
Marissa berdeham guna menata kata-katanya.
"Ga aneh sih, cuma yaaa ga nyangka aja ternyata kamu bisa so sweet juga ya orangnya," puji Marissa riang.
"Lebih ke arah wajar sih aku begini. Kamu kan baru kena musibah, lalu harus melewati operasi, dan...maaf, baru kehilangan anak juga. Kemudian sekarang secara ajaib kamu bisa siuman seperti ini, itu adalah hal yang sangatlah luar biasa sekali. Makanya aku kasih bunga sebagai bentuk ucapan selamat ke kamu. Aku merasa bersalah aja karena ga bisa bantu kamu saat kamu sedang sekarat. Karena itu, seenggaknya aku bisa kasih kamu sesuatu untuk menghibur hatimu kan? Ini juga sekaligus perayaan atas kesadaran kamu dari kondisi kritis kemarin," jawab Arya, jawaban yang bagus tapi memotekkan hati Marissa karena tak sesuai seperti ekspektasinya yang mengawan-awan kegirangan.
Memang benar sih kata-kata Arya itu manis sekali. Tapi rasanya ungkapan dan perbuatan dia itu memang sebuah hal wajar seperti pada umumnya dimana suami harus memperlakukan istri sebagaimana harusnya. Tapi kok, kenapa ya jadi terkesan seperti basa-basi belaka?
Lagipula toh Arya bukan suami beneran ini, jadi perkataannya tadi tidak bisa disebut sebagai ungkapan yang kasar, mungkin saja Arya hanya tidak ingin melewati batas. Makanya perlakuan dia terhadap Marissa terlihat tidak benar-benar seperti suami sepenuhnya.
Marissa berpikir kembali. Kalau Arya memliki karakter suami sungguhan, tentu saja dia akan menunggui Marissa hingga siuman setelah operasi kemarin, apapun alasannya kan? Dan pasti akan menjaga Marissa siang dan malam bukan malah menyerahkan urusan tersebut pada kedua orangtuanya, membuat mereka jadi repot seolah Marissa ini adalah anak kecil yang belum memiliki pasangan.
Menyadari hal itu membuat Marissa makin khawatir. Jika perilaku Arya hanya basa-basi saat ini, maka tidak menutup kemungkinan kalau dia juga tidak punya perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Marissa yang sedikit demi sedikit mulai membuka hati untuk Arya.
Arti sederhananya adalah rasa suka Marissa pada Arya itu memang hanya bertepuk sebelah tangan.
Aw! Pikiran Marissa kacau balau, kepalanya yang terluka itu tiba-tiba terasa sakit berdenyut-denyut.
Marissa memegang kepalanya dengan mimik wajah kesakitan.
"Kamu ga apa-apa Nak? Kepalamu sakit?" tanya Mama Arya khawatir mendekati Marissa.
Mendengar itu Papa dan Pak Aga juga beranjak dari sofa untuk melihat kondisi Marissa.
Marissa menggeleng, "Ga apa-apa kok, Mah. Hanya sedutan dikit tadi di bagian lukanya"
"Aduuhh kasihan, sini Mama elus pelan," belum sampai tangan Mama menyentuh perban kepala Marissa. Papa menghalau duluan dan menggenggam tangan Mama untuk menepisnya.
"Biar Arya yang melakukannya ya Mah. Soalnya belaian Mama tidak akan meredakan sedutannya," entah bercanda atau apa Papa mengambil lengan Arya dan meletakkannya pelan di kepala Marissa.
Marissa terkejut, apa-apaan sih mereka malah melakukan hal ini?! Untuk apa di elus-elus segala sudah tahu kepalanya terluka! Bukannya malah bahaya ya kalau luka ditekan-tekan, yang ada malah basah dan infeksi!
Raut wajah Arya tampak kebingungan, dia melirik kanan kirinya. Begitu sadar dia menerima begitu saja perlakuan Papa tanpa adanya penolakkan. Arya pun mengelus kepala Marissa pelan, tapi tidak seperti yang dipikirkan Marissa barusan. Arya mengelusnya dibagian lain yang tidak terluka. Sungguh cowok yang pengertian dan peka.
Duhh udah berburuk sangka kan gue! Bisa aja nih Papa jadi Mak Comblang modusin si Arya, batin Marissa.
