
“Kata dokter, kemungkinan besar bisa terjadinya amnesia. Tapi, untuk lebih pastinya, kita menunggu papa Fadlan sadar terlebih dulu, Pa,” lanjut Afkar.
“Ya Allah ... amnesia, Nak?” lirih ayah Reyhan.
“Gak sanggup rasanya ayah mendengar berita ini. Kalau bisa, ayah mau langsung bertemu sama Fadlan. Tapi gimana,” imbuh ayah Reyhan yang tampak terdengar sedih dari suaranya.
“Ayah bantu do’a saja dulu ... ini pun kami di sini belum bisa menemui papa Fadlan juga mama Latifah. Mungkin setelah administrasi ini selesai kami bisa bertemu mama Latifah. Tapi kalau papa Fadlan, kami harus menunggu beberapa jam lagi,” kata Afkar.
“Tolong kabari terus ya, Nak,” balas ayah Reyhan.
“Iya, Ayah. Kalau gitu ... Afkar selesaikan dulu ini, ya,” ucap Afkar. Setelah mendapat balasan dari ayah Reyhan, Afkar pun menutup panggilannya. Kemudian dia mengurus administrasi.
Afkar yang udah selesai mengurus administrasi pun segera menuju ke ruang UGD kembali menghampiri istrinya yang tampak masih menunggu bersama Syara dan Rendra.
“Sayang, gimana? Mama udah pindah ruangan?” tanya Afkar.
“Itu tadi suster baru masuk untuk mempersiapkan semuanya. Papa gimana ya, Mas,” jawab Zhafira sembari memikirkan keadaan papanya.
“Sabar, Sayang ... kita harus terus berdo’a agar papa cepat sadar, ya,” balas Afkar dan di-aamiinkan oleh semuanya.
Tak lama kemudian, beberapa suster mendorong brankar keluar dari ruangan yang di sana nampak mama Latifah dengan pandangan kosong. Bahkan, tak menyadari ada anak menantunya di situ.
Afkar dan lainnya hanya mengikuti brankar itu menuju ruang rawat mama Latifah. Dan saat sampai di ruangan pun mama Latifah belum menyadari juga kalau anak dan menantunya ada di sana bersamanya.
Setelah suster pergi dari ruang rawat mama Latifah, Zhafira berjalan mendekati brankar mama Latifah kemudian berkata, “Ma ... mama, kenapa ini semua bisa terjadi, Ma.”
Afkar yang paham pun ikut mendekat untuk merangkul istrinya agar tidak terlalu mengeluarkan kesedihan di hadapan mama Latifah.
“Fi ... Fira,” lirih mama Latifah menoleh pada Zhafira.
Melihat mama Latifah yang begitu lemah pun Syara tak sanggup melihat dan hanya bisa menitikkan air matanya. Rendra yang sadar akan kerapuhan sosok Syara pun langsung mendekapnya dalam pelukan.
“Mas ... mama, Mas,” ucap Syara disela-sela tangisnya.
“Syara, dek ... kamu jangan gini, kita harus menghibur mama biar mama juga gak khawatir melihat anak-anaknya yang rapuh saat ini,” titah Rendra.
“Tapi aku gak kuat, Mas,” balas Syara sembari menyeka air matanya yang sempat menetes.
“Kamu sama siapa aja ke sini, Nak?” tanya mama Latifah pada Zhafira.
“Sama mas Afkar, Syara, dan Rendra, Ma. Anak-anak kami titipkan ke ayah Reyhan dan bunda Hanum,” jawab Zhafira.
__ADS_1
“Maaf ya ... mama malah ngerepotin kalian,” balas mama Latifah.
“Mama ...” lirih Syara perlahan berjalan mendekat pada brankar mama Latifah.
“Syara, kamu kenapa nangis?” tanya mama Latifah dengan suaranya yang terdengar bergetar.
“Syara gapapa, Ma. Mama dan Papa kenapa kok bisa sampai gini? Rasanya, semua ini masih mimpi buruk bagiku, Ma,” jawab Syara sembari berkata kembali.
“Ini semua kecelakaan dan gak ada yang tau kalau bakal kecelakaan, Nak ... papa kalian gimana keadaannya? Tadi mama lihat, papa belum sadar,” ucap mama Latifah.
“Belum ada kabar, Ma ... biar Afkar yang mmenunggu di UGD biar langsung tau kalau ada perkembangan baik dari papa,” sambar Afkar.
“Kak, aku ikut deh,” imbuh Rendra setelahnya.
“Boleh. Ayo, Ren,” ajak Afkar.
