Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.10 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Mas, kamu kenapa?” tanya Zhafira yang sontak membuat Afkar kaget. Baru pertama kalinya dia dipanggil Mas dengan Zhafira. Afkar pun segera berdiri dan memeluk Zhafira untuk meredamkan emosinya.


“Tolong biarkan seperti ini dulu, jangan menolak,” bisik Afkar ditengah pelukannya dengan Zhafira.


Afkar memeluk Zhafira sangat erat dan itu membuat Zhafira bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya. Karena, ini pertama kalinya mereka bersentuhan fisik. Zhafira mengabaikan penasarannya, Zhafira yakin pasti baru saja terjadi sesuatu pada suaminya.


Setelah Afkar melepas pelukannya, Zhafira segera mengambilkan minum.


“Diminum dulu, Mas,” titah Zhafira mengulurkan gelas yang dipegangnya.


“Makasih ya, Fir,” ucap Afkar segera meneguk minum yang diberikan oleh Zhafira.


“Fir, kalau kita pergi dari hotel ini sekarang, kamu mau gak?” lanjut Afkar bertanya.


“Kenapa kok tiba-tiba, Mas, ini udah malam. Mas, are you okay?” balas Zhafira merasa heran.


“Ya, aku oke. Cuma pengen pindah aja dari hotel ini sekarang. Mau ya, Fir.”


“Yaudah, ayo sekarang kita beres-beres dulu, trus makan. Setelah itu, kita pergi dari sini,” kata Zhafira menuruti ucapan Afkar yang ingin pindah hotel malam ini juga. Padahal, Zhafira sendiri belum tau apa alasan Afkar.


“Makasih, Fir,” ucap Afkar diangguki oleh Fira.


Mereka pun makan dalam keadaan hening, tak ada yang bersuara, hanyut dalam pikirannya masing-masing. Setelah itu, mereka membereskan barang-barangnya. Kemudian, pergi meninggalkan hotel tersebut.


Di dalam taksi, Afkar terus saja diam.


“Mas, kita nginap di hotel mana?” tanya Zhafira.


“Kita nginap di hotel dekat pantai kute aja ya, jadi lebih dekat kalau mau ke sana,” jawab Afkar.


Zhafira pun mengangguk setuju dan segera memberitahu ke sopir taksinya.


Perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di hotel. Sesampainya di kamar, Afkar langsung berbaring di sofa, sedangkan Zhafira segera membersihkan badannya. Kemudian, menghampiri Afkar.


“Mas, kamu tidur di tempat tidur aja, badan kamu pegel-pegel kalau di sofa terus, malam ini biar Fira saja yang tidur di sofa,” ucap Zhafira.


“Gak usah, Fir, kamu tidur aja. Aku tidur di sini gapapa,” balas Afkar dengan lembut.


Zhafira pun segera membaringkan badannya sambil menatap Afkar.


‘Kamu kenapa, Mas, kok jadi pendiam,’ batin Zhafira.


Nampak ponsel Afkar menyala, dia pun segera Melihat ponselnya.


Ternyata Aurel yang mengirimkan pesan WhatsApp, Afkar sengaja tak membuka WhatsApp dan gak membalas pesan dari Aurel.


‘Setelah dua jam, kamu baru chat aku, habis ngapain kalian berdua di kamar,’ ucap Afkar dalam hati.

__ADS_1


Dan setiap pergerakan Afkar pun masih tetap diawasi oleh Zhafira. Jujur, Zhafira penasaran. Tapi, dia gak mau ikut campur urusan Afkar. Yang Zhafira tau, kalau saat ini Afkar sedang marah, tapi Afkar berusaha baik-baik saja di depan Zhafira seakan-akan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sampai akhirnya Zhafira melihat Afkar memejamkan matanya, membuat Zhafira pun ikut tertidur.


Pagi harinya, Zhafira terbangun terlebih dahulu. Kemudian Zhafira membangunkan Afkar.


“Mas, udah subuh bangun yuk. Kita sholat berjamaah,” ucap Zhafira.


Afkar pun segera bangun langsung menuju kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Afkar segera bersiap-siap untuk sholat berjamaah.


Setelah sholat, Zhafira bertanya, “Mas, kita sarapan di hotel atau di jalan nanti?”


“Di jalan aja ya, berangkat jam berap sih nanti, Fir?” jawab Afkar seraya bertanya kembali.


“Dua jam lagi ya, Mas. Soalnya, Fira mau beres-beres dulu. Nanti langsung ke bandara ‘kan?”


“Iya, kita langsung pulang setelah dari pantai kuta,” balas Afkar.


Setelah beres-beres, mereka pun segera meninggalkan hotel pergi menuju tujuan terakhir yaitu pantai kuta, di pantai kuta lah pertama kalinya mereka berdua berjalan bergandengan.


Zhafira tidak menolak saat Afkar memegang dan menggandeng tangannya. Walau Zhafira tau Afkar masih belum bisa melupakan masalah semalam yang Zhafira sampai sekarang belum tau masalah apa itu. Tapi, Afkar masih berusaha menutupi darinya.


