
Setelah berbincang dengan ayah Reyhan dan bunda Hanum, Afkar pun menyuruh Zhafira untuk pergi ke kamar agar beristirahat.
“Sayang, kamu ke kamar aja istirahat dulu,” titah Afkar.
“Loh ... kalian aja lah langsung ke kamar, ‘kan biar sekalian bersih-bersih trus istirahat,” ucap ayah Reyhan.
“Iya, kalian nginap di sini aja. Toh besok kalian udah pergi lagi ke rumah sakit, kan nanti pasti cucu-cucu ke sini lagi, kasian kalau bolak balik,” imbuh bunda Hanum.
“Gimana, Sayang? Kita nginap di sini aja?” tanya Afkar menoleh pada Zhafira.
“Aku terserah kamu aja, Mas. Nginap pun gapapa,” jawab Zhafira.
“Tapi baju-baju kami gimana ya, Yah,” kata Afkar sambil menggaruk-garuk kepala.
“Loh, Mas ... baju-baju kita kan sebagian ada di sini, masa lupa,” balas Zhafira membuat bunda Hanum tertawa.
“Suami kamu itu loh, Fira ... bisa-bisanya dia lupa. Padahal waktu awal nikah, dia yang bilang tinggalkan sebagian baju kalian di sini,” celetuk bunda Hanum setelahnya.
“Waduh ... lupa, Bund. Hehehe,” kata Afkar tersenyum.
“Yaudah kalau gitu, ayah dan bunda istirahat aja. Afkar dan Fira mau ke kamar,” lanjut Afkar.
“Kalian duluan aja, ayah dan bunda udah biasa ngobrol dulu di sini sebelum ke kamar,” ucap ayah Reyhan.
“Ooo gitu ... yaudah, Afkar dan Fira ke kamar ya, Yah, Bund,” pamit Afkar.
“Iya, Nak ...” balas bunda Hanum.
Afkar pun menggandeng tangan Zhafira berjalan menuju ke kamar tempat Chayra, Adrian, dan Ammar tertidur ditemani Bi Minah.
Setelah sampai di kamar, Afkar pun masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Sementara Zhafira menyiapkan baju Afkar.
“Mas, baju kamu di atas kasur ya, aku ke kamar anak-anak dulu,” teriak Zhafira dari balik pintu kamar mandi.
“Iya, Sayang,” balas Afkar yang ikut berteriak.
Setelah itu, Afkar pun segera menyelesaikan mandinya, sedangkan Zhafira keluar kamar menuju ke kamar anak-anak.
Zhafira mengetuk pintu dan tak lama pintu terbuka menampilkan bi Minah yang tengah menggendong Ammar.
“Kenapa, Bi? Ammar rewel?” tanya Zhafira.
“Iya, Bu,” jawab Bi Minah.
“Bi, tolong jagain Chayra dan Adrian ya, ini Ammar biar saya bawa ke kamar,” balas Zhafira sembari melihat anak-anaknya yang tengah tertidur dengan tenang.
“Baik, Bu ... nanti kalau ada apa-apa saya ke kamar,” kata bi Minah.
“Iya. Tapi, ini tadi Bibi udah makan ‘kan?” tanya Zhafira.
“Udah kok, Bu. Saya udah makan tadi,” jawab bi Minah.
“Yaudah kalau gitu, bibi istirahat aja biar saya jagain Ammar,” balas Zhafira dan setelah mendapat jawaban dari bi Minah, Zhafira pun berlalu pergi menuju ke kamarnya kembali.
Sesampainya di kamar, ternyata Afkar udah selesai mandi.
__ADS_1
“Loh ... Ammar kok ikut kamu, Sayang?” tanya Afkar.
“Rewel Ammar tadi, Mas, jadi aku bawa deh,” jawab Zhafira.
“Kalau gitu ... sini Ammar sama aku aja, kamu mandi gih,” titah Afkar.
“Iya, Mas.” Zhafira pun memberikan Ammar pada Afkar kemudian dia berlalu ke kamar mandi.
Sementara di rumah sakit, “Mas, aku kangen sama Ammar,” kata Syara.
“Coba kamu telpon aja kak Fira,” balas Rendra.
“Iya deh, coba aku hubungi dulu,” ucap Syara.
Saat Syara hendak memencet nomer Zhafira, tiba-tiba mama Latifah terbangun.
“Nak, tolong ambilkan mama minum,” pinta mama Latifah.
“Iya, Ma ... sebentar,” balas Syara segera berdiri dari sofa dan mendekat ke brankar mama Latifah.
Syara pun mengambilkan minum dan menyodorkan pada mama Latifah.
“Makasih ya, Nak,” ucap mama Latifah.
“Sama-sama, Ma,” balas Syara sembari tersenyum.
“Papa gimana?” tanya mama Latifah setelahnya.
“Belum ada kabar lagi, Ma,” jawab Syara.
“Tadi udah Rendra urus perpindahan ruangan untuk papa, Ma. InsyaaAllah dipindahkan di ruangan ini juga. Tapi, untuk saat ini masih menunggu bagaimana kondisi papa, baru nanti langsung dipindahkan,” jawab Rendra.
