Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.60 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Apa benar begitu?” tanya Zhafira.


“Iya benar, Bu. Jangan percaya kata-kata Lesari, saya berani menjamin kalau pak Afkar gak macem-macem kok sama Lestari ataupun yang lain, abu. Pak Afkar cinta mati sama ibu,” jawab teman Afkar membuat Zhafira yang mendengarnya pun tersenyum malu-malu.


“Ada lagi, Pak? Kalau gak ada, saya mau istirahat,” kata temannya Afkar.


“Iya, udah. Makasih ya, Wan,” ucap Afkar dan segera menutup telponnya.


“Gimana, Sayang? Kamu masih marah?” tanya Afkar.


“Nggak, Mas. Maaf ya, Mas. Tadi sempat marah,” jawab Zhafira sembari menunduk.


“Iya, Sayang, gapapa kok. Gimana ini, jadi pergi gak, Sayang?” tanya Afkar kembali.


“Ya jadilah, Mas ... ayo kita keluar, Mas,” balas Zhafira dan dianggukioleh Afkar.


Mereka pun segera keluar, dan saat akan menutup pintu, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam, Yah. Loh, kok ayah ke sini gak kasih kabar?” tanya Afkar yang melihat ayah Reyhan datang bersama bunda.


“Siapa yang mau ke sini? Kita ‘kan mau bareng-bareng ke rumah papa kalian,” jawab ayah Reyhan membuat Afkar manggut-manggut.


“Owh, Afkar kira mau main kesini. Yaudah yuk, Yah ... naik mobil ayah aja,” balas Afkar.


“Yaudah, masuklah,” kata ayah Reyhan.


“Ayo masuk, Fira, kamu di belakang aja sama bunda ya, Nak,” ucap bunda Hanum.


“Iya, Bunda. Sebentar Fira panggil bi Minah dulu,” kata Zhafira.


Dan setelah bi Minah datang, mereka pun segera berangkat ke rumah papa Fadlan. Tak lama kemudian, mobil ayah Reyhan pun memasuki halaman rumah papa Fadlan.


Papa Fadlan yang mendengar suara mobil masuk pun segera ke depan dan melihat siapa yang datang, saat tau yang datang adalah besannya, papa Fadlan pun langsung tersenyum senang.


“Assalamu’alaikum,” salam ayah Reyhan dan Afkar bersamaan.


“Wa’alaikumussalam. Tumben datang rame-rame,” balas papa Fadlan mendekati besan dan menantunya.


“Iya, Pa. Tadi ayah mampir ke rumah dulu, dan kami pun udah siap. Jadi, sekalian aja pakai mobil ayah. Hitung-hitung, irit minyak, Pa, ‘kan harga minyak mahal,” ucap Afkar tertawa.


“Kamu itu ... peritungan jadi orang,” celetuk ayah Reyhan.


“Hahaha ... kan gapapa, Yah, biar bisa beli pesawat pribadi,” ucap Afkar yang kembali tertawa.


“Ihhh, Mas ... ketawanya gak sopan,” tegur Zhafira.


“Hehehe ... maaf, Sayang, habisnya ayah ini ngajak bercanda aja,” kata Afkar mengusap tengkuknya.

__ADS_1


“Kok ayah pula, orang kamu yang dari tadi bercanda,” ucap ayah Reyhan tak terima.


“Eh, udah-udah ... kok malah berdebat. Ayo masuk!” seru papa Fadlan menengahi.


Dan mereka pun segera masuk dan duduk di ruang tamu.


Saat masuk rumah, Zhafira dan Afkar kaget karena ternyata di ruang tamu ramai orang tua Rendra datang juga.


“Loh, Pa ... ini ada acara ya? Kok kami gak dikasih tau?” tanya Afkar.


“Iya, Pa, kalau kami gak ke sini, berarti gak tau, Pa. Papa lupa sama Fira,” gerutu Zhafira cemberut.


“Kok gak tau gimana sih, Nak, kan papa udah minta tolong ayah kamu untuk mampir ke rumah kamu, biar kamu bisa sekalian bareng ayah dan bunda kamu,” balas papa Fadlan.


“Ada acara apa, Pa?” tanya Afkar kembali.


“Ini acara syukuran karena Syara hamil,” jawab mama Latifah.


“Owhh ... tau gitu kami mampir dulu ke toko kue, Ma. Malu ‘kan jadinya kami gak bawa apa-apa,” lirih Zhafira.


“Siapa bilang gak bawa apa-apa. Tuh lihat ayah kamu bawa apa,” sambar bunda Hanum hingga membuat Afkar dan Zhafira menoleh.


Terlihat ayah Reyhan tengah berjalan mendekat dengan membawa kue dan martabak telur beberapa kotak.


“Wah ... alhamdulillah. Ayah kok tau kalau Fira pengen martabak telur, Yah,” ucap Zhafira girang.


“Ya tau dong, Nak, anak kamu tadi yang bisikan kakeknya,” celetuk ayah Rayhan yang kemudian tertawa.


