Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.84 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Tak lama dari itu, papa Fadlan bangun dan memanggil ayah Reyhan.


“Han ...” lirih papa Fadlan membuat semua netra tertuju padanya.


“Eh ... udah bangun ternyata,” kata ayah Reyhan sambil mendekat ke brankar papa Fadlan.


“Sejak kapan di sini?” tanya papa Fadlan.


“Udah dari tadi, kamu sih gak bangun-bangun,” celetuk ayah Reyhan.


Papa Fadlan pun melihat jam kemudian kembali berkata, “Aku loh tidur cuma 10 menit, kamu mengada-ada aja.”


“Hehee ... kamu gak pengen pulang ke rumah ketemu cucu-cucu kamu? Jangan sampai cucu-cucu kamu lebih dekat sama aku, ya,” kata ayah Reyhan.


“Ayah ... jangan mulai deh, mas Fadlan masih sakit itu,” sambar bunda Hanum.


“Kata siapa sakit, aku udah sehat ini, Syara, bilang sama dokter papa mau pulang,” ucap papa Fadlan yang setelahnya menoleh pada Syara.


“Hahhaa ... kamu itu, sok iya aja. Coba kalau sehat, sekarang duduk,” kata ayah Reyhan.


Papa Fadlan pun berusaha untuk duduk.


“Aduhhh...” lirih papa Fadlan.


“Tuh kan, belum kuat ... masih pusing, udah gak usah dipaksa, Mas, jangan hiraukan kata-kata ayahnya Afkar,” ucap bunda Hanum.


“Suami kamu itu, udah tau orang sakit malah diajak berantem,” gerutu papa Fadlan.


“Loh ... aku gak ngajak berantem, cuma ngasih semangat kamu aja. Kalau gitu kan kamu jadi semangat sembuh. Hehehe,” kata ayah Reyhan.


Dan kata-kata itu membuat papa Fadlan jengah.


“Yaudah ya, Mbak ... aku pamit dulu, nanti kalau lama-lama di sini bisa-bisa suami mbak gak sembuh-sembuh karena berantem terus,” kata bunda Hanum.


“Lha ... kenapa kok cepat-cepat?” tanya mama Latifah.


“Gantian sama Afkar dan Fira, Mbak. Soalnya ‘kan Syara dan Rendra juga mau kerja. Gimana nanti kalau Afkar dan Fira terlambat ke sininya,” jawab bunda Hanum membuat mama Latifah manggut-manggut.


“Yaudah deh, tapi nanti kesini lagi ya. Dan titip cucu-cucu ku dulu,” balas mama Latifah.


“Iya, Mbak, cucu mbak kan juga cucu aku juga. Dah ayo, Yah, pamit dulu,” ucap bunda Hanum.


“Fadlan, Latifah, aku pamit ya ... sembuh dan cepat pulang ke rumah. Fadlan, lanjut nanti ya berantemny, hahaha ...” kata ayah Reyhan berpamitan.


Papa Fadlan pun mengambil sendok di atas nakas dan melemparkan ke ayah Reyhan. Namun, dengan sigap, ayah Reyhan segera menghindar.


“Hahaha ... kurang pas ngelemparnya, melesat deh,” celetuk ayah Reyhan.

__ADS_1


“Isss, Ayah ... kalian ini seperti anak kecil. Ayo kita keluar. Syara, Rendra, bunda dan ayah pulang ya. Assalamu’alaikum,” kata bunda Hanum sambil menarik lengan ayah Reyhan keluar ruang rawat tersebut.


Setelah sampai depan, ayah Reyhan melihat Lestari yang tampak menunggui seseorang.


‘Itu seperti temannya Afkar yang suka sama Afkar,’ batin ayah Reyhan.


“Bu, ayo kita cepat masuk, ada orang agak gila di sana,” kata ayah Reyhan.


“Siapa, Yah? Yang mana orangnya?” tanya bunda Hanum.


“Itu yang ada di depan itu, ayo cepat ... sebelum dia melihat kita,” balas ayah Reyhan bergegas menarik pundak bunda Hanum.


Ayah Reyhan dan bunda Hanum pun segera berlari menuju ke mobil, saat ayah Reyhan hendak masuk ayah Reyhan dipanggil Lestari.


“Tunggu ... tunggu, Ayah!” teriak Lestari.


Ayah Reyhan pun terdiam dan berbalik. Kemudian bertanya, “Ada apa? Siapa yang kamu panggil ayah?”


“Lho ... kan ayah calon mertua Lestari, jadi ya harus panggil ayah dong, gimana sih,” balas Lestari dengan bangsanya.


“Jangan mimpi kamu, menantu saya hanya satu, yaitu Zhafira,” kata ayah Reyhan sambil masuk mobil dan meninggalkan rumah sakit melaju menuju ke rumahnya.


