Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.12 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Ada apa, Beb? Kenapa kamu emosi gini?” tanya Robert.


“Gue gak rela Afkar mutusin gue,” jawab Aurel dengan kesal.


“Kenapa kok tiba-tiba dia mutusin kamu?” tanya Robert.


“Gak tau gue, kok tadi dia bilang laki-laki bodoh dan mesin ATM. Dari mana dia tau, ya?” ucap aurel bingung.


“Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Beb?” balas Robert bertanya.


“Gue gak akan tinggal diam, gue akan terus berusaha buat dia percaya lagi, kalau perlu gue akan jebak dia, biar gue bisa nikah sama dia,” ucap Aurel penuh tekad.


“Kenapa lo sampai segitunya ngejar pria itu. Lo ‘kan udah punya gue,” balas Robert.


“Lo kan tau dari awal, kalau gue itu cuma mau uang dia, kalau dia ninggalin gue, trus gimana gue mau belanja. Kerjaan gue mana bisa buat beli barang bermerek, belum lagi lo yang males-malesan cuma mau kehangatan tubuhku gue aja,” ucap Aurel.


Dan Aurel gak tau kalau ucapannya direkam oleh Zhafira. Karena, Aurel memang belum tau kalau wanita yang duduk di sebelah tempat duduknya adalah istri Afkar.


“Ayo kita pergi aja dari sini, gue mau trus ngajak balikan Afkar, dan itu harus. Jadi, untuk sementara kita jarang ketemu,” lanjut ucapan Aurel. Kemudian, mereka pun segera pergi dari tempat itu.


Zhafira segera mengajak teman-temannya untuk kembali ke kantor.


Sore harinya, Zhafira perjalanan pulang dari kantor. Dia masih bingung mau menceritakan kejadian tadi ke Afkar atau enggak. Di jalan, Zhafira terus melamun sampai tak sadar sudah masuk ke halaman rumahnya.


Zhafira segera masuk ke rumah. Tampak Papa Fadlan udah pulang dan duduk di ruang keluarga bersama Mama Latifah juga Syara.


“Assalamu’alaikum, Pa, Ma. Tumben Papa udah pulang,” ucap Zhafira.


“Wa’alaikumsalam,” ucap semua serempak.


“Iya, Nak, hari ini gak ada lembur. Suami kamu kok belum pulang?” tanya Papa Fadlan.


“Oh ... Mas Afkar lagi ada pekerjaan, Pa. Katanya, hari ini menikahkan di dua tempat. Jadi, pulangnya malam. Zhafira bersih-bersih dulu ya, Pa, Ma.”


Papa dan Mama pun mengangguk. Kemudian, Zhafira berjalan masuk ke dalam kamarnya.


“Kak, Kak bentar deh!” panggil Syara mengikuti langkah Zhafira.


“Udah dapat belum kerjaan buat Syara, Kak?” tanya Syara.


“Lah, kan udah ada,” jawab Zhafira membuat Syara bingung.


“Apa kerjaannya? Kok udah ada sih?”


“Kan kamu jadi pengacara tuh,” jawab Zhafira ngasal.


“Pengacara?” lirih Syara tampak berpikir.

__ADS_1


“Pengangguran banyak acara!” seru Zhafira tertawa.


“Lah, Kak. Gue serius, astagfirullah.” Syara merengut juga mendelik.


“Belum dikabari sama HRD, Dek. Ntar kalau udah ada lowongan dikabari kok, so, tenang aja. Udah ah, mau ke kamar,” ucap Zhafira berlalu pergi menuju ke kamarnya meninggalkan Syara begitu saja.


“Untung Kak Fira, orang belum selesai ngomong main tinggal aja,” gerutu Syara berlalu pergi ke ruang keluarga kembali duduk bersama Papa dan Mama.


Zhafira segera membersihkan badannya dan sambil menunggu sholat magrib Zhafira duduk di sofa.


Zhafira teringat akan rekaman Aurel tadi, segera Zhafira mengambil ponselnya dan memutar kembali rekamannya untuk memastikan kalau suaranya terdengar jelas.


Setelah mendengarkan rekaman, Zhafira masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.


Saat Zhafira ke kamar mandi, Afkar masuk kamar dan segera mengirim rekaman yang tadi diputar oleh Zhafira. Karena, Afkar hanya mendengar sedikit. Dan Afkar menunggu Zhafira sendiri yang menceritakan tentang rekaman ini.


Setelah mengirim rekaman. Afkar keluar kamar lagi agar Zhafira tidak curiga.


Zhafira keluar kamar mandi, bersamaan saat Afkar afkar masuk ke kamar.


“Mas, baru pulang? Gimana kerjanya lancar?” tanya Zhafira yang baru saja selesai wudhu.


“Alhamdulillah lancar, Fir, capek banget hari ini, kamu mau sholat? Tungguin bentar ya,” titah Afkar.


Zhafira pun mengangguk. Kemudian, Zhafira keluar sebentar untuk membuatkan minuman hangat, Zhafira membuatkan teh madu untuk Afkar. Zhafira segera menaruh tehnya dinakas dan menunggu Afkar selesai mandi.


