Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.28 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Di kamar, Afkar tiba-tiba memeluk Zhafira, “Sayang, Mas kangen banget sama kamu.”


“Fira juga, Mas,” balas Zhafira.


“Jangan pergi-pergi lagi ya, Sayang. Ingat, jangan menyembunyikan apapun dari Mas lagi,” ucap Afkar diangguki oleh Zhafira.


“Tapi, Mas juga harus janji, suami istri itu saling percaya, Mas. Jadi, Mas harus percaya sama Fira. Karena, Fira sangat mencintai Mas Afkar, hanya suami penghuluku ini, Mas Afkar Nurdiansyah Muwaffaq.” Zhafira tersenyum dan memeluk suaminya sangat erat.


Afkar pun mengangguk dan berkata, “Iya, Sayang.”


“Sayang, Mas kangen,” lanjut Afkar dengan muka mesumnya.


Zhafira yang paham pun tersenyum malu dan berkata, “Mas ih ... Mas kan masih sakit. Emangnya udah bisa? Nanti kecapean loh, Mas.”


“Sayang, kalau buat gituan nanti malah sembuh, mau ya, Sayang,” ucap Afkar dan segera mengecup kening Zhafira kemudian melepaskan hijab istrinya.


“Mas, pintunya belum di kunci loh,” balas Zhafira.


“Eh iya.” Afkar bergegas mengunci pintu kamar dan segera naik ke ranjang. Akhirnya, mereka berdua pun melepas kerinduan selama dua bulan ini.


Setelah melakukan hubungan suami istri, mereka tertidur dalam keadaan berpelukan.


Setelah dua jam mereka tertidur, Zhafira pun terbangun dan segera mandi.


Afkar yang merasa sebelahnya kosong langsung terbangun dan mencari istinya.


Afkar mengedarkan netranya, tak lama Zhafira tampak keluar dari kamar mandi, “Sayang, kok kamu udah mandi? Padahal kan aku mau lagi,” ucap Afkar cemberut.


“Apasih, Mas ... jadi mesum gitu. Lihat tuh udah jam berapa? Mandi gih, malu tau di kamar terus, Bunda ada di sini loh,” balas Zhafira.


“Bentar aja yuk, ayolah, Sayang,” bujuk Afkar.


“Mas, nanti malam lagi, sekarang Mas cepetan mandi kita makan siang. Lihat nih, anaknya udah lapar,” balas Zhafira.


Saat Zhafira menyebut anak, Afkar udah gak bisa apa-apa lagi, Afkar pun nurut dan segera mandi. Saat Afkar keluar dari kamar mandi, Zhafira udah siap untuk sholat Dzuhur.


Afkar segera memakai baju yang udah disiapkan istrinya. Setelah itu, mereka sholat Dzuhur berjama’ah.


Setelah selesai sholat, Afkar mencium kening istrinya dan mencium perut serta mendoakan anaknya. Zhafira meng-aamiinkan.


Setelah sholat, mereka berdua pun keluar kamar dan menuju ke ruang makan.


Di ruang makan ternyata ada orang tua Zhafira dan orang tua Afkar yang tengah mengobrol.


Semua orang tua tampak senyum-senyum saat melihat Afkar yang baru keramas.


“Fadlan, aku tadi udah cemas aja karena istriku bilang kalau Afkar minta pulang. Eh, ternyata dia udah segar bugar,” ucap Ayah.


Papa dan Mama juga Bunda pun saling lempar senyuman.

__ADS_1


“Harusnya kemarin itu jangan dibawa ke rumah sakit, tapi langsung dibawa ke rumahku, aku jamin langsung sembuh,” balas Papa.


Mereka tak henti-henti menggoda Afkar dan Zhafira. Hingga Mama mengeluarkan suaranya.


“Udah, udah, senang banget godain anak-anak. Ayo kita makan, kasian cucu kita udah telat makan malah Opa sama Kakeknya godain orang tuanya,” sambar Mama.


Mereka pun segera makan siang. Setelah selesai, mereka mengobrol di ruang tengah.


“Afkar, Fira, kapan kalian ngadain empat bulanan, Nak?” tanya Papa.


“Besok rencana kami mau periksa kandungan dulu, Pa, sekalian USG. Nanti baru kita tentukan kapan empat bulanannya,” jawab Afkar.


“Besok, ya? Ayah ikut ya. Ayah kan pengen lihat cucu Ayah,” balas Ayah.


“Enak aja, aku juga harus ikut!” seru Papa.


“Haduh kalian ini udah mau punya cucu tapi masih kayak anak-anak aja,” gerutu Bunda Hanum.


“Besok kita semua lihat cucu kita, bersamaan,” ucap Mama menengahi.


Dan mereka pun mengobrol sampai waktu udah malam.


“Papa dan Mama pulang dulu ya, kasihan Syara sendirian,” ucap Papa berpamitan.