Tak terasa beberapa jam lagi mereka akan meninggalkan Bali. Mereka segera bergegas menuju bandara Ngurah Rai, Bali. Dan mereka pesawat pun membawa mereka kembali ke Jakarta dengan suasana hati yang baru.


Lebih kurang dua jam, mereka pun sampai di bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Sopir Papa Fadlan udah menunggu di pintu kedatangan.


Dari jauh udah nampak Pak Supri melambaikan tangan dan berlari ke arah Zhafira dan juga Afkar. Pak Supri segera meminta barang-barang untuk di bawa.


“Biar saya bantu sebagian, Pak,” balas Afkar.


Pak Supri dan Afkar membawa barang-barang serta oleh-oleh untuk keluarga menuju ke mobil.


Pak Supri yang melihat Afkar dan Zhafira bergandengan tangan merasa bahagia. Walau tangan kiri Afkar membawa koper, tangan kanan Afkar selalu siap setia menggenggam tangan istrinya.


“Makasih ya, Pak, udah jemput kami,” ucap Zhafira dengan sopan.


“Ya pasti saya jemput dong, Nkn, kan bapak udah nunggu-nunggu kepulangannya,” balas Pak Supri.


Setelah semua barang naik, Pak Supri masuk ke dalam mobil karena Afkar sudah duluan membukakan pintu mobil untuk Zhafira.


“Langsung pulang atau mampir ke mana dulu, Den, Non?” tanya Pak Supri.


“Gimana, Mas?” tanya Zhafira menoleh pada Afkar.


“Mas sih gak ada urusan, kamu mau ada urusan? Udah malam loh ini,” jawab Afkar.


“Ya gak ada sih, Mas. Fira kira Mas ada urusan malam ini,” balas Zhafira.


“Yaudah kalau gitu. Langsung pulang aja, Pak,” ucap Afkar pada Pak Supri.

__ADS_1


“Baik, Den.”


Pak Supri segera melajukan mobilnya meninggalkan bandara.


Sesampainya di rumah Papa Fadlan, ternyata semua keluarga udah berkumpul termasuk juga Ayah Reyhan dan Bunda Hanum yang memang menunggu kedatangan pasangat suami istri baru itu.


“Assalamualaikum. Wah, ternyata lagi ngumpul nih,” ucap Zhafira melangkah masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Afkar.


“Wa'alaikumussalam.” Mereka serentak menjawab salam pasangan yang baru pulang bulan madu itu.


Ayah Reyhan melihat dari mulai masuk rumah sampai di ruang tamu tangan anak dan menantunya tidak melepas merasa bahagia. Ayah Reyhan yakin kalau pernikahan anaknya ini akan berlangsung lama, bukan hanya enam bulan .


Berbeda dengan Ayah Reyhan, Syara yang melihat kakaknya masuk mulai menggoda Zhafira.


“Wah-wah ... pengantin baru, mana oleh-olehnya?” tanya Syara.


“Ssstt, tenang dan jangan bawel, Dek. Itu ada di koper kok, nanti kami bongkar dulu, ya,” jawab Zhafira sambil mendudukkan diri di samping Afkar.


“Oke, Kak,” balas Syara sambil memiliki ponsel Zhafira yang baru saja Zhafira letakkan di atas meja.


Syara pelan-pelan mengambil dan membuka galeri milik Zhafira. Kemudian berlalu duduk di antara Mama Latifah dan Papa Fadlan.


Zhafira tidak menyadari hilangnya ponsel dari atas meja. Zhafira malah fokus pada Syara yang terlihat duduk di antara Papa dan Mamanya.


“Manja banget sih, Dek!” celetuk Zhafira.


“Biarinlah, Fir. Kamu udah nikah, siapa lagi yang mau manja-manjaan ke Mama,” balas Mama Latifah yang malah membela Syara.


“Wleeek!” Syara menjulurkan lidahnya mengecek Zhafira.


Setelah Syara merasa aman, Zhafira sedang mengobrol dengan orang tua dan mertuanya. Syara melanjutkan kegiatannya membuka galeri ponsel Zhafira dengan ponsel Zhafira dialaskan dengan buku novel yang dibacanya, agar Zhafira tidak melihat ponselnya ada pada Syara.


Syara nampak senyum-senyum melihat foto Zhafira dan Afkar yang tampak begitu romantis.


“So sweet banget!” seru Syara dengan senyumnya membuat semua yang di ruang tamu menatap heran dengan Syara.


“Ada apa, Nak Syara?” tanya Bunda Hanum.


“Ini, Tante. Syara lagi lihat foto-foto pengantin baru, ternyata mereka honeymoon di Bali, ya?” jawab Syara yang keceplosan.


Zhafira langsung menarik buku novel yang dipegang Syara dan segera meminta ponselnya.


“Dek, kasih gak HP-nya. Cepetan dong, Dek. Jangan buka-buka malu Kakak!” seru Zhafira.


Syara malah berlari dan tidak mau memberikan ponsel Zhafira. Mereka pun berlari, kejar-kejaran seperti anak kecil.


Zhafira merasa capek tak kunjung menangkap Syara untuk mengambil alih ponselnya. Zhafira pun meminta bantuan Afkar.

__ADS_1


“Mas, tolong minta HP aku dong, Mas!” seru Zhafira memohon.


__ADS_2