Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH. 16- Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Zhafira pun terbangun, “Mas, ini beneran kamu? Atau, aku lagi bermimpi?” lirih Zhafira dengan suaranya yang masih parau. Zhafira menatap lekat manik mata Afkar seakan-akan ingin terus melihatnya, bukan sekadar mimpi.


“Ini aku, Sayang, suami kamu.” Afkar masih saja mengusap rambut Zhafira.


“Hah? Sayang? Mas manggil aku sayang? Gak salah, Mas?” tanya Zhafira.


“Apa salah seorang suami manggil istrinya dengan sebutan itu? Mas sayang kamu, Fira, sayang banget. Jangan tinggalin Mas lagi,” jawab Afkar yang tak sadar sampai menitikkan air mata.


“Fira juga sayang sama kamu, Mas, Fira gak bisa jauh dari kamu. Ini benar-benar menyiksaku rasanya lebih sakit daripada apa yang udah dilakukan oleh Daffa,” balas Zhafira.


“Mas gak akan meninggalkan kamu, Sayang, janji. Sekarang makan dulu setelah itu minum obat, ya.”


Suara ketukan pintu pun membuat Afkar bangkit dari duduknya dan berjalan membukakan pintu kamar, ternyata bi Wati yang membawakan bubur dan juga obat.


“Den, ini buburnya dan ini titipan mang Giman,” ucap bi Wati memberikan nampan pada Afkar.


“Iya, Bi. Terima kasih.”


Setelah Afkar menerima bubur dan obat, Afkar segera menghampiri Zhafira yang udah duduk bersandar pada headboard.


“Mas, sini buburnya. Biar fira makan sendiri,” ucap Zhafira.


“Eh, nggak, Mas aja yang suapin kamu,” balas Afkar duduk di hadapan Zhafira.


Afkar pun menyuapi Zhafira sampai tak sadar bubur semangkok habis tak tersisa.


“Sekarang minum obat, setelah itu istirahat, Sayang,” tutur Afkar dengan lembut.


“Emang Mas mau kemana? Katanya gak akan ninggalin Fira?” tanya Zhafira.


“Iya, Sayang, Mas keluar sebentar Cuma antar mangkok kotor sebentar aja,” jawab Afkar membuat Zhafira mengangguk.


Afkar segera keluar kamar dan karena dari datang tadi belum bertemu Syara lagi, Afkar pun mencari keberadaannya.


“Dek, Syara, kamu di mana?” panggil Afkar.


Bi Wati yang tau kalau Afkar mencari Syara pun memberitahukan kalau Syara sedang di kamarnya, istirahat. Merasa tenang, Afkar pun kembali ke kamar Zhafira.


Ternyata Zhafira menunggu kedatangan Afkar, “Mas, kok lama?” tanya Zhafira menautkan alisnya.


“Itu, Sayang. Mas mencari Syara. Mas khawatir kalau dia kenapa-kenapa, soalnya dia tadi sampai depan rumah langsung melow,” jawab Afkar yang tak mau membuat istrinya kesal.


“Hah? Yaampun, Mas, kenapa ngajak Syara sih? Dia masih rapuh, Mas,” gerutu Zhafira.

__ADS_1


“Bukan, bukan Mas yang ngajak, Sayang. Tapi, Mas yang ikut Syara ke sini,” balas Afkar.


“Kok bisa? Syara tau darimana?”


“Tadi bi Wati telpon ke Syara karena khawatir sama kamu. Kamu sakit. Kenapa kamu nyiksa diri kamu sendiri, Sayang? Sejak kamu pergi, aku tersiksa. Aku gak tau sejak kapan perasaan ini hadir, tapi yang jelas, aku cinta sama kamu, istriku,” jelas Afkar panjang.


Zhafira pun segera memeluk Afkar, “Fira juga cinta sama kamu, Mas. Fira pergi karena Fira takut kalau rasa ini akan semakin kuat sedangkan kamu gak ada rasa sama aku.”


“Sekarang kita mulai dari awal ya, Sayang. Pernikahan ini gak akan sampai enam bulan, tapi sampai selamanya. Bahkan waktu kita pulang Dari bali, aku udah bilang ke Ayah kalau aku akan pertahankan pernikahan ini,” tutur Afkar.


“Tapi, Sayang, Mas mohon kamu sabar ya, Mas akan benar-benar selesaikan masalah Mas sama Aurel. Mas gak mau Aurel merusak pernikahan kita, Sayang,” lanjut Afkar yang masih mendekat Zhafira dalam pelukannya.


“Mas, aku percaya sama kamu. Jadi, untuk masalah Aurel biarin aja, kita selesaikan bersama-sama. Tapi, Mas kamu pokoknya harus hati-hati, Aurel bermaksud menjebak kamu, agar kamu mau nikahin dia,” balas Zhafira.


“Iya, Sayang, Mas akan hati-hati. Sejak kamu pergi, Mas gak pernah ketemu dia. Karena, Mas gak masuk kerja, Mas males kerja saat kamu gak ada, paginya Mas pamit kerja, tapi Mas di rumah Ayah,” ucap Afkar.


“Gimana badannya? Udah enakan? Atau mau istirahat?” lanjut Afkar bertanya pada istrinya.


“Udah mendingan, Mas. Oh iya, Mas, Fira ke kamar Suara bentar, ya, Fira khawatir,” balas Fira.


“Yaudah, bisa jalannya atau perlu Mas bantu?” tanya


“Nggak usah, Mas, Fira bisa sendiri. Mas istirahat aja, nanti kita langsung pulang ya, Mas,” jawab Zhafira.


