Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.76 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Tak lama dari mereka selesai makan, deru mobil terdengar memasuki pengarangan rumah Afkar.


“Siapa yang datang itu, Pa?” tanya Chayra yang langsung berlari untuk mengintip dari jendela.


“Nak, jangan lari-larian!” seru Zhafira sembari menggendong Adrian yang kemudian berjalan mendekat pada Chayra.


“Papa, Mama ... ada Opa dan Oma datang!” teriak Chayra.


Afkar pun segera mendekat dan membukakan pintu. Zhafira gak bisa membukakan pintu karena sedang menggendong Adrian.


“Opa, Oma!” teriak Chayra berlari mendekat pada papa Fadlan dan mama Latifah.


“Chayra ... cucu cantiknya Oma, lagi makan ya, Nak?” tanya mama Latifah.


“Iya, Oma, Chaya lagi makan sama mama dan papa,” jawab Chayra.


“Ma, Pa, ayo masuk dulu ... ngobrol di dalam aja,” ajak Afkar.


Papa Fadlan dan Mama Latifah pun mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu.


“Tumben ini gak ada Bi Minah?” tanya papa Fadlan.


“Iya, Pa ... Bi Minah lagi sakit, jadi Fira suruh istirahat dulu,” jawab Zhafira.


“Mas, titip Adrian bentar ya. Ini aku mau buatin papa dan mama minuman,” lanjut Zhafira sembari memberikan Adrian pada suaminya.


“Gak usah repot-repotlah, Nak, kami cuma mau pamitan kok ini,” ucap mama Latifah.


“Ma, gak ngerepotin kok ini. Mama dan papa tunggu bentar deh, tadi soalnya Fira sempat buatin cemilan karena tau papa dan mama mau datang,” kata Zhafira.


“Mama bantuin deh, ya,” balas mama Latifah berdiri dan mengikuti Zhafira menuju ke dapur. Sementara papa Fadlan tengah memangku Chayra sembari mengobrol dengan Afkar.


Di dapur, mama Latifah melihat anaknya yang semakin berisi, “Kamu semenjak hamil Adrian kelihatan banget loh, Nak, makin tembem.”


“Ah, Mama ... hamil Adrian sih berasa banget banyak makan, Ma. Apalagi semenjak setelah melahirkan, Fira makin kuat makan, Ma. Kadang setelah makan aja karena lapar sempat ngemil juga,” ungkap Zhafira.


“Yaa alhamdulillah, Nak ... yang penting itu sehat,” kata mama Latifah.


“Afkar gimana, Nak? Gapapa ‘kan kamu banyak ngemil? Gak protes ‘kan?” tanya mama Latifah.


“Nggak, Ma, malah Mas Afkar itu kalau Fira telat makan kayak tadi, Fira langsung disuapin,” jawab Zhafira.


“Berarti Afkar bener-bener sayang sama kamu, Fira,” balas mama Latifah.


“Alhamdulillah ya, Ma.” Zhafira pun mengingat semalam Afkar yang tampak sangat menyayangi putrinya hingga membuat Zhafira senyum-senyum sendiri.


Zhafira menuangkan air hangat pada minuman yang dibuatnya, setelah dirasa selesai, Zhafira meletakkan empat gelas pada nampan juga cemilan yang dibuat oleh Zhafira.


“Ayo ke depan, Ma,” ajak Zhafira dan diangguki oleh mama Latifah.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tamu, papa Fadlan dan Afkar tampak tengah bermain dengan Chayra dan Adrian di lantai.


“Mas, pakai alas dong biar gak kedinginan,” kata Zhafira.


“Iya, Sayang ... aku ambil alas dulu deh, ya,” ucap Afkar dan diangguki oleh Zhafira.


Afkar bergegas menuju ke kamar Chayra mengambil alas yang biasa dipakai saat Chayra minta main di lantai. Setelah itu, Afkar kembali ke ruang tengah dengan membawa alas yang diambilnya tadi.


“Nah sini aku bantu, Mas,” kata Zhafira.


“Nggak usah ya, Sayang ... ini biar aku aja,” balas Afkar.


Tak lama alas udah terbentang, Zhafira pun menurunkan cemilan juga minuman yang dibuatnya tadi.


“Mama, Chaya mau itu,” ucap Chayra sembari menunjuk camilan yang Zhafira buat.


“Ini, Sayang.” Zhafira mengulurkan tangannya memberikan camilan pada Chayra.


Mereka pun mengobrol hingga tak terasa satu jam telah berlalu.


“Kan ... kalau ngobrol sambil main sama cucu, lupa kalau ke sini itu cuma mau pamitan, sekarang udah sejam pula papa di sini,” kata papa Fadlan.


“Pa, nanti jangan buru-buru di jalan,” ucap Zhafira.


“Iya, Nak. Gak buru-buru kok, kan gak ada janjian, papa bilang ke temen papa itu, hari ini paling lama malam sampainya, jadi gak buru-buru lah,” balas papa Fadlan.


