam tersebut pada pergelangan tangan kirinya.


Indra membelalak, secepat kilat dokter ini mencoba merebut pisau tersebut, tapi Bu Mega tak goyah, ia tetap mempertahankannya!


Saat pisau benar-benar ada di genggaman Bu Mega, dia pun layangkan ke udara. Seketika itu juga pisau siap digoreskan ke lengannya.


Keadaan tampak mencekam, semua orang panik. Namun sesaat sebelum itu, Arista berteriak untuk menghentikannya. Sungguh waktu yang tepat!


"Hentikan! Sudah cukup."


Bu Mega tercengang, yang lainnya pun sama.


"Kenapa kamu hentikan! Dia kan belum membayar perbuatannya padaku!" protes Chicha.


Arista menoleh. "Ku pikir, dia sudah cukup membayarnya, Chicha. Lihat darah yang mengalir dilengannya itu. Dan lihat dia yang sudah tidak peduli dengan harga dirinya lagi dengan menunjukkan kebodohannya pada kita semua."


Chicha membeliak, tak paham sama sekali.


"Maksudku, kalau dia sedikit saja pintar tak mungkin dia mau melakukan hal seperti ini. Bahkan tanpa ada suruhan dari siapapun. Tapi dia mengerti hanya dari isyaratku saja, yang artinya dia pasti memang bersungguh-sungguh ingin berdamai."


Chicha terdiam beberapa saat, tapi dia juga tidak cukup berani untuk membantah sahabatnya, karena bagaimana pun apa yang dikatakan oleh Arista ada benarnya.


Tak kuasa air mata turun di pipi Pak Jono. Sedangkan Bu Mega terduduk lesu di lantai. Badannya berguncang, dia sesenggukan. Tangisnya menggema dalam ruangan tersebut.


Sekilas rasa penyesalan terlampir di kepala Arista. Apakah benar dengan cara seperti ini sudah membuatnya menjadi impas? Arista merinding, perasaan mual menyelimuti sekujur tubuhnya. Dia merasa sudah menjadi orang yang jahat. Sejujurnya yang Arista lakukan tadi hanyalah mencoba untuk menggertak Bu Mega, tapi dia tak menyangka akan hasilnya jika Bu Mega akan senekat itu.

__ADS_1


Seharusnya hanya dengan maaf, dan dengan cara kekeluargaan pun masalah ini bisa selesai. Tapi dia juga tak mengerti mengapa kejadian ini bisa mengalir begitu saja?! Dan keegoisan diri yang sudah menguasainya itu malah membiarkannya untuk membutakan nuraninya sendiri.


Arista malu pada dirinya sendiri, terlebih pada semua orang yang ada di sini, sudah pasti mereka akan men-cap Arista sebagai perempuan yang kejam.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlambat baginya untuk meluruskan segala sesuatu.


Dokter Indra dan Pak Jono tampak membantu Bu Mega untuk berdiri.


"Sekarang sudah selesai. Silahkan kalian keluar dari kamar ini. Bu Mega sudah saya anggap telah membayar perbuatannya. Jadi sekarang kita telah impas, dan masalah ini saya anggap selesai. Dan seperti keinginan kalian untuk tidak memperpanjang hal ini ke jalur hukum, saya harap kalian juga tidak bermain api di belakang saya. Karena saya tidak ingin ada yang berkhianat di antara kita untuk menjebloskan salah satunya ke penjara," pinta Arista pada Bu Mega dan suaminya.


"Kami janji Mbak, kami tidak akan berkhianat seperti yang Mbak khawatirkan. Lagipula masalah ini bermula dari istri saya, kami cukup tahu diri. Jangankan untuk melaporkan, urus anak kami saja kami sudah kerepotan," jawab Pak Jono lesu namun cukup meyakinkan.


"Baiklah, akan saya simpan ucapan bapak," jawab Arista ketus.


Saat mereka hendak melangkahkan kaki keluar, Arya menghentikannya.


"Tunggu sebentar. Apakah kalian masing-masing percaya satu sama lain hanya bermodalkan kesepakatan kata-kata saja?" tanyanya.


Semua orang bingung, celingak-celinguk mencari tahu tapi tak ada satupun yang mengerti.


"Lu apaan sih Arya, nambah-nambahin masalah aja deh!" sela Marissa ketus.