“InsyaaAllah kuat kok, Mas.” Fira langsung pergi ke kamar Syara. Namun, dihentikan oleh Afkar.


“Sayang, jilbabnya,” ucap Afkar yang membawakan jilbab dan memakaikannya pada Zhafira.


“Makasih, Mas.”


“Sama-sama, Sayang,” balas Afkar. Kemudian, Zhafira berlalu keluar kamar.


Afkar menatap punggung Zhafira yang menjauh, segera dia merebahkan badannya dan tak terasa Afkar pun tertidur.


Di kamar Syara, Zhafira yang langsung masuk segera duduk dekat Syara, “Dek, maafin gue, ya? Karna gue di sini lo jadi ingat lagi sama Tante Maya dan Om Heksa.”


“Gapapa, Kak. Gue mah gapapa. Ini lagi istirahat, Kak Fira kenapa ada di sini? Katanya ada tugas kantor?” tanya Syara.


“Sebenarnya, gue cuma mau menenangkan diri di sini aja, Dek,” jawab Zhafira.


“Kak Fira bertengkar sama Kak Afkar, ya?”


“Enggak, gue gak bertengkar kok, kakak baik-baik saja. Yaudah, lo istirahat ya, sore kita pulang. Kakak dan Mas Afkar juga mau istirahat,” balas Zhafira.

__ADS_1


“Oke, Kak. Makasih ya, Kak udah perhatian sama Syara.”


“Pasti itu, Dek, lo ‘kan adek gue yang bawel dan yang paling gue sayang. Udah ya, gue mau keluar.” Zhafira menarik selimut menutupi tubuh Syara dan segera keluar dari kamar Syara


Zhafira langsung kembali ke kamar dan melihat Afkar yang udah tidur. Zhafira pun segera mengunci pintunya, segera tidur di sebelah Afkar.


Zhafira terus memandangi Afkar, terlihat jelas bahwa Zhafira udah bener-benar jatuh cinta pada Afkar.


“Duh, ganteng banget nih suami gue,” ucap Zhafira pelan sambil mencubit kecil pipi Afkar.


Setelah itu, Zhafira segera melepas hijabnya dan tidur di sebelah Afkar.


Di tempat lain, terlihat Aurel sedang uring-uringan karena beberapa hari mencari Afkar tapi tak ketemu. Bahkan, Robert pun tak pelak jadi sasaran emosinya.


“Beb, lo tu kenapa? Ngapain lo sampai sebegitunya sama cowok itu. Lo cinta ya sama dia?” selidik Robert pada Aurel.


“Udah gue bilang, gue itu cuma mau uangnya. Lihat, sekarang udah lima hari gue gak ketemu cowok itu, gue miskin jadinya. Pengen apa-apa gak bisa beli,” balas Aurel.


“Kalau lo gak cinta sama dia, gak mungkin lo sampai uring-uringan. Lo itu cantik, kan bisa nyari cowok lain!” seru Robert.


“Gak semudah itu, dia itu apapun yang gue minta gak pernah nolak dan selalu membelikan. Mana ada cowok lain yang modelan gitu.”


“Pokoknya gue gak akan putus asa, gue akan cari tau dimana Afkar dan istrinya tinggal. Besok lo ajak anak buah lo nyulik istrinya Afkar. Jadi, kalau Afkar gak mau balikan sama gue, istrinya yang akan jadi taruhan,” ucap Aurel penuh keyakinan.


“Istrinya yang mana? Gue gak tau istrinya dan emang lo tau?” tanya Robert.


“Nanti gue cari tau dulu dimana istri si Afkar itu kerja. Udah, lo pergi sana, kumpulin anak buah lo. Gue mau pergi nyari tau alamat istrinya Afkar,” balas Aurel.


Dan Robert pun bergegas menuju markas tempat anak buahnya kumpum. Sedangkan Aurel mencari alamat tempat tinggal istrinya ke kantor tempat Afkar kerja, yaitu di KUA, tapi karena sudah sore kantor pun tutup.


‘Gue akan cari lagi besok. Sekarang gue balik aja,’ batin Aurel.


****


Sore harinya, Zhafira tampak udah kembali sehat dan udah bersiap untuk pulang ke rumah. Afkar keluar dari kamar mandi, “Mas, kok gak ganti baju?”


“Aku gak bawa baju ganti, Sayang, tadi aku buru-buru panik karena dengar kamu sakit. Jadinya, udah gak sempat ke kamar lagi ambil baju,” jawab Afkar.


“Ya ... tapi, masa gak ganti baju, Mas? Lengket semua pasti,” gerutu Zhafira yang mulai tertular virus bawel dari Syara.


“Udahlah, nanti aja di jalan mampir sebentar kalau lewat toko pakaian ya, Sayang. Jadi, gak udah terlalu dipikirkan,” balas Afkar.


“Fir, kita akan pulang ke Jakarta dan di sana ada masalah yang belum selesai. Maafkan aku ya jadi melibatkan kamu. Mulai sekarang, kamu kerja aku yg antar jemput, dan aku akan minta pindah tugas ke tempat lain, agar Aurel gak bisa menemukan jejak kita. Gimana? Kamu setuju?” tutur Afkar.

__ADS_1


“Aku nurut apapun yang Mas katakan. Tapi, Mas beneran kan, sayang sama aku?” tanya Zhafira memastikan.


__ADS_2