Afkar dan Rendra pun segera keluar ruangan, sementara Zhafira dan Syara tak ingin pergi jauh meninggalkan mama Latiah saat ini.
Sesampainya di luar ruangan, Afkar dan Rendra asik mengobrol hingga tak sadar menabrak seseorang.
“Eh ... maaf, Mb ...” lirih Afkar dan ucapannya terhenti tatkala melihat wanita itu kembali.
Wanita yang udah menghilang darinya beberapa tahun ini, kini malah kembali dengan senyumannya yang selalu membuat Afkar kesal.
“Jaga mulut lo, Lestari!” seru Akar kesal pada Lestari.
Ya, Lestari. Orang yang selaalu mengganggu Afkar hingga dia mendapatkan peringatan hingga dipecat. Kini dia kembali dengan pertemuan yang tidak direncanakan.
“Kak, ayo!” ajak Rendra yang emang gak tau siapa wanita di hadapan Afkar itu.
“ Ayo aku juga udah malas,” balas Afkar.
Saat Afkar dan Rendra bersamaan hendak melanjutkan perjalanannya menuju UGD, tiba-tiba lengan Afkar ditahan kuat oleh Lestari. Afkar yang langsung tersadar pun menghempaskannya kuat-kuat.
“Hmm ... maaf, anda ini siapa ya, Mbak? Kami ini buru-buru. Kalau anda salah satu fans kak Afkar, tolong jangan di sini. Ntar aja di luar rumah sakit deh, Mbak,” balas Rendra.
“Gue ini calon istrinya. Bisa gak sih gak usah ngeganggu,” gerutu Lestari semakin mendekatkan langkahnya mendekat pada Afkar.
Afkar yang semakin didekati oleh Lestari, semakin mundur. Tinggal satu langkah lagi, Lestari udah berhasil mendekap Afkar dalam pelukannya. Namun, keberuntungan tidak berpihak pada Lestari, tiba-tiba Zhafira berdiri menghadang Lestari.
“Mau apa lagi? Kenapa harus hadir dalam rumah tangga ini?” tanya Zhafira menatap kesal pada Lestari.
__ADS_1
“Gue hanya mau Afkar. Lo mau ngasih?” balas Lestari menatap sinis pada Zhafira.
“Ambil aja. Kalau dia emang tergoda, akan gue turuti berapa pilihan dari lo,” kata Zhafira.
“Bener? Lo turuti?” tanya Lestari kembaali tampak memastikan.
“Bener. Coba goda kalau bisa,” jawab Zhafira.
“Kak Fira,” panggil Syara berjalan mendekat.
“Kenapa, Ra?” tanya Zhafira.
“Kak, mama nanyain kakak tuh,” jawab Syara.
Tanpa menunggu lama pun Zhafira berlalu pergi menuju ke kamar rawat mama Latifah.
Afkar yang memang udah malas dengan Lestari pun lebih memilih untuk mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam kamar mama Latifah.
Namun, Afkar yang hendak memegang tangan Zhafira, tiba-tiba Lestari menahan lengan Afkar.
Lagi-lagi Afkar selalu mengherankan tangan Lestari, membuat Zhafira dan Syara tersenyum puas pada Lestari.
Afkar pun seger masuk ke dalam ruang rawat meninggalkan Lestari bersama Syara dan Rendra di luar.
Tak lama kemudian, Zhafira menyembulkan kepalanya dari pintu kamar mama Latifah kemudian berkata, “Sssttt Sssttt ... gimana? Tergoda gak suami gue?”
“Lihat aja tanggal mainnya. Awas lo nyesel!” seru Lestari.
“Halah, gue gak takut.” Zhafira pun menutup pintunya dan berjalan mendekat pada brankar mama Latifah.
“Kenapa mama?” tanya Zhafira.
“Kamu ribut sama siapa, Nak? Papa gimana keadaannya?” balas mama Latifah kembali bertanya.
“Fira lagi ribut sama ulat bulu, Ma. Untuk papa, yang pergi ke UGD, Rendra dan Syara,” jawab Zhafira.
“Ma, mama istirahat aja. Nanti kalau ada kabar tentang papa, Fira bangunin mama,” ucap Zhafira dan mendapat anggukan dari mama Latifah.
Zhafira pun menyusul suaminya yang sejak tadi duduk di sofa.
“Sayang, maafin aku. Aku gak tau kalau ada dia, dan ... dia pun tiba-tiba gitu,” kata Afkar.
__ADS_1
“Gapapa, Mas. Lagian bukan salah kamu, tapi kalau emang benar kamu digoda, kamu bakal luluh gak sih sama dia, Mas?” tanya Zhafira.