"Maksud kamu, apakah kami harus punya bukti yang mengikat?" tanya Arista yang mulai paham.


Arya mengangguk lalu mulai menjelaskan. "Masing-masing dari kalian harus menulis surat pernyataan yang sama. Setelah itu ditandatangani oleh kedua belah pihak. Lalu jika semua telah selesai, kertas yang ditulis tangan oleh Arista di serahkan kepada Pak Jono. Begitupun sebaliknya, kertas yang sudah ditulis tangan oleh Pak Jono diserahkan pada Arista. Bukti ini bisa digunakan sebagai alat untuk jaga-jaga bila ada hal yang tidak diinginkan terjadi ke depannya. Karenanya kalian jadi tidak bisa macam-macam karena ada bukti yang sah di depan kami semua sebagai saksinya. Dengan begitu, setelah ini kalian tidak akan saling curiga satu sama lain lagi karena saat menulis surat pernyataan ini benar-benar dalam kondisi sadar dan tanpa paksaan."


"Ide yang bagus tuh! Ibu ini kan bar-bar. Mungkin sekarang tobat tapi besok bisa aja dia balas dendam!" Ledek Chicha.


Bu Mega melotot namun di balas oleh Chicha dengan melotot dua kali lebih besar darinya.


"Baiklah saya setuju. Saya harap Pak Jono dan istri juga setuju," Arista pun mencari kertas dan mulai menulis. Diikuti juga oleh Pak Jono. Dan Arya bertugas sebagai moderator membacakan isi surat perjanjian itu. Tentu saja tanpa pertentangan siapapun karena isi surat itu tak memihak salah satu dari kedua belah pihak. Benar-benar murni sebagai bukti jaminan keduanya sudah sepakat berdamai dan tak akan memperkarakan masalah ini ke jalur hukum.


Sebelum meninggalkan kamar itu, Indra tampak menatap sinis ke arah Arista. Benar kan, sesuai dugaan, pribadi Arista sudah terkesan buruk dimata Indra dan mungkin semua orang yang melihat rangkaian kejadian tadi.


"Arya, lu pede banget sok-sokan bikin surat gituan! Lu gak tau apa kemarin banyak yang videoin? Gimana kalau mereka berdua viral! Kasihan kan ibu itu!" Marissa tiba-tiba membuka suaranya.


"Loh kok malah kasihan sama ibu itu? Jelas-jelas ibu itu yang salah! Biarin aja viral, itu balasan untuk dia. Biar orang-orang di negara ini menggunjing dia!" ketus Chicha kesal.


"Ya jelas kasihan lah! Orang-orang yang lihat video itu taunya kalian yang korban dan ibu itu yang salah. Tapi mereka kan gak tahu tentang kejadian tadi, dimana Bu Mega sudah menghukum dirinya sendiri. Ditambah surat perjanjian itu. Mereka mau protes saat videonya viral juga percuma karena sudah ada surat perjanjian tadi!"


Arya tersenyum. "Tumben kamu pintar!"


"Apaan sih! Lu sengaja ya suruh mereka bikin surat perjanjian itu, karena emang rencana lu kan mau memojokkan pasangan itu dan buat mereka menderita? Lu gak lihat apa betapa tulusnya Pak Jono meminta maaf sampai berlutut kayak tadi?" tanya Marissa geram.


"Aku tahu kok Pak Jono tadi itu tulus. Aku memang sengaja menyarankan untuk membuat surat perjanjian, tapi sama sekali bukan untuk memojokkan Pak Jono dan istrinya seperti yang kamu bilang barusan."


Marissa mendelik. Mendongak pada Arya yang ada dibelakangnya. "Maksud lu?"


"Yahhh.. Aku hanya ingin keduanya bisa menge-rem diri supaya ke depannya kedua belah pihak bisa tenang tanpa saling menjatuhkan. Meski pun ada dendam dari salah satu antara mereka, ya percuma karena bakal jadi dendam yang sia-sia, karena orang itu gak akan bisa apa-apa kecuali mau menerima konsekuensi untuk menempuh jalur hukum. Aku juga percaya Arista mengerti apa yang harus dilakukannya untuk mengahadapi situasi seperti ini apalagi jika video itu benar ada dan sampai viral."


Marissa gelisah, "Maksud lu apa sih sebenernya?"


