Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.71 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Kenapa, Sayang? Ada apa ini?” tanya Afkar yang tampak panik dan bingung.


“Adrian, Mas. Hiks ... Adrian diculik, Mas,” jawab Zhafira memberitahu. Sontak semua netra tertuju padanya.


“Adrian diculik? Kok bisa?” tanya papa Fadlan segera berdiri dan mendekat pada anak dan menantunya.


“Tadi pas Fira nyari botol susu, Adrian langsung digendong dan dibawa kabur orang, Pa. Fira juga gak tau dan gak kenal sama orang itu,” balas Zhafira.


Afkar segera keluar dari restoran disusul oleh Rendra, papa Fadlan juga ayah Reyhan. Zhafira pun ikut berlari keluar karena merasa bersalah atas kelalaiannya. Syara ikut menyusul Zhafira karena takut terjadi apa-apa. Sementara Chayra dan Ammar digendong oleh mama Latifah dan bunda Hanum tetap berada di dalam restoran.


Sesampainya di luar restoran, Afkar dan yang lainnya berpencar mencari Adrian. Sedangkan Zhafira dibawa oleh Syara menuju ke dalam mobil.


“Kamu mau mencari ke mana, Afkar?” tanya ayah Reynand.


“Mau coba nyari di sebelah sana, Yah,” jawab Afkar mengedarkan pandangannya serta tangannya yang menunjuk ke tempat yang akan didatanginya.


“Biarkan Afkar mencari di sebelah sana bersama Rendra, kita cari di sebelah sini,” balas papa Fadlan.


Afkar dan Rendra mengangguk dan segera berlalu pergi. Begitu juga dengan papa Fadlan juga ayah Reyhan menyusuri satu per satu mobil yang terparkir di luar restoran itu.


Afkar dan juga Rendra gusar karena tak kunjung menemukan keberadaan Adrian, mereka berdua kembali masuk ke restoran untuk mencoba mencari di dalam restoran.


“Kak, kenapa kita gak coba cek CCTV?” tanya Rendra.


“Boleh itu, ayo!” balas Afkar. Mereka berdua pun segera masuk kembali ke dalam restoran dan menuju ke salah satu ruangan.


Sementara papa Fadlan dan ayah Reyhan mencurigakan seseorang yang sejak tadi hanya bersembunyi di balik mobil. Dan tak lama kemudian, orang itu mengendap-endap masuk ke dalam mobil.


Saat hendak masuk, orang itu langsung ditahan oleh ayah Reyhan.


“Fadlan, ambil cucu kita!” seru ayah Reyhan.


Papa Fadlan pun segera menggendong Adrian, merebutnya dari gendongan orang itu.


Ayah Reyhan memegang erat tangan orang itu kemudian dipaksa untuk menjawab jujur siapa yang telah berani menyuruh menculik cucunya.


Awalnya orang itu tidak mau memberitahu, namun akhirnya dia dengan ragu-ragu menjawab.


“Ma—maafkan saya, Pak. Saya hanya orang suruhan,” lirihnya.


“Iya. Tapi suruhan siapa?” bentak ayah Reyhan.


“Pak Brian,” jawab orang itu membuat papa Fadlan menoleh kaget.


“Han, biarkan dia pergi. Ayo kita masuk!” seru papa Fadlan.


Ayah Reyhan pun melepaskan orang itu dan berlalu pergi bersama papa Fadlan yang tengah menggendong Adrian.


“Han, tolong gendong dulu Adrian, aku mau menelpon Afkar dan Syara agar Syara membawa Zhafira kembali masuk. Karena setau aku, tadi Zhafira ikut keluar restoran,” ucap papa Fadlan.


“Iya, sini cucuku,” balas ayah Reyhan yang segera membawa Adrian dalam dekapannya. Kemudian ayah Reyhan menuju ke tempat meja makan bersama dengan Adrian yang digendongnya.


Papa Fadlan merogoh kantongnya, setelah mendapatkan ponsel, papa Fadlan menghubungi Afkar.

__ADS_1


Beberapa kali dia mencoba menghubungi Afkar, namun tak kunjung diangkat. Kemudian papa Fadlan memutuskan untuk menghubungi Rendra.


“Assalamu’alaikum, Ren. Kalian di mana?” tanya papa Fadlan Saat panggilan udah terhubung.


“Wa’alaikumussalam, Pa. Kami lagi di ruangan CCTV ini, Pa. Kenapa ya, Pa?” jawab Rendra sembari bertanya kembali.


“Kalian berdua ke sini lah, tempat meja makan kita tadi. Adrian udah sama kami,” balas papa Fadlan.


“Wah, alhamdulillah ... bener, Pa?” tanya Rendra.


“Bener, ayo sini!” seru papa Fadlan.