‘Kamu capek karena beban pikiran kamu, Mas, kamu juga telah diduakan. Nasib kita sama, kemarin kamu buat aku bangkit, sekarang aku akan bantu kamu semangat lagi,’ batin Zhafira sambil melamun.


“Eh, kapan Mas keluar kamar mandi? Kok udah rapi aja,” balas Zhafira.


“Kamu ngelamunin apa sih? Dipanggil berapa kali gak dengar,” tanya Afkar duduk di hadapan Zhafira.


Zhafira menggeleng dan minta Afkar memulai sholat. Setelah sholat maghrib, Zhafira mengajak Afkar keluar untuk makan malam.


“Mas, ini minumannya diminum dulu, mumpung masih hangat,” ucap Zhafira.


“Makasih ya, Fir.” Afkar menerima dan langsung meneguk habis minuman yang dibuat oleh istrinya.


“Ayo, Mas, kita makan malam. Nanti ditunggu Papa dan Mama,” kata Zhafira yang mendapat gelengan dari Afkar.


“Fir, aku di sini aja ya, capek banget. Nanti kalau aku lapar, gampanglah aku langsung nyari di dapur,” balas Afkar.


“Gak enak dong sama Mama dan Papa. Nanti setelah Mas makan, boleh istirahat.”


Akhirnya Afkar pun menurut saja ucapan istrinya. Saat di ruang makan, semua tampak menatap Afkar yang lebih banyak diam.


“Afkar, ada apa?” tanya Papa.

__ADS_1


“Eleh, Pa. Palingan Kak Afkar dimarahin Kak Fira tuh, Pa,” sambar Syara.


“Apasih, Dek. Gak loh, Mas Afkar tuh kecapekan aja. Tapi tadi udah Fira buatkan minuman hangat buat Mas Afkar,” balas Zhafira.


“Ya gitu dong, Nak. Jadinya ‘kan Mama bangga,” celetuk Mama Latifah mengulum senyumnya.


“Afkar gapapa kok, Pa, Ma. Afkar kecapekan aja,” ucap Afkar.


“Gapapa, Nak. Setelah ini istirahat, semoga besok segar kembali,” balas Mama Latifah.


“Fira, jangan ganggu suami kamu,” peringat Papa Fadlan.


“Hahaha, gaklah, Pa.” Zhafira hanya diam melirik Afkar yang tampak melamun.


‘Semoga hati kamu segera membaik, Mas,’ batin Zhafira menatap Afkar dalam.


Mereka pun segera menghabiskan makan malamnya.


Setelah makan malam, Afkar segera merebahkan badannya pura-pura tidur, padahal Afkar sedang mikirin Aurel yang tega melakukan semua itu.


Tak hanya itu saja, Afka memikirkan rekaman suara yang ada pada Zhafira, ‘Zhafira dapat rekaman itu darimana, atau tadi Zhafira makan siang di tempat yang sama. Tapi, kok Zhafira gak marah ke aku,’ pikir Afkar.


Berbeda dengan Zhafira yang kembali mendapati Afkar yang melamun. Zhafira berpikir, ‘Gimana caranya bisa menghibur suamiku saat ini.’


‘Ah iya, gue tau. Mas Afkar gak akan biarin gue keluar sendirian, gue coba deh,’ batin Zhafira seraya senyum-senyum sendiri.


Zhafira mendekat pada Afkar, “Mas, Fira izin keluar ya, gak lama kok, paling 1 jam.”


“Kamu mau kemana sih, Fir? Emangnya gak bisa ya besok aja. Aku lagi malas keluar,” tanya Afkar menatap Zhafira yang udah siap hendak pergi.


“Fira gak ngajak Mas kok, Fira cuma izin doang. Fira mau beli sesuatu, Assalamualaikum.” Fira langsung keluar kamar.


Afkar pun segera menyambar jaket dan memakainya. Kemudian, keluar kamar menyusul Zhafira.


“Lho, Mas ngapain? ‘Kan aku mau pergi sendirian,” tanya Zhafira saat melihat ada Afkar yang udah siap berdiri di sampingnya.


“Udah, gapapa. Mas antar aja. Yuk kita naik motor,” jawab Afkar.


“Eits, kalian mau ke mana?” tanya Syara yang tiba-tiba muncul.


“Mau ke sana,” jawab Zhafira ngasal.


“Iya, Kak iya. Terserah deh. Kalau mau keluar, gue titip cemilan dong, Kak,” ucap Syara.


“Okay, mana duit?”


“Lo perhitungan banget sih, Kak!” seru Syara.

__ADS_1


“Canda kali, nih gue beliin ntar. Sabar, ya. Soalnya gue nanti lama,” balas Zhafira.


Zhafira mendekat pada telinga Syara membisikkan sesuatu, “Mau pacaran dulu,” lanjut Zhafira tersenyum dan berlari keluar langsung diikuti oleh Afkar.


__ADS_2