
“Suara apa itu?” tanya Rendra.
“Ayo kita keluar, lihat apa yang terjadi,” balas papa Fadlan.
Mereka semua segera bergegas keluar dan melihat tetangga Zhafira, yaitu bu Rani yang tengah berdiri di samping mobil suaminya.
“Suara apa itu tadi, Bu?” tanya Rendra mewakili bertanya.
“Eh ini, Mas ... ban mobil suami saya meledak,” jawab bu Rani.
“Aduh, papa kirain Brian datang kembali dan berulah,” lirih papa Fadlan menghembuskan napas lega.
Tak lama, Zhafira, Syara, Mama Latifah dan juga Bunda Hanum datang menghampiri para suami di depan rumah.
“Suara apa tadi, Mas?” tanya Zhafira pada Afkar.
“Ban mobil pak Teguh meledak,” jawab Afkar.
“Aduh, Mas ... aku udah kaget tadi,” balas Zhafira.
“Udah-udah ... ayo kita kembali masuk!” seru ayah Reyhan.
Mereka semua bergegas masuk dan segera kembali duduk berbincang di ruang tengah.
Saat mereka tengah asik dengan membahas aqiqah baby Adrian, tiba-tiba bi Minah membawa Chayra yang tampak tengah menangis.
“Kenapa ini, Bi?” tanya Afkar.
“Maaf, Pak, Bu ... ini tadi Non Chayra kaget dengar suara ledakan,” jawab Bi Minah sembari mengulurkan tangannya menyerahkan Chayra pada Afkar.
“Makasih, Bi. Saya titip Adrian ya,” ucap Zhafira.
“Baik, Bu. Saya kembali ke kamar dulu,” kata bi Minah dan diangguki oleh Zhafira.
Chayra menoleh pada Afkar kemudian berkata, “Papa, tadi Chay kaget, Pa.”
“Iya ... sekarang tenang ya, Nak, Chayra sama papa, mama, opa, oma, kakek, nenek, om dan tante juga di sini tuh buat nemenin Chayra,” titah Afkar dengan lembut.
“Iya, Papa. Semuanya di sini buat nemenin Chay ya?” balas Chayra bertanya kembali.
“Iya dong, Sayang. Kan Chayra kesayangan kita semua,” sambar Syara.
“Chay juga sayang semuanya kok.” Chayra tersenyum manis kemudian tatapannya beralih pada mamanya.
“Mama, adek mana?” tanya Chayra.
“Adek bobok, Sayang. Chayra gak sabar mau main sama adek ya?” jawab Zhafira dan mendapat anggukan mantap dari putrinya.
“Nanti adek besar kalian main bersama ya!” seru Afkar.
“Yeayyy!” Chayra bersorak dan kembali duduk dengan tenang di pangkuan papanya.
Mereka pun kembali berbincang membahas acara aqiqah besok.
Hingga malam pun tiba, Rendra dan Syara berpamitan pulang duluan.
__ADS_1
“Kak, kami kayaknya harus pulang duluan, ini bumil gerah,” ucap Rendra.
“Oh iya gapapa, Dra. Hati-hati, ya!” seru Afkar.
“Eh, Dra, kami barengan aja deh,” sambar papa Fadlan.
“Loh ... papa gak nginap di sini? Kan besok ada acara aqiqahnya Adrian, Pa,” kata Syara.
“Gak bawa baju tadi. Kan baju seragam sekeluarga ada di rumah, masa besok nano nano bajunya,” balas mama Latifah.
“Oh iya juga ya. Yaudah ayok barengan aja, Pa, Ma,” ucap Syara dan diangguki oleh papa juga mama serempak.
Mereka segera berpamitan pada besan, anak, dan menantu serta cucunya. Kemudian masuk ke dalam mobil Rendra.
Mobil membelah jalanan melaju dengan kecepatan pelan. Saat papa dan mama membahas tentang persalinan Syara, ternyata Syara lebih fokus memperhatikan jalanan yang dipenuhi orang yang berjualan jagung bakar.
“Mas, mas ... aku pengen jagung deh,” ucap Syara yang lupa kalau mereka saat ini bersama papa dan mama.
“Tapi, Sayang—” kata Rendra yang tiba-tiba berhenti.
“Turuti aja, Dra, kasian anak kalian,” ucap papa Fadlan membuat Syara menoleh.
“Astagfirullah ... aku lupa kalau ada papa dan mama, Mas. Tapi aku terlanjur pengen jagung bakar,” lirih Syara.
“Gapapa, Nak. Ayo menepi dulu, kita makan jagung bakar bersama demi cucu,” kata mama Latifah.
“Makasih ya, Ma, Pa,” ungkap Syara dan mendapat senyuman dari papa Fadlan juga mama Latifah.