“Iya, Pa.”


Papa Fadlan pun segera memutuskan panggilan.


Rendra pun memberitahu pada Afkar berita bagus ini, kemudian mereka berdua bergegas menuju ke tempat meja makan.


Sementara papa Fadlan, dia langsung menghubungi Syara.


“Assalamu’alaikum, Syara ... kamu sama kak Fira?” tanya papa Fadlan.


“Wa’alaikumussalam ... iya, Pa. Ini lagi sama kak Fira,” jawab Syara.


“Tolong bawa kak Fira masuk ke dalam restoran lagi, ya. Alhamdulillah Adrian udah ketemu ini,” kata papa Fadlan.


“Alhamdulillah ... iya, Pa. Kami segera masuk,” balas Syara.


Tak lama kemudian, Zhafira dan Syara pun datang dan duduk di samping suaminya masing-masing.


Afkar yang tengah menggendon Adrian pun segera memberikan putranya pada Zhafira.


Zhafira menerimanya dan memeluk Adrian dengan begitu erat.


“Maaf ... maafkan mama, Nak. Maafkan mama,” lirih Zhafira yang langsung menumpahkan kembali air matanya.


“Pa, siapa yang berani menculik anak Afkar?” tanya Afkar.


“Orang suruhan Brian, Nak,” jawab papa Fadlan.


“Brian?” tanya Zhafira kaget.


“Brian kakaknya Dafa,” balas papa Fadlan memperjelas.


“Mas, aku takut dia kembali nekat. Target dia anak-anak kita, Mas. Anak-anak kita masih kecil dan gak tau apa-apa malah kena,” lirih Zhafira.


“Gimana, Afkar?” tanya ayah Reyhan.


“Sepertinya kita bebaskan saja Dafa. Tapi, dengan syarat,” jawab Afkar.


“Setelah setahun terakhir ini dia meneror-meneror, baru hari ini dia bertindak nekat. Ya, Besok aku akan menemui Brian langsung,” lanjut ucapan Afkar.


“Papa temenin, ya!” seru papa Fadlan.

__ADS_1


“Boleh, Pa,” kata Afkar.


“Biar aku dan Afkar yang menemui Brian. Han, lo jaga di rumah Afkar aja, soalnya besok Rendra harus kerja,” ucap papa Fadlan.


“Yaudah gapapa, gue akan jagain istriku, istrimu, menantuku, dan cucu-cucuku di rumah,” balas ayah Reyhan.


“Syara kerja juga besok?” tanya ayah Reyhan setelahnya.


“Iya, Yah,” jawab Syara.


“Nah, besok Ammar juga gue jagain karena Ammar juga cucuku,” ungkap ayah Reyhan.


“Makasih ya, Ayah,” kata Rendra.


“Iya, Nak.” Ayah Reyhan tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Sayang, sepertinya Adrian haus itu, ayo aku temenin ke mobil,” ucap Afkar.


“Iya, Mas,” balas Zhafira berdiri sembari menggendong Adrian.


“Pa, Yah, Ma, Bund, Afkar nemenin Fira ke mobil sebentar, ya,” ucap Afkar.


“Bentar ya, Rendra, Syara,” lanjut ucapannya.


“Iya, Nak. Hati-hati!” seru mama Latifah.


Afkar pun merangkul Zhafira dan berjalan bersamaan menuju ke mobil.


Zhafira masuk ke dalam mobil dan segera menyusui Adrian. Sementara Afkar mencari botol susu Adrian dan membuatkan susu bantu Adrian.


Adrian menyusu sampai dia tertidur, dan akhirnya Zhafira pun menyudahinya.


“Udah sayang?” tanya Afkar.


“Iya, Mas, udah tidur nih,” jawab Zhafira.


“Yaudah gapapa, ayo masuk. Ini susunya kita bawa aja,” balas Afkar sembari menunjukkan susu di botol yang dibuatnya tadi.


“Mas, aku takut anak-anak ki—”


“Ssssttt, udahlah, Sayang ... gak akan terjadi lagi,” ucap Afkar menenangkan istrinya.


Mereka berdua pun masuk ke dalam restoran dan kembali duduk bersama yang lainnya.


“Fira, daritadi hp kamu bunyi terus, Nak. Ada yang nelpon,” kata bunda Hanum memberitahu.


“Siapa, Bund?” tanya Zhafira.


“Nih coba kamu cek,” balas bunda Hanum menyodorkan hp Zhafira.


Zhafira menerima dan segera membukanya, ada beberapa panggilan tak terjaga dari nomor tidak dikenal. Yaitu, nomor yang setahun terakhir ini selalu menghubunginya.


“Brian,” lirihnya membuat semua menoleh pada Zhafira.

__ADS_1


__ADS_2