Di jalan, bunda Hanum bertanya pada ayah, “Yah ... siapa wanita itu tadi?”


“Itu temen Afkar yang selalu ngejar-ngejar anak kita, Bunda. Namanya Lestari kalau gak salah ingat ayah. Itulah dia semacam halu buat ngedapetin Afkar. Padahal dia tau Afkar udah punya istri dan anak,” jawab ayah Reyhan.


Setelah sampai rumah, Afkar dan Zhafira tampak udah menunggu di depan rumah.


“Assalamu’alaikum,” kata ayah dan bunda bersamaan.


“Wa’alaikumussalam, Yah, Bund ... kami langsung berangkat ya, nanti Syara dan Rendra terlambat,” balas Afkar yang langsung hendak pergi.


“Iya, Nak. Hati-hati ya di jalan, dan hati-hati juga di depan rumah sakit ada teman kamu yang suka sama kamu itu,” kata ayah Reyhan.


“Lestari, Yah?” sambar Zhafira yang langsung bisa menebak.


“Iya, Lestari,” balas bunda Hanum membenarkan kata Zhafira.


“Astagfirullah, wanita satu itu gak ada kapok-kapoknya,” gerutu Zhafira.


“Udah-udah ... ayah, bunda, kami titip anak-anak ya. Kami pergi dulu,” pamit Afkar yang segera berpamitan dan menyalimi ayah dan bunda.


“Iya, Nak ...” balas ayah Reyhan dan bunda Hanum bersamaan.


Setelah itu, Afkar dan Zhafira pun bergegas masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi meninggalkan rumah ayah Reyhan.


Tak lama, setelah mereka sampai di rumah sakit, Afkar dan Zhafira pun turun dari mobil. Zhafira celingukan melihat keadaan sekitar, jika ada Lestari dia akan segera mengunci Afkar agar tak jauh dari dirinya.

__ADS_1


Namun, Lestari ternyata tidak kelihatan, mungkin dia mengira jika Afkar dan Fira tidak datang hari ini karena melihat ayah Reyhan yang baru saja pergi dari rumah sakit tadi.


Afkar dan Zhafirra pun segera berlalu pergi menuju ke ruang rawat papa Fadlan dan mama Latifah.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Huft ... kak Fira rupanya,” kata Syara yang baru saja membuka pintu.


“Kenapa, Dek?” tanya Zhafira.


“Tadi Lestari datang ke sini mencari kakak dan kak Afkar,” jawab Syara.


“Trus kamu bilang apa?” balas Zhafira bertanya.


“Aku suruh masuk dan cari sendiri. Trus dia masuk dan gak nemuin yang dicari, dia pergi begitu aja,” kata Syara.


“Dasar kurang kerjaan,” celetuk Zhafira.


Afkar pun segera merangkul istrinya dan mengajak masuk dalam ruangan.


“Kamu kalau ngomel terus, tambah cantik loh,” ucap Afkar menggoda istrinya.


“Halah ... kamu bisa aja, Mas. Kamu seneng kan dikejar terus sama si Lestari itu,” balas Zhafira sembari memutar bola matanya malas.


“Kak, udah deh udah, kalau dengerin kakak debat gini, kapan aku pulangnya. Aku harus mandi trus ke kantor, Kak,” kata Syara menengahi.


“Ini kakak bawain baju buat kamu dan Rendra. Dah sana mandi,” balas Zhafira.


Kemudian Zhafira melirik Afkar dan secepatnya membuang muka dari Afkar.


“Sayang, kata orang-orang, kalau senyum itu gak bisa sambil napas loh,” kata Afkar.


Zhafira pun karena memastikan ucapan Afkar. Dia segera tersenyum, kemudian mencoba sambil bernapas.


“Nah, kan kalau senyum tambah cantik istrinya Afkar Muwaffaq ini,” ucap Afkar membuat Zhafira pipi bersemu.


Papa Fadlan dan mama Latifah pun tersenyum melihat Afkar yang mencoba mengembalikan mood istrinya.


“Halah, Kak ... kak Fira yang digombalin, aku yang meleyot,” celetuk Syara yang baru saja mengantar baju ganti untuk Rendra yang sedang mandi duluan.


“Terdeteksi gak pernah digombalin,” balas Zhafira memegang pipi Syara.


Tok ... Tok ... Tok ...


Mereka yang bercanda pun tiba-tiba mendengar pintu diketuk.


“Udah, biar Syara yang buka, Kak,” kata Syara yang diangguki oleh Zhafira.

__ADS_1


Syara pun berjalan menuju pintu dan segera membuka pintu. Dan betapa kagetnya dia saat melihat siapa yang datang.


__ADS_2