
Saat Zhafira mau turun, tiba-tiba Zhafira melihat seseorang dari masa lalunya.
‘Daffa,’ batin Zhafira.
Afkar belum mengetahui kalau ada Daffa di depan kantor tempat Zhafira bekerja.
“Mas, Fira turun ya, sampai ketemu lagi nanti waktu makan siang,” ucap Zhafira mencium punggung tangan Afkar.
“Iya, Sayang, Ingat ya, kalau kamu gak kuat langsung kabari, nanti langsung aku jemput,” titah Afkar.
“Iya, Mas, gak usah khawatir gitu.” Zhafira tersenyum berusaha melihatkan dirinya baik-baik saja saat ini.
Setelah mencium tangan Afkar, Zhafira pun segera melangkah hendak masuk ke kantor, tapi menunggu Afkar pergi meninggalkan kantor dulu.
Tepat saat Zhafira melangkah masuk ke dalam kantor, Daffa memanggil Zhafira.
“Fir, Fira ... tunggu,” panggil Daffa.
“Kenapa? Gue buru-buru mau masuk banyak kerjaan,” balas Zhafira tak ingin memperdulikan Daffa.
“Aku mau minta maaf karena udah ninggalin kamu, aku menyesal, Fir. Ayo kita mulai dari awal lagi,” ucap Daffa.
“Maaf gak bisa, gue udah mencintai orang lain. Lo kira gue apa? Setelah seenaknya lo pergi dan tiba-tiba kembali untuk minta balikan,” ucap Zhafira berlalu pergi meninggalkan Daffa.
Zhafira masuk ke kantor menuju ruangannya. Zhafira benar-benar udah gak peduli pada Daffa.
‘Aku harus gimana ya? Masalah ini gue kasih tau Mas Afkar atau nggak? Kalau gue kasih tau pasti Mas Afkar akan terganggu pikirannya, tapi kalau gue kasih tau dan sampai Mas Afkar tau dari orang lain, pasti akan menimbulkan kesalah pahaman antara kami berdua,’ batin Zhafira.
“Ah udahlah, mending gue kerja dulu,” kata Zhafira segera duduk dan menyelesaikan semua pekerjaannya.
Saat Zhafira hampir selesai dengan kerjaannya, tiba-tiba Syata datang menghampiri Zhafira.
“Kak, gue tadi lihat lo ngobrol sama si Daffa itu. Ingat ya, Kak, lo jangan macam-macam!” seru Syara.
“Apa sih, Dek, gue gak mungkinlah kembali sama Daffa, lagian gue ‘kan lagi hamil anak Mas Afkar,” balas Zhafira.
“Oh, jadi kalau kak Fira gak hamil, mau balikan gitu?” tanya Syara mendelik.
“Enggak jugalah, Dek, kok kamu belain Mas Afkar sampai segitunya sih.”
“Kak Fira, Kak Afkar tuh kurang apa sih kak?”
“Dek, lo jangan punya fikiran negatif sama gue, kakak gak ada apa-apa sama Daffa. Kakak gak mungkin ninggalin Mas afkar. Ngerti, Dek?,” balas Zhafira dengan harapan Syara akan mengerti ucapannya.
“Oke, tapi kalau gue liat lagi lo ngobrol sama mantan lo itu, Kak, gue akan aduin ke Papa dan Kak Afkar,” ucap Syara berlalu pergi meninggalkan Zhafira.
__ADS_1
Waktu makan siang pun tiba, Zhafira langsung keluar menunggu Afkar. Namun, saat sampai lobby, ternyata Afkar belum datang. Zhafira pun menunggu di lobby.
Zhafira tampak duduk sendirian dan tiba-tiba ada yang duduk di samping Zhafira.
“Hai, Fir, makan siang yuk,” ajak Daffa.
Zhafira pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan lobby menuju ke depan kantor.
Saat sampai depan, mobil Afkar udah terlihat, Zhafira segera membuka pintu mobil dan masuk.
“Tumben terlambat, Mas?” tanya Zhafira.
“Maaf, Sayang, tadi rumah klien tempat aku menikahkannya jauh,” jawab Afkar.
“Oh iya, Mas, gapapa. Yang penting acaranya lancar ‘kan, Mas?” balas Zhafira.
“Alhamdulillah lancar, Sayang. Dan pengantin prianya pun gak kabur,” goda Afkar membuat Zhafira mencurutkan bibrinya.
“Mas, awas ya godain aku, nanti gak dapat jatah!” celetuk Zhafira.
“Eh, Sayang, jangan dong bisa-bisa Mas akan pusing dan kerjaan akan berantakan, Sayang,” balas Afkar menghembuskan napas kasar.
Dan tak terasa mereka pun sampai di tempat tujuan. Afkar memesan dan langsung duduk bersama Zhafira menunggu makanan tiba. Selama makan siang, Afkar melihat kalau Zhafira sering melamun.