Dan benar saja, rasa sedutan tadi langsung hilang begitu saja, padahal sakitnya di bagian mana tapi elusnya di bagian mana. Mungkin karena saraf Marissa yang ingin menyampaikan informasi kesakitan itu jadi kebal karena dialiri perasaan dari hati yang cenat-cenut merona, jadilah informasi dari saraf itu tidak tersampaikan pada otaknya. Makanya Marissa tak merasakan lagi sakit atau sedutan, melainkan hanya perasaan malu tertahan.
"Udah sembuh kan sedutannya?" goda Papa.
Arya menarik tangannya dari kepala Marissa. "Harusnya di elus pake garpu biar ada sensasinya," ucap Arya yang di sambut tawa orang-orang disana.
"Enak aja lu elus pake garpu!" protes Marissa kesal, bibirnya manyun.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Setelah perbincangan hangat penuh canda tawa, Papa dan Mama bergegas untuk pamit pulang mengingat jam besuk sudah hampir selesai.
Berbeda dengan Arya, dia sama sekali tidak berbenah.
"Lu ga pulang?" tanya Marissa yang dijawab gelengan kepala Arya.
"Kali ini Arya yang akan berjaga di rumah sakit gantian supaya Pak Aga bisa istirahat dirumah," seru Mama menjelaskan kebingungan mereka.
__ADS_1
"Loh jangan gitu ah! Saya gak masalah kok jaga disini. Kamu pulang saja Arya biar saya disini yang jaga ya! Kasian nanti kamu cape," ucap Pak Aga sungkan.
"Tidak apa-apa kok, Pa. Saya kan suami Marissa. Sudah jadi kewajiban saya untuk jaga dia yang sedang sakit seperti ini. Saya merasa tidak enak kalau Papa Aga terus yang jaga disini. Papa juga perlu istirahat dan jaga kondisi, kalau terlalu lelah yang ada Papa malah ikutan sakit juga," balas Arya.
"Ohh gitu toh ya sudah kalau kamu tidak keberatan. Wah saya jadi enak nih, ahahhaha!" guyon Pak Aga membuat semua tertawa.
"Emang lu udah bawa baju salin dan semua perlengkapan lu?" tanya Marissa.
"Sudah, tuh," Arya menunjuk sebuah tas jinjing yang ada di samping pintu masuk. Entah kapan dia membawa itu, bahkan tak ada satupun yang menyadari bahwa ada sebuah tas bertengger disana selama mereka berbincang selain Arya dan kedua orang tuanya.
"Arya sudah siapin semuanya kok, Nak. Kalaupun perlu apa-apa dia bisa beli diminimarket samping rumah sakit kan, kamu tenang aja ya. Biar malam ini Arya yang gantian jaga disini, tapi maaf Mama dan Papa ga bisa gantian jaga ya, namun besok kami bakal datang lagi ke sini kok," ucap Mama selembut sutra.
Marissa tersenyum mengangguk.
"Mbak ga usah sering datang ke sini tidak apa-apa kok Mbak. Saya tidak enak Mbak dan keluarga jadi repot," ucap Bu Aga.
"Ngga kok Mbak. Sama sekali tidak merepotkan, kita kan sudah jadi keluarga juga. Saya malah jadi kepikiran kalau ga lihat langsung," jawab Mama lagi.
"Gini ya enaknya punya mantu baik hati, udah gitu ganteng lagi," puji Pak Aga menggoda, "kalau gitu Papa serahkan Marissa padamu ya, titip istri tercinta Papa juga ya,"
"Iya Pa, siap!" jawab Arya.
"Kalau begitu, artinya Papa harus pergi sekarang ya bersama my besan," ucap Pak Aga menoleh pada orang tua Arya.
"Oh iya Ma, awas loh jangan ganggu kalau mereka mau pacaran," pesan Pak Aga pada istrinya membuat besannya cekikikan kecuali Arya dan Marissa yang sama-sama merasa malu.
Marissa bingung, Papanya yang dulu keras dan galak entah mengapa berubah sifat jadi konyol begini semenjak bergaul dengan Papa Mertuanya. Tapi sebenarnya Marissa senang kok, dengan begini kan bisa membuat hubungan dua keluarga ini jadi nyambung dan lebih harmonis.
"Tapi lu tidur di mana nanti?" tanya Marissa.
"Ya di sofa lah dimana lagi. Papa Aga juga tidur di sofa kan waktu nginep disini?" tanya Arya.
