Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.9 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Zhafira segera menerima panggilan dari Syara.


“Halo, Dek? Kenapa?” tanya Zhafira.


“Kak, gimana kalian di sana? Kak Fira seneng ‘kan? Kalau Kak Afkar gimana? Masih dingin? Kayak kulkas delapan pintu, Kak?” ucap Syara dengan rentetan pertanyaan.


“Kenapa? Ada masalah?” tanya Afkar yang melihat Zhafira menakutkan alisnya tampak heran.


Zhafira pun menyalakan speaker agar Afkar ikut mendengarnya.


“Halo, Kak. Gimana sih, ditanya malah diem aja. Ketularan Kak Afkar nih kayaknya!” celetuk Syara dengan khas bawelnya.


“Apa tadi? Nanya apa?” ucap Zhafira agar Syara mau mengulangi pertanyaannya.


“Kalian gimana di sana? Kak Fira seneng ‘kan? Kalau Kak Afkar gimana? Masih dingin? Kayak kulkas delapan pintu, Kak?” ucap Syara dengan rentetan pertanyaan yang diulanginya.


“Banyak amat pintunya, Dek?” tanya Zhafira.


“Habisnya, Kak Afkar itu ‘kan dingin. Hehehe. Seru gak di sana, Kak?” jawab Syara seraya bertanya kembali.


“Biasa aja sih,” balas Zhafira.


“Kakak gak dibuat nangis di sana sama Kak Afkar ‘kan?” tanya Syara memastikan Zhafira baik-baik saja.


“Gak kok. Udah ya, kami mau jalan-jalan,” jawab Zhafira yang langsung memutuskan panggilan agar Syara tidak banyak bertanya lagi.


“Kenapa dimatikan?” tanya Afkar.


“Syara tuh bawel, dia bakal nanya terus-terusan. Emangnya kenapa? Mau ngobrol sama Syara?” balas Zhafira dengan nada sedikit ketus.


“Lah, kok jadi ketus? Cemburu? Cemburu sama Syara?”


“Cemburu? Gak sih, biasa aja.” Zhafira segera memalingkan wajahnya dan mengambil tas ke tempat yang diletakkan olehnya di sofa.


“Kemana kita akan pergi? Ke pantai, mau?” tanya Afkar.


“Boleh, asal kamu jaga pandangan ya, banyak cewek seksi di pantai. Nanti kamu gak mau pulang lagi, hahaha,” jawab Zhafira diakhiri dengan tawanya.


“Eh, gak ya. Jangan-jangan kamu lagi yang gak mau pulang karena lihat cowok bule telanjang dada,” balas Afkar gak mau kalah.


“Enggak, enggak mungkin ya. Bisa-bisa nanti, Fira sakit mata ngelihat gituan.” Zhafira tertawa lepas, tampak tak ada beban lagi pada dirinya.


Afkar terpesona melihat Zhafira yang tertawa menampakkan lesung pipinya menambah aura kecantikan seorang Zhafira.


“Jadinya kita mau kemana nih, nanti pak sopirnya bingung loh,” ucap Afkar saat udah berada di dalam mobil yang dipesan olehnya.

__ADS_1


“Yaudah, kita ke pantai pandawa aja ya,” balas Zhafira.


“Oke, setuju.”


Mereka berdua segera meluncur ke pantai pandawa. Setelah sampai di pantai pandawa, tampak keduanya sangat bahagia, mereka main air bersama, berfoto, bahkan saling berkejaran hingga orang yang melihatnya, mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih.


Tak terasa udah siang hari mereka pun mencari makan siang dulu.


“Gimana, Fir. Mau lanjut kemana?” tanya Afkar sambil menikmati makan siangnya.


“Emm ... gimana kalau kita beli oleh-oleh aja, besuk ‘kan kita pulang,” jawab Zhafira.


“Beneran nih besuk pulang? Gak pengen beberapa hari lagi di sini?” tanya Afkar memastikan.


“Katanya kamu lusa ada kerjaan. Jadi, ‘kan besok kita pulang aja. Tapi, boleh ya ... kita ambil penerbangan yang sore aja. Jadi, pagi masih bisa jalan-jalan,” balas Zhafira.


“Ya ... Baiklah, gak masalah itu. Yaudah yuk, udah selesai ‘kan makannya, sekarang kita ke pusat oleh-oleh setelah itu istirahat di hotel,” titah Afkar yang diangguki oleh Zhafira.


Mereka pun segera pergi menuju ke pasar seni sukowati. Setelah memilih-milih mereka menuju ke hotel untuk istirahat. Setibanya di kamar hotel, mereka sholat lalu Afkar mengajak Zhafira ngobrol.


“Fir, maaf nih, ya ... aku mau nanya, kapan kamu memanggil aku menggunakan panggilan? Masa manggil suami eh, kamu gitu. Besuk kita pulang loh, gak enak kalau Papa atau Mama dengar,” ucap Afkar.


“Trus, Fira manggilnya apa?” tanya Zhafira.


“Terserah kamu, mau manggil apa. Mas, Bang, Kak, Sayang, Suamiku atau panggil nama aja Afkar,” jawab Afkar bercanda.


“Yaudah, senyamannya kamu aja. Fir, tadi yang aku beli buat cewek aku itu kira-kira bagus gak ya?” tanya Afkar menatap serius pada Zhafira.


“Menurutku sih bagus, aku aja suka. Tapi, sayangnya yang di belikan cuma dia aja, aku yang istrinya enggak dibelikan,” jawab Zhafira seraya menggerutu dan mencurutkan bibirnya.