“Gak makan malam dulu, Pa?” tanya Zhafira.


Ayah dan Bunda masih di rumah Afkar dan mereka pun sholat maghrib lalu makan malam.


Setelah makan malam, Ayah dan Bunda pamit pulang. Sekarang tinggalah mereka berdua di dalam kamar.


“Mas, besok jam berapa ke rumah sakitnya?” tanya Zhafira.


“Besok pas makan siang ya, Sayang,” jawab Afkar.


“Iya, Mas, kalau gitu besok Fira kerja dulu. Soalnya Fira izinnnya cuma hari ini,” balas Zhafira.


“Iya, Sayang, besok Mas juga ada kerjaan sebentar.”


“Mas,” lirih Zhafira dengan ragu. Zhafira pun menunduk.


“Ada apa. Hm? Katakan aja, Sayang,” balas Afkar dengan lembut.


“Jangan marah ya, Mas, soal Daffa gimana, Mas? Fira takut kalau Daffa ke kantor lagi, Mas marah sama Fira,” ucap Zhafira.


“Kamu tenang aja, Sayang, Daffa gak akan berani nemuin kamu di kantor, Mas jamin itu!” seru Afkar dengan penuh keyakinan.


“Kok Mas bisa seyakin itu?” tanya Zhafira.


“Mas udah minta tolong Reigha untuk jangan biarin Daffa berkeliaran di sekitar kantor,” jawab Afkar hingga Zhafira pun terkejut.

__ADS_1


“Ya Allah, Mas ... kenapa Mas sampai melibatkan pak Reigha?” tanya Zhafira tak habis pikir dengan suaminya.


“Mas lakukan itu karena gak mau kehilangan istri cantiknya pak penghulu ini, Sayang,” balas Afkar sambil memeluk Zhafira.


“Makasih ya, Mas.”


Dan mereka pun sholat isya’ berjama’ah. Setelah sholat, Afkar izin ke Zhafira untuk menyelesaikan pekerjaannya yang udah lama tidak dia cek.


Zhafira pun udah tidur duluan. Tepat pukul sebelas malam, kerjaan Afkar pun selesai dan dia pun ikut merebahkan diri di samping istrinya dan tidur memeluk Zhafira.


Pagi harinya, seperti biasa Afkar dan Zhafira berangkat ke kantor bersama. Afkar mengantar Zhafira dulu lalu pergi ke KUA.


Saat Zhafira masuk ke ruangannya, Zhafira dipanggil oleh teman Gavin, temannya Daffa.


“Fir,” panggil Gavin.


Zhafira pun menoleh dan berhenti kemudian bertanya, “Kenapa, Vin?”


“Ini, gue ada titipan surat dari Daffa,” jawab Gavin seraya menyerahkan secarik kertas pada Zhafira.


“Makasih ya, Vin,” balas Zhafira.


Zhafira pun segera masuk ke ruang kerjanya. Setelah duduk, Zhafira mengamati surat itu.


“Gimana ya, gue buka sekarang atau nanti? Kalau gue buka sekarang trus gue foto ke Mas Afkar, nanti malah ke ganggu kerjaannya. Ah mending nanti pas makan siang aja,” monolog Zhafira segera memasukkan secarik kertas tersebut ke tas. Dan, Zhafira pun memulai kerjaannya.


Di tempat kerja Afkar, segera Afkar masuk ke ruang kerjanya. Namun, saat hendak masuk terdengar ada yang memanggil.


“Maaf bapak siapa ya. Kok saya baru lihat?” tanya pegawai baru itu.


“Oh, saya penghulu di sini,” jawab Afkar seadanya.


“Maaf, Pak, saya pegawai baru di sini. Dan, baru masuk kemarin saya menggantikan pak Sunardi yang pensiun,” ucap pegawai baru.


“Baiklah.” Afkar langsung masuk ke ruang kerjanya.


‘Aduh ... penghulunya ganteng banget. Bisa betah nih gue kerja di sini,’ batin pegawai baru yang bernama Lestari itu seraya menatap punggung Afkar yang menghilang dari pandangannya.


Lestari pun segera mencari cara agar dia bisa selalu berdekatan dengan Afkar.


“Ah iya, gimana kalau nanti gue ajak aja makan siang dan gue sekarang akan buatkan dia minuman,” monolog Lestari bergegas menuju ke pantri membuatkan minuman untuk Afkar.


Tok...Tok...Tok...


“Permisi, Pak, saya buatkan minuman untuk bapak,” ucap Lestari melangkah masuk ke dalam ruang kerja Afkar.


Afkar hanya melihat sekilas dan membiarkan Lestari masuk.


“Maaf, kerja di sini sebagai apa?” tanya Afkar tanpa menoleh pada Lestari. Dia hanya fokus pada pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2