Wajah Marissa menahan malu.
"Hayoo kamu ngarep bikin romansa cinta seperti Papamu ya, ingin seranjang berdua bersama Arya?" goda Papa Arya seolah membaca pikiran Marissa.
Dengan cepat Marissa menggelengkan kedua lengannya. "Engga kok, Rissa ga mikir gitu," ucapnya bohong karena sebenarnya dia memang memilikirkan hal seperti itu, tapi dirinya belum siap kalau ada adegan begitu, makanya dia refleks menanyakan hal tersebut.
"Iya juga ga apa-apa kok, benar kan Arya?" goda Papa lagi.
"Nggak ah. Arya ga suka sempit-sempitan," dalih Arya tak ingin memperpanjang obrolan ini lagi.
"Ya sama gue juga kali! Siapa juga yang mau sempit-sempitan sama lu!" serobot Marissa tak ingin dirinya di cap sebagai orang yang berharap.
"Ya sudah, sudah, urusan mau tidur dimana mah gampang bisa di atur gimana kalian ya. Asal jangan mesra-mesraan aja, nanti kasian malah bikin Mamamu ngiri lalu rindu sama Papa," ujar Pak Aga lagi, kirain mau mengakhiri obrolan ini ternyata ingin menggombali istrinya.
Setelah semua obrolan berakhir, kini Papa dan Mama beserta Pak Aga pulang ke rumah masing-masing. Melihat keadaan sudah sepi masuklah Mbak Ani kembali ke dalam kamar. Karena belum waktunya dia bergantian jadwal dengan Bibi. Malam nanti saat Bibi datang barulah Mbak Ani pulang. Dan untuk urusan makan malam Arya nantinya juga akan dibawakan oleh Bibi.
Tapi setelah kepulangan Papa, Mama dan Pak Aga. Suasana di kamar itu jadi sunyi. Tiap orang sibuk dengan ponselnya sendiri. Bu Aga yang sedari tadi tampak mencairkan suasana pun sudah menyerah karena obrolannya terlalu garing bahkan bagi dirinya sendiri. Arya juga menanggapi obrolan Bu Aga sekenanya saja. Dia juga canggung dengan keadaan ini. Arya juga tidak banyak bicara pada Marissa. Karena biasanya mereka hanya akan bicara frontal, tapi karena ada keberadaan Bu Aga dan Mbak Ani mereka pun hanya diam-diaman saja.
Mereka tetap seperti itu hingga malam tiba. Ini adalah waktu dimana Mbak Ani bergantian tugas dengan Bibi. Setelah berpamitan, Mbak Ani pun pulang. Namun tidak berapa lama setelah Mbak Ani keluar dari kamar tersebut dia menelepon Marissa.
__ADS_1
"Kenapa Mbak? Ada yang ketinggalan?" tanya Marissa.
"Mbak Ani ketinggalan kartu pengenal Kak. Ini Bibi jadi ga bisa masuk, Mbak Ani udah keburu di lobby,"
"Oh, kartu pengenal wali jaga itu ya? Kok bisa ketinggalan sih Mbak Ani?"
"Iya Kak. Maaf, Mbak Ani ceroboh! Kakak bisa liatin ga di meja, seinget Mbak Ani tadi naro disana,"
Marissa berjingjit di tempat tidurnya guna melihat kartu tersebut tapi tidak ada apa-apa disana. "Ga ada dimeja Mbak. Apa jangan-jangan tadi Mbak Ani udah bawa tapi ga sadar terjatuh dijalan?" tanya Marissa setelah melihat sekelilingnya lagi mencari kartu tersebut, harusnya sih tidak boleh hilang karena itu kartu tanda pengenal yang wajib dipakai oleh wali penjaga pasien.
Arya yang menguping pun ikut mencari sekitarnya.
"Ini kartunya ada disini!" seru Arya mengangkat kartu tersebut yang tergeletak dibawah kursi.
"Oh ini Mbak ketemu! Ternyata ada dibawah kursi. Terus ini kartunya gimana, apa Mbak Ani bisa balik lagi ke sini?" tanya Marissa.
"Mbak Ani coba dulu ya Kak. Soalnya kan gak pake kartu buat masuk jadi ga tau bisa apa enggak. Tapi mudah-mudahan sih bisa, tadi penjaganya pasti lihat Mbak Ani waktu keluar kan, mungkin bisa masuk lagi walau tanpa kartu,"
"Lah tadi ga di cek sama petugasnya waktu Mbak Ani keluar?" tanya Marissa heran.