“Ayo, silakan duduk,” lanjut mama Latifah mempersilakan.


Dan mereka pun duduk semua, kuenya langsung ditaruh di piring dan disuguhkan semua.


Mereka pun mengobrol sambil bercanda sampai tak terasa malam pun tiba.


“Waduh ... Astagfirullah, sampai lupa waktu. Kami sekeluarga pamit pulang ya, Pak, semoga nak Syara dam calon cucu kita sehat sampai lahiran,” ucap pak Arman selaku ayah Rendra.


“Iya, Pak. Aamiin ... Terima kasih udah datang ke rumah kami,” kata papa Fadlan dan diangguki oleh pak Arman.


“Pak Reyhan, kami duluan ya,” ucap pak Arman kembali.


“Iya silakan, Pak. Kami ini masih menunggu Afkar dan Fira dulu,” kata ayah Reyhan.


Dan keluarga Rendra pun segera pamit kemudian pergi meninggalkan rumah papa Fadlan.


Setelah keluarga Rendra pulang, papa Fadlan dan ayah Reyhan juga mama Latifah dan ibu Hanum segera pindah tempat di ruang tengah. Sedangkan Zhafira, Syara dan Afkar juga Rendra masih duduk di ruang tamu.


Zhafira dan Syara masih ngemil sambil ngobrol, sedangkan Afkar dan Rendra juga ngobrol masalah kerjaan.


Saat Afkar dan Rendra asyik ngobrol, Zhafira dan Syara ternyata sedang berebut martabak telur yang tinggal satu potong.

__ADS_1


“Ishhh, Kakak, ngalah lah ... aku pengen banget tau,” ucap Syara.


“Kamulah yang ngalah, kakak juga pengen banget ini, Dek,” balas Zhafira.


Dan perdebatan mereka pun didengarkan suami-suami mereka.


“Astagfirullah, kalian kenapa?” tanya Afkar.


“Ini nih, Mas ... Syara nih, martabak tinggal satu, masa mau dimakan juga, tadi dia makan dah banyak loh, Mas,” jawab Zhafira.


“Kak, harap maklumlah, Kak ... Syara kan lagi hamil,” sambar Syara.


“Dulu waktu kakak hamil, kamu maklum juga gak saat kakak ngabisin cuanki kamu?” balas Zhafira.


“Kak, kok kakak jadi ngungkit-ngungkit sih,” gerutu Syara yang kemudian cemberut.


“Ini ada apa sih kok ramai gini?” tanya ayah Reyhan yang hadir ditengah-tengah mereka.


“Ini, Yah, mereka merebutkan martabak yang tadi ayah beli,” jawab Afkar.


“Dek, ayo kita ke kamar, udah malam. Istirahat aja, ya,” titah Rendra.


“Mas, aku masih mau martabak, Mas,” rengek Syara.


“Sayang, kasih ke Syara ya martabaknya. Yuk kita pulang, nanti di jalan kita beli lagi martabaknya, ya,” bujuk Afkar.


“Gak, gak mau. Ini punya aku, Mas,” tolak Zhafira yang masih saja menginginkan satu potong martabak di hadapannya itu.


Para suami pun dibuat pusing oleh istri-istri mereka. Ayah Reyhan pun segera meninggalkan mereka berempat dan segera ke mobil.


Tak lama kemudian, ayah Reyhan pun datang dan memberikan dua kotak di depan Zhafira dan Syara.


“Loh, Yah ... kok masih ada martabaknya lagi?” tanya Afkar.


“Iya, itu tadi rencana mau ayah bawa pulang. Tapi, karena istri-istri kamu berebut, yaudah, 1 kotak buat istri Afkar, 1 kotak lagi buat istri Rendra. Udah, jangan bertengkar lagi,” jawab ayah Reyhan.


“Alhamdulillah ... terima kasih ya, Yah,” ucap Afkar dan Rendra bareng.


Para istri pun segera memakan martabaknya. Dan perdebatan pun selesai. Setelah selesai memakan martabaknya, Afkar dan istri juga ayah Reyhan dan bunda Hanum pun pamit pulang.


Saat Zhafira dan Syara berpamitan, mereka pun menangis dan saling memeluk. Kemudian Syara berkata, “Kak, maafin Syara ya.”


“Kakak yang minta maaf. gak bisa ngalah sama kamu,” balas Zhafira.


Dan para orang tua juga suami mereka pun merasa lega. Setelah itu, mereka keluar rumah papa Fadlan dan segera meninggalkan halaman rumah papa Fadlan.


Di jalan karena udah tengah malam, mobil pun berjalan lambat.


“Afkar, pelan-pelan aja yang penting kita selamat, jalanan tumben hari ini sepi,” titah ayah Reyhan.

__ADS_1


“Iya, Yah. Ini udah pelan-pelan kok,” ucap Afkar.


Dan saat sampai di pertigaan, tiba-tiba ...


__ADS_2