“Ooo gitu ... yaudah, semoga papa segera dipindahkan ke sini. Soalnya mama khawatir,” kata mama Latifah.
“Iya, Ma ... mama jangan banyak pikiran ya. Sekarang mama tidur, kami di sini nemani mama,” pinta Syara.
“Iya, Sayang,” balas mama Latifah yang kemudian mencoba untuk tidur.
Di rumah ayah Reyhan, tampak ayah dan bunda masih mengobrol.
“Yah, aku jadi kepikiran sama mbak Latifah, gimana ya dia,” kata bunda Hanum.
“Aku juga bingung, gimana caranya kita menjenguk ke sana. Semoga mereka lekas membaik biar kita bisa langsung ke rumahnya aja nanti,” ucap ayah Reyhan.
“Iya, Yah. Aamiin,” balas bunda Hanum.
“Kalau gitu, kita istirahat yuk,” ajak ayah Reyhan dan diangguki oleh bunda Hanum.
***
Keesokan paginya, tampak Zhafira udah bangun karena terdengar tangisan dari Ammar.
“Cup cup cup ... kenapa, Sayang?” lirih Zhafira sembari menggendong Ammar.
Zhafira pun membuatkan susu untuk Ammar kemudian diminumkannya pada Ammar.
__ADS_1
Tak lama setelah Ammar tertidur kembali, terdengar ponsel Zhafira berdering.
Drrtttt ... Drrtttt ... Drrtttt ...
Zhafira pun mendekat pada ponselnya dan segera mengangkat telpon.
“Halo, Assalamu’alaikum,” ucap Zhafira mengawali.
“Wa’alaikumussalam,” balas Syara.
“Kak, gimana Ammar?” lanjut Syara bertanya pada Zhafira.
“Aman kok, kemarin sempat rewel gak bisa tidur, trus aku bawa tidur bareng sama aku dan mas Afkar di kamar,” jawab Zhafira.
“Emangnya muat, Kak? Chayra, Adrian, Ammar, tambah kakak dan kak Afkar?” tanya Syara kembali.
“Gak dong, Dek. Aku dan mas Afkar aja yang di kamar bareng Ammar, Chayra dan Adrian di kamar berbeda ditemani sama bi Minah,” jawab Zhafira.
“Owalah ... maaf malah ngerepotin ya, Kak,” balas Syara yang tak enak.
“Halah kamu ini, biasa aja lah, Dek. Toh ini Ammar kan anak aku juga,” ucap Zhafira.
“Oh iya, gimana papa?” tanya Zhafira setelahnya.
“Papa tengah malam kemarin ini alhamdulillah udah dipindahkan ke kamar rawat mama, Kak. Kakak jadi ke sini?” jawab Syara yang kemudian bertanya.
“Jadi, tapi kakak urus anak-anak dulu, ya. Nanti pas mau ke sana kakak kabari deh,” balas Zhafira.
“Oh iya, oke, Kak. Aku tutup ya, Assalamu’alaikum,” ucap Syara.
“Wa’alaikumussalam.” Zhafira pun mematikan telponnya dan kembali meletakkan di atas nakas bersamaan dengan Afkar yang terbangun.
“Hmm ... pagi-pagi nelpon siapa sih, Sayang?” tanya Afkar.
“Nelpon Syara, Mas. Dia nanyain Ammar trus dia ngasih kabar kalau papa tengah malam tadi udah dipindahkan ke kamar rawat mama,” jawab Zhafira.
“Owalah ... trus itu kenapa Ammar kok kamu gendong? Kan tidur itu,” tanya Afkar kembali.
“Tadi itu Ammar nangis, Mas. Haus ternyata, setelah aku buatkan susu, tidur lagi,” jawab Zhafira membuat Afkar manggut-manggut.
Zhafira perlahan menidurkan Ammar ke atas kasur agar Zhafira segera bisa membantu bunda Hanum memasak dan membantu bi Minah menyiapkan anak-anak.
Setelah Ammar tertidur di atas kasur, Zhafira menuju lemari menyiapkan baju untuk Afkar. Sementara Afkar hanya memperhatikan gerak gerik istrinya yang mondar-mandir pagi ini.
Zhafira menaruh baju Afkar di atas kasur, namun Zhafira malah ditarik oleh Afkar untuk didekapnya.
“Mas, kenapa?” tanya Zhafira.
“Gini bentar ya, Sayang. Aku tuh kangen sama istriku yang cantik ini,” jawab Afkar.
“Hmm ... gombal deh pagi-pagi. Oh iya, Mas, kapan kita ke rumah sakit? Jam berapa? Kasihan Syara dan Rendra pasti udah lengket tuh badan mau mandi,” balas Zhafira bertanya.
“Setelah sarapan kita berangkat ya,” ucap Afkar dan mendapat anggukan dari Zhafira.
“Yaudah kalau gitu, Mas mandi gih,” titah Zhafira.
__ADS_1
“Tapi aku masih kangen kamu,” lirih Afkar semakin menenggelamkan mengeratkan pelukannya.