“Sebenarnya bukan masalah besar sih, Mas. Tapi, aku takut masalah ini kalau aku gak cerita, Mas pasti akan salah paham,” jawab Zhafira.
“Yaudah, kalau gitu cerita aja, Sayang,” balas Afkar.
“Nanti aja di rumah ya, Mas, jam makan siang udah mau habis. Nanti kalau Fira cerita sekarang, waktunya gak cukup.”
“Oke, kalau gitu yuk kita kembali ke kantor kamu,” ajak Afkar.
Mereka pun segera keluar dari restoran tersebut menuju ke kantor Zhafira.
Setelah menurunkan Zhafira, Afkar segera pergi kembali ke kantornya.
Zhafira kembali bertemu dengan Daffa, “Fir, Fira, aku gak akan berhenti mengejar kamu, Fira. Aku mau kita seperti dulu.”
“Itu gak akan mungkin terjadi. Gue sangat mencintainya dan gue juga sekarang lagi hamil anak dari suami gue. Jadi, lo jangan berharap lebih ke gue!” seru Zhafira.
“Apa? Ka—kamu, hamil?” Daffa kaget dan menatap tak percaya pada Zhafira.
“Iya, gue hamil. Lagian bukannya lo saat ini harusnya lagi bahagia ya, istri lo kan udah hamil bahkan udah melahirkan, kok malah lo tinggal ke sini?” ucap Zhafira segera meninggalkan Daffa.
Di dalam kantor, Zhafira bertemu teman Daffa, “Vin, tunggu!” panggil Zhafira.
__ADS_1
“Iya, Fira. Ada apa?” tanya Gavin.
“Itu teman lo ngapain dari pagi di luar kantor, apa dia mau kerja di sini lagi?”
“Oh ... enggak. Dia ke sini cuma untuk nemuin lo aja,” jawab Gavin.
“Bilang sama sahabat lo itu, gue udah bahagia. Jadi, jangan ganggu hidup gue lagi,” balas Zhafira yang udah dibuat kesal dengan Daffa yang seenaknya pergi dan kini minta kembali.
Di sisi lain, Syara merekam percakapan dari luar kantor tadi, segera menelpon Afkar.
“Assalamu’alaikum, Kak, lagi di mana?” tanya Syara.
“Wa’alaikumussalam, Dek, ada apa tumben telpon? Kakak kamu di kantor baik-baik aja ‘kan?” balas Afkar.
“Alhamdulillah Kak Fira baik-baik aja, Kak. Sebenarnya Syara mau memberitahu kakak sesuatu. Tapi, nanti takutnya malah kakak salah paham dan bertengkar lagi sama Kak Fira,” ucap Syara yang bingung mau menceritakan dari mana.
“Mau memberitahu apa? Cerita aja, Kak Afkar gapapa.”
Syara segera menceritakan semua termasuk juga rekaman yang udah direkam oleh Syara.
“Kak, ingat ya. Kak Fira lagi hamil, Kak Fira sangat mencintai kakak. Jadi, kakak jangan emosi sama Kak Fira. Kak Fira gak salah. Syara mengatakan masalah tadi agar masalahnya gak berlarut-larut,” titah Syara.
“Iya, kakak ngerti kok, nanti kakak akan pura-puragakg tau sampai Fira yang cerita sendiri ke kakak,” ucap Afkar.
“Cuma nanti kakak akan telpon teman kakak untuk mengusir laki-laki itu dari kantornya,” lanjut Afkar yang menahan emosinya agar tidak meledak saat ini.
“Oke, Kak, makasih ya. Jagain Kak Fira!” seru Syara menutup telponnya.
“Aku harus ke kantor Zhafira, dan aku akan meminta bantuan Reigha. Semoga dia lagi gak sibuk dan bisa bantu,” ucap lirih Afkar.
Saat para karyawan pulang , Afkar sengaja jemput awal karena tadi Afkar menemui sahabatnya dan minta tolong untuk mem-blacklist Daffa di kantor dan di sekitaran kantornya, syukurlah Reigha pun menyetujui dan turut membantu Afkar.
Setelah ngobrol basa basi, akhirnya Afkar pamit turun untuk menunggu istrinya di depan kantor.
Tak berapa lama terlihat Zhafira keluar dari kantor, dan langsung menuju ke mobil afkar.
“Mas, tumben jemput awal?” tanya Zhafira setelah masuk mobil dan mencium punggung tangan suaminya.
“Iya, Sayang, kerjaan aku cepat selesai hari ini,” jawab Afkar tersenyum dan menarik Zhafira dalam dekapannya.
Afkar pun melajukan mobilnya dalam keadaan diam karena dia tak mau emosinya tak terkendali karena Zhafira tidak boleh banyak pikiran agar kandungannya baik-baik saja.
Zhafira merasa aneh dengan Afkar yang hanya diam saja. Zhafira Takut ada sesuatu yang terjadi pada suaminya.
“Mas, kok Mas diam aja? Kerjaan Mas baik-baik aja ‘kan?” tanya Zhafira.
__ADS_1