“Kalau gitu, papa dan mama berangkat dulu deh, ya. Nanti lagi dilanjut ngobrolnya, ini kalau gak sekarang pamitnya, ntar keterusan ngobrol sampai malam,” lanjut papa Fadlan hingga membuat semua tertawa.


“Opa dan Oma mau ke luar kota, Nak,” jawab mama Latifah.


“Opa dan Oma hati-hati ya,” balas Chayra sembari menarik lembut tangan papa Fadlan bergantian dengan tangan mama Latifah kemudian menciumnya.


Setelah itu, papa Fadlan dan mama Latifah mendekat pada Adrian, menggendong sebentar kemudian mencium kedua pipi gembul Adrian.


Papa Fadlan dan mama Latifah pun berjalan menuju ke luar rumah.


“Pa, Ma, kabari kalau udah sampai, ya,” kata Zhafira.


“Pasti itu, Nak,” balas papa Fadlan.


Zhafira pun mencium tangan papa Fadlan dan mama Latifah bergantian, kemudian Afkar mengikuti hal yang sama.


Setelah itu, papa Fadlan dan mama Latifah masuk ke dalam mobil, dan mobil segera melaju meninggalkan rumah Afkar.


Di perjalanan, papa Fadlan dan mama Latifah pun saling mengobrol membahas tentang anak dan cucu mereka.


“Pa, Alhamdulillah Fira bahagia sama Afkar. Ada untungnya juga ya Dafa kabur pas pernikahan dulu itu,” kata mama Latifah.


“Ya, benar, Ma. Dulu itu pas Fira mau nikah sama Dafa, papa khawatir, tapi pas Reyhan minta Afkar yang menggantikan, terbesit keraguan. Alhamdulillah sekarang keraguan ku udah hilang melihat anak kita yang diperlakukan sangat istimewa dengan menantu kita itu,” balas papa Fadlan.

__ADS_1


“Bukan hanya diperlakukan istimewa, Pa. Bahkan ngurus anak pun, Afkar selalu ngebantu Fira, Pa,” kata mama Latifah sembari tersenyum.


“Alhamdulillah, Ma. Papa lihat pun sekarang makin gendut aja itu anak kita,” celetuk papa Fadlan.


“Ya itulah tandanya bahagia, Pa,” ucap mama Latifah dan setelahnya mereka tertawa bersama.


Sementara di rumah Afkar, Zhafira tampak membantu Afkar untuk bersiap karena hari ini Afkar harus kerja. Sementara Chayra dan Adrian tengah bermain bersama di atas kasur.


Tak lama dari itu, Afkar pun telah siap, Chayra turun dari kasur dan Adrian digendong oleh Zhafira. Mereka bersama-sama turun ke bawah untuk mengantarkan Afkar hingga sampai depan rumah.


Namun, saat membuka pintu, ada bi Minah yang ternyata hendak mengetuk pintu.


“Kenapa, Bi?” tanya Zhafira.


“Bu, di depan ada non Syara,” jawab Bi Minah.


“Ooo iya, Bi. Makasih ya, Bi,” balas Zhafira.


“Bi Minah gimana? Udah sembuh?” tanya Afkar setelahnya.


“Alhamdulillah udah lebih baik, Pak. Saya mau lanjut kerja dulu ya, Pak,” jawab Bi Minah.


“Kalau belum kuat, jangan kerja dulu, Bi,” titah Zhafira.


“InsyaaAllah udah kuat kok, Bu. Makasih ya, Pak, Bu,” balas Bi Minah berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari Afkar.


Afkar, Zhafira, dan anak-anak mereka pun turun ke bawah dan menuju ke ruang tengah. Ternyata Syara, Rendra, dan Ammar tengah menunggu di sana.


“Kak,” panggil Syara.


“Iya, kamu udah sarapan? Kakak masak banyak tuh tadi,” tanya Zhafira.


“Udah kok, Kak. Kami udah makan tadi di rumah. Kak Afkar mau berangkat?” balas Syara sembari bertanya pada Afkar.


“Iya, ada kerjaan hari ini,” jawab Afkar.


“Eh ini gapapa ‘kan aku di sini sama Ammar, Kak?” tanya Syara menatap pada Zhafira.


“Gapapa dong, kamu ini kayak sama siapa aja,” balas Zhafira.


“Yaudah kalau gitu mas berangkat ya, Sayang,” ucap Afkar mencium kening Zhafira kemudian pipi Chayra dan Adrian.


Namun, saat Afkar dan Rendra hendak melangkah keluar rumah, tiba-tiba ponsel Zhafira berdering.


“Halo?” ucap Zhafira mengawali.


“Ya, benar ini dengan Ibu Zhafira?” tanya seseorang dari seorang telpon.


“Iya, benar. Ini ‘kan nomor papa saya, kenapa ko—”

__ADS_1


“Maaf, mau mengabarkan, ini ada dua orang paruh baya mengalami kecelakaan,” sambar orang tersebut.


“Apa? Ke ... kec—kecelakaan?” tanya Zhafira yang khawatir.


__ADS_2