"Nggak Kak, mungkin karena sering lihat Mbak Ani jadi petugasnya ga ngeh perhatiin kartunya deh?"
"Yaudah Mbak Ani coba dulu ya mudah-udahan bisa masuk," ujar Marissa namun Arya langsung berdiri dan berinisiatif untuk mengantarkan kartu itu sendiri.
"Bilang ke Mbak Ani biar aku aja yang anterin ke sana," ucap Arya lalu tanpa menunggu jawaban Marissa dia langsung bergegas keluar ruangan sambil membawa kartu yang di maksud.
"Mbak, tunggu aja disana, ga perlu ke sini lagi! Ini kartunya lagi di bawa Arya. Mbak jangan ke mana-mana ya biar ketemunya gampang," titah Marissa yang di iyakan oleh Mbak Ani lalu menutup teleponnya.
Tanpa perlu kebingungan mencari, Arya langsung mendapati Mbak Ani beserta Bibi yang sudah menunggunya di lobby.
"Aduh Nak Arya jadi ngerepotin, biasa ini Mbak Ani suka pikunan padahal masih muda," ucap Bibi merasa tak enak hati membuat Arya lelah membawakan kartu itu.
Arya menyerahkan kartunya yang langsung dikalungkan oleh Bibi supaya bisa masuk ke kamar Marissa.
"Ga apa-apa kok Bi. Dari pada balik lagi ke dalam terus ke sini lagi malah lebih cape kan kasihan Mbak Ani," ujar Arya membuat Mbak Ani tersipu malu karena sudah membuat repot tuannya.
"Maaf ya Kak, Mbak Ani udah ngerepotin," pinta Mbak Ani pada Arya.
"Iya gak apa-apa kok Mbak Ani. Santai aja," kekeh Arya memaklumi.
Setelah memastikan tak ada yang kurang lagi baik oleh Bibi maupun Mbak Ani, mereka pun akhirnya berpamitan. Mbak Ani kemudian pulang bersama supir yang sudah menunggu di parkiran.
Arya melihat bawaan Bibi yang lumayan banyak. Satu tas jinjing berisi pakaian ganti, dan satu tas lagi berisi makanan untuk makan malam mereka. Dengan inisiatifnya lagi Arya mengambil satu tas untuk dibawanya dengan tujuan membantu meringankan beban bawaan Bibi.
Bibi awalnya terkejut dan merasa sungkan, tapi Arya menolak untuk tas itu dipinta lagi oleh Bibi. Tanpa sadar senyuman terus muncul di bibir Bibi, bagaimana tidak, Bibi sama sekali tidak menyangka Arya mau melakukan tindakan seperti itu. Karena Bibi beserta orang-orang yang kerja dirumah orang tua Marissa semuanya tahu kondisi pernikahan mereka yang hanya sekedar tinta di atas kertas. Tapi Bibi sungguh tidak menyangka kalau Arya ini benar-benar anak yang baik, dia tidak gengsi mau membantu Bibi yang hanya seorang asisten rumah tangga padahal mereka baru saja kenal. Dalam hati Bibi berharap kalau pernikahan Arya dengan Marissa itu harusnya sungguhan saja, tidak usah kontrak-kontrakkan segala. Soalnya Bibi senang anak yang dia asuh dari kecil itu mendapati suami cekatan dan baik seperti Arya.
Sambil bercengkrama mereka berjalan menuju kamar Marissa. Namun baru beberapa langkah saja Arya dikejutkan oleh hal lain.
Dari kejauhan tampak seorang wanita yang tak asing baginya berjalan cepat di belakang sebuah bangsal yang di dorong oleh dua perawat menuju ruang IGD. Salah seorang perawat menekan-nekan alat bantu kantung udara di mulut dan hidung pasien. Entah siapa orang yang terlentang itu, tapi apa hubungannya dengan wanita yang tampak tak asing ini? Mengapa wajahnya begitu cemas dan ketakutan?
Mereka berlari kejar-kejaran melewati Arya. Namun Arya dengan cepat menarik lengan wanita tersebut membuat wanita itu berbalik berhadapan dengan Arya dengan terkejut.
__ADS_1
"Arista? Sedang apa kamu disini? Siapa itu yang sakit?"
***