Arya mengangkat bahunya. "Entahlah. Kita lihat saja nanti," kata Arya sambil melajukan kursi roda Marissa, membawa lagi kemarnya.


"Arista, Chicha kita pamit dulu. Kalian istirahat lagi saja. Jika ada apa-apa atau perlu sesuatu hubungi aku ya." Pamit Arya sambil menggoyangkan jari yang tertelungkup menyisakan kelingking dan jempol yang ia tempelkan ditelinga, memberi isyarat untuk segera meneleponnya jika butuh sesuatu.

__ADS_1


Marissa yang melihat itu makin kesal. "Apaan sih lu centil banget jadi laki!" dumelnya sambil keluar dari kamar itu bersama Arya.


Sesampainya di kamar Marissa. Arya langsung beres-beres merapikan barangnya untuk segera pulang. Namun dia masih saja abaikan meski berkali-kali pertanyaan dilontarkan dari mulut Marissa.


"Lu serius mau gini sama gue? Lu anggap apa sih gue sebenarnya?" tanya Marissa kesal.


Arya berhenti dari kegiatannya, lalu menatap Marissa. Dia bingung mau menjawab pertanyaan yang dia sendiri pun tak tahu ini sedang membahas masalah tentang apa?


"Bener kan ternyata lu masih suka sama Arista? Sampai segitunya lu belain dia!" tiba-tiba Marissa terpikirkan bagaimana cara Arya memperlakukan Arista tadi, tanpa sadar dia cemburu dan tak kuasa menitikkan air matanya.


Arya menatap Marissa dikejauhan, perlahan akhirnya dia mengerti. Pelan-pelan dia mendekat pada Marissa yang sedang duduk di atas ranjangnya.


"Sebenarnya apa sih yang sedang kamu permasalahkan? Kalau soal tadi, aku bukan bela Arista atau bagaimana. Aku pun sudah bilang kan kalau aku gak ada maksud apa-apa dengan menyuruh mereka membuat surat perjanjian itu. Dan juga untuk ke depannya jika ada video mereka yang viral, aku juga tidak tahu harus menyikapinya bagaimana. Aku hanya percaya pada Arista, dia pasti akan melakukan hal yang benar. Karena dia tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Aku hanya ingin membantu dia secara moril, bukan berarti aku bela dia karena aku suka," jawab Arya penuh keyakinan tanpa ada apapun yang ditutup-tutupi.


Marissa menangis dalam diam. Arya melihat Marissa tersedu tapi dia sudah tak ada waktu untuk menemani istrinya itu. Dia harus segera pergi ke kantor.


"Marissa, aku pergi dulu. Untuk masalah tadi gak perlu kamu pikirkan secara berlebihan. Kamu juga..." ucap Arya tampak canggung, "hubungi aku kalau perlu sesuatu." katanya lagi sambil berlalu menuju pintu keluar.


Saat Arya sudah pergi, tinggallah dia dengan Bibi yang masih menunggu Mbak Ani.


"Kakak kenapa kok sedih begitu?" tanya Bibi penuh perhatian.


"Bi, handphoneku mana?" Bukannya menjawab, Marissa malah mengalihkan pembicaraan Bibi.


Bibi segera mengambilkan ponsel milik Marissa.


Dengan lincah Marissa mengutak-atik layar handphonenya. Tak lama nada berdering keluar dari perangkat keras itu.


Tutt.. Tutt..


Tutt..


Klek!


"Kenapa sayang? Tumben pagi-pagi telepon?"


***


HAI HAI HAIIIIII.....


hallo semuaaa..!


jumpa kembali bersama author yang baru keluar dari goa sunkogong lalu terkejut dengan perubahan jaman 😴😴


maafkeun ya kalau update kali ini lama. Baru keluar dari fase hibernasi nih~ hehe


Mudah-mudahan ke depannya author bisa lanjutin lagi novel ini seperti biasa minimal seminggu sekali yaa~


tapi kalau hiatus lagi... ya maafkeun lagi yaaa teman-teman🥰🥰.. hehe


tapi author usahakan banget kok buat update rajin dan sesegera mungkin tamatin novel ini..


makasih ya udh support like ma komennya dan pantengin terus novel author iniii...!


Love youuuu.. ❤

__ADS_1


dadahhh..


see u in the next episode😘😘


__ADS_2