“Hey, kata siapa aku belikan cuma untuk Aurel? Nih lihat, aku juga belikan buat kamu, Istriku,” kata Afkar yang langsung menunjukannya ke Zhafira.


“Semoga kamu suka ya, Istri cantikku,” lanjut Afkar menggoda Zhafira hingga membuat pipi Zhafira bersemu merah.


“Oh ... namanya Aurel, ya? Cantik gak sih dia?” tanya Zhafira penasaran.


“Cantik dong. Tapi, masih cantikan kamu, Istriku,” ucap Afkar yang terus saja menggoda Zhafira.


“Hati-hati lho, kemakan omongan sendiri jatuh cinta nanti sama aku!” celetuk Zhafira tertawa hingga Afkar pun ikut tertawa.


Ya, sekarang ini Hobby baru Afkar adalah menggoda Zhafira karena kalau malu, pipi Zhafira memerah membuat Afkar gemas.


“Fir, aku nanti izin keluar sebentar ya, gak lama kok, paling cuma sepuluh menit, mau pesan makanan sekalian mau beli cemilan di taman dekat hotel ini,” ucap Afkar berpamitan.


“Tumben banget nih gak ngajak aku, pasti lagi janjian sama seseorang ya?” duga Zhafira.

__ADS_1


“Hehe, sebenarnya aku mau telpon Aurel sih,” balas Afkar sambil garuk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


“Oh ... yaudah pergi aja, aku di kamar aja sambil telpon Syara bawel. Have fun ya!” seru Zhafira.


“Kamu gapapa ‘kan? Gak marah?” tanya Afkar dengan lembut.


“Eleh, ngapain juga marah, ‘kan memang dari awal aku udah tau kalau kamu punya pacar,” jawab Zhafira berusaha bersikap biasa saja.


“Yaudah, aku pergi dulu ya.” Afkar segera berganti pakaian dan pergi pergi untuk pesan makanan sekalian mau menelpon Aurel. Tapi, udah beberapa kali Afkar menelpon tidak diangkat. Sampai-sampai makanan yang Afkar pesan pun udah datang.


Afkar mencoba menelpon terus tapi gak kunjung diangkat. Akhirnya, Afkar memutuskan ke luar untuk beli cemilan di taman luar hotel. Namun, saat Afkar hendak masuk ke hotel, dari kejauhan dia melihat sosok yang dikenalinya.


Ternyata, yang sejak tadi tidak mengangkat telponnya malah berada di tempat yang sama, “Aurel, loh ... kok dia ada di sini? Perasaan semalam dia gak cerita kalau akan ada kerjaan di bali.”


Afkar terus melihat Aurel yang masuk ke hotel bersama seorang laki-laki. Afkar pun masih berfikiran positif, mungkin itu teman kerjanya.


Saat di lobby, Afkar terus mengawasi sambil mencoba menelpon. Akhirnya, Aurel yang menunggu Robert check-in duduk di ruang tunggu tepat di depan Afkar.


Aurel mengangkat telpon dari Afkar, “Halo, Sayang, kamu masih di Jogja ya? Kapan kamu pulang? Aku kangen banget loh.”


“Iya, Sayang, aku masih di Jogja. Kemungkinan tiga hari lagi aku pulang, kamu lagi ngapain?” jawab Afkar yang pura-pura tidak terjadi apa-apa.


“Oh ... ini aku lagi mau makan malam, Sayang. Di tempat biasa kita ketemu, habisnya aku kangen banget sama kamu, jadi aku datang ke tempat ini deh,” dusta Aurel.


“Besok setelah aku pulang, kita habiskan waktu seharian ya. Maaf belum bisa nemenin kamu,” balas Afkar.


“Sayang, besok belikan aku sepatu high heels ya, untuk fashion show aku. Acaranya sih besuk pagi, Sayang,” ucap Aurel dengan manjanya.


“Iya, Sayang, emang berapa harganya? Aku transfer aja ya, besok kan aku blm pulang,” balas Afkar.


“Oke, Sayang, seperti yang kemarin ya sayang, love you.” Aurel segera menutup telponnya karena Robert udah jalan menuju ke tempatnya.


“Siapa yang telpon, Beb?” tanya Robert.


“Ya ... biasa. Laki-laki bodoh mesin ATM-ku,” jawab Aurel.


“Yaudah, yuk kita ke kamar,” ucap Robert merangkul Aurel.


Perkataan dan perbuatan Aurel sudah terekam jelas oleh Afkar. Afkar sangat marah, tapi dia masih memendam amarahmya. Afkar terus membuntuti Aurel, ternyata kamar Aurel satu lantai dengan kamar Afkar.


Sekarang, Afkar udah yakin kalau Aurel telah menduakan afkar. Afkar pun udah mantap ingin mengakhiri hubungannya dengan Aurel.


Afkar pun segera masuk ke kamarnya, Zhafira tampak masih menelpon dengan Syara.


Zhafira menoleh pada pintu yang baru saja dibuka oleh Afkar. Saat Zhafira melihat Afkar yang gak seperti waktu keluar tadi, membuat Zhafira heran.

__ADS_1


Zhafira segera mengakhiri telponnya dengan Syara. Dan segera menghampiri Afkar yang sudah mendudukkan diri di sofa.


“Mas, kamu kenapa?” tanya Zhafira yang sontak membuat Afkar kaget. Baru pertama kalinya dia dipanggil Mas dengan Zhafira. Afkar pun segera berdiri dan memeluk Zhafira untuk meredamkan emosinya.


__ADS_2