Rendra pun segera menepikan mobil kemudian membukakan pintu untuk istrinya, sementara papa dan mama udah keluar terlebih dahulu.
“Makasih ya, Mas,” balas Syara dan diangguki oleh Rendra.
Papa Fadlan, mama Latifah, juga Syara segera duduk di kursi yang telah disediakan.
“Kamu ngidam gak kenal waktu ya, Nak,” celetuk papa Fadlan.
“Namanya juga ngidam, Pa, gak ingat apa dulu pas hamil Fira ngidamnya tengah malam?” balas mama Latifah.
“Oh iya, papa lupa, Ma,” kata papa Fadlan sambil menggaruk-garuk kepala.
Tak lama kemudian, Rendra kembali dengan membawakan 4 jagung bakar yang kemudian diletakkan di meja.
“Pa, Ma, kayaknya enakan lesehan kayak gitu deh,” ucap Syara sembari menunjuk tempat lesehan yang tertangkap oleh netranya.
“Boleh, Nak. Ayo kita ke sana,” balas mama Latifah.
Mereka segera pindah tempat duduk dan kemudian menyantap jagung bakar.
“Udah, Sayang? Atau ... mau nambah?” tanya Rendra.
“Udah, Mas. Sekarang aku ngantuk banget, ayo pulang,” jawab Syara.
Mereka pun mengangguk setuju kemudian kembali masuk ke dalam mobil, sementara Rendra mendekat pada penjual jagung bakar untuk membayar.
Rendra yang saat ini berada di dalam mobil pun segera menyalakan mesin kemudian melajukan mobilnya menuju rumah papa Fadlan.
__ADS_1
Sesampainya mereka di rumah, papa dan mama segera turun dan masuk ke dalam rumah.
“Rendra, kami duluan ya, papa udah ngantuk banget ini,” ucap papa Fadlan.
“Iya, Pa.”
Rendra segera membuka pintu dan mengangkat tubuh Syara yang memang udah tertidur di jalan tadi.
Dengan perlahan, Rendra melangkah agar Syara tidak terbangun dari tidurnya. Hingga sesampainya di kamar, Syara menggeliat untuk mencari kenyamanan dalam tidurnya.
Setelah itu, Rendra kembali ke mobil untuk memasukkan mobil dalam garasi. Kemudian kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan segera tidur di samping istrinya.
Sementara di rumah Afkar, orang suruhan mama Latifah sudah mendekorasi rumah sebagus mungkin untuk acara aqiqah.
Sementara Afkar tengah bergantian menggendong Chayra dan Adrian hingga keduanya tertidur.
“Emang deh, anak papa banget nih dua-duanya,” celetuk Zhafira.
Afkar pun mendekat pada istrinya kemudian mencium pipi istrinya itu.
“Makasih ya, Sayang,” ucap Afkar dengan lembut.
“Untuk apa, Mas?” tanya Zhafira.
“Kamu udah memberikan ku jagoan tampan dan putri yang cantik,” jawab Afkar membuat Zhafira tersenyum.
“Makasih juga ya, Mas, udah selalu sabar menjadi suami dan ayah yang luar biasa,” balas Zhafira.
“I Love You, Sayang,” ucap Afkar membuat Zhafira mematung.
“Gak salah dengar ini aku, Mas?” tanya Zhafira.
“Kenapa salah dengar?” balas Afkar bertanya.
“Kamu bilang I Love You itu tadi, tumben banget loh. Dari dulu aja susah disuruh bilang itu,” jawab Zhafira sembari tertawa kecil.
“Sayang, jangan gitu. Itu ngelatihnya susah loh, perlu depan kaca,” balas Afkar membuat Zhafira tak sanggup menahan tawanya.
“Sudah ... ayo tidur,” ajak Afkar yang menidurkan Adrian pada box bayi dan segera memeluk Chayra yang tepat ada di tengah-tengah antara Afkar dan Zhafira.
Mereka pun terlelap dalam tidurnya.
Keesokan paginya, semua udah disibukkan mempersiapkan acara pagi ini.
“Sayang, kamu mandi aja, ya. Anak-anak biar aku yang mandiin,” ucap Afkar.
“Gapapa, Mas?” tanya Zhafira.
“Iya, Sayang. Udah sana mandi,” balas Afkar.
Tak lama kemudian, Zhafira yang tampak udah selesai mandi dan udah rapi pun segera keluar untuk mengecek persiapan acara.
Di ruang tamu, papa Fadlan, mama Latifah, ayah Reyhan, bunda Hanum, Rendra, Syara dan lainnya tampak berkumpul. Di sana juga ada Reigha, Bayu juga istri dan anak-anak mereka yang ikut bersama.
“Fira, mana Afkar?” tanya mama Latifah.
__ADS_1